
Sepulang dari menghadiri resepsi walimahan Annisa dan Gus Hilmi di pesantren Nurul Huda, Hamzah dan Mirza pergi ke sebuah angkringan kopi jos.
Kopi jos adalah kopi fenomenal khas Jogja. Kopi ini sebenarnya hanya kopi hitam biasa, tapi cara penyajiannya cukup unik. Segelas kopi hitam panas, di beri bara api atau arang panas, sehingga akan menimbulkan bunyi josss saat bara api atau arang di celupkan ke dalam kopi. Maka, di namailah sebagai kopi jos.
"Piye Hamzah, rasanya melihat mantan calon khitbahan gagal, yang bersanding duduk di pelaminan dengan orang lain?" Mirza melempar guyonan kepada Hamzah.
Mirza mengetahui, jika Hamzah habis melamar Annisa, namun ternyata di dului oleh Gus Hilmi.
Mirza tidak mengenal Annisa, tapi sebuah kebetulan, Gus Hilmi ternyata dulu adalah adik tingkat Mirza saat kuliah. Maka, Mirza pun mendapat undangan di acara walimahan Annisa dan Gus Hilmi.
"Yo.... Ora piye piye..." Sahut Hamzah sambil menyeruput kopinya.
"Halah... Ngaku saja, pasti kecewa toh?"
"Gak... Insya Allah gak ada kecewa sedikitpun. Berarti dia bukan jodohku. Jodoh terbaik, sedang Allah persiapkan untukku. Kamu sendiri piye, mendingan aku toh, wes punya pengalaman gagal meminang satu kali. Dari pada kamu belum sama sekali, ha ha ha..."
"Pengalaman gagal kok yo bangga. Wong aneh kamu itu."
"Lha aku harus bagaimana? Mosok aku harus nangis gitu, ha ha ha. Lagian itu, sebenarnya aku melamar Annisa, karena desakan abahku. Memang, aku juga sholat istikhoroh untuk mencari kemantapan hati, tapi mungkin lebih cenderung kepada rasa ingin berbaktiku kepada Abah. Qodarullah, dua minggu sebelum aku datang ke Nurul Huda, ternyata Kyai Chozin ayahnya Annisa, sudah menerima pinangan untuk Annisa."
"Bunga tak sekuntum, kumbang tak seekor. Ku doakan, semoga lekas kau temukan tulang rusuk kirimu kawan." Ucap Mirza berlagak bak pujangga.
"Kamu sendiri mana tulang rusuk kirimu? Sudah ketemu belum?"
"Tulang rusuk kiriku?? Ini! Ini! Ini!" Mirza menunjuk tulang-tulang rusuk di pinggang kirinya.
"Ha ha ha..." Hamzah dan Mirza tertawa bersamaan.
"Mirza, kalau misalkan aku lamar adikmu saja, bagaimana? Kamu rela gak kalau adikmu aku jadikan istri?"
"Bocah ini jiaaann! Ini tinju mau???!" Mirza berlagak mengacungkan kepalan tinjunya kepada Hamzah. "Mentang-mentang habis gagal melamar, malah mau jadikan adikku pelarian. Sontoloyo namanya kui."
"Eh, yang bilang mau jadikan adikmu pelarian siapa? Aku mau jadikan adikmu sebagai istriku, bukan pelarian. Lah kan capek kalau di jadikan pelarian, harus kejar-kejaran terus. Ha ha ha. Tapi kalau sudah jadi istri, bolehlah lomba lari. Seperti Rosululloh sama Aisyah kan pernah lomba lari."
"Ham... Tapi sebenarnya aku tuh setuju, kalau Aisyah cepet nikah. Supaya ada yang jaga dia. Jadi aku gak perlu khawatir lagi. Wong dia ke Jakarta saja itu sebenarnya aku kurang setuju. Tapi ya mau gimana lagi, tekadnya Aisyah sudah bulat, ingin kuliah di Jakarta, yo wes lah..."
"Dia kuliah dimana di Jakarta?"
"Di UIN Syarif Hidayatullah. Sama sama Nuri, mereka kuliah di sana. Makanya di izinkan sama ayahku, karena ada temannya sekampung yang sama sama kuliah disana juga."
"Oh, begitu rupanya. Yo wes lah, aku ta nunggu Aisyah selesai kuliah saja."
__ADS_1
"Loh, ngapain nunggu Aisyah selesai kuliah?"
"Ya nunggu Aisyah selesai kuliah, baru aku lamar adikmu itu."
