
Cahaya matahari sore di musim gugur, dengan warna yang lebih hangat dan memberikan nuansa yang indah. Udara pada sore ini terasa sejuk dan segar. Aqua sudah bersiap di lapangan kuda bersama Ishigami sementara Kana bermain bersama anak-anak. Setelah hampir satu jam Aqua belajar menunggang kuda bersama Ishigami, mereka akhirnya istirahat.
Ishigami menyodorkan minuman pada Aqua. Keringat membasahi seluruh tubuh Aqua sore itu. Ia terlihat lebih keren dengan wajah berkeringat dan merona. Berkali-kali ia mengatur napas agar kembali normal. Sensasi yang luar biasa ketika kuda yang ia tunggangi dengan gagah berlari melintasi lapangan pacuan kuda.
"Senang tidak?" tanya Ishigami.
"Sangat!" seru Aqua. "Ketika sudah bisa membawa kuda sambil berlari, rasanya luar biasa."
"Pasti. Kau harus lebih rileks saat menunggangi Black. Sepertinya Black menyukaimu juga."
"Tapi, ini pertama kalinya untukku. Berkuda ternyata sangat menyenangkan! Aku akan berikan Black hadiah, ketika sampai di Tokyo."
"Kau dua pekan di sini ya?" tanya Ishigami, Aqua mengangguk pelan. "Akan terasa cepat kalau kita sangat menikmatinya. Lalu kapan akan rilis dramanya?"
"Tahun depan, syuting akan dilakukan saat musim dingin dan awal tahun depan akan mulai penayangan di televisi."
"Di sini tidak ada tv. Jadi sangat sulit menontonmu." Ishigami terkekeh. "Kau bisa menghubungi keluargamu di Tokyo? Sulit sinyal bukan?"
"Iya, kupikir milikku saja. Ternyata memang sulit sinyal ya…."
"Penduduk sini lebih memilih memakai telepon rumah. Jadi, kebanyakan mereka menghabiskan waktu di luar rumah tanpa ponsel." Ishigami mengeluarkan ponselnya. "Untuk beberapa orang ponsel itu penting juga. Dokter Arima membelikan ponsel untuk dirinya dan Karma yang akan belajar di Tokyo."
"Apa Arima punya ponsel?" tanya Aqua.
"Kana-chan ya maksudmu?" Aqua mengangguk. "Dia tidak punya, katanya belum perlu." Ishigami menatap serius Aqua. "Kupikir kalian cukup dekat, kau masih memanggilnya dengan sapaan Arima?"
"Tidak begitu dekat juga." Aqua menjawab dengan setengah hati.
"Kau ini, yakin dong jadi pria! Jangan ragu-ragu begitu!" Ishigami menepuk punggung Aqua.
Aqua tersenyum kikuk. Ia tidak pernah mencoba memanggil Kana dengan nama depannya. Ia merasa belum mengenal dengan baik Kana dan merasa bahwa dirinya tidak dekat dengan Kana. Entah sampai kapan Aqua akan terus memanggil Kana dengan nama belakang atau nama keluarganya.
...****************...
Langit malam ini lebih cerah dari biasanya. Bulan purnama terlihat lebih jelas menampakkan sosoknya di langit. Udara semakin terasa dingin. Rumah-rumah penduduk sudah tertutup rapat, menghabiskan malam di dalam rumah yang hangat. Suara hewan malam khas pedesaan sudah menjadi makanan mereka setiap harinya.
Malam ini Aqua sudah berada di rumah keluarga Arima. Kana menyiapkan selimut dan bantal untuk Aqua tidur di sofa. Sebelumnya mereka makan malam buatan Kana yang belajar memasak dari Karma. Meski ada beberapa sayur yang belum matang, untuk menghargai Kana yang sudah berusaha, Aqua memakannya hingga habis tak tersisa.
__ADS_1
Setelah makan malam, mereka kembali fokus dengan kegiatan masing-masing. Aqua membidik kamera ponselnya ke arah Kana yang sibuk menulis resep makanan ke buku catatan miliknya dari kertas penuh coretan. Sejak tadi, dia sibuk mendengar radio yang menyiarkan tentang resep makanan. Aqua tergelitik untuk memotret Kana dengan ponsel. Baginya, itu sesuatu yang baru dan unik dari Kana.
