
Setelah Julia pergi.
"Aishy, siapa Julia? apa dia teman satu jurusanmu? Aku belum pernah melihatmu bersamanya di kampus." Tanya Nuri begitu Julia pergi.
"Bukaaan, dia tidak kuliah di UIN. Dia kuliah di kampus Swiss Jerman, yang di Tangerang itu. Kampus elite."
"Oh, ku pikir dia temanmu di kampus."
"Aku juga baru mengenalnya. Kamu inget gak? Waktu aku nelpon kamu ngajakin ke toko bunga?"
"Waktu kamu beli bunga mawar itu?" Nuri menunjuk ke balkon.
"Iya. Jadi tuh,... Waktu dari toko bunga, aku mampir ke KFC dekatnya situ, trus Julia juga ada di situ. Pas Julia mau bayar pesanan, ternyata dompetnya ketinggalan, jadi aku yang bayarkan pesanannya. Begitulah, akhirnya aku kenalan sama Julia. Dan tidak di sangka, ternyata Julia adalah keponakannya Ibu Nadira."
"Ooww, ck ck ck," Nuri berdecak kagum. "Sungguh dunia selebar daun kelor, begitu banyak kebetulan yang terjadi."
"Dia mengundangku ke acara ulang tahunnya, besok malam." Aku menunjukkan kertas undangan berwarna pink di tanganku. "Sebenarnya aku kurang yakin untuk pergi, tapi dia bilang akan menjemputku bersama dengan Ibu Nadira."
"Pergi saja, untuk menghargainya. Menurutku Julia baik. Dia membawakan kita sarapan. Ku pikir tadinya dia salah kamar." Ucap Nuri.
"Aku bingung mau kasih kado apa. Aku baru saja mengenalnya Nur,..."
"Hmm,... Terserah kau saja Aishy, lagian kan bukan kado yang dia harapkan darimu. Toh dia terlihat seperti memiliki segalanya."
"Baiklah, aku akan memikirkannya nanti."
"Oh ya Nur, kamu tau kan, Rangga?"
"Kenapa emangnya Rangga?"
"Uh, sebel aku tuh Nur, dia itu gak berhenti menggangguku."
"Dia cinta banget kali sama kamu Aishy"
"Eleeeh, cowok model Rangga tuh tipe-tipe cowok plaboy. Mosok toh Nur, tadi dia itu sok-sok an nge-DM aku, ala-ala Rey Mbayang gitu."
"Ha ha ha, mosok Aishy ?"
"Iya Nur. Akhirnya aku tantangin sekalian dia, aku tanya dia 'emang kamu sudah siap nikah?' langsung gak berkutik dia. Ha ha ha."
"Pokoknya, kita berdua harus fokus ke tujuan kita. Lulus, dapat gelar, dan balik ke Jogja. Say No To PACARAN !" Nuri bicara dengan menirukan gaya bicara Rangga ketika berorasi dulu di depan MABA.
"Ha ha ha, aku jadi ingat tragedi pembalut waktu itu Nur."
"Tok tok tok." Pintu kamar di ketuk dari luar.
"Assalamualaikum, teh Nuri, teh Aishy...." Tersengar suara Ica.
Aku segera membuka pintu.
"Teh, ini bubur kacang ijo. Tadi Teh Mia yang bikin." Ica menyodorkan mangkok beralas piring plastik. "Langsung di makan ya Teh, mumpung masih panas."
"Oh, Masya Allah. Makasih ya Ica," aku mengambil mangkok itu dari Ica. "Nanti aku balikin mangkoknya ya."
"Iya Teh." Ica kembali ke kamarnya.
"Nuri, masih sanggup makan?" Aku meringis ke arah Nuri. Jujur saja, aku sudah kekenyangan gara-gara pizza, donat, dan waffle yang tadi di bawa Julia.
__ADS_1
"Simpan aja dulu di kulkas, ntar ntar lagi kita makannya. Hari ini, banyak banget yang ngasih kita rezeki makanan. Fabiayyi Alaa Irobbikuma Tukadzibaan."
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan." Sahutku.
Membaca penggalan Surah Ar Rahman, tiba-tiba saja mengingatkanku pada seseorang.
*Mas Hamzah. Kenapa tiba-tiba aku rindu padanya? Mungkinkah dia ingat padaku? Akankah perasaanku ini bersambut?
Ya Robb, ampuni aku. Kenapa aku harus jatuh cinta secepat ini*?
