
Aku tersenyum, lalu mengikutinya masuk ke dalam toko.
"Mau cari apa kakak ? Toko kami menjual berbagai macam bunga. Ada bunga pertangkai, buket, dan bermacam jenis bibit bunga juga ada" Natasya menjelaskan isi tokonya.
"Hari ini ada yang masih fresh banget, yaitu Bunga Seruni. Ini baru datang tadi loh Kakak. Dan ini pertama kalinya kami menyediakan bunga Seruni. Bibitnya juga ada kakak" Natasya menunjukkan serumpun bunga seruni berwarna putih.
"Sebenarnya aku nyari bunga mawar" Ucapku kemudian.
"Oh, mawar ya kakak. Ini kakak, bunga mawar juga banyak. Ada mawar putih, pink, dan merah. Mau yang pertangkai atau yang buket ? Yang buket juga macam-macam jenisnya Kakak. Mulai dari buket kecil sampai yang buket besar juga ada"
"Maaf maksudku, aku nyari bibit bunga mawar" Ucapku kemudian sambil tersenyum.
"Oh,... Bibit bunga mawar ? Mari kakak, ikuti saya"
Natasya berjalan menuju ke samping tokonya. Aku mengikutinya.
"Ini Kak, silahkan di pilih. Ini ada yang baru di stek, ada yang sudah umur sebulan, udah muncul tunas-tunas barunya. Ada juga yang sudah subur dan berbunga, jadi gak perlu repot-repot lagi merawatnya, tinggal di siram aja"
"Aku mau yang ini aja" Aku menunjuk sebuah pot kecil, berisi bibit bunga mawar kira-kira setinggi 30 cm. Sudah terlihat ada 2 kuncup bunga yang masih kecil.
"Wah,... Pilihan tepat Kakak. Bunga ini umurnya sudah hampir 2 bulan. Akarnya sudah lumayan kokoh, dan sudah ada bakal bunganya. Asyik tinggal nungguin mekarnya"
Natasya mengangkat pot bunga itu, lalu membawanya masuk ke dalam. Ia kemudian mengemasnya ke dalam box khusus.
"Ini kakak, sudah. Cara merawatnya, cukup di siram satu kali sehari aja, sore hari. Jangan terlalu banyak nyiramnya ya Kakak, cukup di spray, dan basahkan sedikit tanahnya" Natasya memberi penjelasan.
"Baik. Jadi ini berapa harganya ?" Aku bertanya.
"Ini harganya 50 ribu Kakak. Khusus buat Kakak, saya kasih diskon. Jadi 45 ribu saja."
"Oke, makasih"
Aku mengeluarkan dompet, dan membayar bibit bunga yang baru saja ku beli.
"Ini kakak, bunganya" Natasya menyodorkan box yang berisi bunga mawarku.
"Dan ini, kartu nama saya Kakak. Ada nomer whatsapp saya di situ. Kalo Kakak ada masalah dengan bunganya, langsung chat aja ya Kak. Atau siapa tau butuh bibit bunga yang lain, tapi Kakak gak ada waktu buat datang kesini, Kakak chat aja. Nanti bisa di kirim via gojek" Natasya menyodorkan kartu namanya di atas meja. Aku mengambilnya.
"Dan ini hadiah buat Kakak. Terimakasih sudah belanja di Natsaya Flower" Natasya memberiku setangkai bunga mawar yang terbungkus plastik bening.
"Oh,..!" Aku sedikit terkejut. Kagum dengan pelayanan toko bunga Natasya Flower ini.
Aku menerima setangkai bunga mawar itu dari tangan Natasya.
"Makasih ya,..." Aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada Natasya.
"Sama-sama Kakak. Datang lagi ya,.." Sahut Natasya.
Aku keluar dari toko bunga, lalu berjalan ke trotoar. Untuk menunggu angkot.
Ketika melewati gerai KFC, tiba-tiba saja perutku langsung merasa lapar.
Aku melirik jam tanganku.
"Setengah dua belas. Hmm,... pantas saja aku lapar. Makan di sini aja ah."
Aku memutuskan untuk masuk ke gerai KFC. Semoga saja tidak panjang antriannya.
