
Aqua merebahkan tubuhnya di atas kasur. Menarik kembali ponselnya. Ia tidak tahu Kana akan semarah itu padanya. Pemuda bermata biru itu tidak berniat membuat gadis itu marah sampai memakinya tadi. Satu kalimat yang membuat Aqua takut adalah 'mati saja sana' dari mulut Kana. Ia tidak bisa membuka mulutnya ketika kalimat itu Kana ucapkan.
Bertahun-tahun Aqua berpikir Kana sudah mati, dan kalimat makian Kana itu selalu membuatnya takut. Sangat takut. Aqua pikir Kana tidak akan mengatakan kalimat itu lagi, tapi ternyata salah.
Alasan Aqua takut kalimat itu karena satu hal. Aqua takut kehilangan Kana lagi. Dan tadi Kana memintanya untuk tidak menghubunginya lagi dengan nada kesal.
Aqua mengusap wajahnya frustasi. Ia memandangi ponsel di tangannya. Menghubungi Kana lagi atau menunggu hingga mereda? Aqua selalu bimbang, ia selalu merasa tidak pernah kuat secara mental jika berurusan dengan Kana. Alih-alih melindungi justru menyakiti. Begitu saja seterusnya. Memendam rasa hingga Kana pergi dengan yang lain.
Ruby mengetuk pintu kamar Aqua dan masuk dengan wajah sedih.
"Onii-chan…" Ruby duduk di kasur milik Aqua. "Akhir-akhir ini aku jarang mendengar ceritamu. Kau boleh bercerita padaku masalahmu."
Aqua merubah posisinya, duduk di hadapan Ruby. Mengelus kepala Ruby lembut seraya tersenyum. "Apa kau merasa ada masalah di tempat reality showmu? Atau suaramu sumbang lagi?"
"Aku tidak ingin bercerita tentang diriku, semua berjalan dengan baik. Aku bahkan akan ikut casting besok. Tapi, kau seperti banyak masalah."
Aqua mengalihkan pandangannya. "Tidak juga, aku hanya mengacaukan saja."
"Mengacaukan apa? Kau bisa bercerita padaku! Aku akan mendengarnya!" seru Ruby.
Aqua merubah posisinya, duduk di samping Ruby. Menangkup kedua tangannya, berpikir sejenak. Ia memang tidak ahli tentang hubungan dengan manusia, jadi dia berpikir sifat Ruby yang ramah dan selalu ceria mungkin bisa membantunya.
"Bagaimana jika kau membuat temanmu marah besar?" tanya Aqua tanpa menatap Ruby. "Aku memintanya membantuku, lalu dia benar-benar membantuku dengan sangat baik. Tapi, aku membuatnya marah, bahkan sepertinya dia sangat marah."
Ruby hanya terdiam, memikirkan jawaban yang tepat untuk Aqua, mengingat Aqua tidak pernah memiliki teman dekat. Bisa dihitung berapa banyak temannya dengan jari. Meskipun sudah banyak drama, film, reality show dan acara apa pun dia tetap tidak memiliki teman.
Mengingat kemarin dia bisa dengan santai dan tertawa bersama Karma, Ruby jadi sangat berterima kasih pada Karma yang mau menjadi teman saudara kembarnya itu.
"Kalau aku jadi dirimu, sudah pasti bukan?" Ruby menatap Aqua dengan senyum mengembang. "Meminta maaf dengan tulus."
"Bagaimana jika dia tidak menjawab teleponku?" tanya Aqua, mengingat Kana tadi mengatakan tidak perlu menghubunginya lagi.
"Ya, telepon saja sampai dia mau angkat. Karena meminta maaf itu perlu dan jangan diulangi lagi kesalahan yang sama." Ruby menjawab dengan santai. "Mungkin memang melelahkan meminta maaf terus-terusan tapi jika teman kita memang berharga ya tidak ada salahnya kan."
Aqua menatap Ruby dengan tatapan sedih bercampur khawatir. "Begitu ya…"
"Apa Karma yang membuatmu sampai seperti ini?" tanya Ruby.
__ADS_1
Aqua mengalihkan pandangannya. "Bukan dia," jawab Aqua pelan.
"Kau sampai seperti ini, berarti dia teman terdekatmu. Kalau begitu telepon saja sekarang!" seru Ruby, meraih ponsel Aqua.
Aqua segera menekan nomor Karma. Ia tahu bahwa Kana tidak akan menjawab panggilan di telepon rumahnya. Ruby melirik ponsel Aqua, memastikan siapa yang dihubungi Aqua.
"Bisa berikan ponselnya pada kakakmu?" tanya Aqua pelan.
Diam-diam Ruby menyimak percakapan Aqua yang masih duduk di sampingnya. Ternyata bukan dengan Karma, tapi dengan kakaknya Karma. Ruby memang curiga sejak awal Aqua kembali dari desa tempat dia berlatih beberapa waktu lalu, curiga bahwa temannya adalah perempuan. Melihat kemarin Karma adalah laki-laki dan mengatakan bahwa kakaknya perempuan. Berarti kecurigaan Ruby terjawab. Ada perempuan yang dekat dan membantu Aqua di sana.
"Kana masuk rumah sakit. Aku baru pulang mengantarnya," jawab Karma.
"Rumah sakit? Lagi? Kenapa?" suara Aqua melemah, ia merasa semakin bersalah. Takut hal terburuk kembali terjadi.
