
"Besok kau akan ikut ke Tokyo untuk daftar ulang universitas." Akino duduk di sofa ruang tamu tanpa menatqp Karma yang masih sibuk dengan tumpukkan bukunya.
"Iya, aku paham." Karma menjawab dengan nada datar. Matanya sibuk membaca kertas soal pemberian ayahnya.
Langit yang sudah gelap, seseorang mengetuk pintu rumah keluarga Arima malam itu, Aqua berdiri di depan pintu, seperti janjinya pada Kana, ia datang malam itu.
Rumah Arima termasuk rumah yang cukup besar, ada dua lantai dengan furniture minimalis. Dua sofa dengan satu meja di ruang tamu yang menyatu dengan dapur di sebelah kiri ruangan. Dua kamar di lantai dua, satu kamar utama dan ruang kerja Akino di lantai satu.
"Hoshino-san, selamat datang…." Akino menyambut Aqua yang sudah masuk ke dalam rumah bersama Kana.
Kedatangan Aqua malam ini, tidak diprediksu oleh Karma. Ia yang masih duduk di dekat meja tamu hanya melirik Aqua dan tidak berminat untuk menyapa Aqua. Kana mempersilahkan Aqua duduk di sebelah ayahnya, sementara Kana pergi ke dapur untuk menyiapkan minum dan beberapa cemilan.
"Bagaimana harimu? Apa menyenangkan satu hari di sini?" tanya Akino seraya menutup buku yang tengah ia baca.
"Menyenangkan, banyak hal baru yang didapat." Aqua menjawab dengan yakin.
"Besok kau akan mengurus kandang sapi lagi. Apa tidak masalah seorang aktor melakukan itu?" tanya Akino.
"Ini menyenangkan, aku sangat menikmatinya."
Dengan membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa biskuit, Kana duduk di dekat adiknya. Karma meraih biskuit dan memakannya sambil terus fokus ke kertasnya.
"Karma adik tiri Kana beda 4 tahun. Dia baru saja lulus SMA, menumpang di desa tetangga." Akino memperkenalkan Karma pada Aqua. "Besok aku akan mengantarnya untuk mencari apartemen dekat universitasnya di daerah Shibuya."
"Universitas daerah Shibuya?" tanya Aqua, mengingat sebelum reinkarnasi dia kuliah di daerah itu.
"Ya, Karma masuk kedokteran. Nilainya cukup bagus untuk bersaing dengan anak dari Tokyo. Aku juga memberikan rekomendasi ke beberapa universitas dengan namaku. Dan Karma diterima juga berkat kerja kerasnya."
"Soal-soal dari ayah tidak ada yang normal!!!" pekik Karma frustasi. Tangan Kana dengan ringan menjitak kepala Karma.
Akino hanya terkekeh. "Kerjakan saja, jangan banyak mengeluh. Soalnya tidak akan selesai." Akino berdiri. "Lanjutkan saja kegiatanmu, Hoshino-san…" Akino meninggalkan ruang tamu dengan buku di tangannya.
Ruang tamu kembali lengang, Kana sibuk dengan buku bacaannya, Karma sibuk dengan soal pemberian Akino. Sementara, Aqua menatap Karma dan mencoba mendekati Karma, melihat kertas soal pemberian Akino. Membaca beberapa soalnya, seolah deja vu, ia tidak percaya bisa melihat soal-soal sulit yang menyenangkan dan menegangkan seperti itu lagi.
"Kau yakin ini jawabannya?" tanya Aqua seraya menunjuk soal nomor sepuluh yang sudah diisi Karma.
Karma menarik kertas miliknya. "Kenapa memang? Apa kau tahu jawabannya hah?"
Aqua menarik kertas yang dipegang Karma ke atas meja. "Kau tidak belajar ya? Ini kan dasar untuk biologi, kau harus mengetahui fungsi dari setiap organ dalam tubuh."
"Mungkin memang kau salah, dia itu mengerti walaupun dia seorang aktor," sahut Kana.
Wajar kalimat Kana seperti itu, dia mengetahui siapa Aqua sebelum dirinya bereinkarnasi. Ia menatap Kana yang kembali membaca bukunya. Karma meletakkan kembali kertasnya setelah mendengar kalimat Kana.
"Aku kan tidak boleh melihat buku! Jelas saja aku tidak tahu jawabannya!" seru Karma melirik Aqua sinis.
