
"Aishy... Jelaskan sama ibu sekarang. Kenapa kamu mengetuk pintu kamar di depan kamarmu?? Apa dia yang tadi membayarkan makanan kita di resto? Apa dia juga yang mengirimimu buket bunga itu? Siapa dia? Kamu punya hubungan apa dengannya??" Bu Wijaya segera memberondong Aisyah dengan berbagai macam pertanyaan.
"Bu... Jadi gini." Aisyah memperbaiki posisi duduknya. Ia bersiap untuk memberikan penjelasan kepada ibunya. Ia tahu, ibunya mulai berfikiran macam-macam terhadapnya.
"Kemarin, waktu aku datang ke hotel ini, di lobby aku tak sengaja betemu dengan seorang teman. Namanya William. Sebenarnya dia bukan temanku juga sih bu... William itu, kakaknya temanku, Julia."
"Terus??" Bu Wijaya kembali mencecar, tak sabar.
"Aku ketemu di lobby juga cuma sebentar kok bu, dia mau meeting sama klien kantornya, aku juga kan langsung naik kesini, ke kamar ibu."
"Terus kenapa kamu ketok-ketok pintu kamar di depan? Dia nginap di situ?"
"Ya gitu deh Bu. Ternyata dia nginap di kamar 314. Kemarin pagi, waktu sarapan, gak sengaja ketemu dia lagi. Dia pas keluar kamar, mau sarapan juga. Jadi kami sarapan sama-sama di resto. Udah itu aja."
"Kamu gak janjian kan Aishy... Sama si Willem itu?"
"Namanya William Bu, bukan Willem. He he he... Ibu sama aja kayak Mboh Nah."
"Iyo wes pokoknya itu. Kamu gak janjian kan sama dia? Buat nginep barengan di hotel sini?"
"Astaghfirullah Bu... Ya enggak lah. Wong Aisyah saja gak sengaja ketemunya sama dia. Gimana mau janjian. Emangnya Aishy tahu, mau nginep di kamar mana. Kan ibu yang booking kamarnya."
"Iya juga ya... Kan ibu yang booking kamarnya." Bu Wijaya nampak berfikir. Memang sangat kecil kemungkinan jika Aisyah janjian nginap di kamar yang berhadap-hadapan. Karena ia sendiri yang membokiing kamar untuk Aisyah, dan Aisyah tahu nomer kamarnya setelah tiba di hotel.
"Tapi... Kenapa dia mengirimi kamu bunga? Hayoo??"
"Hmm... Kalau itu aku juga gak tahu alasannya Bu." Aisyah menatap bunga-bunga mawar di depannya, lalu ia menyentuhnya dengan ujung jari-jarinya. Kali ini, bunga mawar yang di kirimkan William, bukan bunga mawar merah, tapi mawar pink dengan semburat warna merah.
"Tapi William itu memang pernah juga sih Bu, ngasih aku bunga sebelumnya."
"Hah! Jadi kamu sudah sering di kasih bunga seperti ini??"
"Gak sering juga Bu. Baru juga sekali, waktu itu setelah pesta ulang tahun Julia, adiknya William. Aku di kasih buket bunga mawar, katanya sih itu hadiah perkenalan gitu. Gak ada yang istimewa."
"Jadi ini yang kedua kalinya? Kamu di kasih bunga sama dia?"
"Iya..." Aisyah tersenyum nyengir.
Bu Wijaya ikut duduk di dekat Aisyah, ia pun langsung faham. Jika pesona putrinya itu telah membuat seorang jatuh pria jatuh hati padanya. Ia berusaha bijaksana, dan tidak ingin menghakimi putrinya. Toh Jika ada pria yang menyukai Aisyah, itu juga bukan kesalahan Aisyah. "Itu apa tuh, yang di kotak love?"
"Gak tau Bu. Sepertinya sih kotak coklat." Aisyah meraih kotak berbentuk hati itu, lalu membuka pita pengikatnya, dan membuka penutup kotaknya. Benar saja, isinya adalah berbagai macam jenis coklat.
"Grrrrttt" Ponsel Aisyah bergetar. Ada panggilan masuk.
Aisyah menatap layar ponselnya. Nama William tertera. Aisyah pun mengangkatnya.
Aisyah : "Assalamualaikum."
William : "Walaikumsalam Aisyah..."
Aisyah : "Kau yang mengirimkannya?"
