
"Kita bisa langsung ke intinya saja, Ruby. Selama ini kau menghubungiku dan memberikan banyak pesan tentang kau yang mencintai kakakmu." Kana segera menanyakan apa yang membuatnya pusing berhari-hari. "Jadi, kau ingin aku melakukan apa?"
"Apa kau mau mengabulkannya?" tanya Ruby seraya membenarkan posisi kacamatanya.
"Aku akan memikirkannya." Kana menjawab dengan tegas.
Seolah ada jeda lama diantara perbincangan mereka. Suasana kafe mendadak hening, membuat beberapa dari mereka terdiam. Jemari Ruby mengadu kasar, ia menatap Kana serius.
"Jangan menyukai Aqua." Ruby akhirnya bicara setelah lama mereka diam.
"Kenapa?" tanya Kana dingin.
"Karena aku yang akan selalu bersamanya hingga kematian selanjutnya." Ruby membalas tatapan Kana tidak kalah dingin, seolah memperingatkan Kana. "Jangan pernah menyukainya atau membalas cintanya."
Kana menghela napas kasar, ia tidak mengerti gadis di hadapannya ini kenapa terlalu bersikeras untuk menikahi saudara kembarnya. Cinta memang buta, tapi ini terlalu buta. Gelap mata.
"Aku tidak bisa," jawab Kana. "Aku tidak bisa berbohong bahwa aku juga menyukai Aqua. Bahkan sejak ia membantuku di drama Sweet Day."
Wajah Ruby berubah merah seketika. Jawaban Kana adalah jawaban yang tidak ingin didengar olehnya. Ia pikir jika bicara langsung dengan Kana, ia akan menyetujui semua permintaannya. Tapi, ternyata dugaannya salah. Salah besar. Jika dua orang itu saling mencintai, maka habislah sudah harapannya.
"Tapi, senpai... Kau tahu kan dia cinta pertamaku di kehidupanku sebelumnya," lirih Ruby, tangannya menaut dengan tangan Kana. "Aku sangat mencintai sensei..."
Jatuh sudah air mata yang sedari tadi ditahan. Suara isakan Ruby terdengar pelan di dalam ruangan. Punggungnya terus bergerak naik turun. Beberapa orang yang lewat menatap ke arah meja Kana dan Ruby.
"Aku tahu," balas Kana. "Tapi, Aqua adalah saudara kembarmu. Kau berada di rahim yang sama. Apa kau tidak berpikir bahwa kau dihidupkan kembali dengan orang yang kau sukai sebagai saudara dan bukan sebagai pasangan."
Ruby melepaskan tangan Kana, ia mengusap wajahnya kasar. "Tapi, kami dulu pernah berjanji untuk menikah!"
Benang merah muda di kelingking Ruby masih tetap sama. Di kelingking satunya sudah melingkar benang merah yang sebelumnya tidak ada.
"Suatu saat kau akan menemukan cinta sejatimu, Ruby." Kana beranjak dari duduknya. "Tapi, tidak dengan saudara kembarmu."
Kana melangkah meninggalkan Ruby yang masih terisak di kursinya. Ia yakin sekali dengan merah yang baru ia lihat. Benang merah yang belum terhubung dengan siapapun itu akan segera terhubung dengan cinta sejati Ruby.
Helaan napas keras terdengar. Ruby segera meraih ponselnya menghubungi seseorang. Ia kembali memakai kacamata hitamnya, merapikan pakaiannya dan pergi keluar dari kafe.
...****************...
"Kepalaku semakin sakit." Kana memijat keningnya setelah ia meninggalkan Ruby. "Karena terbawa emosi, aku tidak sempat meminta maaf. Aku harus meminta maaf padanya nanti."
Waktu makan siang tiba, pengunjung yang datang jauh lebih banyak dari hari biasanya. Entah karena hari Senin atau karena ada promo. Kana yang pertama kali bekerja hanya bisa berdiri di belakang kasir dan diwajibkan untuk selalu tersenyum menyambut para pelanggan.
"Siang ini banyak sekali pengunjungnya," komentar salah satu barista laki-laki setelah jadwal makan siang selesai. "Padahal ini kafe, tapi banyak sekali orang membeli kopi."
"Ya, sepertinya memang keajaiban untuk kafe tempat kita." Manager perempuan mendekati karyawannya dengan wajah sumringah. "Kita lihat perkembangan kafe ini, jika besok semakin ramai apalagi jika seminggu ini ramai. Aku akan berikan bonus untuk kalian!"
