Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Kesuksesan Film


__ADS_3

Film lima belas tahun kebohongan akhirnya selesai dan meraih kesuksesan. Aqua dan pemain lain mendapat banyak wawancara yang tidak ada habisnya. Media terus menyorot kabar tentang film tersebut yang diambil dari kisah nyata Hoshino Ai. Mengingat idol yang tengah naik daun itu tiba-tiba terbunuh oleh seorang fansnya.


Media tengah menyorot siapa dalang dari pembunuhan Hoshino Ai yang diduga pimpinan salah satu agensi ternama di Jepang. Hikaru Kamiki.


Nama Hikaru sudah mulai tersorot media, ini merupakan saat yang tepat untuk membuat lelaki berambut blonde itu naik ke permukaan. Mendesak agar mengakui kelakuan bejatnya kepada media.


"Kau seperti kesetanan!" pekik Kana saat melihat Aqua yang terlihat fokus di depan layar televisi tidak seperti biasanya. Kana melempar handuk kering ke kepala Aqua. "Dinginkan kepalamu sana. Aku seperti melihat asap keluar dari sana."


Aqua meraih handuk pemberian Kana, menatap Kana yang sudah berlalu keluar dari ruangan. Kesetanan katanya. Mungkin lebih dari sekedar kesetanan. Aqua justru lebih seperti ingin segera beraksi dan membunuh manusia paling bejat di dunia itu. Namun, lagi-lagi ia harus memikirkan caranya.


Jika rencana pertama ia gagal, maka ia harus menyediakan banyak rencana. Seperti rencana B, C atau mungkin sampai Z agar Hikaru minimal tertangkap polisi atau malah mati dibunuh dengan tangannya sendiri. Aqua tidak akan segan-segan melakukan pembunuhan dengan kedua tangannya sendiri jika itu memang diperlukan. Baginya, penderitaan Hikaru adalah tujuannya.


*****


"Onii-chan!" panggil Ruby dengan nada manja seraya menempelkan tubuhnya di lengan kanan Aqua. "Hari ini sangat melelahkan, filmnya sukses besar. Dan kita selalu mendapat wawancara di mana-mana."


"Iya, kau sudah bekerja keras hari ini." Aqua mengelus kepala Ruby penuh sayang.


Setelah mengetahui fakta bahwa Ruby merupakan Sarina yang mana dia adalah pasiennya dulu. Rasa sayang Aqua kepada Ruby semakin besar. Semakin ingin Aqua untuk melindungi Ruby.


"Awalnya aku khawatir dengan kemampuanku tapi karena Sensei ternyata selalu mendukungku, rasanya sangat senang." Ruby berdiri di hadapan Aqua dengan serius. "Sepertinya aku akan tetap menyukaimu, Sensei."


Aqua membulatkan matanya, menatap Ruby yang sudah tersipu malu dengan wajah merona. Bagaimana pun Ruby merupakan adik kandungnya, meskipun jiwa mereka bukanlah saudara. Tapi, tubuh mereka sedarah. Bahkan dalam rahim yang sama di waktu yang sama.


"Jadi, apa kau mau menepati janjimu padaku, Sensei?" tanya Ruby menatap mata Aqua serius. "Untuk menikahiku."


Aqua menghela napas pelan. "Dirimu memang Sarina. Tapi tubuhmu sekarang merupakan Hoshino Ruby, saudara kembarku." Aqua mengelus kepala Ruby. "Kau tetap menjadi gadis yang kusayangi."


Aqua melangkah keluar dari rumahnya. Cukup memusingkan, pembalasan dendamnya belum selesai tapi sudah ada saja masalah yang ada.


"Arima!" Aqua berseru ketika melihat Kana yang masih berada di gedung Strawberry Production. "Apa yang kau lakukan di sini?"


Kana mengambil beberapa kertas yang ia temukan di meja ruang latihan. Berdiri di hadapan Aqua heran. Menatap mata Aqua serius.


"Jadi alasanmu membuat film 15 tahun kebohongan ya?" tanya Kana seraya menyodorkan beberapa kertas pada Aqua. "Aku sudah sadar sih, hanya saja aku tidak berpikir hal-hal aneh tentang pembalasan dendam atau sampai pembunuhan."


Aqua meraih kertas-kertas di tangan Kana.


"Kau pasti membenci sekali pembunuh ibumu, kan?" Kana duduk di meja, masih menatap Aqua yang mematung di hadapannya. "Dalang dari semuanya ternyata ayahmu. Hikaru Kamiki. Dan kau berusaha agar dia buka mulut ya?"


Kana merubah posisinya, merapihkan letak topi baretnya. "Kau mencoba membunuhnya ya? Meski dengan tanganmu sendiri?"