"Setidaknya kau pasti mengertikan bagaimana fungsi organ tubuh. Anatomi tubuh itu poin penting, kalau kau sudah salah di sini, akan sulit melanjutkan pelajaran lain." Aqua mengingat sewaktu dia belajar ilmu kedokteran, meskipun tidak sepintar dulu, tapi ada banyak yang masih ia pahami.
"Kau bisa menjawab ini memang?" tanya Karma seraya melihatkan nomor terakhir, membaca hasil USG.
__ADS_1
Aqua rersenyum. "Ini mudah sekali. Kau tidak bisa kah?"
Karma menatap Aqua heran. "Mudah?"
"Iya, ini ada dua kepala janin." Aqua menunjuk gambar di kertas Karma. "Zaman sekarang sudah sangat mudah membaca hasil USG. Ada banyak variasi juga."
Berbekal ilmu yang tersisa di kepalanya, Aqua menjelaskan tentang hasil USG di dalam soal milik Karma, Kana hanya menyimak obrolan mereka, sementara Karma mendengar dengan wajah kesal. Ia kesal karena harus dijelaskan oleh seorang aktor, bukan dari seorang dokter.
"Apa kau akan menjadi dokter umum?" tanya Aqua, setelah panjang memberikan penjelasan pada Karma.
"Dokter spesialis kandungan."
Spesialis Kandungan? Aqua bergeming, ia merasakan sesuatu yang aneh ketika mendengar itu.
"Kenapa memilih menjadi dokter kandungan?" tanya Aqua seraya merubah posisinya, tertarik dengan percakapan ini.
"Apa aneh laki-laki menjadi dokter kandungan?" tanya Karma, Aqua menggelengkan kepalanya. "Alasannya karena masih banyak ibu yang menelantarkan anak mereka, tidak menjaga gizi mereka, tidak juga mempersiapkan mental mereka."
Suara Karma terdengar sedikit lebih keras dari biasanya, sontak Kana berdiri, menepuk pelan kepala Karma. "Jangan nangis dong, jelek!" Kana berlalu seraya duduk menjauh dari Karma dan Aqua.
"Aku tidak menangis, tahu!" seru Karma dengan wajah memerah menatap Kana kesal.
"Ya, ya, ayo A-kun kita mulai kegiatan kita. Biarkan Karma menangis di sana!" Kana menjulurkan lidahnya, meledek Karma.
Merasa dihina, Karma berdiri, meraih bantal sofa dan melemparnya ke arah Kana. "Sialan Kana memang!"
Kana melempar kembali bantal sofa yang mengenai wajahnya ke arah Karma kesal. "Udah merah begitu masih bilang tidak menangis! Bohong banget!"
"Aku tidak menangis! Wajahku ini memang cepat merah, Gaho!" maki Karma seraya berdiri di hadapan Aqua.
Berlindung di belakang Aqua, Kana seolah bermain kucing dan tikus dengan Karma. Pemuda berambut merah itu menarik lengan Kana, tapi Kana justru memukul tangan Karma gemas.
"Kau memerah karena terpesona dengan Aqua memangnya?" ledek Kana tidak ada habisnya.
Aqua hanya mengikut gerakan Kana di belakangnya, gadis itu menarik dua sisi bajunya dari belakang. Ke kanan ke kiri, menghindari Karma yang sudah hampir mengamuk. Sementara Kana hanya tertawa pelan. Semakin keras tawanya, melihat ekspresi kesal Karma.
"Ayah! Karma tidak mengerjakan soalnya!" seru Kana yang lelah bermain kucing tikus dengan Karma.
"Karma!" suara teriakan Akino terdengar sampai ruang tamu.
Suara Akino sukses membuat Karma berhenti. Ia meraih kertas soalnya dengan wajah kesal. Ia belum selesai mengerjakan soal dari Akino, dan Kana terus menggodanya. Sambil melangkah keluar ruang tamu, Karma berhasil menjitak kepala Kana. Ia menjulurkan lidahnya, meledek Kana.
"Itai!" seru Kana, membuat tawa Karma terdengar jahat. Aqua menatap Kana di belakangnya, ia baru sadar bahwa Kana terlihat sangat kecil. Bahkan tingginya hanya sebahunya lebih sedikit.
Kana membenarkan posisi kacamatanya, mengelus pelan kepalanya. Merasa ada yang memerhatikan, Kana mendongakkan wajahnya. Tatapannya bertemu dengan tatapan Aqua, segera ia mengalihkannya.
"Ayo kita mulai!" serunya dengan suara bergetar namun nyaring. Ia duduk dan meraih pensil di atas meja.
"Kau suka sekali meledek Karma." Aqua mencari naskahnya dan mengeluarkannya.
