
Acara makan malam dimulai. Aqua segera menghabiskan pesanannya, dan berpikir untuk segera menghubungi Karma. Sama kagetnya dengan mereka, Aqua tidak percaya akan bertemu dengan Karma bahkan Kana di Kyoto. Percakapannya dengan Kana waktu itu memang dia sedang bersiap untuk pergi tapi dia tidak mengatakan akan pergi ke Kyoto.
"Aku akan ke kamar mandi." Aqua berdiri, izin keluar private room.
Semua menatap Aqua curiga, Mem menduga Aqua menghindari pertanyaan darinya. Tatapan Ruby dan Akane tidak kalah penuh curiga pada Aqua.
Sesampainya di toilet, Aqua segera menghubungi Karma. Dan langsung diangkat pemilik ponsel.
"Aku tahu kau di sana dengan teman-temanmu. Kita tidak perlu menjelaskan biarkan Kana yang bertindak saja. Aku khawatir Kana punya maksud lain."
"Bagaimana maksudnya?" tanya Aqua bingung.
"Hmm… Bagaimana ya, aku hanya khawatir dia berpikir untuk pura-pura lupa teman-temannya."
"Apa?" tanya Aqua tidak percaya. "Kau di mana? Aku akan menyusulmu!"
"Rumah sakit."
Aqua segera menutup teleponnya, ia mengirim pesan pada Ruby bahwa dia cari angin, jadi jangan menunggunya.
Seperti kata Karma, Aqua sekarang khawatir Kana akan melakukan hal itu. Tapi, Aqua merasa untuk apa Kana melakukan itu? Untuk apa dia juga kemarin menjauhinya? Pasti ada alasan kenapa Kana melakukan itu tiba-tiba.
Di depan rumah sakit, Aqua masuk dan menemui Karma di lantai 3.
"Apa yang terjadi pada Miwa?" tanya Aqua.
"Jantungnya harus segera diganti. Aku ke Kyoto karena ayah kemarin melakukan pengecekan pada kesehatan Miwa. Dia yang paling terlihat ceria, tapi dia yang paling lemah." Karma berkomentar. "Kau melihat kami di hotel ya?"
Aqua mengangguk. "Teman-temanku juga, mereka pasti akan bertanya banyak hal tentang kalian padaku."
Karma melirik Aqua. "Tanyakan langsung saja pada Kana. Perang dingin kalian sudah selesai kan? Aku lelah sekali melihatnya."
"Apa dia mau jawab kalau aku tanya? Aku saja baru berbaikan dengannya." Aqua menatap Kana dari jendela luar.
"Dicoba saja, ayahku mengomel tidak henti pada Kana. Aku juga memarahi dia tidak berhenti." Karma mengusap wajahnya. "Eh dia malah menangis, menyebalkan sekali. Menangis, merengek dan berteriak kalau kita tidak mengerti!"
Karma mendengus kesal.
"Aku tidak paham dengan perempuan!"
"Apa lagi aku! Aku hanya bicara pada Kana saja! Dan ternyata dia sesulit itu untuk dipahami. Ayahku yang paham Kana, akhirnya mengatakan bahwa meminta maaf tidak ada salahnya. Akhirnya dia menurut."
__ADS_1
"Apa dia benci padaku?" tanya Aqua dengan nada sedih.
Karma memijat keningnya. "Kalau aku tidak salah dengar, Kana mengatakan bahwa dia memutus benang merah yang harusnya terhubung denganmu."
"Aku pernah dengar itu…" Aqua berkomentar sedih.
"Kau percaya tidak Kana bisa melihat benang merah setiap orang?" tanya Karma. Aqua mengangguk. "Ada silsilah dalam keluargaku yang dulunya juga seorang cenayang. Kemungkinan Kana mewarisi itu darinya."
"Aku juga percaya, dan karena alasan itu juga Kana melarangku untuk menyukainya kan?"