Aqua merubah posisinya, berdiri menatap Kana yang duduk di atas meja. "Kalau aku katakan iya, apa yang akan kau lakukan? Menghalangi dan melarangku?" Suara Aqua terdengar bergetar, tatapan matanya masih menyisakan rasa dendam yang belum juga hilang.


"Kau akan melakukannya dengan menghunus pisau juga seperti yang Hikaru lakukan pada ibumu?" tanya Kana seraya melihat mata Aqua yang seolah gelap.


"Akan kulakukan untuk membuatnya menderita." Aqua menjawab dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Kana meraih tempat tisu dan segera memukul wajah Aqua dengan tempat tisu sekuat tenaga. Aqua bergeming, ia tidak ingin membalas perlakuan Kana padanya.


"Kau tahu apa yang paling melelahkan di dunia ini?" tanya Kana berdiri di hadapan Aqua. "Membiarkan dendam merasuki dirimu. Hingga apa yang akan kau lakukan sama dengan apa yang ayahmu lakukan dulu. Dan setelahnya, rasa dendam hanya akan membuat penyesalan tak berhenti."


"Kau tidak mengerti apa pun! Kau hanya akan menghalangi jalanku bukan?" tanya Aqua setengah berteriak pada Kana di hadapannya.


"Menghalangi ya? Melarang?" Kana mengulang kalimat Aqua. "Lakukan saja sesukamu. Aku memang tidak mengerti perasaanmu, karena kau terlalu banyak menaruh dendam dan menyimpan kebohongan. Jadi, aku sudah tidak peduli." Kana melangkah menjauhi Aqua, dan terhenti setelah beberapa langkah. "Tapi, alangkah lebih indah untuk memaafkan." Kana tersenyum lebar dan kembali melanjutkan langkahnya.


Aqua memandangi punggung Kana yang menghilang di balik pintu. Salahnya memang membiarkan kertas berisi rencana balas dendamnya diletakkan sembarangan. Kana tidak pernah diberitahu apa pun tentang rencana balas dendamnya, jadi ini pertama kalinya Aqua mendengar dan melihat ekspresi Kana yang tidak menunjukkan apa pun. Datar dan biasa saja.


...*****...


Ruby, Mem dan Kana kembali melakukan latihan untuk konser pertama mereka di musim panas. Dan setelah acara itu, Kana resmi keluar dari B-Komachi. Ruby semakin bersinar dan bersemangat seperti biasanya. Mem dan Kana menyadari hal yang janggal dari tingkah Ruby kepada Aqua.


Ruby lebih sering menghubungi Aqua dengan nada manja. Bahkan terkadang mereka terlihat terlalu dekat dengan sering berpelukan. Ruby juga lebih suka pakaian terbuka, menampakkan belahan bagian dadanya. Hotpants super ketat.


"Onii-chan!" Ruby memanggil Aqua seraya memeluk Aqua, seolah sudah bertahun-tahun lamanya tidak berjumpa.


Aqua hanya diam seribu bahasa tanpa membalas perlakuan Ruby, pikirannya kini sedang dalam mode tak ingin bercanda. Pandangannya justru ke arah Kana yang bersiap pulang bersama Mem.


"Besok jangan terlambat ya! Dua hari lagi kita akan gladi bersih di Tokyo Dome." Miyako mengingatkan pada Kana dan Mem.


"Siap!" Mem menjawab penuh semangat. "Aku sangat tidak sabar!"


Kana melangkah keluar ruangan mendahului Mem. Tak lama Mem menyusul Kana seraya meraih lengan Kana gemas. 


"Tidak, bukan masalahku sih. Jadi, harusnya aku tidak perlu ikut pusing memikirkan hal ini." Kana menjawab seraya mengingat percakapannya dengan Aqua semalam.


"Kalau begitu, tidak perlu dipikirkan!" Mem menyemangati. "Tapi, aku merasa aneh dengan Ruby beberapa bulan terakhir ini." Mem merubah topik pembicaraan. 


"Ruby?" Kana bertanya heran.


Mem menganggukkan kepalanya. "Iya, dia jadi lebih manja dengan Aqu-tan. Bahkan aku pernah melihat Ruby hampir mencium bibir Aqu-tan. Aku jadi merasa takut."


Kana ikut memikirkan kalimat Mem barusan. Ternyata bukan perasaan dia saja, tapi juga Mem merasakannya. Bahkan sebelum film rilis, Ruby sudah memberikan tanda-tanda aneh seperti itu. 


"Brother complex," ucap Kana. "Ah-kun juga mengalami sindrom Sister complex jadi ya keduanya sama saja."


"Tapi, apa sampai seperti itu? Bukannya malah jadi mengerikan ya?" tanya Mem khawatir. "Ah, wajah Ruby setiap melihat kita dengan Aqu-tan juga berubah. Setiap Aqu-tan datang melihat latihan kita, pasti Ruby akan memburu dan berdiri menempel dengannya. Apa itu wajar?"


