
Aisyah menatap gedung di depannya, Excellent Group, perusahaan tempatnya untuk memulai magang.
Minggu lalu, ia dan dua belas mahasiswa lainnya, sudah melakukan test wawancara dengan pihak HRD perusahaan Excellent Group, dan beberapa hari kemudian, ia di hubungi dan di nyatakan lulus test serta di terima untuk kerja magang di perusahaan Excellent Group. Dari dua belas mahasiswa yang melakukan test wawancara, ternyata hanya delapan orang yang di nyatakan lulus dan di terima untuk kerja magang, dan Aisyah adalah salah satu mahasiswa yang di nyatakan lulus test dan di terima untuk kerja magang di perusahaan Excellent Group.
Aisyah tentu saja merasa bersyukur, karena ia tak perlu lagi sibuk membuat proposal baru untuk melamar kerja magang di tempat lain, tapi ia juga merasa sedikit sedih, karena temannya, Rara, tidak lulus test wawancara.
Sekali lagi, Aisyah menatap gedung setinggi dua puluh lantai di depannya itu, kemudian ia dengan mantap melangkahkan kaki masuk ke dalam.
Setelah melewati security check dan menunjukkan kartu identitas mahasiswanya, Aisyah pun melewati portal dan berjalan menuju lift. Ia harus ke lantai empat dan menemui team HRD untuk mendapatkan pembekalan.
Aisyah menekan tombol lift, dan menunggu di samping pintu lift. Ia berdiri sambil mendekap map berisi berkas - berkas yang harus dia setorkan ke pihak HRD sebentar.
Dua orang wanita datang sambil berbincang-bincang. Satu orang memakai kemeja warna abu - abu dengan aksen pita berwarna putih di lehernya, dan wanita satunya lagi memakai dress ungu dengan belt di pingganggnya.
"Astaga, aku belum bisa lupa bagaimana expresi wajah Raisya waktu itu. Ha ha ha..." Wanita yang memakai dress warna ungu tertawa sambil menutup mulutnya.
"Betul katamu Luna. Untung saja nenek sihir itu sudah di depak dari team kita, jadi kita tak perlu lagi melihatnya setiap hari." Sahut wanita yang berkemeja abu - abu.
"Ting !" Pintu lift terbuka. Beberapa orang keluar dari dalam lift.
Setelah lift kosong, Aisyah segera masuk ke dalam lift, di susul dengan kedua wanita tadi.
Begitu pintu lift tertutup, Aisyah segera memencet tombol nomer 4. Wanita yang berkemeja abu - abu lalu memencet tombol nomer 11.
Lift mulai berjalan, naik ke atas. Sesaat hening di dalam lift. Wanita yang memakai dress warna ungu menatap Aisyah, dan mengamati Aisyah mulai dari ujung kaki sampai sampai ke ujung kepalanya.
"Aku dengar dari Romi, ia sedang mencarikan pengganti Raisya. Semoga saja penggantinya nanti, tak seperti Raisya. Dia sungguh angkuh, ambisius, menjijikkan." Ucap wanita yang memakai dress warna ungu.
"Luna, aku berharap pengganti Raisya nanti laki - laki. Semoga saja." Sahut wanita yang memakai kemeja warna abu - abu.
"Ha ha ha... Aku belum pernah melihat ada sekretaris laki-laki, Diana. Kau ini ada - ada saja. Tentu saja pengganti Raisya, pasti perempuan juga." Sahut wanita yang berkemeja abu - abu.
"Ting!" Lift berbunyi. Ternyata sudah sampai di lantai 4.
Pintu lift terbuka, dan Aisyah pun melangkah keluar.
"Siapa dia? Aku belum pernah melihatnya?"
"Entah lah, aku juga belum pernah melihatnya. Mungkin karyawan baru."
Aisyah masih sempat mendengar percakapan dua wanita di dalam lift itu, sebelum pintu lift tertutup dan kembali berjalan naik.
Aisyah berjalan di lorong lantai empat, dan menuju ruangan HRD.
__ADS_1
"Tok tok tok." Aisyah mengetuk pintu ruangan HRD yang memang terbuka.
Seorang wanita yang tengah duduk dan terlihat sibuk di depan laptopnya, mendongakkan kepalanya. "Silahkan masuk." Ucapnya sambil tersenyum kepada Aisyah.
