AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH
Pengagum Rahasia


__ADS_3

Aisyah mematikan ponselnya. Ia baru saja menerima panggilan dari Nuri.


Hari ini Nuri ternyata tidak bisa menyusulnya ke hotel, karena ada tugas dadakan dari dosen.


Aisyah menatap tumbukan tas belanja yang ada di atas kasurnya. Dia tadi memang habis jalan-jalan, menemani ibunya belanja. Ya... Tentu saja, Aisyah juga pasti ikut belanja beberapa barang.


Aisyah membeli beberapa potong baju, rok, dan jilbab. Juga sepasang sendal selop, dan sepasang sepatu kets merk Nikee. Tadi kebetulan, di dept. store nya lagi promo, diskon besar-besaran. Tentu saja Aisyah tak melawatkan kesempatan itu. Jarang-jarang kan, dapat kesempatan membeli produk branded dengan harga yang relatif terjangkau.


"Kling!" Sebuah pesan whatsapp masuk di ponsel Aisyah.


Aisyah membuka ponselnya, dan menatap nama pengirim yang tertera di layarnya. "William...?" Aisyah mengerenyitkan alisnya, lalu membuka pesan whatsappnya.


William : [ Hai Aisyah. Assalamualaikum.]


Aisyah mengirim pesan balasan untuk William.


Aisyah : [ Walaikumsalam. ]


William : [ Kau masih di kamarmu? ]


William : [ Maksudku, di kamar 313 ]


Kenapa William menanyakan hal itu? Menanyakan kalau aku masih di kamar 313? Jangan-jangan William punya niat jahat kepadaku? Dia kan menginap di depan kamarku. Pintu kamar kami berhadap-hadapan.


Aisyah tiba-tiba memiliki prasangka buruk kepada William. Ia lalu berjalan berjingkat, menuju pintu, memastikan jika pintunya sudah terkunci dengan benar. Ia lalu mengintip keluar, melalui lubang intip di pintu.


Tak ada siapa-siapa di luar. Pintu kamar 314, yang di tempati oleh William, juga nampak tertutup rapat.


Astaghfirullahaladzim... Ada apa denganku? Kenapa aku tiba-tiba bersuudzon, berburuk sangka kepada William?


Aisyah kembali duduk di atas kasur, lalu meraih ponselnya yang tadi dia geletakkan begitu saja. Ia lalu membalas pesannya.


Aisyah : [ Ya. Aku masih menginap di sini. ]


Aisyah : [ Kenapa bertanya? ]


William : [ Tidak. Hanya saja, aku juga masih menginap di kamar 314. ]


Aisyah : [ Oh. Rupanya begitu. Urusanmu dengan klien belum selesai ya...? ]


William : [ Sudah. Hanya saja, aku masih merasa nyaman di hotel ini. Rehat sejenak dari rutinitas kantor. ]


Aisyah : [ Oh... Jika begitu, selamat berehat William. ]


***


William termangu sambil menatap layar ponselnya. Lagi-lagi ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ia semakin merasa kebingungan, dan merasa tak menemukan cara yang tepat untuk menyambung komunikasi dengan Aisyah.


Sesaat ia berfikir, kemudian ia memutuskan untuk menelpon saja Aisyah.


"Tuuut... Tuuut... Tuuut." Tiga kali terdengar nada tunggu.


Hmm... Sepertinya dia tidak mau mengangkat telponku.


"Klik!" Telpon di angkat.


"Assalamualaikum..." Terdengar suara Aisyah.


"Walaikumsalam..." Raut wajah William berubah cerah begitu mendengar suara Aisyah.


"Kenapa Will?"


"Eh,.. Anu. I think you gak mau angkat telponku." William mulai kacau.


"Ini, sudah ku angkat kan? Ada apa?"

__ADS_1


"Ada cafe di rooftop hotel ini. Mungkin kau mau makan malam denganku di sana?" Tanya William penuh harap.


"Tidak. Aku tidak bisa."


"Why?" William terduduk di sofa, semangatnya meleleh seketika.


"Aku akan makan dengan ayah dan ibuku."


"Oooh, yeah. Aku mengerti."


"Ada lagi yang mau di tanyakan?"


"Hmm... Itu..." William kebingungan sendiri. Dia masih ingin berbicara dan mendengar suara Aisyah. Tapi ia tak tahu harus berkata apa lagi. "Tak ada. Baiklah, terimakasih Aisyah."


"Terimaka kasih? Terimakasih untuk apa?"


"Terima kasih karena sudah mau mengangkat tepon dariku."


"Oh... Pastilah. Bye, Will. Assalamualikum."


"Walaikumsalam Aisyah..." Panggilanpun terputus.


"Aaaaarrrggghhh...!!" William menghempaskan tubuhnya di atas kasur dengan posisi telentang.


William menatap langit-langit kamar, dan kembali berfikir.