***
Julia keluar dari kamar Aisyah, dan menuju rumah bibinya.
Ia langsung masuk, dan mendapati bibinya sendirian di ruang tamu.
"Bibi, mana William?" Tanya Julia sambil langsung duduk di sofa.
"Dia ke kamar mandi."
"Oh,..."
Tak lama kemudian, William keluar dari kamar mandi.
"Bibi keterlaluan sekali, dia tak mengizinkanku naik ke asrama." William kembali duduk di sofa.
"Asrama Nadira di bangun oleh Engkongmu dulu. Aturannya sama, dan tidak berubah sampai sekarang. Kos-kosan putri, tidak boleh ada laki-laki yang masuk ke dalam. Jika kau ingin bertemu pacarmu, panggil saja dia kemari."
"Dia bukan pacarku Bibi, tepatnya belum. Maka dari itu Bibi harus membantuku."
"Ya, baiklah-baiklah. Bibi sebenarnya cukup senang mendengar ada gadis yang membuatmu jatuh hati. Kau tahu Will, Mommymu khawatir kalau kamu lekong."
"Bencong William. Ibumu cemas kalau kamu ternyata lekong alias bencong, atau penyuka sesama jenis, apalah itu namanya."
"Ha ha ha." Julia terbahak-bahak mendengar pekataan Bibinya. "William Lekong," sepertinya itu julukan yang bagus untukmu Will, ha ha ha." Julia tertawa sekali lagi.
"Diamlah!" William membekap mulut adiknya itu. Tapi Julia justru menggigit telapak tangan William.
"Aawww," William mengaduh kesakitan dan serta merta melepaskan tangannya. "Kau ini, seperti drakula Julia." William menggosok-gosok telapak tangannya yang merah akibat gigitan Julia.
Ibu Nadira menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kedua keponakannya itu.
"Bibi, sepertinya kami harus pamit sekarang, ada pekerjaan kantor yang harus ku selesaikan." William berdiri dari kursinya.
"Kalian sering-seringlah kemari, agar Bibi tidak kesepian."
"Ya Bibi, aku akan sering kemari." Jawab William antusias.
"Ya ya ya, Bibi mengerti. Ada udang di balik batu kan ?"
"He he he, aku menyayangimu Bibi." William mengecup pipi Bibinya. Julia pun melakukan hal yang sama.
"Kami pergi sekarang Bibi, Bye...."
"Ucapkan salam William. Kau tidak lagi tinggal di Canada, tapi di Indonesia."
"Baiklah Bibi, Assalamualaikum."
__ADS_1
"Walaikumsalam."
Ibu Nadira mengantarkan William dan Julia sampai ke depan pintu, kemudian dia kembali masuk ke dalam rumah.
Ibu Nadira duduk di sofa, lalu mengambil album foto yang tergeletak di rak bawah meja. Ia melihat-lihat foto di dalamnya, dan tersenyum mengingat berbagai kenangan yang hadir melalui foto-foto itu.
Rumah yang di tempati Ibu Nadira sekarang adalah rumah warisan orang tuanya. Dulu Ibu Nadira mempunyai seorang anak perempuan, namun anaknya meninggal dunia ketika berumur 10 tahun, dan beberapa tahun kemudian, suaminya juga meninggal dunia. Sampai sekarang, Ibu Nadira tak pernah menikah lagi. Pernah beberapa kali, adiknya, Mariam, memintanya untuk tinggal bersamanya, tapi Ibu Nadira menolaknya. Ia merasa tak tega jika harus meninggalkan rumah rumah yang penuh kenangan itu.
***
"Bagimana Julia? Apa dia mau datang besok malam?" Tanya William kepada Julia begitu mereka masuk ke dalam mobil.
"Yes, misi pertama berhasil. Persiapkanlah dirimu untuk berjumpa dengannya besok malam." Sahut Julia.
"Thanks Julia."
William menghidupkan mobilnya, dan memacu mobilnya menuju ke rumah.
Setibanya di rumah.
"Masuklah. Aku belum bisa pulang sekarang, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan," ucapnya kepada Julia.
"Bilang sama Mommy, malam nanti aku akan datang untuk makan malam."
"Okey." Julia membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
William kembali memacu mobilnya, kali ini ia menuju ke sebuah showroom mobil. Ya, dia akan membelikan sebuah mobil untuk adiknya, Julia.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
__ADS_1
❤️Rohana Kadirman❤️