AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH
Natasya Subandono


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Natasya bersiap-siap. Malam ini adalah malam yang istimewa untuknya. Malam ini adalah pesta ulang tahunnya yang ke 20 tahun.


Terlebih lagi, pesta ini tak sekedar pesta ulang tahun seperti biasanya, tapi ada hal yang lebih istimewa. Yaitu pengumuman bahwa dirinya pewaris perusahaan Billboard Grup. Hal yang tidak pernah di inginkan oleh dirinya, tapi takdirnya sebagai putri tunggal Tuan Subandono, mengharuskan ia meninggalkan egonya sendiri demi kelangsungan perusahaan ayahnya.


"Tok tok tok."


Natasya menoleh ke arah pintu.


Tuan Subandono, ayahnya, masuk ke kamar Natasya. Lelaki separuh baya itu mengenakan setelah jas dengan dasi kupu-kupu tersemat di kerah lehernya.


Di kalangan pengusaha ellite, nama Tuan Subandono cukup cemerlang. Ia adalah pemegang saham utama, atau bisa di sebut sebagai pemilik perusahaan Billboard Group.


Billboard Group dulunya adalah sebuah perusahaan asing, dan Tuan Subandono hanyalah salah satu dari sekian banyak pengusaha lokal yang ikut berinvestasi saham di dalamnya. Ketika krisis moneter melanda Indonesia di tahun 1996, banyak perusahaan asing yang terkena dampaknya sehingga memilih untuk gulung tikar.


Saham Billboard Group pun anjlok seketika itu juga. Tuan Subandono melihat adanya sebuah peluang, dengan optimis dia berhasil mengakuisisi 70% saham milik Billboard Group. Dengan kegigihan dan keuletannya sebagai seorang pengusaha handal, Tuan Subandono tetap bisa survive dan akhirnya bisa melalui krisi moneter itu. Sekarang, perusahaan Billboard Group berkembang pesat dan menjadi salah satu perusahaan raksasa di Indonesia.


"Sudah siap sayang?" Tuan Subandono menghampiri putrinya.


"Sudah papa." Sahut Natasya sembari tersenyum.


"Ayo, kita keluar sekarang. Tamu-tamu sudah menunggu kehadiranmu." Tuan Subandono mengulurkan tangannya kepada putrinya.


"Baik papa." Natasya berdiri dan menyambut uluran tangan ayahnya. Ia pun berjalan di sisi ayahnya sambil menggandeng lengannya.


***


Tuan Subandono dan putrinya, Natasya, menuruni tangga rumahnya menuju lantai bawah, tempat berlangsungnya pesta.


Semua mata para tamu undangan, tertuju pada Natasya. Ya... Karena baru kali ini, Natasya tampil di depan publik sebagai putri Tuan Subandono.


Natasya, adalah putri tunggal Tuan Subandono. Jika pepatah selalu mengatakan, bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya, sepertinya pepatah itu tidak berlaku untuk Natasya.


Natasya tak pernah tertarik dalam dunia bisnis ayahnya. Ia lebih memilih untuk menjadi seorang florist. Ia merintis usaha toko bunganya dengan uangnya sendiri. Ia tak mau menggunakan uang milik ayahnya sepeserpun. Kecintaanya kepada bunga, mengalahkan godaan gemerlap dunia sosialita yang biasanya di miliki oleh para anak-anak pengusaha kaya raya.


Karakter Natasya yang sangat humble dan bersahaja dalam kesehariannya. Ia sama sekali tak pernah menampilkan dirinya sebagai putri konglomerat.


Sebenarnya, ada alasan kenapa Natasya bersikap seperti itu.


Sejak kecil, Natasya sangat jarang bermain dengan Ayah dan Ibunya. Ayahnya sibuk kerja, sementara ibunya juga sibuk dengan berbagai kegiatannya bersama teman-teman sosialitanya.


Natasya kecil, hanya terus-menerus di rumah, bermain dengan 3 Baby Sitternya. Semua mainan dimiliki oleh Natasya, tapi Natasya tetap merasa kesepian karena tak punya teman bermain. Puncaknya, adalah ketika Ibu Natasya meninggal karena sebuah kecelakaan. Natasya semakin mengurung diri.


Sampai suatu ketika, salah seorang Baby Sitternya, mengajari Natasya menanam bunga, dan di lain waktu mengajari Natasya merangkai bunga. Natasya sangat senang, dan dia merasa bisa menemukan cinta dari berbagai bunga yang di sentuhnya. Sejak saat itulah, Natasya seperti menemukan dunia nya sendiri.


Ayah Natasya selalu menginginkan Natasya untuk meneruskan perusahaanya, tapi Natasya selalu menolak. Akan tetapi, takdir tetaplah sebuah takdir. Dan Takdir Natasya, adalah menjadi putri tunggal Tuan Subandono. Menjadi pewaris tunggal seluruh saham yang di miliki oleh ayahnya.


"Inilah putriku, Natasya Subandono." Tuan Subandono memperkenalkan Natasya di depan para tamunya, yang di sambut dengan tepukan tangan seluruh tamu yang hadir di pesta itu. Di antara para tamu undangan itu, bahkan ada beberapa dari kalangan artis, Seperti Yhuni Shara, Baim Wong dan istrinya Paula Verhoven, Jessica Iskandar, serta beberapa artis ibukota lainnya.


