
Aqua menunggu Kana di loby agensi. Kana masih ada di ruangan Miyako, mengobrol dengan Mem dan Ruby. Mem meminta Kana untuk menginap, tapi Kana berkali-kali menolak ajakan tersebut, karena ayahnya harus bekerja besok.
"Aku antar! Kau menginap ya di sini!" seru Mem sambil memeluk lengan Kana. "Serius, aku kangen banget!"
"Aku harus izin dulu." Kana tersenyum. "Ayahku ada di sekitar sini, jadi aku izin dulu!" lanjut Kana.
Mem berdiri dan mengangguk. Kana segera keluar gedung agensi. Ia berpapasan dengan Aqua, namun karena Kana dan Aqua sudah membulatkan tekad mereka untuk tidak memiliki hubungan lagi, maka Kana hanya membungkuk pada Aqua dan berlalu.
"Haruskah sampai seperti ini?" tanya Aqua berdiri di belakang Kana. Sesaat Kana langsung berhenti.
"Ya, harus!" jawab Kana yakin.
"Aku tidak percaya kau se-egois ini." Aqua menatap punggung Kana. "Harusnya kau mengusirku waktu itu, kenapa malah memintaku untuk tetap di desa? Harusnya kau juga pura-pura amnesia saja sekarang. Kenapa justru kau malah pergi ke sini!"
Ruby dan Mem mengintip Aqua dan Kana yang berada di depan pintu gedung agensi.
"Ya, aku hanya memastikan beberapa hal saja." Kana menatap mata Aqua.
"Apa sudah kau pastikan? Dan sudah yakin dengan apa yang kau lihat?" tanya Aqua seolah mengetahui apa yang Kana maksud.
"Ya, sudah pasti. Dan itu sekarang berwarna merah muda." Kana tersenyum kecut. Ia tidak paham bagaimana bisa janji yang Gorou dan Sarina buat itu memiliki warna benang yang berbeda. Benang milik Aqua masih berwarna biru, sementara warna di Ruby berwarna merah muda.
Aqua menatap mata Kana. Ia masih ingin sekali berjuang, tapi kenapa Kana selalu menolak dan memutus secara sepihak? Bukankah melelahkan jika hal yang sama terus diulang.
"Jika maumu aku berhenti, aku akan berhenti," suara Aqua memelan. Hati dan mulutnya tidak pernah sejalan sejak dulu dihadapan Kana.
__ADS_1
"Ya, aku minta kau berhenti. Seberapa keras kau mencoba aku akan tetap pada keegoisanku." Kana membalas tatapan mata Aqua, membuat Aqua harus memalingkan pandangannya dan menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu berhenti juga menjadi temanku. Hilanglah dari pandanganku," suara Aqua bergetar. Ia sangat tidak ingin mengatakan kalimat ini tapi ia tidak mau juga jika harus terus mengingat dan berkomunikasi dengan Kana.
"Ya, baiklah." Kana menjawab dengan suara keras. Ia tidak percaya Aqua akan mengatakan kalimat itu padanya. Kalimat dimana dirinya tidak lagi boleh melihat wajahnya. Ada rasa sesak di hati Kana, ia tidak berharap menjalin hubungan spesial dengan Aqua, tapi dia masih ingin menjadi teman untuk Aqua.
"Pergilah… Aku tidak ingin melakukan hal semacam ini setengah hati." Aqua mengeraskan rahangnya, ia menahan semua emosinya. Mencoba untuk mengangkat kepalanya menatap wajah Kana. "Pergi!" seru Aqua pelan.
Kana membungkuk dengan sopan, ia tak sanggup menatap wajah Aqua yang sudah memerah dan frustasi. "Aku pergi. Katakan pada Mem aku tidak bisa menginap malam ini." Kana berdiri dan tersenyum. "Gomen…"
Kana melangkah meninggalkan Aqua, menjauh dengan langkah lebar dan cepat. Ini akhir dari kisah cintanya. Perasaan yang ia pendam bertahun-tahun lamanya, akhirnya berakhir dengan ini. Tidak ada lagi kisah dengan Aqua. Tidak akan ada lagi teman seperti Aqua, berharap pun itu mustahil rasanya bagi Kana.
...*****...
Mem yang merasa pernah menghubungkan dua orang itu, akhirnya keluar dari ruangan Miyako mencari Aqua. Pemuda berambut blonde itu sudah berada di rooftop gedung, memandangi pemandangan sore yang semakin gelap. Mem menarik kursi dan duduk di sebelah Aqua.