"Silahkan duduk." Ucapnya lagi ketika Aisyah sudah masuk ke ruangannya.
"Terimakasih Bu." Aisyah pun duduk di kursi yang telah di persilahkan untuknya.
"Mahasiswa magang ya kan?" Ucap wanita itu lagi.
"Benar Bu, saya Aisyah, mahasiswi magang dari UIN Syarif Hidayatulloh." Ucap Aisyah sambil menyodorkan map yang sedari tadi di dekapnya erat.
Wanita itu mengambil map yang di sodorkan oleh Aisyah, lalu ia membukanya. "Aisyah Huriyya Atmaja." Ucapnya sambil mengangguk - anggukkan kepalanya. "Baiklah Aisyah..."
"Iya Bu..."
"Oke, berkasmu saya simpan. Mulai hari kamu masuk magang. Saya akan mengantarmu ke divisi keuangan, di lantai 11. Disanalah kamu akan di tempatkan."
"Baik Bu."
"Oh ya, satu lagi. Jangan panggil aku Bu. Panggil saja aku Mbak Sinta. Aku belum menikah, dan ku rasa, panggilan Mbak Sinta terasa lebih akrab jika di bandingkan memanggilku Bu."
"Oh, baik Bu. Eh, Mbak Sinta." Aisyah tersenyum nyengir. Ia merasa sedikit tegang dan grogi."
"Ha ha ha... Buat dirimu senyaman mungkin Aisyah. Kau tidak perlu begitu tegang. Aku hanya seorang HRD, bukan CEO perusahaan ini. Ayo, ku antar kau ke lantai sebelas."
Mbak Sinta berdiri dari kursinya, dan berjalan keluar ruangan. Aisyah mengikutinya.
Mereka berdua lalu masuk ke dalam lift, dan menuju ke lantai 11.
Di dalam lift, ternyata sudah berisi l satu orang laki - laki, yaitu Romi.
Mbak Sinta pun menyapa Romi. "Hai Romi..."
"Hai Mbak Sinta, mau ke lantai berapa?" Tanya Romi sambil tangannya bersiap di depan tombol lift, untuk memencetkan angka lantai yang akan di tuju oleh Mbak Sinta.
"Tak perlu, aku sama denganmu. Aku akan pergi ke divisimu, ke pantai 11."
"Woow,... Kebetulan sekali. Ternyata Mbak Sinta yang cantik akan mengunjungiku."
"Jangan GR kamu, aku tak ada waktu jika untuk mengunjungimu."
"Ha ha ha... Mbak Sinta sungguh tega padaku. Tentu saja, Mbak Sinta ke divisiku, untuk menemui Boss bukan?"
__ADS_1
"Bukan juga, aku tak ada perlu dengan Pak Will. Aku mengantarkan personil baru ke divisimu." Mbak Sinta mengerling ke arah Aisyah, Aisyah pun tersenyum. "Aku harus mengantarkannya menemui Mira."
"Mira? Sayang sekali Mbak Sinta. Mira sudah mengambil cuti melahirkan dua hari yang lalu." Sahut Romi.
"Oh, benarkah?"
"Ya. Di divisiku sekarang sedang kekurangan tenaga. Satu orang cuti melahirkan, satu orang cuti menikah, dan... Sekretris juga kosong."
"Astaga... Kalian tentu harus sering lembur sekarang. Kalau begitu, tepat sekali, aku membawa personil baru di divisimu. Dia Aisyah, mahasisiwi magang. Aku sudah mengirim CV nya kepada Mira."
"Tak masalah. Ada Diana. Diana yang menghandle pekerjaan Mira untuk sementara waktu." Ucap Romi sambil menatap Aisyah.
"Ting." Lift berhenti lalu pintu lift terbuka. Mereka sudah sampai di lantai 11.
"Wellcome to my paradise. Wellcome di divisi keuangan." Ucap Romi sambil mempersilahkan Mbak Sinta dan Aisyah keluar duluan dari dalam lift. Ia menahan pintu lift dengan sebelah tangannya. Setelah Mbak Sinta dan Aisyah keluar, Romi pun menyusul keluar.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
__ADS_1
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
~Rohana Kadirman