"Waaah!!!" balas yang lain penuh semangat.
__ADS_1
"Kana-chan..." Panggil manajer seraya mendekati Kana yang masih berdiri di belakang mesin kasir. "Kau bisa istirahat, shift malammu diganti Karma."
"Arigatou gozaimasu..." Kana membungkuk seraya melangkah ke ruang ganti.
Ia tidak percaya akan selelah ini di hari pertama bekerja. Ditambah obrolan dengan Ruby yang membuat Kana menguras emosinya. Dan nanti malam dia harus menemui Aqua.
...****************...
Musim panas semakin dipenghujung, angin semakin kencang terasa menerpa tubuh. Kana yang tengah duduk di ayunan taman dekat apartemen Karma pun mengencangkan mantelnya. Malam ini pertemuannya dengan Aqua di taman.
Gelapnya malam tidak memundurkan Kana untuk bertemu Aqua. Suara deritan ayunan yang Kana naiki menjadi suara yang memenuhi taman yang lengang.
"Apa sudah sangat lama?" suara rendah mengagetkan Kana. Ia segera mencari pemilik suara.
Pemuda dengan hoodie hitam, celana panjang hitam dan masker hitam itu mendekati Kana. Tangannya menurunkan masker yang dipakai, ada senyum tipis menghias wajah tampannya. Topi yang menempel di kepalanya kini ia letakkan di kepala Kana.
"Kau kedinginan?" tanyanya lagi, mengaburkan semua pikiran Kana. Hanya gelengan kepala pelan yang Kana berikan sebagai jawaban. "Kita cari tempat makan saja, bagaimana?"
Pilihan untuk bertemu di taman adalah ide Kana. Entah kenapa hari ini dia punya firasat buruk. Seharian bekerja dan bertemu Ruby, rasanya ia seperti kehabisan tenaga. Ditambah Kana bertemu orang yang sama sepanjang perjalanan ia pulang, seperti seorang penguntit.
"Di sini saja," jawab Kana berusaha tersenyum diantara wajah lelahnya. "Kalau kau lapar, kita bisa makan di apartemenku."
Tatapan Aqua tidak berhenti menatap manik merah Kana. Tangannya mengelus pipi Kana yang pucat. Pertemuan Kana dan Ruby tadi pagi sudah ia ketahui dari Karma. Tapi tentang persoalan keduanya, Aqua masih tidak tahu pasti dan hanya menduga saja. Melihat wajah Kana saat ini sepertinya gadis di hadapannya kini punya persoalan sendiri.
"Jadi, apa jawabanmu?" tanya Aqua yang tidak sabar mendengar jawaban Kana. "Katakan saja..."
"Ayo lanjutkan..." balas Kana.
Mata Aqua membulat seketika, ujung bibirnya terangkat tinggi. Tangannya dengan spontan menarik Kana ke pelukannya hingga tubuhnya terjatuh ke tanah. Kana yang berada tepat di atasnya tersenyum dengan wajah merona. Tangan kekar Aqua memeluk pinggang ramping Kana erat.
Tidak ada kata yang bisa digunakan untuk menggambarkan perasaannya. Detak jantung yang semakin cepat, wajah yang berseri itu menatap manik merah di atasnya.
"Boleh aku menciummu?" tanya Aqua meminta izin.
Suara tawa Kana kini terdengar, permintaan aneh Aqua membuatnya lupa tentang kejadian hari ini. Tidak habis pikir, pemuda yang selalu nyosor tanpa izin itu sekarang meminta izin padanya.
"Sebaiknya kita berdiri dulu," jawab Kana akhirnya, tangannya berusaha untuk menyangga tubuhnya.
Belum sempat Kana mengangkat tubuhnya, Aqua menahan kepala Kana dan menempelkan bibirnya di sana. Rasa dingin di bibir Kana kini berubah panas. Aqua tidak mengizinkan Kana merubah posisinya. Pasrah dengan kemauan Aqua, Kana hanya mengikutinya saja. Tangannya melingkar di leher Aqua, berharap pria itu tidak mengalami bengkak di bagian belakang kepalanya akibat terjatuh ke tanah.
Beruntung tidak ada yang lewat malam ini, entah apa yang akan dikatakan orang jika melihat kedua pemuda pemudi sedang dimabuk cinta.
"Apapun yang terjadi, katakan dan ceritakan padaku, oke!" Aqua berdiri memasukkan tangan Kana ke dalam kantung mantelnya. "Jadi, apa ada yang mengganggumu hari ini?"