"Iki serius apa bercanda toh jane? Hati-hati kamu Ham kalau bicara... Adikku cuma satu itu."
"Yo, makanya kamu aminkan saja. Aku serius, kira-kira Aisyah mau gak sama saya? Eh, salah. Kira-kira bapakmu mau gak punya mantu seperti aku? Aslinya aku kurang percaya diri."
"Kurang percaya diri? Maksudnya gimana?"
"Ya... Kan sudah jadi rahasia umum, adat istiadat di Jogja ini. Keluargamu kan keturunan ningrat Mir... Meskipun aku bukan keturunan ningrat, tapi sedikit banyak, tahu lah aku tradisi keningratan di Jogja ini."
"Hmm... Kalau masalah itu, kamu tak perlu khawatir. Ayahku sudah tak begitu pakem memegang tradisi ningratnya." Hamzah kembali menyeruput kopi jos nya. "Eh, ini kok malas bahas Aisyah? Kamu serius toh?"
"Serius Mir... Ini bukan karena aku habis gagal melamar, tapi sebenarnya aku memang ada hati sama Aisyah. Andaikan Aisyah tamat kuliah nanti, terus aku belum punya jodoh dan Aisyah juga belum punya jodoh, aku akan kerumahmu melamar adikmu itu. Kamu sebagai temanku, setuju kan? he he he."
"Hmm... Sebenarnya Aisyah juga itu suka sama kamu. Tapi itu dulu loh ya... Aku tahu nya Aisyah suka sama kamu itu, pas Aisyah SMP. Waktu kamu masih di Mesir. Tapi ya gak tahu kalau sekarang."
"Tenane Mir?"
"Halah, langsung kepedean lak an kamu."
"Begini aja, nih ta kasih nomer hp nya Aisyah. Kamu pedekate saja langsung sama Aisyah. Kalau gayung bersambut, langsung lamar Aisyah. Gak usah nunggu Aisyah tamat kuliah. Aku setuju kalau kamu serius sama Aisyah."
"Gak usah lah aku pedekate sama Aisyah, takut syetan ikut campur. Aku pedekate sama bapakmu saja ya... Beliau hobby nya apa??"
"Ayahku hobby gowes, sepedaan. Sana kalau mau ikutan ngontel sepeda. Tapi ayahku bukan tipe bapak yang suka jodoh-jodohkan anaknya. Jadi, meskipun ayahku suka sama kamu, kalau Aisyah gak suka sama kamu, ya gak bakalan maju tahapnya. Ha ha ha."
"Tapi aku gak mau pacaran Mir... Takut aku. Syetan lihai tipu daya nya."
"Aku gak nyuruh kamu macari Aisyah. Kamu pedekate saja. Tanya langsung sama Aisyah, kalau dia mau sama kamu, ta bantu kamu lolos gerbangnya ayahku. Wes toh,. ini ambil nomer hp nya Aisyah." Mirza menyodorkan ponselnya ke ataa meja. "Mau gak?"
"Mau." Hamzah meraih ponselnya Mirza, dan menyimpan nomer ponsel Aisyah.
"Lagakmu itu, gak mau. Padahal dalam hatimu bungah tak terkira toh."
"Kamu memang sahabat terbaik Mirza."
"Wes, ora usah lebbay. Gek ndang bayari ini kopi jossnya. Trus mobilku isi bensinnya sampai full. Sama uang pulsaku sekalian untuk sebulan." Ucap Mirza.
"Jangan tanggung-tanggung. Kenapa gak minta siapkan uang panaik sekalian??"
__ADS_1
"Uang panaik?? Opo iku??" Mirza baru pertama kali mendengar istilah itu.
"Uang panaik itu, uang maharnya gadis sulawesi. Katanya di Sulawesi sana, kalau laki-laki datang melamar, maka pihak keluarga perempuan akan mematok nilai uang panaiknya. Semakin tinggi strata keluarga wanita, maka akan semakin tinggi pula uang panaik yang diminta."
"Nanti kalau sudah habis gadisnya Jogja, baru aku nyebrang ke sulawesi. Ha ha ha."
Dua orang sahabat itu, terus bercakap ngalor ngidul seputar mahar, uang panaik, dan segala macam hal tentang pernikahan. Seolah olah mereka berdua benar benar tengah mempersiapkan pernikahan dengan matang.
2 gelas kopi jos di angkringan itu menjadi saksi. Hamzah dan Mirza benar benar dua orang sahabat sejati.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
~Rohana Kadirman
__ADS_1