
"Hoshino Aqua." Aqua membungkuk memperkenalkan diri. "Boleh aku bertanya, sensei?"
Pak Dokter tersenyum dan mengangguk. "Tanyakan saja, aku akan menjawab dengan senang hati."
"Apa dia Arima Kana?" tanya Aqua dengan serius menatap mata dokter dihadapannya.
"Iya dia Arima Kana. Aku ayahnya Arima Akino. Apa kau salah satu teman Kana?" tanya Akino sambil memeriksa denyut nadi Kana.
"Iya, kami berada di satu agensi." Aqua menjawab dengan gugup.
Ayahnya Kana? Pemakaman Kana saat itu memang tidak ada ayahnya datang, apa karena Kana belum meninggal dan dirawat ayahnya di desa kecil ini?
Banyak pertanyaan memenuhi kepala Aqua, tapi ia berusaha untuk menepis pertanyaan-pertanyaan tersebut. Karena hari ini dia sudah sangat kaget bercampur bahagia dan sedih ketika melihat Kana masih hidup.
"Pasti kau kaget sampai menangis?" tanya Akino dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya. "Kau bisa menunggu di kursi dan kembali bicara dengan Kana saat dia sadar Hoshino-san."
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Aqua.
"Dia hanya kelelahan saja. Setelah istirahat, dia akan sadar dan bisa bermain dengan yang lain lagi," jawab Akino.
Tatapan Akino terus ke arah Aqua yang melangkah menuju kursi tunggu di pojok ruangan. Sebagai pria yang sudah lama hidup, Akino merasakan sesuatu yang berbeda dari tatapan mata Aqua kepada putrinya.
"Kau mau menunggunya sadar?" tanya Akino seraya duduk di sebelah Aqua.
"Iya, aku ingin meminta maaf padanya." Aqua menundukkan kepalanya. Merasakan rasa bersalah yang terus menyelimuti dirinya seolah tidak pernah hilang.
"Jangan lepas topimu ya! Aku akan memeriksa pasienku yang lain, jadi aku titip Kana di sini padamu." Akino berdiri, melangkah meninggalkan Aqua di ruang rawat Kana.
Setelah kepergian Akino, Aqua kembali mendekati Kana di ranjangnya, menatap wajah Kana yang tidak berubah sama sekali. Usianya lebih tua satu tahun dari Aqua, tapi wajahnya masih seperti remaja. Rambut dan poni merahnya tidak pernah ganti, hanya rambutnya saja yang mulai panjang. Melihatkan dirinya yang terlihat dewasa di wajah imutnya.
Tangan Aqua merapihkan anak rambut Kana yang menghalangi wajah putih Kana. Jemari Aqua mengelus lembut pipi Kana. Gemetar sudah Aqua memandangi tubuh Kana. Matanya kembali basah, ia seperti bermimpi melihat Kana di depan matanya.
Apakah ini mimpi untuknya?
__ADS_1
Kedua tangan Aqua menampar keras kedua pipinya sekuat tenaga. Rasa sakit menjalar di antara tangan dan pipinya. Tamparan itu membekas, mencetak warna kemerahan di pipinya. Dengan rasa sedikit senang, Aqua kembali mengamati wajah Kana yang tenang.
Pelupuk mata pemuda bermanik biru itu kembali penuh, satu kedipan sukses membuat basah pipi yang masih memerah tadi. Aqua menggigit bibirnya, menahan isakan dan teriakannya. Ingin sekali ia memeluk Kana, mengatakan maaf jutaan kali.
"Siapa yang menangis di dekatku?" suara Kana terdengar. Suara yang telah lama tidak Aqua dengar. "Karma? Apa itu kau?"
Aqua meraih jemari Kana. "Arima…."
Sontak Kana mendudukkan tubuhnya, menarik tangannya dari Aqua. Matanya membulat tidak percaya, menatap lelaki yang duduk di samping ranjangnya dengan setelan jaket hitam dan topi hitam.
"Pergi! Pergi!" Kana setengah berteriak, ia menarik tubuhnya ke ujung ranjang seraya memeluk kakinya. Wajahnya memucat dan ketakutan.
"Arima…." panggil Aqua kaget melihat ekspresi Kana. Aqua membuka topinya menatap sedih Kana. "Ini aku, Aqua. Hoshino Aqua!" seru Aqua seraya berdiri mendekati Kana.
Kana semakin membulatkan matanya. Wajahnya semakin pucat. Ia menggerakkan kakinya dengan gusar, tangannya menutup telinganya, matanya menatap takut ke arah Aqua.
"Tolong jangan bunuh aku! Jangan! Kumohon!" seru Kana panik dilanjutkan dengan teriakan frustasi.