Saat Karma dan Aqua pergi ke Depertemen Store, Kana masuk rumah sakit dan kemarin dia mengatakan bahwa dirinya baru keluar dari sana. Sekarang, dia masuk rumah sakit lagi. Aqua merasa semakin bersalah.
"Dia begadang semalaman, tidak makan, tidak minum. Seharian kemarin juga dia belum makan dari siang."
Aqua mendengus keras. Kini pikirannya semakin kacau, bahkan dia sudah ingin berteriak atau menangis sekarang. Ia merasa sangat jahat pada Kana.
"Lalu bagaimana kabarnya? Apa baik-baik saja?" nada Aqua kini semakin khawatir. "Kapan boleh keluar dari rumah sakit?"
"Dehidrasi, darah rendah saja kok. Sudah biasa Kana begitu. Dia tidak akan mati hanya karena begadang kok."
Ruby membulatkan matanya, kaget melihat Aqua yang sudah terisak sambil menelpon. Ia tidak percaya Aqua akan menangisi seseorang dalam kehidupan nyata. Meski menunduk, tapi air matanya menetes bahkan punggungnya gemetar.
Ini bukan ****sandiwara****, kan? Pikir Ruby
"Katakan padanya aku minta maaf. Jadi, tolong angkat telepon dariku lagi." Aqua menahan isakannya. "Aku sangat meminta maaf. Tolong katakan padanya, aku minta maaf."
"Iya, akan kusampaikan." Karma menutup teleponnya.
Aqua menaruh kembali ponselnya, dengan cepat ia berdiri keluar kamar menuju toilet. Rasanya seperti tertembak, dadanya sangat sesak, jika saja dekat jaraknya. Aqua akan berlari ke tempat Kana dirawat, meminta maaf bahkan akan menemaninya seharian seperti yang ia lakukan di desa waktu itu, tapi ini jauh. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia semakin takut untuk kehilangan Kana kedua kalinya ditambah semua hal yang terjadi karena dirinya.
...***** ...
Beberapa kali Ruby mendengus keras, menghentakkan kakinya gusar. Ia duduk di kursi ruangan Miyako sebelum pergi ke acaranya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Miyako.
"Aku tidak tahu, Aqua berubah sejauh ini." Ruby merubah posisinya. "Onii-chan bertengkar dengan temannya, kupikir itu Karma. Tapi ternyata kakaknya. Dia bahkan sampai menangis, kalau aku tidak salah dengar percakapan mereka, kakaknya dirawat di rumah sakit."
"Menangis? Serius, Aqua-tan menangis?" Mem duduk di samping Ruby dengan penuh rasa penasaran. "Aku yakin Aqua-tan punya hubungan khusus dengan kakaknya Karma."
"Karma itu siapa?" tanya Miyako heran.
"Karma itu temannya Aqua-tan di desa. Karma punya kakak perempuan. Kata Karma, Aqua-tan memang lebih dekat dengan kakaknya dibanding dirinya." Mem menjawab dengan penuh keyakinan. "Tapi, melihat Karma yang tampan, ada kemungkinan kakaknya cantik juga sih!"
"Aku sih tidak peduli wajahnya, aku hanya heran saja tadi onii-chan sampai menangis." Ruby terlihat seolah tidak suka dengan ungkapan Mem. "Tersedu-sedu... Ini pertama kalinya aku melihat reaksi darinya hanya karena bertengkar dengan temannya."
"Ya, kalau dilihat Aqua menangis hanya saat syuting saja sih. Air mata dia itu mahal, senyumnya juga. Aneh memang, kalau bukan orang yang penting untuknya dia tidak akan menangis bukan?" tanya Mem.
"Ya, tapi aku harap dia bukan orang spesial untuk Onii-chan..." Ruby menata isi tasnya.
Tatapan Mem kini berubah heran. Tidak mengerti maksud dari kalimat Ruby.
"Sebaiknya kalian kembali bekerja dan latihan. Karena aku harus segera mengatur jadwal yang masuk." Miyako berdiri mendekati Ruby. "Kemungkinan besar Aqua bisa mendapat peran utama, jika casting dia sukses besok."
...***** ...
Aqua duduk di kafe, membawa naskah miliknya. Ditemani sepotong cake dan kopi hangat ia mulai mencari semangat untuk bisa mendapat peran utama. Beberapa jam lalu, Karma mengirim semua catatan kecil yang dibuat Kana pada naskah yang sudah dicetak itu. Karma juga mengatakan bahwa Kana yang menyuruhnya untuk mengirimkannya pada Aqua.
Catatan di setiap halaman, bahkan sampai di beberapa dialog, tidak lupa Kana menulis penjabaran bagaimana cara memerankannya. Melihat tulisan ini, Aqua lagi-lagi tersadar bahwa Kana berusaha keras membantunya. Catatan terakhir yang Kana tulis untuknya, "Ganbatte A-kun!"
Senyum tipis menghias wajah Aqua. Ia merasa tulisan semangat dari Kana, sukses menyuntik dirinya untuk tidak menyerah. Tidak menyerah untuk banyak hal, terutama untuk mendapatkan hati Kana.
...****************...
Terima Kasih sudah membaca karya saya ^^
Jangan lupa untuk meninggalkan jejaknya ya, berupa like, komentar dan subscribenya ^^
Agar menjadi penyemangat buat aku... Huhu •,•
Ditunggu, untuk update selanjutnya ...
__ADS_1