"Padahal kau bisa mencari resepnya di ponsel. Apa kau tidak punya ponsel, Arima?" tanya Aqua akhirnya.
"Aku pakai telepon rumah." Kana menunjuk meja telepon di samping Aqua. "Kalau darurat kau bisa menghubungi ayahku."
Aqua menatap telepon rumah di sampingnya, ada buku catatan berisi nomor telepon dan sebuah bolpoin. Kana berdiri dan meraih catatan beserta pulpennya, menyodorkannya pada Aqua.
"Tulis nomormu, aku akan menyimpannya," ucap Kana.
Dengan cepat Aqua menulis nomor ponselnya di buku catatan Kana. Tak lama Kana meraih gagang telepon, menekan nomor Aqua dan menghubungi ponselnya.
"Simpan balik!" seru Kana seraya tersenyum.
Kana menutup teleponnya, mengembalikan kembali gagang teleponnya. Ia duduk di tempat sebelumnya, fokus dengan buku catatannya. Sementara Aqua sibuk dengan ponselnya, hening malam itu dengan kedua orang yang sibuk dengan dunia masing-masing.
Sinyal di desa sangatlah buruk, terkadang pesan yang Aqua kirim pagi baru sampai siang, begitu sebaliknya. Ia membalas pesan yang masuk di ponselnya, membalas satu persatu. Entah akan terkirim kapan. Pesan dari Miyako, Ruby, Gotanda bahkan beberapa rumah produksi yang mulai menawarkan drama dan film baru pada Aqua untuk tahun depan.
"A-kun..." panggil Kana pelan. Aqua menatap balik Kana tanpa ingin merespon. "Kalau kau mau tidur di kamar Karma tidak masalah. Kurasa malam ini lebih dingin dari biasanya."
"Di sini saja cukup. Aku juga sudah dapat selimut yang tebal dan penghangat ruangan." Aqua menjawab seraya meraih selimut pemberian Kana.
"Tidurlah, aku sudah menguncinya tadi," ucap Aqua.
Dengan wajah lelah, Kana melangkah ke kamar ayahnya. Ia tidur di lantai satu selama Karma dan ayahnya pergi. Karena Kana belum berani tidur sendiri di lantai atas.
"Oyasumi..." Kana tersenyum pada Aqua sebelum ia menutup pintu kamar Akino.
"Oyasumi," bisik Aqua.
Rumah keluarga Arima benar-benar sepi. Aqua yang bersiap untuk tidur pun, mulai menarik selimut miliknya. Mencari posisi yang nyaman agar tidurnya lebih pulas.
Namun, tiba-tiba suara ledakan terdengar dari luar rumah dibarengi dengan lampu dan listrik yang tiba-tiba padam. Gelap sudah ruangan. Aqua mencoba menyalakan flashlight dari ponselnya, membuat cahaya dari sana. Ada perasaan cemas tiba-riba menyelimuti Aqua.
Dengan cepat Aqua berdiri, menyibak selimutnya kasar. Memeriksa keadaan Kana, mengingat Kana sangat takut dengan gelap setelah percobaan pembunuhan dua tahun lalu. Tidur di kamar Akino tadi dengan lampu yang menyala, dan sekarang bagaimana kabarnya di dalam kamar?
Pintu berderit pelan. Aqua memberikan cahaya pada kamar Akino yang gelap gulita. Aqua melangkah ke dalam kamar, mencari Kana di atas ranjang, namun tidak ia temukan. Flashlight dari ponselnya kini mengedar ke sekitar kamar Akino.
__ADS_1
Dengan tubuh gemetar, Kana menekuk kaki dan memeluknya erat di pojok ruangan. Terdengar suara isakan pelan. Aqua mencoba untuk tetap tenang, dia tidak ingin Kana kembali berteriak karena melihatnya. Dengan ponsel yang menyinari tubuh Kana, Aqua berjongkok di hadapan Kana. Tangannya mengelus kepala Kana lembut.
"Semua baik-baik saja, Arima..." Aqua mencoba menghibur Kana. "Ayo tidur di atas kasur. Kau pasti lelah."
"Gelap."
"Aku membawa ponsel, aku akan memastikan ini akan terus menyala agar kau bisa tidur dengan nyenyak." Suara Aqua terdengar lembut di telinga Kana.