William : "Ya... Kau suka bunganya? "
Aisyah : "Hmm, ya. Terimakasih."
__ADS_1
William : "Jangan makan coklatnya."
Aisyah : "Lalu kenapa kau memberiku coklat jika aku tak boleh memakannya?"
William : "Aku ingin coklat-coklat itu merasa malu, karena ternyata ada yang lebih manis dari pada meraka. Yaitu kau, Aisyah."
Mendengar perkataan William, Aisyah tertawa kecil. Ia lalu mengambil sepotong coklat, kemudian menggigitnya.
Aisyah : "Kau terlambat, aku sudah memakan coklatnya. Ha ha ha."
William : "Baiklah. Kalau begitu, sekarang pergilah ke jendelamu."
Aisyah : "Jendela??"
Aisyah berjalan ke arah jendela, lalu menyibak tirainya. Ia menatap ke bawah, ke arah taman dan kolam renang. Beberapa lampu taman tiba-tiba mati bersamaan, menyisakan gelap di sekitarnya.
Perlahan, sederet lampu kerlap-kerlap menyala. Membentuk barisan, berkelok dan memanjang.
Aisyah menatap terkesima. Lampu-lampu itu ternyata membentuk namanya AISYAH. Dan sebaris lagi lampu di bawahnya, membentuk kalimat I LOVE YOU.
Aisyah terdiam. Termangu menatap lampu-lampu itu dengan perasaan tak menentu. Ia tak bisa membohongi perasaannya. Ada sebersit rasa tersanjung karena mendapat perlakuan seperti itu dari seseorang.
William : "Kau sudah melihatnya?"
Aisyah : "Ya. Aku melihatnya..."
William : "Kalau begitu, sekarang tidurlah. Selamat malam Aisyah. Assalamualaikum."
Aisyah : "Walaikumsalam."
Aisyah menghela nafasnya, lalu ia menutup tirai jendelanya.
Bu Wijaya, yang sedari tadi memperhatikan dan ikut menyaksikan apa yang terjadi, seolah ikut mengerti.
"Apakah itu dia?" Tanya Bu Wijaya kepada putrinya.
"Iya Bu. Itu dia."
"Siapa tadi namanya?"
"Namanya William Bu."
"Kenapa namanya seperti nama-nama orang barat? Orang bule."
"Dia memang blasteran Bu. Bapaknya orang Jerman, Ibunya orang Betawi."
"Sepertinya ibu akan punya mantu bule."
"Ih, apaan sih Bu."
"Kamu suka sama dia Aishy?"
"Gak lah Bu. Wong aku juga gak begitu kenal sama dia."
"Kalau kamu suka juga tidak apa-apa kok ndok. Nanti biar ibu yang memberitahu ayahmu."
__ADS_1
"Jangan! Pokoknya ibu gak boleh kasih tahu sama ayah." Tukas Aisyah cepat.
"Kenapa?"
"Bu, aku tuh gak punya hubungan apa-apa sama dia. Sama William. Jadi ibu gak boleh kasih tahu ayah."
"Tapi apa yang di lakukan si William itu?? Apakah itu tidak ada artinya apa-apa?? Sepertinya dia sangat menyukaimu ndok. Lihat ini, bunga ini." Bu Wijaya menyentuh buket bunga milik Aisyah. "Ibu aja, seumur hidup belum pernah di kasih bunga sama ayahmu."
"Yo wes, bunga ini buat ibu aja. Ha ha ha..." Aisyah menggoda ibunya.
Aisyah dan ibunya pun mulai memakan coklat pemberian William.
"Ini coklat mahal loh Aishy..." Ucap ibunya.
"Buat ibu aja kalau gitu, gratis. He he he." Lagi-lagi Aisyah mencandai ibunya. Entahlah, Aisyah merasa moodnya berubah menjadi ceria.
"Perempuan itu memang ibarat bunga Aisyah... Dan laki-laki itu ibarat kumbang. Jadi wajar, jika sekuntum bunga telah mekar, maka akan ada kumbang yang menghampiri. Intinya, pandai-pandailah menjaga diri."
"Iya bu... Aisyah ngerti. Ibu jangan khawatir ya... Insya Allah Aisyah akan jaga diri." Aisyah memeluk ibunya dengan manja.
(Cieee... Aisyah di kasih bunga lagi)
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
~Rohana Kadirman
__ADS_1