"Kau juga sebaliknya ya, katakan padaku tentang harimu. Masalahmu bahkan pekerjaanmu." Kana menatap Aqua yang berdiri di sampingnya.
"Ya, itu mudah," balas Aqua seraya mendekatkan wajahnya ke hadapan Kana. "Jadi, ada apa dengan wajahmu hari ini? Kenapa saat bertemuku tadi kau pucat?"
__ADS_1
"Itu..." Kana mengalihkan pandangannya, sementara Aqua menahan wajah Kana agar tetap dihadapannya. "Aku bertemu dengan Ruby."
Aqua tersenyum puas. Akhirnya ia mendengar Kana untuk mengatakan cerita pertemuannya dengan Ruby. Mereka pindah ke ayunan, Kana duduk di ayunan sementara Aqua berdiri di belakangnya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Aqua.
"Sebelumnya, aku mohon padamu untuk tidak memarahi atau membenci apalagi sampai perang dingin diantara kalian berdua." Kana menengadahkan kepalanya menatap wajah Aqua di atasnya.
"Itu mudah," balas Aqua dengan senyum yang terus menghias wajahnya, tangannya kembali mendorong pelan ayunan yang dinaiki Kana.
"Dia memintaku untuk tidak membalas cintamu. Dia bahkan mengirim pesan setiap hari padaku bahwa dia mencintaimu dan aku tidak boleh menyukaimu juga." Kana membuang napas kasar. "Awalnya aku akan mengikuti maunya, tapi saat pertemuan tadi Ruby terlihat seperti bukan dirinya yang kukenal dulu. Jadi, aku menolak permintaannya."
Ayunan yang Kana naiki berhenti, tangan Aqua menahannya. "Arigatou..."
Wajah Kana kembali memerah, suara rendah Aqua berbisik di telinganya seketika membuat bulunya meremang. Tangan Kana dengan cepat melayang menghantam kepala Aqua.
"Bisa tidak kalau bicara itu tidak usah di dekat telinga!" seru Kana.
Aqua hanya tertawa pelan, ia sengaja melakukan itu karena hari ini moodnya sedang sangat baik. Ingin rasanya ia terus melihat wajah Kana yang merona dan segala salah tingkahnya.
"Kau janji tidak akan memarahi Ruby, kan?" tanya Kana memastikan setelah Aqua kembali duduk di hadapannya. "Kau juga tidak boleh mendiamkannya. Aku tidak suka perang dingin, itu menyakitkan."
"Iya..." Aqua duduk di tanah, menengadahkan kepalanya menatap wajah Kana. "Sebelum Ruby menghubungimu, aku mengatakan padanya bahwa aku akan menikahimu. Dan dia sangat marah, menagih janjiku padanya."
"Ya, dia juga mengatakan janjimu padanya dulu padaku."
"Bisa kau putus benang yang menghubungkanku dengannya?" tanya Aqua mengangkat kedua tangannya. "Lalu, apa benang merah kita sudah kembali menyatu?"
Kini pandangan Kana beralih ke arah kelingking Aqua. Benang biru masih panjang dan belum terputus, sementara benang merahnya dengan Kana mulai memanjang.
"Sebentar, aku perlu percobaan..." Kana menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Aqua. "Kau bisa memejamkan matamu."
Tanpa melawan, Aqua segera menutup kedua matanya. Sementara Kana mendekatkan wajahnya, mengecup lembut bibir Aqua. Sementara matanya tak lepas dari dua kelingking yang saling bertaut.
"Hmm..." Kana menarik ujung bibirnya. "Sudah memanjang dari sebelumnya."
Aqua membuka matanya, "kalau begitu bisa kau putus benang satunya?"
"Tidak bisa sepertinya." Kana menggaruk kepalanya. "Aku akan coba dipertemuan kita selanjutnya."
"Baiklah... Besok aku akan ke apartemenmu." Aqua beranjak dari duduknya, mengibas celananya pelan. "Jadi, sekarang ayo kita menikmati malam ini di tempat makan terenak yang sudah kupesan!"
"Kupikir kau sudah kenyang!" seru Kana.
Tanpa menunggu izin, Aqua menarik pinggang Kana untuk melangkah di sampingnya. Mereka melangkah melewati taman yang kosong menuju apartemen dengan terus membahas banyak hal.
...****************...
__ADS_1
"Seperti katanya, ini akan jadi berita yang baik besok..."