
Aqua tersedak makanan yang tengah ia kunyah. Menatap Kana dengan wajah kaget. Gadis gagak yang ia temui di Miyazaki juga menemui Kana?
"Aku mendengar semua ceritamu dan Ruby darinya, meski tidak terlalu panjang sih." Kana menatap piringnya yang hampir kosong. "Aku bertemu dengannya, aku juga tidak tahu apakah itu nyata atau hanya sebuah mimpi dan ilusiku saja. Karena waktu itu mati suri."
"Lupakan saja…. Bercerita tentang hal yang kau sukai saja." Aqua mencoba menenangkan Kana yang mulai gemetar lagi.
Kana membuang napas kasar. "Hari itu aku harusnya mati." Kana memangku dagunya. "Aku hanya berusaha tetap bergerak dan tidak kalah oleh Hikaru. Hanya itu, dan entah di mana aku pingsan dan tersadar di klinik milik ayahku."
Aqua mengubah posisinya, menghadap ke arah Kana. "Kau tidak perlu menceritakannya, jika memang menyakitkan."
Kana terkekeh pelan. Mengingat kisahnya setelah berjuang keluar dari area gedung Hikaru Kamiki malam itu sendirian dengan darah di kepala, kaki dan tangannya serta sobekan panjang di punggungnya. Kakinya mencoba terus melangkah, meninggalkan sepatunya di ujung gang dan kembali melangkah ke luar gedung tanpa tahu arah.
Malam itu, jika saja Hikaru Kamiki memiliki anak buah dan berhasil menangkap Kana, maka sudah pasti Kana mati dan dilecehkan. Tapi, beruntungnya ia pingsan dan ditemukan oleh ayahnya.
"Aku memalsukan kematianku sendiri. Karena ibuku pasti akan mengincar asuransi milikku. Tapi, hari itu aku berhasil mengambil stempel namaku bersama ayahku saat pemakaman." Kana menceritakan dengan suara datar. Tatapannya kosong tak berarti. "Setelah tersebar kematianku, aku bisa menjalani hidupku dengan normal di sini."
"Kau yang memalsukannya?" tanya Aqua kaget namun dengan nada datar, menyembunyikan kekagetannya.
"Aku muak dengan ibuku yang selalu menghubungi ayahku dan meminta persetujuan untuk memberitakan kematianku." Kana melirik Aqua dan kembali mengalihkan pandangannya. "Aku bebas sekarang, tidak ada kamera, komentar negatif, orang-orang penuh kebohongan dan tidak ada lagi rasa takut di sini."
Kana menyuap kembali nasi terakhirnya.
Aqua tersenyum menatap Kana, ada rasa senang dan bangga atas kehebatan gadis yang polos dan bermulut kasar di depannya.
"Kau memang sangat mengagumkan, Arima. Aku sangat bangga padamu." Aqua memuji Kana dan kembali meraih gelasnya, meminumnya. "Hiduplah bahagia…."
Kana tersenyum tipis, kalimat Aqua terdengar sangat tulus untuknya. "Aku akan tetap di sini, saat kau kembali ke Tokyo tidak perlu menceritakan tentangku pada siapa pun."
Aqua bergeming, menyimak kalimat Kana. Ia sudah bahagia di desa terpencil dengan pekerjaan yang jauh berbeda sekali dengannya dulu di Tokyo. Bahkan cara berpakaian juga sudah berubah, tidak ada lagi topi baret yang menjadi iconnya. Sekarang rambut panjang, baju kodok, kacamata kotak berwarna hitam dan topi.
"Kau dengar kan?" tanya Kana mengetuk meja Aqua.
"Ya, aku dengar." Aqua menjawab seraya menatap tangan Kana. "Apa aku boleh mengunjungimu lagi lain waktu?"
Kana merapihkan peralatan makannya, tersenyum. "Itu terserahmu, aku tidak akan memaksa dan keras kepala memintamu mengunjungiku."
