
Beberapa hari setelah percakapannya dengan Mirza di angkringan kopi jos itu, Hamzah justru merasa gelisah. Di kamarnya, ia bolak bolik menatap layar ponselnya. Ia menatap deretan nomer yang ia beri nama "Insyaa Allah."
Ya, bahkan menuliskan nama Aisyah di kontak ponselnya pun, Hamzah merasa tak berani. Ia tahu, dirinya tengah di liputi gharizah annaum. Di liputi cinta. Maka, sebisa mungkin ia berusaha untuk tetap menjaga hati. Membentengi hasrat cintanya sendiri. Ia benar-benar tak mau, perasaan mengalahkan akal.
Akan tetapi, demikian lah yang di namakan cinta. Semakin berusaha keras kau cegah, semakin ia mempermainkan perasaanmu dengan segala hal yang terasa indah.
Hamzah mengusap layar ponselnya, dan mematikannya. Lalu ia menyimpannya di atas meja. Ia lantas mengambil secarik kertas dan pena, lalu mulai menulis sesuatu di atasnya.
Hamzah memutuskan untuk menulis sebuah surat. Ia merasa, surat adalah satu-satunya media yang paling kecil celahnya untuk berkomunikasi dengan Aisyah.
Ia hanya perlu untuk menyampaikan perasaanya kepada Aisyah.
Hamzah menulis kata demi kata. Merangkainya menjadi kalimat demi kalimat. Semua perasaannya seakan ikut mengalir seiring dengan mengalirnya tinta pena di atas kertas.
Hamzah menatap kertas putih di hadapannya yang kini telah penuh dengan tulisan tangannya. Hamzah melipatnya, dan menyelipkannya ke dalam buku.
Setelah menulis surat, Hamzah merasakan ada sedikit rasa lega di hatinya. Meskipun pada kenyataanya, ia sendiri tak tahu, kapan ia akan mengirimkan surat itu kepada Aisyah.
Ya Robbi, ajari aku cinta dalam diam, pada kesendirian tanpa sentuhan haram, pada kerinduan dalam doa doa malam, demi kesucian cinta yang terpendam.
***
Setelah 5 hari lamanya di Jakarta, Pak Wijaya dan Bu Wijaya pun harus pulang kembali ke Jogja.
Setelah membereskan barang - barang, dan urusan checkout hotel selesai, mereka pun keluar dari hotel, karena taxi yang di pesan untuk mengantar mereka ke bandara sudah datang.
Aisyah melepas kedua orang tuanya dengan pelukan penuh kasih sayang.
Nuri yang juga hadir disitu, juga ikut menyalami Pak Wijaya dan Bu Wijaya.
"Ibu sama Ayah pulang dulu ya Aishy. Jaga diri baik-baik." Bu Wijaya mengelus kepala Aisyah.
"Iya Bu, Insya Allah Aisyah akan jaga diri baik baik. Ayah dan Ibu juga ya, jaga kesehatan."
"Yo wes, Ayah dan Ibu berangkat sekarang. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Sahut Aisyah dan Nuri bersamaan.
Pak Wijaya dan Bu Wijaya pun masuk ke dalam taxi.
Taxi perlahan meninggalkan halaman Hotel Clarion.
"Orang tuamu sudah pulang?" Sapa William mengejutkan Aisyah dan Nuri.
Aisyah heran, karena lagi-lagi William seolah muncul dengan tiba tiba di dekatnya.
"Iya. Baru saja mereka berangkat." Aisyah menunjuk taxi yang di tumpangi kedua oranb tuanya. Taxi itu baru saja keluar dari pelataran Hotel Clarion.
"Oh, sayang sekali. Aku tak sempat mengucapkan salam kepada mereka."
"Mengucapkan salam? pada ayah dan ibuku?" Aisyah mengerenyitkan alis.
"Ya. Aku ingin mengucapkan salam pada ayah dan ibumu." Sahut William mantap, penuh percaya diri.
Aisyah merasa lucu, tapi ia mengurungkan niat untuk menanggapi William.
"Sekarang, kamu mau kemana?" William menatap Aisyah.
"Hmm... Aku mau ke kampus."
__ADS_1
"Biar ku antarkan, aku juga..."
Belum sempat William menyelesaikan kalimatnya, Aisyah sudah memotongnya dengan segera.
"Tak Perlu. Kau tak perlu mengantarkanku. Aku sudah memesan taxi." Ucap Aisyah dengan tergesa.
