
Karma sudah mengganti bajunya, menyambut semua tamu dari rekan ayahnya untuk memberikan salam terakhir sangat banyak. Mereka mendoakan Karma agar kuat dan sukses seperti Akino. Air mata Karma sudah tidak lagi keluar, ia tidak mengerti, setelah teriakan Aqua tadi, dia merasa ini akan berlalu dan semua akan baik-baik saja meskipun sulit.
Tamu yang datang silih berganti. Ramai, namun jiwa Karma sepi. Ditambah Kana yang tidak kunjung pulang ke rumah, menambah kekhawatirannya. Saat senggang, Karma kembali menghubungi Kana, mengirim pesan pada Kana bahwa ada acara di rumah jadi cepatlah pulang.
"Kana belum juga pulang?" tanya Ishigami setelah melihat langit yang mulai gelap. "Aku akan coba cari bersama yang lain."
"Sepertinya sudah tidak ada yang datang, kalian bisa pulang. Aku akan beres-beres." Karma membungkuk pada tetangganya yang membantunya seharian ini. "Arigatou gozaimasu!"
Ishigami dan penduduk lain mulai memeluk Karma, mengucapkan kata-kata penyemangat untuk Karma bergantian. Mereka keluar dari rumah keluarga Arima sambil menatap sedih Karma.
"Sepertinya kami terlambat!" seru Ichigo masuk diikuti yang lain ke dalam rumah keluarga Arima.
Karma yang sedang merapikan meja di sana, berdiri menyambut mereka. Ia berusaha tersenyum di wajah yang sudah sembab.
Aqua mendekati Karma, memeluknya, mencoba menguatkan Karma yang kembali menangis pelan. Pemuda cengeng itu memeluk erat Aqua seolah mengatakan bahwa apa aku akan kuat tanpa ayah.
Ruby, Mem, Frill, Akane dan Miyako mulai melakukan salam terakhir di depan figura Akino yang tersenyum. Ichigo dan Gotanda juga melakukan hal yang sama bergantian.
Aqua melakukan salam terakhirnya dengan air mata yang tidak mau berhenti keluar. Sementara Karma sudah menyiapkan makan untuk tamu-tamunya.
"Jadi, Kana itu kakaknya Karma?" tanya Akane pada Mem.
"Iya, aku tidak melihat Kana di sini." Mem mengedarkan pandangannya.
"Makanlah, kalau kalian ingin minum akan aku ambilkan." Karma menyodorkan beberapa makanan pada meja Akane.
"Tidak perlu, kau bisa istirahat. Kau pasti lelah…" Akane berdiri. "Biar aku yang bantu menyajikan makanan. Kau duduk saja."
Karma mengantar Akane ke dapur rumahnya. "Terima kasih atas bantuanmu. Karena kalian tamu terakhir jadi kurasa makanannya sudah tidak banyak."
Akane membuka kulkas dan lemari Karma. "Tidak apa, aku akan masak untuk makan malam. Kau sudah makan?"
Karma melangkah keluar dapur, menatap Akane. "Apa ada yang napsu makan saat kau merasa duniamu hampir hancur setengah?"
Akane menatap Karma dengan tatapan sedih. Jika diperhatikan Karma punya wajah yang mirip dengan Kana. Warna rambut dan matanya sama. Cara bicara mereka pun sama, sedikit membuat emosi lawan bicara.
__ADS_1
Dengan bahan seadanya Akane membuat makan malam untuk tamu-tamu yang datang malam itu.
"Kana belum pulang?" tanya Aqua pada Karma yang duduk di meja bersama Aqua, Ichigo, Gotanda dan Miyako.
"Belum." Karma meraih ponselnya, ia akhirnya mengirim pesan pada Kana dan memberitahu kematian ayahnya melalui pesan. "Aku tidak tahu dia ke mana. Harusnya aku mengatakan padanya lebih awal."
"Kenapa ayahmu bisa meninggal? Apa ayahmu sakit?" tanya Miyako.
Karma menggeleng. "Kecelakaan mobil. Ayah dan dua rekannya meninggal di tempat. Aku tidak mengatakannya pada Kana karena pasti dia syok berat melihat kondisi tubuh ayah setelah kecelakaan."
"Aku khawatir Kana akan mengamuk saat tahu kau merahasiakan ini darinya." Aqua berkomentar.
"Aku sudah siap dia mengamuk padaku. Tapi, aku tidak siap jika dia kembali seperti kejadian pembunuhan dulu." Karma membayangkan Kana waktu itu. "Aku tidak punya ayah lagi disini, jadi aku tidak bisa mengurus Kana jika dia harus kembali seperti dulu."
"Dia tidak akan seperti itu lagi, percayalah pada kakakmu." Aqua mencoba menenangkan.
Akane datang dengan membawa makanan untuk makan malam. Karma tidak percaya Akane akan memasak banyak dengan bahan sisa. Bahkan dia bisa membuat untuk semua yang datang.
"Ayo kau juga makan!" Akane tersenyum pada Karma dan berlalu.
Semua mulai menyantap makan malam mereka. Karma mencoba memakannya, tapi dia mengingat Kana dan bertanya dalam hati apa Kana sudah makan? Karma menghentikan makannya, dia berdiri di depan foto ayahnya dan mulai menangis lagi.
...****************...
"Kana!" Karma berseru dengan wajah pucat.