Karma mendengus frustasi. "Aqua, apa kau menyukai Kana sebagai wanita atau hanya sebatas teman?"
Aqua terdiam, ia ingin sekali menjawab dia menyukai Kana sebagai wanita spesial yang dan lebih dari sekedar temannya. Tapi, bagaimana ia menjawabnya sementara Kana sudah memutus benang merah diantara mereka.
"Bukankah Kana aneh memutus benang merahnya denganku?" tanya Aqua dengan suara pelan, seperti ada sesak di dada dan tercekat di tenggorokannya.
Wajah Aqua kembali terlihat frustasi, Karma mendekati Aqua membisikkan sesuatu di telinga Aqua. Sedetik kemudian mata Aqua membulat sempurna sementara Karma melangkah menjauhi Aqua.
"Good luck!" Karma tersenyum.
...****************...
Mengikuti saran Karma. Aqua duduk di kursi taman rumah sakit bersama Kana. Karma menyuruh Kana untuk mendatangi Aqua. Angin malam semakin terasa dingin.
"Aku akan pura-pura amnesia." Kana menjawab dengan cepat.
"Mereka akan curiga karena mereka tahu aku akrab dengan kakaknya Karma." Aqua menyanggah dengan ragu.
"Ya berarti besok aku akan pulang saja. Aku tidak mau menemui mereka," jawab Kana.
"Kenapa?" tanya Aqua dengan mata yang menatap Kana di sampingnya.
Kana mengatup bibirnya, meremas celananya kuat. Wajahnya sudah memerah, matanya juga sudah basah. Perasaan ini menyiksa untuk Kana, dia tahu bahwa teman-temannya berada di hotel yang sama dengannya. Mereka melihat Kana di sana bersama Karma, dan ia juga melihat mereka. Harapan Kana saat ini, mereka sudah lupa pada dirinya.
"Aku tidak mau melihat kalian!" seru Kana. "Termasuk dirimu…" Kana menundukkan wajahnya, air matanya sudah jatuh, menetes di tangannya. Bahunya mulai bergetar, ia menahan isakannya, mengatup mulutnya rapat.
"Jadi, kau akan memilih untuk tidak menyapa mereka?" suara Aqua melembut. Hanya anggukan yang diberikan Kana sebagai jawaban.
Aqua merubah posisinya, duduk di bawah Kana. Mencari wajah Kana yang menunduk, rambut panjangnya menutupi wajahnya yang sudah basah.
"Dalam ingatan kami kau adalah Arima Kana yang pekerja keras dan ceria. Kami tidak pernah merasa Kana, gadis yang kasar. Kau hanya melindungi dirimu dengan kata-kata kasarmu saja." Aqua mengeratkan tautan pada jari Kana, mencoba mencari mata Kana. "Percayalah kau itu kuat dan hebat. Aku menyukai semua kelebihan dan kekuranganmu."
__ADS_1
Kana membulatkan matanya tidak percaya, menarik paksa jarinya dari tangan Aqua. Tidak ingin Kana mendengar pengakuan dari Aqua. Dia tidak mau sama sekali, ia hanya ingin Aqua menjadi temannya saja, selamanya.
"A-kun…" Kana memanggil Aqua dengan suara serak. Ia mencoba mencerna kalimat Aqua dengan baik. "Tolong, jangan menyukaiku…" lanjutnya sedih.
Aqua menatap Kana lembut, mencari arti dibalik tatapan sedih Kana padanya. "Kenapa? Kenapa kau egois memutus benang merahmu denganku? Berikan aku alasan yang tepat agar aku bisa mengerti dan berhenti untuk menyukaimu!"
Kana menundukkan kepalanya lagi. "Kita tidak akan pernah berhasil untuk bersama. Seberapa keras kita berjuang, semua akan sia-sia. Jadi, aku sudah tidak peduli dengan kisah cintaku!"
