AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH
Penantian


__ADS_3

Hamzah mengerenyitkan alisnya. "Dengarkan apa??"


"Sebenarnya Aisyah baru saja nelpon aku Ham."


Hamzah terdiam. Tiba - tiba hatinya dag dig dug tak karuan.


"Aisyah nelpon?"


"Iya, baruuu saja ini ku matikan ponselku." Mirza menunjuk ponselnya di atas meja. "Makanya, tadi aku agak kaget kamu datang. Kog koyok janjian. Aisyah habis nelpon, gantian kamu yang datang. Ha ha ha..."


"Mana ada janjian Mirza, wong suratku saja tidak di balas sama Aisyah."


"Harusnya kamu jangan ngirim surat lewat POS, tapi suratnya masukkin saja ke dalam botol, trus botolnya lempar ke laut. Biar lebih epic lagi. Ha ha ha..." Mirza meledek hamzah.


"Ya... mau bagaimana lagi Mirza..."


"Lha kan kamu sudah ta kasih nomer hape nya Aisyah?? Kenapa gak nelpon langsung, atau sms gitu. Atau WA. Wong jaman sudah canggih kog masih surat - suratan. Ha ha ha..."


"Wes wes... Jangan bahas suratku. Bahas Aisyah aee... Kenapa dia menolakku? Tadi katanya Aisyah nelpon. He he he."


"Oke oke, Nyimak yang bener sekarang kamu ya..."


"Sendiko dawuh raden..."


"Halah, gak jadi wes."


"Ha ha ha... Jangan gitu kawan..."


"Oke, sekarang aku mau bicara serius, tentang Aisyah. Aku disini tidak sedang bicara sebagai temanmu, tapi aku bicara sebagai kakak Aisyah. Dengarkan baik - baik."


Hamzah hanya manggut - manggut, menuruti perkataan Hamzah.


"Jadi gini. Aisyah itu tidak menolakmu, hanya saja, dia merasa bimbang. Sebagai kakaknya, aku sangat memahami sifat Aisyah. Dia manja, tapi berpendirian kuat. Jika dia melakukan sesuatu, dia tidak pernah setengah - setengah. Pun ternyata dalam hal cinta. Dulu setahuku, Aisyah memang menyukaimu, dan ternyata sampai sekarang pun masih sama. Itu yang bisa aku tangkap dari pembicaraanya tadi melalui telpon."


Mirza berhenti sesaat, ia menatap wajah Hamzah, lalu kembali melanjutkan perkataannya.


"Aisyah menyukaimu, sama seperti kamu menyukai Aisyah. Hanya saja, jika harus menikah sekarang, Aisyah belum siap. Dia ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dulu Ham... Kuliahnya sudah tingkat akhir, tinggal dua semester lagi. Jadi... Sekarang aku mau bertanya padamu." Kembali Mirza menatap wajah sahabatnya di depannya itu. Hamzah nampak terpekur, diam mendengarkan setiap perkataan Mirza. "Apa kau benar - benar menyukai adikku, Aisyah ?"


"Insya Allah. Ya, aku menyukai Aisyah." Jawab hamzah dengan cepat.


"Dan apa kau siap menunggunya, sampai ia menyelesaikan kuliahnya?"


"Di dalam sirah di kisahkan, pernikahan antara Rosululloh dan Aisyah, sangat lah indah dan penuh penantian panjang. Rosululloh di Madinah, dan Aisyah di Makkah. Rosululloh dan Aisyah terpisah selama 3 - 4 tahun lamanya, sebelum akhirnya kembali bertemu dan memulai kehidupan pernikahan mereka yang sungguh mulia." Hamzah menghela nafas perlahan, "Jadi, mungkin sekarang waktuku untuk menanti Aisyahku. Setahun bukanlah waktu yang lama. Insya Allah, aku siap menantinya. Menanti Aisyah menyelesaikan kuliahnya." Ucap Hamzah dengan penuh kemantapan hati.


"Baiklah, aku pegang ucapanmu sebagai laki - laki." Mirza mengulurkan tangannya kepada Hamzah.


Hamzah pun menyambut uluran tangan Mirza. Mereka berdua bersalaman.


"Insya Allah. Allah yang menjadi saksi." Ucap Hamzah bersungguh - sungguh.


***


Selepas sholat subuh, Hamzah kembali ke kamarnya. Ia membuka jendela kamarnya lebar - lebar, Membiarkan udara pagi yang dingin dan segar memasuki kamarnya.


Hamzah duduk, dan matanya menatap ke arah sebuah kotak kayu berukir di atas mejanya. Hamzah meraih kotak itu dan membuka penutupnya. Hamzah menatap sebuah kipas daun kering yang ada di dalamnya. Ya... Sejak menemukan kipas daun itu beberapa waktu yang lalu di dalam bukunya, Hamzah kemudian menaruh kipas daun itu ke dalam sebuah kotak.


Aisyah... Aku akan menunggumu. Biarkan apa yang ada di dalam hati ini tetap berada di hati sampai pada saatnya nanti. Biarkan penantian ini menjadi saksi.


Hamzah beranjak dari kursinya, ia mengambil peralatan lukisnya dari dalam lemari. Kuas, cat, kanvas, dan beberapa peralatan lainnya, ia taruh semuanya ke atas meja.


