
Konser musim panas B-Komachi akhirnya dimulai. Dengan pembukaan yang luar biasa dari trio B-Komachi. Berlanjut lagu-lagu lainnya. Sesi tanya jawab dengan para fans, sesi foto bersama. Arima Kana melakukan bernyanyi solo lagu Full Moon, Mem yang juga bernyanyi solo dan terakhir Ruby yang juga bernyanyi solo. Ditutup dengan lagu terakhir.
Pukul 8 malam, akhirnya selesai konser pertama B-Komachi. Graduation untuk Arima Kana juga. Mem tidak berhenti memeluk Kana sambil terus menangis, begitu juga Ruby.
Setelah berpamitan dan mendapatkan taksi. Kana menaikinya menuju tempat Sutradara Shima. Setelah mendapat izin dari Miyako dan meninggalkan beberapa barang yang akan ia ambil besok.
Mem merasa ada yang janggal setelah kepergian Kana. Ia terus terdiam, mendengar ocehan dua kembar itu saling bercerita.
"Miyako-san…." Mem memanggil Miyako di kursi kemudi. Membuat dua kembar itu terdiam. "Apa kau tidak ingin menemani Kana-chan?"
"Aku sudah memintanya untuk menungguku, tapi dia bilang akan bertemu tim produksi saja malam ini untuk mengambil naskah filmnya." Miyako menjawab seraya melirik Mem.
"Aku mulai khawatir, semoga dia baik-baik saja…." balas Mem.
Aqua bergeming, ikut memikirkan kalimat Mem barusan. Ada rasa khawatir, mengingat Kana merupakan gadis polos dan mudah sekali dimanfaatkan orang lain. Walaupun mulutnya kasar, tapi hatinya mudah tersentuh.
...****************...
Gedung agensi yang cukup terkenal di Tokyo, dengan lantai bertingkah lima. Kana melangkah memasuki gedung agensi. Gedung sudah sepi, hanya tersisa beberapa orang yang lalu lalang. Kana kembali memeriksa ponselnya, memastikan ruang pertemuan dengan Sutradara Shima dan rekan lainnya yang berada di lantai dua gedung.
Semakin sepi, ketika Kana sampai di lantai dua gedung. Ia memberanikan diri untuk mengetuk ruang pertemuan. Mendapat respon untuk masuk, Kana akhirnya masuk. Ia berdiri di dekat pintu, menatap meja ruang kerja kaget.
Kana memutar tubuhnya, bermaksud untuk keluar dari ruang pertemuan yang kemungkinan terbesar dia salah masuk ruangan. Wajahnya panik dan takut. Berkali-kali Kana mencoba membuka pintu, namun ternyata pintu itu terkunci dari luar. Kana mencoba mengetuk pintu dari dalam berusaha berteriak minta tolong.
"Arima Kana…." suara berat terdengar mendekati Kana. Pria berambut blonde dengan wajah yang sama dengan Aqua itu tersenyum menatap Kana. Dialah Kamiki Hikaru.
Suara benturan terdengar keras, ketika tubuh kecil Kana terangkat membentur pintu. Dengan tangan Hikaru yang mencekik leher kecil Kana dengan kedua tangannya sekuat tenaga.
Dengan tubuh gemetar Kana mencoba melepas tangan Hikaru di lehernya, berusaha untuk bisa bernapas. Matanya mengedar ke sekitar ruangan. Kaki Kana menendang bagian ************ Hikaru. Kana terjatuh dan segera berlari mencari barang yang bisa ia pakai untuk melawan Hikaru.
"Kau cukup hebat. Tidak maukah kau tidur denganku?" Hikaru bertanya dengan nada meledek. Kakinya dengan cepat mengejar Kana yang mencoba bersembunyi.
Wajah putih Kana kini semakin pucat, ia tidak bisa berpikir harus bagaimana. Apa dia harus menyerah dan mati di tangan pembunuh? Kana tahu persis, bahwa dia dalam keadaan sangat berbahaya sekarang.
