
Cafe yang dipilih Aqua di dekat agensinya lengang, hanya beberapa meja saja yang terisi. Pesanan kopi yang dibeli Aqua dan Akino tidak perlu menunggu lama. Duduk di sudut ruangan adalah tempat terbaik bagi Aqua.
Hubungan Aqua dengan Kana sedang tidak baik, ada harapan untuk bisa berbaikan dengan Kana melalui ayahnya. Dan Aqua harap, ia bisa menghubungi Kana lagi.
"Bagaimana kabar Kana?" tanya Aqua setelah mereka duduk. Ada rasa khawatir pada nada bicara Aqua.
"Sudah membaik, Karma masih di rumah jadi bisa menjaga Kana untuk dua hari ini." Akino menjawab santai dan tersenyum. "Aku sudah dengar dari Kana ceritanya, kau mau menceritakannya darimu?"
"Aku yang salah, aku tidak menghargai kebaikannya."
Akino tertawa pelan. "Padahal Kana bercerita kalau dia memaksamu dan merasa bersalah padamu juga. Dia juga bilang kalau nanti kau akan butuh guru bela diri, maka Karma harus membantumu."
Aqua mendelik tak percaya, ia pikir Kana akan memakinya di hadapan ayahnya. Mengingat Kana, tipe manusia yang sangat senang mengkritik orang lain. Tapi, ternyata sebaliknya. Mungkin Kana sudah dewasa, pikir Aqua.
"Apa Karma bisa membantuku?" tanya Aqua ragu.
"Tentu saja bisa, Karma selalu mendapat pelatihan ilmu bela diri sejak kecil. Jadi, dia akan membantumu. Tidak perlu sungkan, oke!" Akino meraih cangkir kopinya. "Boleh aku tanya sesuatu padamu, Aqua?"
Senyum di wajah Akino memudar perlahan. Akino merogoh saku celananya, mengeluarkan dompetnya dan mengambil photo card Kana yang diberikan oleh Miyako sebelum pergi ke cafe, ia menunjukkannya pada Aqua.
"Aku memang bukan ayah yang baik untuk Kana, meninggalkannya pada ibunya dan ternyata ia harus berjuang hingga remaja sendirian." Akino menatap foto Kana. "Tapi, bagaimana mengembalikan senyum selebar ini di wajahnya? Aku mengambil ini karena ini senyum tulus tercantik yang pernah kulihat dari Kana. Tapi, aku tidak pernah melihatnya." Akino mencoba menahan sesak di dadanya.
Mengingat sejak kecil, Akino tidak pernah bertindak seperti ayah yang seharusnya. Ditambah Kana yang sejak kecil sudah disibukkan dengan syuting film, iklan, photo majalah dan bernyanyi. Akino kehilangan momen bersama Kana.
Aqua mengamati foto Kana juga. Kana memang selalu tersenyum, tapi seperti ada luka yang dia sembunyikan. Senyum tulus, kalimat makian dan segala sesuatu yang ia lakukan untuk menutupi dan melindungi dirinya sendiri.
"Aku yakin trauma itu masih ada dan akan kambuh lagi jika ada pemicunya. Tapi, Kana seolah menutup diri menjaga jarak dariku dan Karma. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku." Akino menghela napas keras. "Aku memang ayah yang buruk, mungkin aku bukan orang yang bisa mengambil hatinya. Meskipun aku tahu apa yang ia sembunyikan."
"Kana hanya berusaha untuk terlihat kuat, begitu yang aku tahu selama mengenal dirinya." Aqua berkomentar. "Tapi, dia mengatakan padaku bahwa dia sudah bahagia tinggal di desa bersama ayah dan adiknya." Aqua melanjutkan. "Kupikir dia hanya perlu waktu saja untuk membuka diri."
Akino menatap foto Kana lagi. "Aku khawatir dia tidak bahagia karena aku mengajaknya untuk tinggal bersamaku. Terlebih dia tinggal di desa dan bukan di kota. Mengingat ibu Kana selalu membuat Kana untuk terlihat seperti artis terkenal dari pakaian sampai kehidupannya."
"Tenang sensei, Kana sudah melepaskan itu dan ingin hidup selamanya di desa." Aqua tersenyum.