Nuri menatap Aisyah. Ia tahu sahabatnya itu berbohong. Karena Aisyah memang belum memesan taxi. Aisyah ingin menunggu dulu Ayah dan Ibunya pergi, baru ia mau memesan taxi. Karen tadi Aisyah takut, jika taxi yang dia pesan, lebih duluan datang ketimbang taxi yang di pesan ibunya.
"Oh, padahal aku ingin sekali mengantarkanmu Aisyah..."
"Terimakasih Will. Tapi itu benar-benar tidak perlu, karena aku sudah memesan taxi lebih dulu." Ucap Aisyah. "Oh ya, sepertinya kau sudah siap untuk berangkat ke kantor Will. Sebaiknya kau segera berangkat, nanti kau terlambat. Kau tidak takut di marahi boss mu? he he he..." Aisyah berusaha sedikit bercanda.
Dalam hati, Aisyah sebenarnya merasa sedikit gugup. Sejak kejadian dua malam yang lalu, ketika William mengiriminya bunga dan menyalakan lampu di taman bertuliskan I LOVE YOU, Aisyah merasa sedikit grogi jika bertemu dengan William. Makanya, dia ingin buru-buru pergi dari hadapan William. Aisyah merasa, tatapan mata William seolah begitu tajam menembus jantungnya. Dingin, Intens, dan entahlah. Aisyah jadi merasa deg-degan sekaligus takut dalam waktu yang bersamaan.
"Hemm... Baiklah. Aku memang harus berangkat ke kantor. Kau betul juga Aisyah, jika aku terlambat, mungkin saja boss ku akan memecatku. Ha ha ha..." William tertawa lepas.
"Oke Aisyah..." William menatap Aisyah. "Dan, temannya Aisyah." William menoleh kearah Nuri. "Aku pergi dulu. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Sahut Aisyah perlahan.
"Walaikumsalam." Nuri pun menjawab salam William.
William berjalan menuju area parkir, dan pergi dengan mengendarai mobil porsche nya.
Dalam hati William tertawa, mengingat kata-kata Aisyah, yaitu jika ia terlambat, nanti bisa - bisa di marahi bossnya.
Siapa yang berani memarahiku? Siapa yang berani memecatku?? Ha ha ha.
***
Sesaat setelah William pergi, Nuri segera mencecar Aisyah dengan pertanyaan. Ia tahu, ada sesuatu yang terjadi di antara Aisyah dan William. Ia ingin rasa penasarannya terjawab segera.
"Stop!" Aisyah menempelkan jari telunjukknya di depan bibir. "Jangan sekarang. Aku tahu apa yang akan kau tanyakan. He he he."
"Aisyah...!" Nuri pura - pura melotot.
"Ha ha ha. Maksudku jangan sekarang. Entar aku ceritain semuanya ya... Oke Nuri sayang. Sekarang aku mau telpon taxi dulu."
Aisyah menekan beberapa tombol ponselnya, lalu ia menelpon taxi.
"Di depan Hotel Clarion. Sekarang."
"Baiik, saya tunggu."
Aisyah mematikan ponselnya, dan memasukkannya ke dalam tasnya.
Tak beraselang lama, sebuah taxi pun tiba di depan mereka.
Aisyah dan Nuri pun naik ke dalam taxi.
"Tujuannya kemana Dek?" Tanya sopir taxi itu dengan ramah.
"Kampus UIN pak."
"Baik, kampus UIN ya."
Perlahan, taxi yang di tumpangi Aisyah dan Nuri pun meninggalkan pelataran Hotel Clarion.
Aisyah menatap keluar melalui jendela mobil. Excellent Group. Aisyah membaca plang nama di sebuah gedung raksasa yang letaknya sejajar, tak jauh dari Hotel Clarion tempatnya menginap.
__ADS_1
"Aisyah..." Nuri memanggil Aisyah.
"Hmm... Iya, kenapa?"
"Janjimu tadi."
"Janji apa?"
"Mau ceritain something antara kamu dan kakaknya Julia itu."
"Mau di ceritain??"
"Iya, cepetan!"
"Seriuuus?"
"Dua rius!"
"Wani piro?? Hi hi hi." Aisyah sengaja mempermainkan Nuri.
Merasa di permainkan, Nuri mencubit lengan Aisyah.
"Auwww..." Aisyah spontan berteriak kesakitan.
"Masih mau bilang wani piro??"
"Ha ha ha... Iya, iya. Aku ceritain sekarang. Jadi gini..." Aisyah memulai ceritanya.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
~Rohana Kadirman
__ADS_1