"Kana!" Karma duduk di hadapan Kana dan Aqua. Mata Karma menatap Aqua tidak suka, ia mengalihkan pandangannya pada Kana. "Pulang sana. Minum obat dan tidur siang!"
Aqua menatap Karma, memerhatikan pemuda berkacamata dengan rambut yang senada dengan Kana di hadapannya tanpa ekspresi.
"Ini aku juga mau pulang tahu!" balas Kana seraya berdiri dengan nampan kotor.
"Ya, pulang sana. Jangan main lagi!" seru Karma seraya menyendok nasi ke mulutnya.
__ADS_1
Aqua ikut berdiri mengikuti Kana. "Ey, siapa suruh kau berdiri juga!" Karma menatap Aqua serius.
"Memang mau apa? Aku juga sudah selesai makan."
Aqua dan Karma saling melempar pandangan dingin.
"Aku perlu bicara denganmu! Jadi duduk lagi!" perintahnya.
"Apa kau belajar sopan santun? Sepertinya usiaku lebih tua darimu." Aqua membalas tidak mau kalah.
"Siapa peduli yang paling tua. Aku hanya ingin kau duduk di sini." Karma ikut berdiri, menatap Aqua yang memandangi wajahnya dengan pandangan dingin dan merendahkan.
Kana berdecak kesal. "Aku akan pulang dengannya. Kau lanjutkan makan siangmu." Kana menatap Karma serius.
Aqua melangkah meraih nampan miliknya diikuti Kana di belakangnya. Kana merasa pusing melihat tingkah Karma yang hampir mirip dengan Aqua. Ditambah Karma bermulut kasar seperti dirinya.
"Dia adik tiriku, ibunya sudah meninggal sepuluh tahun lalu." Kana menjelaskan seraya keluar dari tempat makan. "Sebenarnya dia baik, tapi tidak bisa mengutarakannya saja."
"Ya, tidak masalah. Aku hanya perlu pembiasaan dengan sikapnya saja." Aqua membalas ucapan Kana.
Kana dan Aqua terdiam, mereka tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing.
...****************...
"Kau harus melihat Yunyun!" seru Karma saat Kana keluar dari gerbang. Kana memberikan ibu jarinya sambil tersenyum dengan lebar ke arah Karma.
"Sepertinya adikmu penderita siscon." Aqua memberikan tanggapannya setelah melihat perlakuan Karma pada Kana.
"Sesama siscon bisa langsung tahu ya!" Kana meledek Aqua dengan wajah sumringah. "Jadi, kapan kau akan menikahi Ruby?"
Aqua menatap Kana yang berdiri di sampingnya. "Apa kau berharap aku menikahi Ruby?"
"Ya, kau dan Ruby terikat di masa lalu. Jadi, mungkin kau akan melanjutkan kisah cintamu," ucap Kana seraya menatap langit dengan tangan menempel di dagunya.
"Tapi, masa laluku dan diriku yang sekarang…." Aqua menghentikan kalimatnya, mencoba memproses ucapannya pada Kana. "Seperti sudah tidak terhubung."
Kana melirik Aqua tidak ingin merespon lebih banyak. Karena dia tidak mengerti berada di posisi Aqua. "Tapi, itu janji kan?"
Aqua menghentikan langkahnya. Menatap Kana dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Dan kembali melangkah, ada sesuatu yang tidak bisa diartikan oleh Aqua sendiri. Kalimat Kana tiba-tiba membuatnya sakit hati.
Mereka berkeliling desa yang mulai ramai anak-anak bermain di lahan kosong. Bermain bola untuk laki-laki sementara anak perempuan berkumpul memetik bunga sebelum habis oleh musim.
"Menyenangkan bukan?" tanya Kana sesampainya mereka di sebuah pendopo kecil di tengah taman.
__ADS_1
Aqua duduk dan mengangguk, setelah hampir setengah jam mereka memutari desa dengan kaki mereka. Kana memijat pelan kakinya.