Suara napas Kana memburu, dia berusaha menenangkan diri dengan bersembunyi di meja kerja Hikaru. Suara langkah kaki Hikaru terdengar kencang di pendengaran Kana. Rasanya semakin tercekat.
__ADS_1
"Kau mengingatkanku pada Ai. Apa anakku menyakitimu?" tanya Hikaru lagi sambil berjalan mendekati Kana.
Basah sudah wajah Kana, ia mengusap wajahnya berkali-kali dengan kasar. Jantungnya berdebar tidak karuan. Berteriak pun sudah tidak bisa ia lakukan. Menghubungi siapa di situasi seperti ini? Tidak ada yang bisa menolongnya di waktu yang tepat. Dia harus mengandalkan dirinya sendiri agar bisa selamat. Meski persentase keselamatan hanya 1%.
Kana memukul kepala Hikaru dengan vas bunga ketika pria blonde itu menemukannya. Hikaru memekik kesakitan, berteriak seperti kerasukan. Kana semakin menegang, rasanya ini pertama kali dalam hidupnya melihat monster.
Kepala Hikaru berdarah. Merasa kepalanya yang terus berdenyut. Hikaru menarik paksa lengan Kana, mencekiknya lagi dan mendorongnya ke atas meja kaca tamu dekat sofa.
Meja kaca itu pecah tertimpa tubuh Kana yang seolah dibanting. Tubuh Kana mati rasa, napasnya sudah hampir habis. Darah dari kepala Hikaru tidak berhenti keluar, menetes mengenai wajah Kana yang sudah pucat. Kana hanya terus menatap Hikaru sambil berusaha menarik tangan Hikaru dari lehernya.
"Kau terlalu berani anak muda…." ucap Hikaru sambil memberikan senyum menyeramkan pada Kana.
Pecahan kaca di dekat Kana, ia pungut. Dengan menahan rasa takutnya, semua ia lakukan untuk membela dirinya yang hampir mati.
"Kau harus hidup Kana, hidupmu belum bahagia…." Kana berbisik dalam hati, menguatkan diri bahwa dirinya pantas untuk membela diri.
Kaca berukuran besar di tangan Kana kini ia tancapkan tepat di mata kiri Hikaru. Darah segar keluar dari sana. Hikaru melepas cengkraman tangannya pada leher Kana. Teriakan Hikaru memekakkan telinga. Tidak diam begitu saja, Kana menendang perut Hikaru sekuat tenaga hingga sang empu bergeser menjauhi tubuh mungil Kana.
"Aku tidak akan kalah dari pembunuh sepertimu! Aku belum bahagia sialan! Kau saja yang mati!" Kana meraih vas bunga yang tergeletak di lantai, memukul kembali kepala Hikaru sekuat tenaga.
Kana membuka matanya, menatap langit yang malam itu penuh dengan bintang. Bulan malam itu bersinar dengan bulat sempurna. Kana mencoba meraihnya, namun dirinya tertarik ke bawah tanah dengan cepat.
"Apakah aku mati?" tanyanya setelah tubuhnya jatuh di bawah tanah mengenai beberapa ranting pohon.
Kepalanya terasa berat, darah segar keluar dari kepalanya. Kana berusaha meraih tasnya, menghubungi polisi dan mengirim pesan suara pada Miyako.
...****************...
...Headline News :...
...Hikaru Kamiki tertangkap di gedung agensinya malam ini setelah melakukan percobaan pembunuhan pada artis Arima Kana. Kini jasad Arima Kana sedang dalam pencarian....
Aqua, Ruby, dan Mem yang baru saja sampai di apartemen mereka untuk istirahat kini segera mengambil jaket mereka. Memeriksa kebenaran yang terjadi setelah media mengabarkan berita ke penjuru Jepang.