"Kau yang memutusnya Kana, kalau kau tidak memutusnya tidak akan menjadi serumit ini," balas Aqua mencoba untuk tetap tenang.
Entah apa alasan Kana memutus benang merah diantara mereka. Tapi, tidak akan menjadi sesulit ini jika dia tidak melakukannya dari awal.
Aqua berdiri, menarik lembut dagu Kana, menyambar bibir merah Kana yang basah dengan air mata. Mendorong punggung Kana hingga menatap sandaran kursi taman.
Tangan Kana mendorong bahu Aqua sekuat yang ia bisa. Ini pertama kalinya dalam hidup Kana merasakan ciuman. Ditambah Aqua lah yang melakukannya terlebih dulu, dia pasti sangat ahli, pikir Kana. Tapi, semua ini salah.
"Jangan dilanjutkan!" Kana berteriak dalam hati, ia terus mendorong Aqua, menggelengkan kepalanya sekuat tenaga.
Namun, Aqua menahan tengkuk Kana dengan tangannya. Membuka mulutnya, menusuk pelan bibir Kana yang terkatup rapat agar terbuka.
Merasakan sensasi yang tidak pernah Kana rasakan. Akhirnya, Kana membuka pelan bibirnya, Aqua semakin membuas. Ia menelusuri ruang basah di mulut Kana dengan lidahnya. Entah sejak kapan Aqua menjadi bernapsu seperti ini. Padahal selama dia bermain drama atau film, dia tidak pernah segila ini hanya karena bibir seorang wanita.
Tapi, pada bibir Kana, Aqua seolah tidak bisa lepas. Wajah Kana sudah memerah. Aqua semakin intens, mereka saling bertukar saliva, sesekali terdengar bunyi decakan. Lidah mereka saling bertemu dan beradu.
Malam yang harusnya dingin berubah panas, Aqua sadar dia di rumah sakit, tapi pikirannya tidak bisa berpikir dengan normal. Menghentikan kegiatan mereka, menarik napas di antara hawa panas yang menjalar ke tubuh mereka.
Mata Aqua menatap Kana yang merona dan sedikit berantakan. Aqua kembali menyambar bibir Kana lagi. Entah setan apa yang lewat dalam pikiran Aqua, dia hanya ingin memiliki Kana seutuhnya.
Merasa sudah sangat salah dengan apa yang terjadi, Kana mendorong Aqua lebih kuat dari sebelumnya. Ia menarik napas panjang, menutup mulutnya dengan kedua tangannya rapat.
"Cukup! Ini salah..." Kana menatap Aqua sedih.
Melihat reaksi Kana yang seolah ketakutan, Aqua menundukkan kepalanya. "Gomen..."
"A-kun, aku benar-benar minta maaf padamu." Suara Kana terdengar bergetar. "Aku menjauhimu, aku juga berpikir untuk amnesia saja saat bertemu yang lain. Aku hanya merasa, aku sudah tidak berada di dunia yang sama dengan kalian. Hanya itu… Dan aku berpikir untuk melepaskan semua yang pernah ada di masa laluku. Aku akan beritahu alasan sebenarnya kenapa aku memutus benang merah di antara kita."
"Jika alasanmu tidak bisa kuterima, aku tetap akan--"
Kana menarik jaket Aqua, membungkam mulut Aqua dengan mulutnya yang masih berbicara. Selang beberapa detik, Aqua jatuh ke tanah yang dingin.
Rasa bersalah kini menghinggapi Kana, namun ini satu-satunya cara untuk membuat Aqua tahu alasan yang sebenarnya. Ia mencoba duduk di samping tubuh Aqua, mengecup kening Aqua pelan.
__ADS_1
"Aku selalu mencintaimu, sejak dulu sampai sekarang dan selamanya. Hiduplah bahagia…" Kana segera berlari ke dalam rumah sakit, meminta bantuan perawat untuk membawa Aqua masuk ke dalam karena pingsan.
...****************...