
Miyako duduk di kursi ruangannya, menatap Aqua yang sibuk membaca naskah drama barunya bersama sutradara Gotanda.
"Aqua…" panggil Miyako. "Sepertinya liburanmu akan diganti lain waktu."
"Ya, tidak masalah. Asalkan aku diberi waktu dua pekan musim semi nanti untuk berlibur." Aqua menjawab sambil menulis beberapa catatan kecil pada naskah yang baru ia dapat.
"Aku akan buat waktu kosong untukmu." Miyako mengambil tab miliknya, memeriksa jadwal Aqua selama dua bulan ke depan. Miyako hanya menghela napas frustasi. "Kau hanya ada waktu kosong 3 hari. Liburan musim panas saja, bagaimana?"
Aqua meletakkan naskah dan pulpennya. "Bulan apa libur 3 harinya?"
"Maret, awal musim semi. Paling lama 5 hari." Miyako berdiri mendekati Aqua. "Kau sangat sibuk ternyata. Maaf aku tidak bisa menepati janjiku."
Aqua meraih tab milik Miyako. Melihat dan menandai tanggalnya di kertas naskahnya. Tak lama ia mengembalikan tab kepada Miyako.
"Tanggal 10 maret sampai 15 maret, kosongkan jadwalku. Tolak saja semua yang ada di tanggal itu. Aku tidak ada waktu berlibur kalau melihat kalender." Aqua merapihkan naskah dan pulpennya. "Penentuan casting masih tiga hari lagi kan? Jadi, tolong jangan ganggu aku di kamar."
Aqua meraih naskahnya, keluar ruangan Miyako menuju rumahnya yang tidak terlalu jauh dari gedung agensi. Ia melewati tempat latihan idol yang dipakai grup idol lain. Ruby mengajari mereka setelah melakukan latihan acting.
Di dalam ruangan terpampang poster besar dua center B-Komachi. Ai dan Kana. Aqua melangkah masuk, menatap poster Kana, berdiri di depannya. Tak lama ia menatap poster Ai lama hingga ia keluar dari ruangan.
Aqua selalu berpikir, apakah Ai tidak diberikan kesempatan untuk hidup lagi seperti dirinya, Ruby dan Kana? Jika memang Kana diberikan kesempatan hidup lagi, lalu kenapa dia tidak berpindah tubuh seperti dirinya dan Ruby? Banyak pertanyaan tentang hal itu di kepalanya.
Tapi, Aqua sadar, mengetahui Kana masih hidup adalah kebahagiaan tersendiri untuknya. Kana teman pertamanya, mendukungnya sepenuh hati. Dan Aqua mencoba untuk melindunginya, meskipun gagal.
Ponsel baru yang Aqua beli, ia masukkan kembali ke dalam lemari. Kana tidak mungkin menerimanya. Ia selalu menghubungi Kana melalui telepon rumah. Atau ponsel milik ayahnya, jika Karma di rumah, Aqua akan meminta Karma memberikan ponselnya untuk Kana.
Tiga hari setelah pertemuan terakhirnya dengan Karma, Aqua belum menghubungi Kana atau Karma. Ia masih sibuk memfokuskan dirinya untuk casting selanjutnya. Aqua tidak mengincar pemeran utama dalam film action Sutradara Gotanda, jadi dia tidak terlalu peduli dapat peran apa pun. Kemampuan berkelahinya tidak sehebat Himekawa Taiki, jadi Aqua tidak perlu mendapat main caracter.
Ponsel Aqua tiba-tiba berbunyi. Aqua segera meraih dan menjawab telepon dari seseorang.
"Apa kabar?" suara Kana terdengar dari ujung telepon.
"Baik."
"Terima kasih untuk jaket yang kau berikan padaku."
__ADS_1
"Ya, kurasa aku perlu melihatmu memakai jaket di musim dingin." Aqua membalas komentar Kana.
"Kau terdengar tidak baik-baik saja, apa aku mengganggu waktumu? Kalau begitu aku tutup teleponnya ya…"
Aqua bergeming. Jujur setelah pertemuannya dengan Karma, Aqua sangat berharap Kana menerima ponsel pemberiannya. Dan berharap Kana menghubunginya setelah sampainya Karma di sana. Tapi, tidak ada kabar selama tiga hari. Ditambah liburan Aqua musim dingin ini dibatalkan. Padahal ia sangat berharap untuk bisa main ke desa lagi.
"Kana…" panggil Aqua akhirnya setelah hampir dua menit mereka terdiam. "Aku membeli ponsel untukmu, apa kau mau menerimanya?"
Kana tertawa pelan. "Tidak!" tolak Kana cepat. "Apa kau marah?"
"Iya!" jawab Aqua tegas.
Kana tertawa pelan lagi. "Kau tahu A-kun, kemarin saat Karma pulang aku dirawat di rumah sakit. Hari ini aku baru bisa menghubungimu, karena baru saja pulang ke rumah sore tadi."