Begitu tiba di dalam, aroma ayam goreng yang lezat seketika membuatku semakin merasa lapar.
Beruntung, antrian tidak begitu panjang. Di depan tiga kasir yang berjejer, hanya berisi lima orang antrian terpanjang.
Aku segera menyusup ke antrian kasir nomer tiga, hanya ada tiga orang berdiri mengantri. Satu orang sudah menyelesaikan pesanannya, lalu pergi.
Orang berikutnya, juga sudah menyelesaikan pesanannya.
Sekarang hanya tinggal dua antrian. Yaitu aku, dan gadis yang berdiri di depanku.
Gadis itu berambut blonde, mengenakan jins berwarna biru, dan memakai sepatu kets warna putih merk Nikee.
"Burger king, potato, dan dua chicken spicy. Minumnya Pepsi, jumbo." Ucap gadis blonde itu kepada kasir di depannya.
Kemudian ia kembali melihat layar ponselnya yang sedari tadi di pegangnya.
"Damn it ! f**k you Dimas !" Gadis itu mendengus kesal. Karena aku berdiri di belakangnya, aku bisa mendengarnya dengan jelas.
__ADS_1
Gadis blonde itu memasukkan ponselnya ke dalam tasnya dengan kasar. Sepertinya ia terlihat sangat kesal karena sesuatu hal.
"Burger king satu, kentang satu, chicken spicy dua, dan pepsi jumbo satu. Semuanya Seratus lima belas ribu" Kasir menyebutkan jumlah total yang harus di bayar, dan menyodorkan nampan berisi pesanan makanan gadis itu.
Gadis itu serta merta mengambil gelas pepsinya, dan meminumya dengan tangan kanan. Tangan kirinya merogoh kedalam tasnya. Sepertinya ia mau mengambil dompetnya.
Sesaat, ia tampak mencari-cari di dalam tasnya. Ia kemudian meletakkan kembali gelas pepsinya ke atas nampan.
Ia lalu menggunakan kedua tangannya untuk mencari di dalam tasnya. Karena tidak juga menemukannya dompetnya, ia lantas melepas tasnya dari bahunya, kemudian meletakkan tasnya di atas meja kasir.
Kembali, ia mengobrak-abrik isi tasnya dengan gusar.
"Oh,... God ! Aku benar-benar sial hari ini !" Ucap gadis itu kesal.
Gadis itu sepertinya tidak menemukan dompetnya di dalam tasnya. Ia terlihat kebingungan.
Aku merasa iba melihatnya. Terlebih lagi, beberapa orang mulai memperhatikan tingkahnya. Ada yang mengerutkan kening, ada yang tersenyum sinis, dan ada juga yang terlihat saling berbisik.
"Maaf mbak,...?" Aku menepuk bahu gadis itu dari belakang.
Gadis itu menoleh kebelakang, menatapku.
Gadis blonde itu memiliki mata coklat.
"Ada masalah ? Ada yang bisa di bantu ?" Tanyaku dengan tersenyum ramah.
"Oh,... " Gadis blonde itu membalas senyumanku dengan meringis. Nampak jelas raut wajahnya terlihat kebingungan.
"Aku mau membayar pesanan, tapi sepertinya aku tidak menemukan dompetku" Ucapnya. "Dan aku sudah meminum pepsiku." Ucapnya kemudian sambil mengangkat gelas pepsi di depannya.
"Mungkin orang lain mengira ini sebuah lelucon. Dan mengira aku tak bisa membayar pesananku karena tak memiliki uang" Ucapnya pasrah.
"Biar aku bayarkan"
"Oh, Really ??" Gadis blonde itu nampak sedikit terkejut.
Aku maju ke depan, dan membayar pesanan gadis blonde itu di kasir.
"Thank you so much. Aku tunggu kamu di meja, kita harus makan bersama" Ucap gadis blonde itu kepadaku.
Gadis blonde itu mengangkat nampan yang berisi pesanannya, lalu berjalan ke belakang.
Setelah dia pergi, aku segera memesan makananku. Setelah selesai, aku membayar pesananku dan segera mencari meja untuk makan. Antrian di belakangku ternyata sudah mulai mengular. Karena sekarang memang sudah masuk jam makan siang.
