
Bu wijaya asyik menonton sinetron favoritnya. Ia duduk di atas kasur, sembari menikmati semangkuk es krim coklat vanilla. Sementara Aisyah, nampak bermanja. Ia berbaring dengan merebahkan kepalanya di atas pangkuan ibunya. Ia asyik memainkan ponselnya. Sesekali, ibunya juga terlihat menyuapinya es krim.
Bu Wijaya memang salah satu wanita paruh baya yang beruntung. Jika biasanya, wanita usia 40-an ke atas, akan sangat menjaga pola makannya, karena di hantui berat badan yang terus bergeser ke kanan, tidak demikian dengan Bu Wijaya. Ia termasuk type orang yang makan banyak, tapi tidak bisa gemuk. Padahal Bu Wijaya juga termasuk jarang olahraga.
"Ting Tung...!"
Bel pintu berbunyi.
"Mungkin itu ayah sudah pulang Bu." Ucap Aisyah.
"Iya mungkin ndok. Biar ibu yang bukakan pintu."
Bu Wijaya berdiri, menaruh kembali es krimnya ke dalam kulkas, lalu melangkah menuju pintu. Sebelum membuka pintu, ia mengintip keluar terlebih dahulu. Dilihatnya, ternyata yang berdiri di depan pintu bukanlah suaminya.
"Aishy... Bukan ayah tuh ndok." Ucapnya. "Ambilkan jilbabnya ibu itu di meja." perintahnya kepada Aisyah.
Aisyah berdiri, memakai jilbabnya, dan menyambar jilbab ibunya dari atas meja. "Trus siapa dong, kalau bukan ayah?" Aisyah berjalan menghampiri ibunya, dan ikut mengintip di pintu. Dilihatnya, di depan pintu nampak berdiri seorang pelayan hotel, dan di dekatnya ada sebuah meja kecil dengan sesuatu di atasnya.
"Ibu tadi pesan makanan lagi??" Aisyah menatap ibunya.
"Tidak tuh ndok. Emange itu yang datang pelayan yang antar makanan?"
"Ting tung...!" Pelayan di depan pintu kembali memencet tombol bel.
"Ya udahlah bu, buka aja dulu. Mungkin dia salah antar pesanan. Salah kamar." Ucap Aisyah.
Bu Wijaya membuka pintu.
"Selamat malam." Pelayan itu membungkukkan sedikit badannya.
"Malam..." Sahut Bu Wijaya.
"Mohon maaf mengganggu, saya hanya mau mengantarkan ini." Ucap pelayan itu sambil menunjuk meja kecil di depannya. Di atas meja itu, nampak sebuah buket bunga dan sebuah kotak berwarna merah berbentuk hati dengan pita emas sebagai pengikatnya. Sepertinya itu sebuah kotak coklat.
"Tapi saya tidak memesannya. Mungkin anda salah kamar?" Ucap Bu Wijaya.
Pelayan itu melihat kembali catatan kecil di tangannya, lalu ia menatap nomer kamar yang tertera di depan pintu. "Kamar nomer 313. Sudah betul Bu, saya tidak salah kamar. Saya diminta mengantarkan ini ke kamar 313."
__ADS_1
"Aishy...?" Bu Wijaya menoleh kearah Aisyah yang sedari tadi berdiri di belakang pintu.
"Hmm..." Aisyah melongokkan kepalanya keluar. Begitu melihat buket bunga mawar yang di bawa pelayan itu, meskipun sedikit ragu, tapi ia segera bisa menebak, siapa yang telah mengirimkan itu untuknya. Aisyah menatap pintu kamar William di depannya. Pintunya tertutup rapat, juga tak terdengar suara apa pun.
"Bawa masuk." Ucap Aisyah kepada pelayan itu.
Pelayan itu pun mendorong meja kecil di depannya, dan membawanya masuk ke dalam kamar Aisyah.
"Saya letakkan di mana Bu?" Tanya pelayan itu.
"Letakkan saja di atas kasur." Ucap Aisyah.
Pelayan itu pun mengikuti instruksi dari Aisyah. Ia meletakkan buket bunga beserta kotak berbentuk hati itu di atas ranjang Aisyah.
Setelah selesai, ia pun pamit permisi. "Terimakasih Bu." Ucap pelayan itu sambil mendorong kembali mejanya keluar.
Setelah pelayan itu keluar, Bu Wijaya yang sedari tadi masih di depan pintu, segera menutup dan mengunci kembali pintunya. Lalu ia berjalan menghampiri Aisyah yang tampak mematung di atas kasur, menatap buket bunga di depannya. Ketika ibunya datang menghampirinya, ia hanya tersenyum nyengir tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Sepertinya putriku benar-benar punya pengagum rahasia."
"Ibu ah..." Aisyah pura-pura cemberut.
"Aisyah belum bisa memastikannya bu."
"Begini ndok, menurut ibu ini sedikit berbahaya. Dia menguntitmu sampai ke hotel ini??"
"Bu, tunggu sebentar, aku ingin memastikan sesuatu."
Aisyah berdiri, lalu berjalan keluar kamar. Ibunya mengikuti Aisyah sampai di depan pintu. Ia penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh putrinya itu.
Aisyah berdiri mematung di depan pintu kamar 314. Kamar William. Ia merasa sedikit ragu, tapi kemudian ia mantap untuk memencet tombol belnya.
"Ting tung...!"
Aisyah memencet satu kali, dan menunggu. Sepi. Hening.
"Ting tung...!" Aisyah memencet tombol bel sekali lagi. Dan menunggu. Tapi tetap sama. Tak ada seorang pun yang keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Aisyah berbalik kembali, masuk kedalam kamarnya.
Bu Wijaya menatap heran tingkah putrinya. Ia pun buru-buru menutup pintu, dan menyusul Aisyah. Ia merasa sangat butuh penjelasan, kenapa putrinya itu mengetuk pintu kamar di depan kamarnya.
"Jangan-jangan Aisyah sudah punya pacar, dan pacarnya itu menginap di depan kamar Aisyah? Astaghfirullah, ini cukup berbahaya. Aisyah harus menjelaskan semuanya." Berbagai syak wasangka hinggap seketika di benak Bu Wijaya.
"Aishy... Jelaskan sama ibu sekarang. Kenapa kamu mengetuk pintu kamar di depan kamarmu?? Apa dia yang tadi membayarkan makanan kita di resto? Apa dia juga yang mengirimimu buket bunga itu? Siapa dia? Kamu punya hubungan apa dengannya??" Bu Wijaya segera memberondong Aisyah dengan berbagai macam pertanyaan
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
__ADS_1
~Rohana Kadirman