Aqua mulai berdiri, melangkah keluar kamarnya di lantai satu menuju teras lantai dua. "Lama juga dirawatnya. Sakit apa?"
"Sakit kepala." Kana menjawab, Aqua yakin wajah Kana sedang tersenyum sekarang. "Soal ponsel itu, aku tidak mau memakai ponsel hingga aku siap."
"Siap apa?" tanya Aqua, ia memandangi langit malam itu. Menikmati dinginnya malam di penghujung akhir musim dingin yang akan habis kurang dari dua pekan lagi.
"Ya, itu berkatmu. Makanya aku membelikan ponsel untukmu. Tapi, kau malah menolaknya…" nada bicara Aqua terdengar sedih.
"Kau kan bekerja keras juga, aku hanya memberi saran saja. Oiya! Iklan dengan wajahmu sekarang banyak sekali, sekarang kau semakin sibuk pasti. Jadi, aku akan jarang menghubungimu."
"Jangan begitu…" nada suara Aqua terdengar sedih. "Aku akan menjawab setiap panggilan darimu, jadi jangan sungkan."
"Karma bilang kau punya banyak teman wanita. Lalu dia menyarankan padaku untuk tidak terlalu dekat denganmu." Kana tertawa pelan dengan nada meledek. "Dasar playboy cap kadal!"
"Kau percaya pada anak seperti Karma?" tanya Aqua kesal.
"Aku percaya pada Karma. Kau itu kan suka sekali bermulut manis pada wanita." Kana tertawa pelan lagi. "Jadi, aku paham maksud Karma!"
"Terserah padamu saja!" seru Aqua kesal. "Aku jelaskan pun akan sia-sia!"
"Ey... Kau marah? Tapi itu kan fakta!" Kana kembali tertawa. "Ah... Senangnya, hari ini sangat menyenangkan! Setelah mendengar suaramu..."
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Aqua heran.
"Aku hanya senang saja! Apa harus ada alasannya?" tanya Kana balik.
Suara dengusan keras Aqua terdengar, Kana hanya tertawa pelan. "Ada yang mau kau ceritakan?" tanya Kana.
"Aku mendapat tawaran film action, untuk castingnya dilakukan tiga hari lagi. Aku tidak berharap mendapat pemeran utama karena lawanku Himekawa Taiki." Aqua mencoba menjelaskan tentang proyek film barunya.
"Aah! Taiki-kun ya. Kau jauh sekali sih dengannya. Bagaimana kabarnya? Apa dia juga menjadi terkenal sepertimu?" Kana bertanya penuh semangat, mengingat Kana merupakan kawan dekat dengan aktor hebat Taiki.
"Tanya saja sendiri! Jangan tanya aku tentangnya!" seru Aqua kesal.
"Aku hanya bertanya saja, dia kan temanku juga. Dia juga sangat hebat dalam dunia hiburan." Kana menyanggah dengan nada sedih. "Tapi, kenapa kau tidak mau menjadi pemeran utamanya? Kau juga bagus dalam berakting, meski tidak sebagus Taiki-kun."
"Aku tidak berminat." Aqua menjawab singkat.
Kana mendengus kesal. "Kau kan mau jadi aktor yang tidak bermain di genre romance saja. Jadi, ayo keluar dari zona nyaman mu dan segera mengambil pemeran utama untuk film nanti!"
"Aku harus latihan berkelahi dan lain sebagainya. Memakan waktu yang sangat banyak." Aqua menjawab komentar Kana untuknya.
"Ey... Kau bahkan di sini dengan kotoran dan kandang hewan. Untuk bela diri juga tidak akan susah seperti yang kau kira!"
Aqua terdiam, ia berpikir sejenak mencerna kalimat Kana. "Aku ingin berlibur ke tempatmu, kalau aku harus latihan ini dan itu, tidak akan ada waktu untuk pergi ke sana."
"Kejar apa pun yang menjadi impianmu, aku tidak akan menahannya. Lagipula aku tidak memintamu untuk datang ke sini kan?"
Aqua berdiri menatap langit malam itu. "Kenapa berkata seperti itu? Jadi, aku tidak boleh main ke sana lagi ya?"
Kana tertawa pelan lagi, respon yang sering sekali ia berikan malam ini. "Tentu saja boleh, tapi kau itu sibuk, jadi jangan terlalu memaksakan diri pergi ke sini. Toh, dengan telepon juga bisa kan? Kalau kau butuh bantuanku untuk film barumu, aku akan bantu, kirim saja via fax naskahnya, akan aku komentari berjam-jam."
"Ya, baiklah… Akan aku kirim besok naskahnya. Kau berjanji membantuku kan?" tanya Aqua memastikan.
"Iya! Aku janji!" seru Kana.
...****************...
__ADS_1