Akino mengelus kepala Aqua lembut, tersenyum tipis ke arah Aqua. "Bodohnya Kana bilang dia memotong benang merahnya denganmu."
Aqua terdiam mencerna kalimat Akino. "Be-nang merah?" tanya Aqua.
Akino tertawa pelan seraya mengacak rambut Aqua. "Tidak usah dipikirkan ucapanku tadi. Ayo bercerita tentangmu..."
...*****...
Miyako menunggu Aqua di ruangannya dengan cemas. Ia masih memikirkan Arima Akino. Semua teka-teki yang ada di kepalanya harus segera terjawab atau dia akan meledak sendirian.
__ADS_1
Jika Arima Akino benar ayah Arima Kana, maka kenapa bisa Aqua mengenal baik Arima Akino. Bagaimana mereka bertemu, lalu bagaimana keadaan Akino ketika tahu anaknya sudah mati?
Setelah hampir satu jam Miyako berpikir sendirian, akhirnya Aqua masuk ke dalam ruangannya. Ia mendekati kardus yang dibawa Akino. Senyum mengembang di wajah Aqua seraya membuka kardus, melihat isi yang penuh dengan makanan ringan, beberapa lauk dan minuman racikan yang dibuat ibu-ibu desa.
"Aqua!" Miyako berdiri di hadapan Aqua. "Dia ayah dari Kana?"
Aqua menghentikan gerakannya. "Iya."
"Bagaimana bisa kau bertemu dengannya?" tanya Miyako heran.
"Di desa saat aku latihan untuk drama baru, aku bertemu dengannya. Ishigami-san juga mengenal baik Arima-sensei." Aqua kembali mengeluarkan beberapa makanan ringan dari kardus.
"Apa dia tahu Kana sudah mati?" tanya Miyako lagi.
"Sudah tahu."
Miyako memijat keningnya. "Kenapa kau membawanya ke sini? Kau ingat ibunya Kana dulu kan?"
"Sensei bukan orang yang seperti itu. Jadi, jangan membuat kesimpulan dia sama seperti ibu Kana."
"Aku hanya khawatir saja. Ini sudah hampir tiga tahun sejak kematian Kana," balas Miyako, ia duduk di sofa mengingat kembali ibu Kana yang tiba-tiba datang dan ingin meminta asuransi kematian Kana.
"Ini dibagikan saja sisanya, aku sudah mengambil yang aku inginkan." Aqua melangkah dengan tangan penuh makanan, di depan pintu ia berhenti. "Kau tidak perlu khawatir. Arima-sensei benar-benar orang baik. Ia juga sangat menyayangi Kana."
Miyako menatap wajah Aqua yang tersenyum lebar sebelum ia menghilang di balik pintu. Panggilan untuk Kana dari Aqua sudah bukan lagi Arima melainkan Kana. Miyako paham sekali bagaimana Aqua selama dekat dengan Kana, meskipun dekat, panggilan Aqua hanya terus dengan nama belakangnya saja. Menyadari sesuatu yang menurutnya janggal, Miyako meraih ponselnya untuk menghubungi Ishigami.
...*****...
Kalau bukan karena ocehan dan rengekan Kana pada Karma ditambah permintaan tegas Akino, Karma tidak akan mau mengajari Aqua. Jadwal kuliahnya sudah padat, ia juga mencari kerja paruh waktu dan sekarang memberikan kelas khusus Aqua.
"Kau bersama adikmu?" tanya Karma melirik Ruby yang berdiri di samping Aqua.
"Dia juga dituntut untuk bisa bela diri. Di film nanti dia berperan menjadi adikku yang pandai berkelahi juga," terang Aqua.
"Ya, kita mulai saja. Sebelumnya, ada baiknya untuk pemanasan dulu. Karena kau sudah menyewa tempat latihan khusus di lantai atas, jadi akan lebih enak tanpa gangguan orang lain." Karma melangkah ke lantai dua diikuti Ruby dan Aqua. "Terutama adikmu, aku tidak akan pernah membawa kakakku ke tempat gym sekalipun dia merengek atau bersujud padaku."