"Kana itu kakak perempuannya Karma yang selalu kau hubungi kan?" tanya Mem.
"Aku sedang tidak ingin membahasnya." Aqua berdiri, bermaksud untuk meninggalkan Mem.
"Kau pernah mengatakan padaku jika Kana mati, kau akan hancur sepenuhnya. Lalu sekarang dia masih hidup, kau masih mau menolak perasaanmu?" tanya Mem lagi.
"Kau tidak mengerti, dia yang tidak ingin aku mendekatinya. Dan itu sudah keputusan akhir darinya. Jadi, aku juga tidak ingin menjadi temannya, menemui atau menelponnya." Aqua menatap Mem dengan wajah dingin.
Mem menganggukkan kepalanya. "Ya, kalau aku jadi Kana juga akan seperti itu." Mem berdiri mendekati Aqua. "Apa yang kau berikan padanya sebelum ini? Apa kau pernah mengatakan suka padanya? Kau hanya terus menggodanya kan? Membuatnya salah paham dengan sikap baikmu padanya. Apa kau pikir kelakuan itu tidak menyebalkan?"
__ADS_1
Aqua mengingat masa ketika dia bertemu lagi dengan Kana saat SMA, memintanya menjadi idol, mengajaknya bermain baseball. Dan semua kegiatannya bersama Kana, bahkan sempat mengajak kencan Kana dan menghindarinya sejauh mungkin.
"Kau selalu memendam perasaanmu, dan mengatakan bahwa kau tidak menyukai Kana. Begitu saja terus sampai kau melihatnya mati dan hidup lagi." Mem memberikan tatapan kesal pada Aqua.
"Apa kau tahu aku sudah pernah mengatakan perasaanku padanya dan dia menolaknya? Jadi, jangan hanya menyalahkanku." Aqua mencoba membela diri.
Mem mendengus kesal. "Lalu kau menyerah?" tanya Mem. "Kau tahu seberapa besar rasa suka Kana padamu dulu? Apa kau tahu dia menangis dan bersedih setiap hari? Apa kau pernah lihat dia berkencan dengan orang lain untuk melupakanmu?" Mem menatap Aqua kesal. "Dia terus memendam rasanya meskipun kau hanya memacari Akane, dia terus menyukaimu meskipun kau menempel tidak normal dengan Ruby. Dia terus menyukaimu meskipun tahu betapa busuk dan penuh kebohongannya dirimu! Dia sangat tulus mencintaimu!"
"Cukup, kau tidak mengerti. Masalahnya bukan hanya sekedar perasaan saja!" seru Aqua kesal. "Aku benar-benar hanya akan melupakannya."
"Ya, terserah dirimu." Mem melangkah keluar dari rooftop dengan perasaan kesal. Dia sudah mengatakan apa yang ingin ia katakan. Kana masih menyukai Aqua, terlihat dari sorot mata Kana pada Aqua menurut Mem. Itu membuat Mem semakin sedih dan akhirnya melontarkan kata makian pada Aqua.
...*****...
Ruby selalu mengamati Aqua. Setelah kejadian di Kyoto, Miyako mengurangi beberapa jadwal Aqua untuknya istirahat. Ruby yang lewat di kamar Aqua mengintip kakaknya yang sedang duduk melamun di depan laptop. Hampir satu hari Aqua melamun.
Setelah kedatangan Kana kemarin, Ruby semakin merasa khawatir tentang kesehatan Aqua, yang tidak pernah sarapan dan langsung pergi untuk syuting. Percakapan Aqua dan Kana yang tidak begitu Ruby pahami juga membuat Ruby memikirkannya.
Ada yang salah pada perasaan Ruby. Ia mulai merasa sakit hati, ketika melihat Aqua kembali bertemu dengan Kana, ditambah Kana yang terlihat semakin cantik dan dewasa.
Jika Kana adalah kakak perempuan Karma, maka rasa curiga Ruby akhirnya terjawab, bahwa Kana adalah orang yang sering dihubungi Aqua. Membuat Aqua tertawa, tersenyum bahkan sampai menangis hanya karena mereka bertengkar.
Namun, Ruby tidak ingin mengambil kesimpulan bahwa Kana adalah orang yang disukai Aqua. Karena selama ini Aqua terlihat seperti teman untuk Kana, begitu pun sebaliknya.
...****************...
__ADS_1