Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Hidup di Tokyo (Lagi)


__ADS_3

Beri aku waktu satu pekan lagi untuk menjawabnya...


Pesan dari Kana itu sukses membuat Aqua tidak bersemangat seharian. Hari ini harusnya ia mendengar kabar gembira atau kabar paling menyedihkan. Diterima atau ditolak, Aqua sudah meyakinkan diri dan akan melapangkan apapun yang terjadi. Tapi ternyata, pernyataannya di gantung lagi.


Hari ini tidak ada jadwal syuting, ia mendapat libur akhir pekan. Di rumah hanya ada dirinya dan Ruby saja. Awalnya Aqua tidak ingin menyapa Ruby dan melanjutkan perang dingin yang diciptakan adiknya sendiri itu padanya. Tapi, entah kenapa ia ingin melihat dan menemui Ruby.


"Aku sudah mengatakan bahwa aku menyukai onii-chan!" seru Ruby dengan napas tersengal. "Aku juga sudah mengatakannya bukan kalau kau tidak boleh menyukainya!"


Aqua kembali bersembunyi di balik pintu kamar Ruby yang terbuka. Sepertinya gadis itu tengah menghubungi seseorang, tapi siapa yang ia hubungi hingga ia harus berteriak seperti tadi.


"Ayo bertemu, senpai! Akan kukatakan dan jelaskan semuanya!"


Mata Aqua membulat sempurna, ia berharap salah dengar. Jika senpai yang dimaksud adalah Kana maka semua semakin jelas. Kana jarang menghubunginya meski dalam status online. Dia juga jarang mengangkat telepon dari Aqua dan membalas singkat pesan yang ia kirim.


"Kau akan datang ke Tokyo kan? Jadi, beritahu saja tanggal pertemuan kita."


Semakin Aqua penasaran dengan percakapan kedua orang itu, tapi Aqua sudah bisa menarik kesimpulan. Meski rasanya seperti mustahil Ruby melakukan hal ini terutama pada Kana. Dengan langkah pelan, Aqua akhirnya turun ke kamarnya. Ia ingin terlebih dulu menemui Kana sebelum Ruby menemui gadis itu.


...****************...


Helaan napas kasar keluar dari hidung Kana, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Hari di mana harusnya ia menjawab perasaan Aqua sekarang menjadi beban untuknya. Jika dia menolak lagi, entah akan sesakit apa hati Aqua. Tapi jika ia menerima dan menjawab sesuai perasaannya pada Aqua, entah akan seperti apa kisah cintanya.


Setiap hari dia mendapat pesan teror dari Ruby dan itu mengerikan. Dimulai dari ia yang mengatakan bahwa mencintai kakaknya dan terakhir mengancam Kana jika mereka menjalin hubungan maka dirinya tidak akan tinggal diam.


Kalau sudah sejauh ini, Kana tidak tahu harus berbuat apa. Padahal Kana belum mengatakan apa pun pada Ruby. Bahkan Kana belum mengatakan pada Ruby bahwa dia juga mencintai Aqua. Tapi, bisa-bisanya dia sudah mengancam Kana.


"Dua hari lagi kita akan berangkat ke Tokyo." Karma mengetuk pintu kamar Kana seraya membukanya. "Jadi bersiap dari sekarang barang apa saja yang ingin kau bawa."


"Iya..." balas Kana malas.

__ADS_1


"Wajahmu kusut sekali. Apa terjadi masalah?"


"Tidak ada, aku hanya sedang banyak pikiran." Kana merubah posisinya, duduk di pinggir kasur. "Apa cinta memang memusingkan seperti ini ya?"


"Eh?" respon Karma, ia meraih kursi dan duduk di hadapan Kana. "Kau kenapa lagi? Bercerita padaku yang tidak mengerti juga bukannya aneh?"


"Tapi aku hanya punya dirimu saja yang bisa diajak bercerita." Kana membalas dengan nada sedih, ia cukup tertekan dengan teror Ruby padanya. Meski terlihat tidak jahat, tapi pesan Ruby tentang dia menyukai Aqua sangat mengganggu Kana. "Apa aku menyerah saja ya?"


"Iya, tidak apa. Menyerah saja." Karma memberi jawaban setelah lama berpikir. "Aku tidak mengerti tentang cinta sih, aku hanya pernah mendapat banyak pernyataan saja dari para gadis."


"Kalau begitu, aku akan menolak A-kun lagi..." Kana meraih ponselnya.


"Tolak saja, katakan langsung menikah saja!" ujar Karma sambil tersenyum lebar.


Tangan Kana dengan cepat memukul kepala Karma gemas. "Kau ini! Aku serius!"


"Aku juga serius, tadi Aqua mengatakan padaku untuk memberikan alamat apartemenku dan jadwal kita berangkat. Aku memberitahunya dan ia akan menunggumu." Karma menatap serius Kana. "Kalau kau memang ingin menyerah, maka katakan padanya dan berhenti menghubunginya. Kau tahu, Aqua sangat menyukaimu."