Ruby menatap punggung Karma yang lebar di depannya. "Kenapa? Di sini juga banyak gadis datang."
"Banyak pria hidung belang!" seru Karma tanpa ingin menatap Ruby. "Aku juga tidak suka banyak mata memandangi tubuh kakakku yang memakai pakaian ketat olahraga."
"Dasar siscon!" pekik Aqua.
"Padahal kau sama siscon-nya bahkan lebih parah dariku!" ledek Karma. "Kakakku bilang, aku jangan seperti dirimu…" Karma melirik Aqua di sampingnya dengan wajah meledek.
__ADS_1
Kaki Aqua segera melayang ke pantat Karma dengan keras, tangannya ikut memukul kepala Karma hingga terdengar suara cukup keras. Sementara Karma hanya membalas Aqua dengan tawanya.
Mereka mengganti baju setelah melakukan pemanasan ringan. Karma menatap Ruby yang hanya memakai sport bra dan legging berwarna hitam. Sementara Aqua masih sibuk melakukan pemanasan.
"Pakai ini atau aku tidak mau mengajarimu." Karma menyodorkan kaos oversize miliknya pada Ruby.
"Tapi…"
"Ini masih baru. Belum kupakai, itu niat kupakai untuk baju ganti. Tapi melihatmu yang sepertinya belum pernah latihan bela diri, jadi kau pakai saja." Karma melangkah menjauhi Ruby.
Aqua berdiri di depan Karma. "Apa kau tidak tahu berapa lama dia memilih baju olahraganya sekarang?"
"Apa aku peduli?" tanya Karma balik. "Kau tahu beladiri kan? Karate itu bukan gerakan biasa saja. Memakai baju seperti itu hanya akan melihatkan semua bagian tubuhnya."
Ruby berdiri di hadapan Karma untuk memulai latihan dengan baju pemberian Karma. Ia segera memakainya dan melakukan pemanasan ringan.
Latihan pun di mulai dengan kuda-kuda. Beberapa gerakan memukul dan menendang dengan kuat namun juga indah. Aqua yang cerdas, dengan mudah ia mengikuti Karma. Begitu juga Ruby yang sangat pandai menari, jadi bagi mereka gerakan seperti Karma tidaklah terlalu sulit.
Karma dan Aqua mulai melakukan gerakan fight. Karma melepas kacamatanya agar tidak pecah atau patah. Sementara Ruby mengamati Aqua dan Karma. Beberapa kali Ruby hanya terpanah pada wajah Karma yang berkeringat, ujung matanya tajam dengan tatapan seolah menusuk itu ternyata saat tersenyum bisa melengkung dengan indahnya.
...****************...
"Kau langsung pulang?" tanya Aqua ketika mereka keluar dari tempat gym.
Karma merapikan posisi kacamatanya. "Ya, aku ada kelas malam."
"Aku akan mengembalikan bajumu di pertemuan selanjutnya." Ruby menatap Karma di samping Aqua.
"Jangan khawatir, aku punya banyak baju lain." Karma menarik tas ke bahunya. "Ya, aku duluan…" Karma melangkah meninggalkan dua kembar dengan sangat cepat.
Aqua menatap Ruby yang masih mengamati kepergian Karma. "Besok pakai baju tertutup saja. Yang kemarin kau beli, dipakai saat pergi bersama teman perempuanmu saja."
"Kenapa? Apa kau juga terganggu?" tanya Ruby seraya mendekati Aqua, ia melingkarkan tangannya di lengan kanan Aqua.
"Aku sih tidak, tapi sepertinya Karma sangat terganggu."
"Apa ada alasannya, kenapa dia terganggu? Apa dia punya pikiran mes*m?" tanya Ruby lagi.
"Bukan begitu, kakaknya Karma hampir dilecehkan. Jadi, ada kemungkinan Karma menjaga perempuan di sekitarnya agar tidak bernasib seperti kakaknya."
"Benarkah? Aku tidak tahu…" ucap Ruby khawatir. "Aku jadi merasa bersalah."
"Sudah tidak apa, kau hanya belum kenal dengannya saja." Aqua menenangkan.
__ADS_1
...****************...
Maaf lama updatenya ya ^^