Acara ulang tahun Natasya pun berlangsung dengan sangat meriah.


***

__ADS_1


Romi mengambil segelas coktail buah, lalu mencari kursi untuk duduk. Sementara Raisya, ia benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik. Ia terlihat berbincang-bincang akrab dengan sang tuan rumah, yakni Tuan Subandono.


"Sayang sekali Boss anda tidak datang Nona Raisya, padahal aku sangat mengharapkan kehadirannya." Ucap Tuan Subandono.


"Dengan sangat rendah hati, saya meminta maaf kepada anda Tuan Subandono. Pak William tidak bisa menghadiri pesta ini, dikarenakan dia ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan. Kehadiran saya dan rekan saya Romi,..." Raisya melambaikan tangan kepada Romi, dan Romi pun membalas lambaian tangan Raisya sambil menunjukkan gelas coktailnya, "Memang tidak bisa menggantikan Pak William. Tapi, semoga Tuan Subandono bisa memakluminya." Ucap Raisya sambil membungkukkan sedikit punggungnya.


Saat Raisya sedikit membungkuk, Belahan dada Raisya sedikit tersembul, membuat Tuan Subandono melirik sekilas, lalu tersenyum penuh arti.


"Pak William sangat beruntung karena memiliki seorang sekretaris yang sangat cerdas dan secantik anda Nona Raisya."


"Terimakasih atas pujiannya, tapi sepertinya Tuan terlalu menyanjung. Saya hanyalah seorang sekretaris biasa."


"Ha ha ha. Mata dan bathin saya tidak biasanya tidak pernah salah." Ucap Tuan Subandono sembari tertawa renyah. "Kalau begitu, maukah anda berdansa denganku Nona Raisya?"


"Saya merasa terhormat Tuan, tentu saja saya bersedia." Ucap Raisya sambil tersenyum tipis.


Tuan Subandono dan Raisya pun turun ke lantai dansa. Mereka terlihat mesra. Sesekali keduanya terlihat saling berbisik, dan tertawa lepas.


Melihat pemandangan itu, Romi tersenyum tipis dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Raisya benar-benar penggoda."


Romi kembali menenggak gelas Coktailnya.


"Boleh aku duduk disini?" Ucap seseorang mengejutkan Romi.


Romi menoleh ke arah asal suara. Seorang gadis dengan gaun warna biru muda menghampiri kursi depan meja Romi. Gadis itu pun membawa segelas minuman yang sama dengannya, yaitu coktail buah segar.


"Tentu saja, silahkan." Ucap Romi terkesiap.


Romi memperhatikan gadis itu dengan seksama.


Bukankah dia adalah putri Tuan Subandono yang tengah berulang tahun malam ini? Tunggu dulu, aku seperti pernah bertemu dengannya? Tapi di mana?


"Natasya Subandono??" Romi bertanya untuk memastikan.


"Ya. Itu aku. Seharusnya kau melihatku saat aku meniup lilin dan memotong kue ku tadi."


"Ya, tentu saja aku melihatnya Nona."


"Lihatlah papaku, Tuan Subandono yang terhormat itu." Natasya mengangkat sedikit dagunya, dan menatap sekilas ayahnya yang tengah berdansa dengan Raisya. "Entah perempuan dari mana lagi itu." Ucap Natasya ketus. Ia lantas kembali mendekatkan gelas minumannya ke bibirnya.


"Maksud Nona..."


"Jangan panggil aku Nona! Namaku Natasya."


"Oh, baiklah, Nona... Eh, Natasya." Ucap Romi sedikit tergagap. Ia sampai lupa, dengan kalimat apa yang ingin di ucapkannya barusan.


Romi berusaha mengingat-ingat. "Oh, iya. Maksudmu perempuan yang sedang berdansa dengan Tuan Subandono itu??"


"Iya. Siapa lagi!"


"He he he... Sebenarnya, yang sedang berdansa dengan ayahmu itu, adalah sekretarisku. Eh, maksudku sekretaris Bossku."

__ADS_1


"Aku harap dia tidak menjadi sekretaris papaku." Ucap Natasya dengan nada dingin. Ia kembali meminum Coktailnya, kali ini ia menenggaknya sampai gelasnya habis.


Lagi-lagi, Liontin berlian di lehernya berkilauan tertimpa cahaya.


Setelah minumannya habis, Raisya berdiri dan pamit pergi. "Terimakasih sudah menemaniku ngobrol."


"Iya, Nona Natasya, eh Natasya!" Romi kelupaan lagi memanggilnya Natasya dengan memakai embel-embel Nona.


Natasya berjalan, membelah lantai dansa, lalu ia menaiki tangga.


Romi mengikuti kepergian Natasya dengan tatapannya.


"Natasya... Natasya..." Romi menyebut nama Natasya berulangkali. Tiba-tiba ia terlonjak karena mengingat sesuatu.


Natasya! Tidak salah lagi. Dia adalah pemilik toko bunga, yang tadi siang ia datangi untuk membelikan buket bunga pesanan William.



Natasya (Ilustrasi visual)


_____________Bersambung____________


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.


Ini adalah karya pertama saya,.


Baruu belajar nulis


Beri dukungannya dengan cara


LIKE dan VOTE ya,..


Tinggalkan salam juga di kolom komentar.


~Rohana Kadirman

__ADS_1


__ADS_2