"Apa peran yang akan kau mainkan di drama barumu?" tanya Kana dengan mata yang fokus pada kedua kakinya.
"Peran seorang peternak yang ceria, pekerja keras tapi pesimis." Aqua menjawab seraya menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Lalu apa yang kau pelajari di sini?" tanya Kana lagi.
"Aku hanya belajar beternak, agar terbiasa juga dengan sapi, kuda, ayam, kambing dan babi. Kegiatan yang kudapat nanti, memberi makan, memandikan, memerah susu, mengumpulkan telur, menaiki kuda dan selebihnya kegiatan sehari-hari dengan konflik ringan dan romance ringan desa." Aqua menjelaskan seraya menatap Kana. "Kau tidak ingin berakting lagi?"
Kana tersenyum tipis, ada tatapan sedih dari matanya. "Jika aku mau pun sudah tidak bisa."
"Kau bisa muncul di publik dan mengatakan bahwa kematianmu adalah bohong. Dan kau bisa kembali melakukan hal yang kau suka," ucap Aqua.
"Aku bukan diriku yang dulu." Kana menatap kedua tangannya. "Tubuhku sudah sangat lemah, traumaku bisa keluar kapan saja, dan sifat pesimis dan takutku semakin parah."
Aqua mencari arti dari tatapan Kana. "Aku akan mendukungmu."
"Kau selalu berkata seperti itu kepada siapapun. Tapi, aku memang tidak bisa kembali berdiri di depan kamera." Kana mengalihkan pandangannya, setelah mencoba menatap Aqua.
Aqua membasahi bibirnya gugup, Kana cukup sulit untuk bisa percaya diri. Dia pandai menilai kemampuan dirinya dan sekitarnya, jadi Aqua tidak tahu harus berkata apa lagi untuk kali ini.
"Kalau begitu, kau yang harus mendukungku." Aqua tersenyum pada Kana.
"Hah?"
"Kau bisa membantuku untuk menjiwai peran yang kudapatkan dengan caramu. Aku akan mudah belajar darimu, seperti katamu cara aktingku hanya meniru dan melakukannya. Tapi, aku tidak terlalu paham bagaimana akting yang bersinar sepertimu."
Kana menolehkan wajahnya, menatap Aqua tidak percaya. "Kau mau aku mengajarimu? Kau bahkan lebih terkenal dariku!"
Aqua mendekati Kana, berdiri di hadapan Kana yang duduk di kursi. Aqua duduk di bawah kursi, dengan kaki kanan sebagai tumpuan.
"Apa kau tahu karakter yang kudapat selama ini? Karakter yang aku mainkan di drama baru ini sangat jauh berbeda dengan sifat asliku. Dan aku percaya kau bisa membantuku."
Kana menyilangkan kakinya, mengalihkan pandangannya dari Aqua yang bersimpuh di bawahnya. "Tanpaku kau sudah sangat hebat. Aku menolak!"
Aqua tersenyum lebar. "Aku suka akting Arima Kana yang bersinar seperti matahari. Kau sangat luar biasa ketika berakting, semua mata seolah tidak bisa lari dari tatapanmu. Apa kau tahu itu?"
"Aku sudah tidak bisa seperti itu. Lagipula aku sudah berhenti akting dan meninggalkan dunia itu." Kana melipat kedua tangannya di bawah dadanya.
"Aku tidak yakin kau tidak bisa, buktinya kau masih bisa mengajakku bicara, meskipun bergetar berkali-kali. Ini salah satu bentuk acting bukan? Kau memerankan dirimu yang menemani teman lamamu." Aqua memberikan penjelasan. "Kali ini aku yang akan keras kepala. Jadi tolong bantu aku. Jadilah pelatihku." Aqua berdiri dan membungkuk pada Kana.
"Terserah! Pokoknya aku tidak mau!"
__ADS_1
...****************...