Sebuah tempat sudah dia pesan khusus di atas rooftoop hotel, sepertinya sia-sia saja. Aisyah tak mau makan malam dengannya.


William melirik buket bunga mawar yang ia letakkan di atas meja.


Hmm... Sepertinya aku harus memakai rencana lain.


***


Selepas sholat isya, Aisyah dan ibunya keluar kamar dan menuju resto untuk makan malam.


Aisyah dan ibunya pun memesan makanan.


Aisyah memesan nasi goreng seafood, sedangkan ibunya memesan menu top brand di resto itu, yaitu bebek panggang saus barbeque. Tak ketinggalan juga salad, dan dua gelas jus lemon.


"Ibu, kenapa ayah belum datang?"


"Katanya, rapatnya di teruskan sampai malam."


"Sampai jam berapa?"


"Yo ndak tau ndok... Namanya lembur pasti sampai larut pulangnya."


"Kalau gitu, ibu tidur sama Aishy aja ya... Di kamar Aishy..."


"Yo wes, nanti malam ibu tidur di kamar Aishy."


Pesanan makanan mereka sudah datang, Aisyah dan ibunya pun lantas mulai makan malam.


"Woah.. Ini enak banget loh ndok, cobain." Bu Wijaya mengambil daging bebek pangganggnya dan menyuapkannya ke mulut Aisyah.


"Hmm... Iya bu. Enak banget. Pantesan jadi menu top brand di resto ini."


"Ibu pesan lagi satu ya??"


"Buat ayah?"


"Buat kita berdua. Buat ayah nanti aja kalau dia sudah datang. Kan bisa di antarkan ke kamar. Kalau di pesankan sekarang, nanti makananya dingin, gak enak."


"Baiklah, terserah ibu aja."


Bu Wijaya pun memanggil pelatan, dan memesan lagi satu porsi menu bebek panggang barbeque.

__ADS_1


Ibu dan anak itu pun menyantap makan malamnya sembari bercakap ria. Sangat terlihat keakraban di antara mereka berdua. Beberapa kali Bu Wijaya terlihat menyuapkan makanan ke mulut Aisyah.


Setelah selesai makan, mereka ke meja kasir untuk membayar makananya tadi.


"Meja nomer 5. Semuanya berapa?" Tanya Bu Wijaya kepada kasirnya.


"Meja nomer 5 ya Bu..." Kasir itu mengambil lembaran catatan menu pesanan. "Oh, meja nomer 5 sudah pesanan makananya sudah di bayar Bu." Ucap kasir itu kemudian.


"Sudah di bayar?" Bu Wijaya bertanya heran.


Mendengar hal itu, Aisyah pun ikut bertanya kepada kasirnya, "Siapa yang membayarnya?"


"Tadi pelanggan di meja nomer 11 yang membayarkannya Bu." Ucap kasir itu.


Aisyah menoleh dan mencari meja nomer 11. Tapi meja itu ternyata sudah kosong. Di atas meja, masih ada sebuah piring bekas makanan dan sebuah gelas yang belum di bersihkan oleh pelayan.


Hmm... Siapa gerangan yang sudah membayarkan makananku? Ibu tak mungkin punya teman atau kenalan disini. Sepertinya, hanya ada satu nama yang mungkin melakukannya. William. Ya, pasti William yang sudah membayarkan makananku.


Aisyah dan ibunya pun kembali ke kamarnya. Ke kamar Aisyah.


"Sopo yo nduk, yang sudah membayarkan makanan kita tadi?" Bu Wijaya masih merasa pensaran, tentang siapa yang membayarkan pesanan makananya.


"Entahlah Bu..." Aisyah belum bisa memastikan.


"Emange, kamu punya kenalan atau teman di hotel ini?"


"Gak punya Bu, wong Aishy aja baru sekali ini pergi kesini, gimana mau punya kenalan di sini?"


"Jadi siapa ya yang sudah bayarkan pesanan kita? Ibu juga kan baru sekali ini kesini."


"Sebenernya ada sih Bu, teman Aisyah yang nginep juga di sini, tapi gak tau juga, dia atau bukan yang sudah bayarkan makanan kita tadi."


"Lha iyo, kalau temanmu kan harusnya nyapa kita ya... Atau jangan-jangan kmu punya pengagum rahasia?"


"Hilih... Ibu ini. Mulai deh, kebawa-bawa sinetron ikan terbang. Hi hi hi..."


Aisyah menertawakan ibunya, karena memang begitu masuk ke dalam kamar, ibunya langsung menyalakan tv dan memutar channel berlogo ikan terbang, yang sedang menayangkan sinetron favoritnya.


_____________Bersambung____________


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.


Ini adalah karya pertama saya,.


Baruu belajar nulis


Beri dukungannya dengan cara


LIKE dan VOTE ya,..


Tinggalkan salam juga di kolom komentar.

__ADS_1


~Rohana Kadirman


__ADS_2