Dengan tatapan takut, Kana mengangkat kepalanya, menemukan Aqua di hadapannya, membawa ponsel dengan cahaya ke arahnya. Aqua tengah tersenyum menatap Kana. Ia menjulurkan tangannya. Mencoba untuk menenangkan gadis yang sudah pucat dan gemetar itu. Kana hanya menatap Aqua lama, sorot matanya kosong. Hingga setelah beberapa menit berlalu, Kana meraih tangan Aqua.
"Ayo tidur, aku tidak akan meninggalkanmu." Aqua menuntun Kana ke ranjang.
Masih dengan wajah pucat, Kana menurut perintah Aqua. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sementara Aqua duduk di samping ranjang, meletakkan ponselnya di laci sebelah ranjang. Aqua menggenggam tangan Kana yang masih gemetar. Menarik selimut, menyelimuti Kana yang masih pucat dan berkeringat.
"Tenanglah... Kau sudah bisa tidur sekarang." Aqua mencoba mengeluarkan suara selembut mungkin, tangannya mengelus kepala Kana sementara tangan satunya terus digenggam erat Kana.
Tidak ada balasan dari Kana, gadis itu masih gemetar meskipun sudah diselimuti Aqua. Ditambah tatapannya seolah kosong, ia seperti kehilangan dirinya karena ketakutan.
"Tidurlah... Aku tidak akan meninggalkanmu. Lampu akan menyala sebentar lagi. Tidak ada yang perlu kau takutkan, aku akan bersamamu di sini." Aqua mencoba untuk menenangkan Kana berkali-kali. Tangannya mengelus kepala Kana. "Tidurlah..."
Mata Kana akhirnya terpejam, gemetar tubuhnya menghilang. Genggaman tangan Kana begitu kuat, Aqua tidak tega melepasnya. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kasur. Dengan tangan yang terus mengelus kepala Kana lembut, menenangkan gadis berambut merah itu. Aqua menatap Kana yang terlihat tersiksa, alisnya terus mengerut tidak tenang. Dia memejamkan mata, namun seperti tidak tidur.
"Apa yang kau mimpikan? Tenanglah… Aku tidak akan meninggalkanmu…." Aqua mengusap air mata yang jatuh dari mata Kana.
Rasanya deja vu. Malam saat Aqua bermimpi buruk beberapa tahun lalu, Kana menggenggam erat tangannya. Dan kali ini mereka bertukar tempat, Kana dengan mimpi buruknya dan Aqua yang menggenggam tangannya.
...****************...
Cahaya menelusup masuk melalui celah jendela, suara burung berkicau membangunkan Kana dari tidurnya. Mencoba menatap sekeliling kamar Akino, Kana mengangkat tangannya yang bertaut dengan tangan orang lain. Semalam ia seperti mendengar suara Aqua saat mati lampu, tapi dia tidak tahu kalau Aqua tidur di sampingnya.
Kana merubah posisinya, menatap Aqua di sampingnya yang tidur dengan posisi duduk, kepala di tahan pada ujung sandaran ranjang. Kana melepas tautan tangannya dengan Aqua. Ia menatap Aqua, merasa bersalah harus melihat Aqua tidur dengan posisi yang tidak nyaman.
"A-kun..." Kana memanggil Aqua pelan. "Sudah pagi..." Kana berbisik di telinga Aqua, membangunkan pemuda itu.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Aqua seraya meregangkan tubuhnya di hadapan Kana. Gadis berambut merah itu hanya menganggukkan kepalanya pelan. Tangan Aqua kembali mendarat di kepala Kana. "Semalaman kau memegang tanganku, ditambah aku harus mengelus kepalamu agar kau bisa tidur dengan nyenyak. Apa aku begitu nyaman untukmu?" tanya Aqua seraya tersenyum pada Kana.
"Itu--itu karena mati lampu saja! Dan itu tidak akan terjadi lagi!" tukas Kana seraya beranjak dari kasur. "Tapi... Terima kasih atas bantuanmu!" lanjut Kana dan segera keluar dari kamar Akino dengan wajah merona.
__ADS_1
Mendengar kalimat Kana barusan, Aqua sadar Kana masih menjadi dirinya yang dulu, meskipun tidak separah dulu. Tanpa sadar, Aqua menarik kedua ujung bibirnya.
...****************...