Belum ada tiga jam mereka berpisah dengan Kana, tapi kabar yang didapat terdengar sangat mengagetkan. Miyako yang sudah bersiap di dalam mobilnya kini hanya bisa memberikan ekspresi terkejutnya. Bahkan pesan terakhir Kana membuatnya tak bisa menyetir malam ini untuk pergi ke kantor polisi.
__ADS_1
"Miyako-san!" Mem mengetuk kaca mobil Miyako panik. "Apa itu benar? Apa berita itu benar?"
Dengan wajah merah karena menahan sedihnya, Miyako menyodorkan ponselnya pada Mem. Menampilkan chat antara Miyako dan Kana. Ruby dan Aqua yang sudah berdiri di belakang Mem memerhatikan.
Pesan suara dari Kana. Mem membukanya…
"Gomenne Miyako-san, aku pasti merepotkanmu lagi. Setelah ini tidak akan terjadi lagi. Tubuhku sakit semua…." Kana terkekeh pelan, suaranya terdengar lirih dan sedih. "Arigatou na, kau menjagaku dengan baik. Sayonara…."
Aqua segera berlari ke halte bus. Kalimat Kana untuk Miyako terdengar seperti dirinya tidak lagi hidup. Aqua hanya terus berlari, tujuannya adalah kantor polisi.
"Kenapa justru Arima yang membuat sialan Hikaru Kamiki masuk penjara? Kenapa bukan aku! Aku yang sangat ingin membunuhnya! Kenapa justru Arima yang terbunuh? Kenapa? Kenapa?!" batin Aqua dengan wajah sedih bercampur panik.
Miyako menghentikan mobilnya, meminta Aqua masuk ke dalam mobil miliknya. Mereka melaju ke kantor polisi. Di sana Hikaru Kamiki sudah ditahan, wajahnya babak belur. Ini pertama kalinya, Aqua melihat ayah kandungnya yang seperti setan.
Di dalam kantor polisi, Aqua seolah mencari sosok Kana, namun justru pandangannya bertemu dengan Hikaru yang malah tersenyum pada Aqua, sebelum ia dimasukkan ke dalam sel tahanan. Wajah Aqua sudah menunjukkan kemurkaan, bisa-bisanya lelaki itu tersenyum setelah membunuh seorang gadis.
"Kami belum menemukan jasad Arima Kana-san." Polisi memberitahukannya pada Miyako. Ia mengeluarkan beberapa barang yang ditemukan di lokasi kejadian. "Ini barang milik Arima-san?"
Tas sling bag putih dengan rantai abu-abu. Ponsel milik Kana dan sebuah topi baret penuh darah. Mem sudah membalikkan tubuhnya, tidak bisa melihat lebih lama barang bukti yang sudah jelas itu milik Kana.
"Kami mencoba mencari di tempat kejadian, tapi belum juga mendapatkan hasil di mana jasad milik Arima-san."
"Apa tidak bisa ditemukan lebih cepat?" tanya Miyako khawatir.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Akan kami hubungi jika ditemukan jasadnya." Seorang polisi datang membawa sebuah sepatu berhak tiga centi berlumuran darah.
"Sepatu itu ditemukan beberapa meter dari lokasi kejadian. Jejak darahnya berhenti di sebuah gang kecil. Tapi, hasilnya nihil. Tidak ditemukan mayat Arima Kana." Polisi lain menjelaskan.
Ruby dan Mem sudah menjauh dari meja polisi. Mereka memilih untuk tidak mendengar lebih lanjut tentang hilangnya Kana. Sementara Aqua bersikeras meminta alamat tempat kejadian, untuk melihat langsung situasi di sana.
"Ayo pulang, polisi akan mengabari kita secepatnya tentang Kana-chan." Miyako menatap Aqua dan berusaha mengajaknya keluar dari kantor polisi.
Tidak mendengar kalimat Miyako, Aqua akhirnya memilih keluar dari kantor polisi sendiri. Setelah mendapat lokasi kejadian melalui internet, Aqua pergi ke sana.
...****************...
__ADS_1