Kana mengalihkan pandangannya. "Itu menjijikan!" tukas Kana.


"Apa kau tidak masalah dengan itu? Kau menaruh rasa pada Aqu-tan kan?" Mem bertanya dengan nada ragu, matanya menatap Kana.


"Siapa yang menyukainya? Lagi juga siapa yang mau berpacaran dengan lelaki siscon!" Kana membuat wajah jijik. "Menjijikan!"


Mem menatap Kana yang terlihat serius dengan ucapannya. Mungkin dia memang tengah mencoba untuk melupakan Aqua meski sulit. Selama ini juga, Aqua tidak pernah memberikan tanda baik apa pun. Mereka murni seperti teman, meski terkadang sikap Aqua dapat membuat orang lain salah paham.

__ADS_1


...*****...


Gladi bersih untuk konser pertama B-Komachi. Kana sudah bersiap bersama Mem dan Ruby dibantu Miyako dan Aqua serta beberapa staff lain. Latihan mereka berlangsung hampir empat jam, lelah berlari mengitari panggung konser.


Ruby sudah menempel dengan Aqua, sementara Mem dan Kana masih mengatur napas mereka.


"Mau mati rasanya…." Kana mengelap keringat di wajahnya yang mengalir lebih banyak dari biasanya.


"Ah… Padahal masih latihan, tapi lelahnya minta ampun!" sahut Mem dengan suara keras di antara napasnya yang tersengal.


"Mau beli minum dingin dulu!" Kana berdiri berniat keluar dari panggung utama.


"Ini sudah disiapkan…." Aqua menyodorkan sebotol minuman dingin pada Kana.


Kana hanya melirik minuman pemberian Aqua, menerimanya, tanpa membalas ucapan Aqua. Sementara Mem yang merasa aneh, hanya mengambil minuman dari tangan Aqua dan membalas dengan ucapan terima kasih.


Aqua menarik lengan Kana, menahannya. "Kau tidak perlu memikirkan hal semacam itu. Karena aku memang tidak berniat untuk memberitahumu."


Kana menatap Aqua dingin. "Aku juga tidak berniat untuk berbicara lagi padamu. Nikmati saja hidupmu yang menyakitkan!"


Kana melangkah keluar panggung utama, diikuti Mem di belakangnya. Tatapan Kana kali ini terlihat sangat menyeramkan. Dia tidak menampakkan emosi marahnya yang berlebihan. Tapi, lebih ke perasaan kecewa.


Ruby mendekati Aqua, berdiri di sampingnya. Meraih botol berisi minuman dingin dari tangan Aqua. Ada tatapan sedih dari sorot mata Ruby pada Aqua. Bahkan, Aqua tidak mengalihkan pandangannya sama sekali padahal Kana sudah tidak terlihat di area panggung.


*****


"Apa yang terjadi? Kalian bertengkar lagi?" tanya Mem sesampainya mereka di ruang ganti.


Kana meraih tasnya. "Aku sudah tidak mau bicara dengannya. Terserah dia saja mau berbuat apa. Aku harusnya tidak peduli! Tapi, rasanya tidak bisa!" Kana memekik kesal.


Mem duduk menatap Kana. "Kau terlihat kecewa. Apa karena Ruby dekat dengan Aqu-tan?"


Kana menggeleng, "bukan masalah itu. Aku sangat tidak peduli dengan hal siscon dan brocon mereka…."


"Lalu?" tanya Mem.


"Aku akan menyelesaikan ini sendiri dengannya," jawab Kana. "Mem… Arigatou…" Kana tersenyum dan segera melangkah keluar ruang ganti.


Latihan hari ini akhirnya selesai. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Miyako mengantar Aqua, Ruby dan Mem. Sementara Kana memilih pulang naik taksi sendiri. Pikiran Kana kembali ke masalah balas dendam Aqua. Bukan tidak ingin memikirkannya, tapi semua terasa harus dipikirkan. Jika melangkah terlalu jauh maka hanya akan menjadi serangan makan tuan.


Rasa kecewa Kana saat ini sangat besar. Ia pikir dirinya adalah teman terbaik untuk Aqua. Tapi, nyatanya? Dia bahkan tidak diberitahu tentang apa pun. Sepertinya selama ini, hanya dirinya yang terlalu banyak bercerita. Sementara dia tidak tahu apapun tentang Aqua.


"Mati sana…" bisik Kana.


Kana berhenti di depan apartemennya. Menaiki tangga ke lantai 3. Tepat di depan pintu, Aqua sudah berdiri di sana. Kana yang sudah lelah terasa semakin lelah, harus melanjutkan perdebatan dan bertemu Aqua malam ini.


"Ruby pasti mencarimu, pulang sana! Aku sedang tidak ingin bicara denganmu!" ujar Kana seraya membuka pintu apartemennya.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2