"Pergi!!!" Kana melempar bantal di ranjangnya ke arah Aqua. "Pergi!!!"
Aqua masih mematung di tempatnya, ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang, rasanya semua percuma saja ia lakukan. Mendekatinya sama saja dengan membuka trauma pada Kana. Bahkan ia masih terus memeluk kakinya dan mencoba mengacuhkan Aqua di hadapannya.
"Gomen ne Arima…." Aqua membalikkan tubuhnya, melangkah keluar dari ruang inap Kana.
Mendengar teriakan Kana, Akino pun datang, tatapannya teralih pada Aqua yang terlihat frustasi. Sementara ia mendapati Kana yang sudah seperti kerasukan. Dengan terus memeluk kakinya, menutup matanya rapat, menggeleng dengan cepat dengan mulut yang tidak berhenti mengatakan "jangan bunuh aku." Tak lama pemuda lain masuk ke ruang rawat Kana. Akino menepuk bahu Aqua, tersenyum, merangkulnya keluar dari ruangan.
...****************...
Akino duduk di hadapan Aqua, menyodorkan segelas minuman kaleng di atas meja. Menatap Aqua yang terlihat frustasi dan sedih. Akino mengetuk mejanya, membuat Aqua akhirnya menatap balik Akino.
"Kau kaget pasti ya?" tanya Akino. Aqua meraih minuman kalengnya, mengangguk pelan. "Dua tahun tidak cukup untuk mengobati trauma seorang yang hampir dibunuh, bukan?"
Aqua terdiam. Menyimak ayah Kana berbicara.
__ADS_1
"Dia takut dengan lelaki berambut blonde, ruangan gelap, pecahan kaca dan jendela yang bolong. Bahkan dia takut keluar rumah saat malam hari." Akino menatap langit malam itu. "Bangkit dari trauma sangat sulit. Melihatnya sekarang saja, aku sudah sangat senang dia keluar dari traumanya dengan baik."
Aqua menundukkan kepalanya. "Aku mengerti maksudmu."
Akino tersenyum. "Kau bisa mewarnai rambutmu sementara agar Kana mau bicara denganmu."
"Apa itu berpengaruh? Lelaki yang hampir membunuh Arima adalah ayah biologisku. Banyak yang bilang wajah kami mirip."
Akino berdiri dan mengelus kepala Aqua. "Wajah bisa sama, tapi sifat dan kenangan tidak akan sama." Akino menyodorkan sebuah coklat pada Aqua. "Pulang, mandi, makan malam dan tidurlah. Besok tunggu di peternakan Ishigami, Kana akan di sana setiap hari." Akino membungkuk, mendekati telinga Aqua. "Berjuanglah…." Akino berlalu dengan senyum lebarnya.
Aqua membulatkan matanya tidak percaya maksud kalimat Akino padanya. Aqua tidak sadar wajahnya menunjukkan rasa frustasi dan sedih yang sangat mendalam saat keluar dari ruang rawat Kana tadi.
...****************...
"Ayo pulang!" Pemuda yang masuk setelah Akino tadi berdiri di depan Kana yang masih menekuk kakinya. "Sudah tidak ada. Kau ini sudah lama sembuh, kenapa kambuh lagi?"
"Berisik!" Kana berseru seraya menendang pemuda berkacamata di hadapannya.
"Lepas dulu infusnya." Pemuda berkacamata dengan warna rambut merah pekat itu duduk di ranjang Kana, melepas infus Kana dan memberikan alkohol di tempat biusnya. "Bisa jalan?"
"Bisa…." Kana turun dari ranjangnya perlahan dan melangkah bersisian dengan pemuda berkacamata. "Pegang tanganku, kakiku lemas."
Pemuda itu berdiri di depan Kana sambil memunggungi Kana. "Sudah naik saja," balasnya.
Kana memeluk leher pemuda itu dan melangkah keluar dari ruang inapnya. Kana terdiam, ia masih memikirkan apa yang baru saja terjadi. Tidak jelas siapa, ia hanya diliputi rasa takut dan gelapnya malam itu. Jantungnya berdebar, keringat dingin seluruh tubuhnya. Bahkan ia mendengar suara orang yang ia rindukan, tapi tetap tidak bisa ia gapai.
"Kau kenal pemuda tadi?" tanya pemuda berkacamata bernama Karma.
"Jangan tanya itu, bahas yang lain saja." Kana memejamkan matanya, ketika dirinya dan Karma keluar dari rumah sakit.
Karma melirik Kana dari ujung ekor matanya, gadis itu sudah memejamkan matanya. Tanda ia ingin segera pulang dan tidak ingin melihat gelapnya malam.
...*************...
__ADS_1