__ADS_1
"Kalau tidak begitu, nanti dia akan nangis sesegukan." Kana menjawab mengingat bagaimana sifat asli Karma. "Dia itu sangat rapuh. Dia kehilangan ibu dan adiknya saat ibunya berjuang melahirkan adiknya. Bisa dibilang adik tiriku juga."
"Jadi, itu alasannya?" tanya Aqua seraya meletakkan naskahnya di atas meja.
"Adiknya hidup satu pekan, tapi karena ibunya tidak bisa menjaga diri saat hamil, jadi dia meninggal dengan bayi yang juga penyakitan." Kana menjelaskan.
"Sifatnya persis denganmu." Aqua memberi komentar.
"Dia mudah menangis, saat aku sadar beberapa tahun lalu, dia menangisiku setiap malam, padahal kita tidak pernah kenal. Dia pemuda tercengeng yang pernah aku temui." Kana tersenyum tipis.
"Sifat kalian kan sama." Aqua menimpali.
Kana menghela napasnya, membuka naskah milik Aqua dan mulai membacanya, sementara Aqua membaca pesan dan menjawab pesan dari ponselnya. Sesekali Aqua melirik Kana di sebelahnya, Kana selalu fokus dengan apa yang menjadi kegiatannya. Hari ini, Aqua berkali-kali terpukau dan terpesona dengan Kana.
Pesona, sifat, wajah dan kegiatan Kana yang tidak pernah terlintas di benak Aqua. Kana benar-benar banting setir dari aktris menjadi warga desa yang beternak.
"A-kun…." panggil Kana dengan nada serius. Kana sudah memainkan pensilnya. Aqua menyahut pelan dengan pandangan ke arah naskah. "Nanami Ohiru punya kebiasaan tersenyum dan tertawa keras. Bagaimana kau bisa melakukannya?"
"Aku sudah bilang kepribadian Ohiru dan diriku itu bertolak belakang." Aqua menjelaskan.
"Apa yang membuatmu tertawa keras? Aku tidak pernah melihatmu tertawa dengan keras. Coba kau contohkan padaku sekarang, caramu tertawa dengan keras." Kana melirik Aqua, mencoba untuk menatap Aqua.
Aqua menarik napas dan mencoba membaca naskah saat Ohiru Nanami tertawa. Aqua mulai tertawa. "Ini lucu sekali, tidak ada babi yang bisa menoleh, boge!"
Ada yang aneh dengan ekspresi dan suara Aqua. Kana menaikkan satu alisnya, memerhatikan dan kembali menatap naskah di atas meja. Aqua menatap Kana yang terlihat akan mengkritiknya dengan pedas.
"Aku heran kenapa kau bisa menjadi aktor terkenal dengan akting seperti ini." Kana berkomentar seraya menatap balik Aqua. "Apa yang kau pikirkan ketika tertawa tadi?"
Seraya menggaruk kepalanya, Aqua mengingat apa yang ada dipikirannya tadi, dia hanya merasa bahwa dia hanya perlu tertawa tanpa memikirkan apa pun.
"Tidak ada…"
Kana mengalihkan pandangannya. "Apa kau sadar yang kau lakukan tadi justru seperti aktor muda yang baru memulai debutnya."
"Aku tidak pernah tertawa dengan keras apalagi sampai mengatakan boge."
Kana memijat keningnya, melepas kacamatanya menatap Aqua. "Kata itu akan menjadi icon dari karakter yang kau perankan."
"Iya, aku tahu. Jujur saja, banyak drama yang aku mainkan hanya perlu adegan tertawa ringan, tersenyum dan lebih banyak diam. Jadi, kurasa itu sesuatu yang cukup sulit untukku. Tertawa keras."
Kana menopang dagunya, menatap Aqua. "Dendammu sudah selesai, kan?"
"Sudah lama itu selesai," jawab Aqua , ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, mengubah posisinya.
"Lalu apa yang membuatmu masih takut untuk keluar dari zona nyamanmu?" tanya Kana serius, ia terus menatap Aqua.
"Entahlah…." Aqua menopang dagunya, menatap lurus ke depan, tidak berani menatap balik Kana.
Mencoba menebak pikiran Aqua. Kana merasa ada yang salah dengan Aqua. Balas dendam dulu membunuh pikirannya, dan sekarang orang yang sudah ia harapkan mati pun sudah mati. Lalu apa yanh masih membuatnya terlihat terluka?
__ADS_1
"Rasa bersalah padaku?" tanya Kana, menatap Aqua dengan tatapan serius.
...****************...