Lebam pipi kanan Kana, perban di keningnya. Ditambah celana panjangnya sudah robek, rambutnya berantakan. Dan tatapan mata Kana kosong.
"Apa yang terjadi?" tanya Aqua yang segera berdiri mendekati Karma.
"Korban pelecehan, beruntung pelaku bisa kami tangkap. Aku menyuruhnya untuk dirawat karena banyak luka, tapi dia menolak dan mengatakan bahwa adiknya menunggunya di rumah." Salah satu dari polisi menjelaskan.
"Apa? Pelecehan? Di mana? Kapan?" tanya Karma, suaranya terdengar bergetar. Kabar buruk apalagi ini, baru sehari ayahnya meninggal, dia meninggalkan Kana sendirian dan berakhir seperti ini.
Betapa tidak becusnya aku, batin Karma.
__ADS_1
Ia mendekati Kana, berdiri di hadapan kakak perempuannya dengan mata berair.
"Tadi pagi, di jalan menuju pasar," jawabnya. "Sepertinya sedang ada pemakaman. Kami kembali dulu, besok akan kami berikan kabar terkait kejadian ini."
Dua polisi itu akhirnya keluar dari rumah keluarga Arima. Pandangan semua orang kini beralih ke Kana. Gadis berambut merah itu melangkah ke depan pigura dengan wajah ayahnya. Langkahnya pelan, terlihat begitu rapuh, seakan ia akan jatuh.
"Kana..." panggil Karma pelan, ia tidak tahu akan melihat Kana seperti ini. Berantakan dengan tatapan kosong, tanpa emosi. Tatapan di mana Karma ikut merasakan kehancuran. "Gomen..."
Karma mencoba berdiri di samping Kana yang hanya mematung di tengah ruangan, tidak ada ekspresi yang ia berikan. Hanya diam, membisu dengan wajah penuh lebam. Karma mencoba meraih tangan Kana, ia sudah siap dengan semua caci maki dari Kana. Tapi, tidak dengan diamnya.
"Aku minta maaf, kabar ini baru kuterima kemarin. Aku minta maaf!" Karma setengah berteriak, mengguncang tangan Kana. "Kepala Ayah terus berdarah, aku meminta rumah sakit untuk melakukan kremasi. Ayah kecelakaan saat perjalanan menuju Tokyo, aku belum sempat menjelaskannya padamu..."
Suara tangis Karma kembali terdengar. Sementara Kana hanya mematung, menatap kosong bingkai foto Akino. Karma terus mengguncang tangan Kana, berharap Kana merespon panggilannya.
"Kana..." Karma kembali memanggil kakaknya dengan suara yang sudah serak akibat menangis seharian ini. "Jangan seperti ini, kumohon!" Karma mengguncang tubuh Kana, berdiri di hadapan Kana dengan wajah penuh air mata. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika seperti ini..."
Tangis Karma semakin keras, ia memeluk Kana, mengelus punggung kecil kakaknya yang masih diam tanpa menyahut. Ini pukulan keras untuk Karma, hal yang dia takutkan terjadi. Menyakitkan, ia tidak mengerti apa yang harus dirinya lakukan sekarang. Menangis merupakan satu-satunya cara yang bisa dia lakukan. Setidaknya dia tidak meninggalkan Kana karena merasa dirinya tidak berguna.
"Aku lelah..." Kana akhirnya menjawab dengan suara pelan. "Terima kasih sudah kuat hari ini, Karma..."
Setelah menunggu beberapa menit, Kana memberikan salam terakhirnya pada Akino. Tetap tidak ada ekspresi dari wajahnya. Kana naik ke kamarnya di lantai dua.
...****************...
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Karma pada dirinya sendiri, tangannya mencengkram celananya dengan kepala yang terus menunduk dalam.
"Sebaiknya kau istirahat..." Ichigo mendekati Karma, mengelus kepala Karma lembut.
Melihat Kana yang tiba-tiba datang dengan wajah berantakan, membuat semua mulai merasakan kekhawatiran pada Kana. Ditambah dia hanya diam, termenung dan mematung, seperti tidak terjadi apa-apa. Meskipun akhirnya dia memberikan salam terakhir dan melangkah ke kamarnya, tapi tetap saja Kana terlihat memilukan.
"Ayah!!!" Karma berteriak memanggil ayahnya dengan suara parau. Lelah sudah dia menangisi kematian ayahnya yang mendadak, ditambah Kana yang terlihat seperti tak bernyawa.
"Karma..." Aqua duduk dihadapan Karma, mencoba menenangkan pemuda cengeng ini. "Istirahatlah, tidur di kamarmu. Rumah ini kami yang bersihkan. Aku akan mencoba berbicara dengan Kana."
"Aku ingin bicara dengan Kana juga... Aku ingin menjelaskan padanya!" suara Karma bergetar, tubuhnya sudah lemas sedari pagi ke sana ke mari mencari Kana. "Aku ingin meminta maaf padanya..."
__ADS_1
"Besok bisa kau lakukan, sekarang lebih baik istirahat. Menenangkan diri, hari ini kau sudah bekerja keras. Jadi, jangan memaksakan diri." Aqua memeluk Karma dengan erat, menepuk pelan punggung pemuda berambut merah gelap itu. "Aku yakin Kana akan baik-baik saja."
...****************...