"Dia berjuang untukmu, jadi tidak apa jika kau harus egois saat ini. Urusan dengan adiknya itu hal kesekian. Jika kau terus berbohong pada dirimu, maka kau hanya akan terus menderita," ucap Karma seraya beranjak dari duduknya.


Tempat curhat Kana kini menjadi Karma seorang. Pemuda cengeng dan cuek itu selalu bisa memberikan wejangan untuk Kana. Lebih muda dan tidak pernah berpacaran dengan siapapun, tapi Karma jauh lebih bijak.


...****************...


Pindah ke Tokyo adalah hal yang tidak pernah diduga oleh Kana. Ia meninggalkan rumahnya di Akita bersama kuda kesayangannya. Mereka akan berkunjung setiap bulan jika sempat. Rumah itu akan diurus oleh salah satu tetangga mereka.


Uang yang ditinggalkan Akino untuk kedua anaknya sangatlah banyak. Warisan berupa uang itu untuk keperluan sehari-hari dan investasi. Dan sebagai tambahan agar tidak bergantung pada uang warisan, Kana dan Karma akan bekerja paruh waktu di tempat yang sama.


Pekerjaan paruh waktu sebagai seorang barista merupakan pekerjaan yang Karma lakukan selama di Tokyo. Berhubung ada lowongan pekerjaan di jam pagi sampai sore, Karma mendaftarkan nama Kana di sana.

__ADS_1


Tidak banyak barang yang dibawa oleh Kana, karena menurutnya ia akan pulang ke desa sebulan sekali. Seperti menelan ludah sendiri, Kana berpikir ia tidak akan tinggal di Tokyo atau kembali ke tempat itu. Tapi nyatanya? Dia kembali lagi ke Tokyo dan akan tinggal di sana. Entah berapa lama, pastinya ia akan tinggal di apartemen Karma.


"Apa Aqua menghubungimu?" tanya Karma sesampainya mereka di apartemen.


"Ya, aku akan bertemu besok malam di kafe," jawab Kana seraya meletakkan pakaiannya di lemari. "Aku juga akan bertemu dengan Ruby siangnya."


"Hah?" Karma membulatkan matanya, ia berdiri mendekati Kana. "Ya, semoga berhasil..."


Pertemuan dengan Aqua sudah direncanakan oleh Karma karena permintaan pemuda blonde itu. Tapi, ternyata Ruby lebih cepat selangkah. Untuk saat ini, Karma sudah mengibarkan bendera putih. Kakaknya yang susah menolak permintaan seseorang itu membuatnya gemas hingga kesal.


Kana yang lemah terhadap wajah penuh harap apalagi jika sampai ada air mata yang keluar, Kana dengan senang hati mengiyakan. Dan itu sifat bodoh yang tidak kunjung hilang. Karma yang baru empat tahun hidup bersama Kana saja sudah hafal sekali sifat bodohnya itu.


...****************...


Jam yang menunjukkan pukul 11 siang, sudah ramai beberapa tempat makan oleh pengunjung untuk makan siang. Kana yang masih membersihkan meja pengunjung akhirnya kembali ke ruang istirahat.


Aku sudah sampai, senpai...


Pesan dari Ruby diterima Kana. Ia meminta izin kepada atasannya untuk menemui Ruby yang sudah duduk di meja pojok ruangan dekat jendela. Rambut blonde panjangnya tertutup topi, meski tertutup kacamata, Ruby tetap terlihat bersinar diantara pengunjung lain. Itulah kehebatan Ruby Hoshino sang idol.


"Maaf menunggu, apa kau ingin pesan sesuatu?" tanya Kana seraya menarik kursi di hadapan Ruby.


"Kau bekerja di sini, senpai?" tanya Ruby ketika matanya melihat seragam hijau hitam yang dikenakan Kana.


"Ya, waktuku tidak banyak karena sebentar lagi jadwal makan siang." Kana menjawab dengan senyum. "Jadi, kau mau pesan kopi atau dessert?"


"Aku sudah pesan tadi. Jadi, kau bisa duduk saja." Ruby masih mengamati Kana yang tetap melempar senyum ke arahnya.


Ada perasaan menggelitik di hati Ruby, mengingat Kana dulu merupakan aktris cilik terkenal dan pernah menjadi seorang idol juga. Dan sekarang ia memakai seragam pelayan. Meski begitu, wajah Kana yang imut tetap melihatkan keimutan bercampur kecantikannya juga.

__ADS_1


"Kita bisa langsung ke intinya saja, Ruby. Selama ini kau menghubungiku dan memberikan banyak pesan tentang kau yang mencintai kakakmu." Kana segera menanyakan apa yang membuatnya pusing berhari-hari. "Jadi, kau ingin aku melakukan apa?"


...****************...


__ADS_2