Aku masih berdiri dan mencari meja untuk ku tempati.
"Hei,...! Di sini !" Seseorang terdengar berseru.
Ternyata gadis blonde tadi. Dia tersenyum dan melambaikan tangan kearahku.
Aku tersenyum dan berjalan ke arahnya. Lalu meletakkan nampanku di atas meja, dan duduk di kursi depan gadis itu.
Makanan di atas nampan milik gadis itu terlihat masih utuh. Ternyata gadis itu sama sekali belum menyentuhnya. Dia benar-benar menungguku untuk makan bersama.
"Aku Julia" Gadis blonde itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku.
"Aku Aisyah" Sahutku sambil menjabat tangannya.
"Ngomong-ngomong, terimakasih banyak atas makanan ini." Julia menunjuk nampan makanan miliknya.
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Sebaiknya kita segera makan, aku benar-benar lapar" Ucap Julia seraya mengangkat burgernya, lalu menggigitnya.
Aku pun mulai menyantap makananku.
"Apa kau tinggal di dekat sini Aisyah ?"
"Tidak, aku tinggal di dekat kampus UIN"
"Kuliah di UIN ?"
"Iya"
"Aku kuliah di Swiss Jerman, Tangerang. Semester empat"
__ADS_1
Mendengar nama Swiss Jerman, aku cukup terkesan. Swiss Jerman University adalah universitas termahal ke-2 di Indonesia. Peringkat termahal pertama, tentu saja di duduki oleh President University, Cikarang.
"Aku baru semester dua." Sahutku.
"Oh Iya,... Kau tau Aisyah, hari ini aku merasa benar-benar sial. Aku di putuskan pacarku di siang hari bolong, kemudian aku tidak bisa membayar pesanan makananku karena sepertinya aku lupa membawa dompet. Ha ha ha." Julia menertawai dirinya sendiri.
"Untungnya aku bertemu denganmu. So,... Thank you soo much Aisyah. Kau telah menyelamatkanku." Ucap Julia bersungguh-sungguh.
"Sama-sama Julia. Sudahlah, itu bukan sesuatu yang perlu di besar-besarkan. Aku tadi hanya merasa perlu membantumu. Bisa saja aku yang berada di posisimu saat itu. Ketinggalan dompet saat mau membayar pesanan."
"Hemm,... Sepertinya hari ini adalah harimu Aisyah."
"Maksudnya ?"
"Yeah, look. Hari ini aku tidak bisa membayar makananku, dan kau yang membayarkannya. Hari ini aku di campakkan seseorang, dan kau,... Sepertinya baru saja di puja oleh seseorang. Kau mendapat setangkai mawar."
Aku mengerenyitkan alis. Aku berpikir sesaat.
"Oh,... Maksudmu ini ??" Aku mengeluarkan setangkai mawar dari paper bag di depanku.
Tangkai mawar itu memang sedikit lebih panjang di bandingkan tinggi paper bag, sehingga ujung bunganya tentu terlihat menyembul keluar.
"Ya,... Bukankan itu dari seseorang yang spesial ?"
"Oh,... Ha ha ha." Aku tertawa terpingkal-pingkal.
"Is not right ?" Melihatku justru tertawa, Julia langsung bertanya.
"Yup,... You are wrong Julia. Aku baru saja dari toko bunga di sebelah. Aku membeli bibit bunga ini." Aku menunjukkan box di dalam paper bag ku.
"Kemudian, pemilik toko bunga itu, memberiku hadiah setangkai bunga mawar ini." Aku menjelaskan asal usul setangkai mawar itu kepada Julia.
"Oh ya,...? Ha ha ha. Ku pikir tadi, seseorang yang spesial memberikan bunga itu padamu"
Aku dan Julia makan sambil sesekali berbincang.
Ternyata, Julia adalah gadis blasteran. Ibunya asli Jakarta, sedangkan Ayahnya berkebangsaan Jerman. Pantas saja Julia kuliah di Swiss Jerman University.
*Julia (ilustrasi visual)
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
❤️Rohana Kadirman❤️
__ADS_1