Hamzah membentangkan kanvasnya di atas meja, kemudian menatap lembaran kanvas yang masih belum ada coretannya itu. Putih. Kosong.


Hamzah menghela nafas perlahan, kemudian ia menyalakan laptopnya, dan memutar sebuah lagu nasyid.

__ADS_1


Hamzah mulai membuat coretan - coretan di atas kanvas. Coretan - coretan itu pun mulai membentuk sebuah sketsa. Dan... Sketsa itu membentuk sebuah gambar masjid. Oh bukan masjid, melainkan istana Taj Mahal.


Setelah selesai melukis istana Taj Mahal, ia lalu menulis kaligrafi di bawahnya.


Tangan, mata, dan hati Hamzah seakan menyatu dengan kuas serta kanvas di depannya. Ia terus menyapukan kuasnya di atas kanvas, sementara dari speaker laptopnya, mengalun perlahan lagu nasyid "Penantian" dari Seismic.


PENANTIAN


Penantian adalah satu ujian


tetapkanlah ku selalu dalam harapan


karena keimanan tak hanya diucapkan


adalah ketabahan menghadapi cobaan


sabarkanlah ku menanti pasangan hati


tuluskan ku sambut sepenuh jiwa ini


didalam asa diri


menjemput berkahMu tibalah izinMu


atas harapan ini


Robbi teguhkanlah ku di penantian ini


berikalanlah cahaya terangMu selalu


Robbi doa dan upaya hambaMu ini


hanyalah bersandar semata kepadaMu


tuluskan kusambut sepenuh jiwa ini


didalam asa diri


menjemput berkahMu tibalah izinMu


atas harapan ini


Robbi teguhkanlah ku dipenantian ini


berikalanlah cahaya terangMu selalu


Robbi segala upaya hambaMu ini


hanyalah bersandar semata kepadaMu


Robbi ridhoilah penantianku ini


hadirkanlah ketentraman di dalam hati


Rabbi hanya padaMu doaku ini


Duhai tempat mengadu segala resah diri


***


Selepas sholat subuh, Aisyah membuka jendela kamarnya, lalu ia keluar ke balkon.


Aisyah menatap bunga mawarnya yang tumbuh subur di dalam pot. Dulu, ketika pertama kali di belinya, bunga mawar itu tak lebih hanya lah tangkai setinggi 15 centi di dalam pot kecil. Kemudian Aisyah memindahkannya ke dalam pot yang lebih besar. Tangkai kecil itu sekarang sudah menjadi serumpun mawar yang tumbuh subut. Ada tiga kuntum mawar yang sudah mekar, dan beberapa lainnya masih kuncup.

__ADS_1


Aisyah mendekatkan wajahnya ke kuntum mawar yang mekar. Beberapa inchi sebelum hidungnya menyentuh kelopak mawar itu, Aisyah memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam - dalam. Ia membiarkan wangi mawar itu memenuhi indera penciumannya.


Wangi... Lembut... Exsotic... William.


Aisyah tersentak, dan membuka matanya.


Kenapa aku tiba - tiba menyebut nama William? Mengapa setiap kali melihat bunga mawar, aku selalu teringat kepada William?? Ah, sudahlah... Meskipun ia menghujaniku dengan ribuan mawar, aku tak boleh jatuh hati padanya. William hanyalah orang asing bagiku.


Aisyah mengambil botol sprayer di dekat pot bunga, lalu mulai menyirami bunga mawarnya. Setelah selesai, Aisyah berdiri dan menatap ke kejauhan. Kerlap kerlip lampu di menara masjid yang nampak di kejauhan, seakan menjadi gemintang di suasana subuh yang masih sedikit berkabut.


Aisyah menatap menara masjid itu. Tinggi, menjulang. Dan lagi - lagi, kubah masjid itu mengingatkanya pada bangunan istana Taj Mahal.


"Mas Hamzah..." Aisyah bergumam lirih. Seulas senyum tercipta di bibir Aisyah seketika.


Ya, hati Aisyah memang tengah berbunga - bunga. Beberapa waktu lalu, kakaknya menelponnya. Sebuah jawaban atas kegundahan hatinya pun terjawab sudah. Kata Mas Mirza, setelah di beri penjelasan, ternyata Hamzah mau menunggu Aisyah sampai kuliahnya selesai.


Wahai Aisyah... Wahai hatiku...


Meskipun rasanya aku bagai bermimpi. Aku tak sendirian. Bersabarlah dalam penantian ini. Aku mencintai Mas Hamzah, dan Mas Hamzah juga mencintaiku. Dua semester lagi, kami berdua akan bertemu, kami berdua akan bersatu.


Robbi... Jagalah hatiku.


Jagalah hati Mas Hamzah untukku. Jadilah ENGKAU perantara kami berdua


Dan pertemukanlah kami nantinya


Dalam keridhoanMU


Aisyah kembali masuk ke kamarnya, dan bersiap - siap untuk hari besarnya.


Hari ini, adalah hari pertama Aisyah akan masuk magang, jadi ia tak ingin terlambat masuk ke kantor tempatnya magang.


_____________Bersambung____________


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah


Ini adalah karya pertama saya,.


Baruu belajar nulis


Beri dukungannya dengan cara


LIKE dan VOTE ya,..


Tinggalkan salam juga di kolom komentar.


~Rohana Kadirman

__ADS_1


__ADS_2