
Penginapan khusus syuting film semakin sepi. Kamar milik Ruby yang berbagi kamar dengan Frill dan Akane berada di lantai bawah. Mereka melakukan acara minum dan makanan penutup di teras penginapan.
Akane, Ruby dan Frill saling tatap ketika Aqua tengah menelpon. Bahkan berkali-kali mereka mendengar Aqua mengoceh panjang, meski tidak terlalu jelas tapi itu cukup membuat mereka penasaran.
Akane sampai berdiri, memeriksa apakah benar itu Aqua atau orang lain di teras lantai dua penginapan. Mendengar suara Aqua yang panjang mengoceh itu. Akane membulatkan matanya melihat wajah Aqua yang memerah dan mengumpat tanpa suara. Ruby ikut menatap Aqua di atas.
"Tidak lucu!" pekik Aqua seraya mengusap wajahnya yang sudah memerah. "Aih, memalukan sekali!" seru Aqua seraya tersenyum dengan wajah memerah dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Ruby, apa Aqua punya pacar?" tanya Akane penasaran. "Selama aku pacaran dengannya sepertinya aku tidak pernah melihat ekspresi seperti itu." Akane kembali duduk di kursi teras.
Ruby ikut duduk. "Tidak punya katanya. Tapi, memang sepertinya aku tahu orangnya."
"Oh ya? Siapa?" tanya Akane semangat.
"Kakaknya Karma. Aku yakin itu kakaknya Karma. Aku dengar dia perempuan, lebih tua dariku. Onii-chan bahkan sampai menangis saat bertengkar dengan temannya itu. Aneh bukan?" tanya Ruby.
"Kakaknya Karma?" tanya Akane bingung. "Yang waktu itu minta dibelikan baju?"
Ruby menganggukkan kepalanya. "Karma juga sangat menyayangi kakaknya. Kudengar kakaknya hampir dilecehkan oleh seorang pria. Jadi, Karma sangat sayang pada kakaknya."
"Tapi, Aqua-kun bukan tipe orang yang akan langsung akrab ketika bertemu orang." Akane berpikir sejenak. "Dia akan menjauh atau menjaga jarak aman."
"Sepertinya tidak juga. Menurut yang kudengar dari penuturan onii-chan, kakaknya Karma dan Karma memiliki satu sifat yang berisik dan membuat orang lain akan ikut menikmati pembicaraan dan ocehan mereka."
"Aku jadi penasaran seperti apa kakaknya Karma." Akane meraih ponselnya. "Apa kau tahu marga dari Karma?" tanya Akane.
Ruby menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak tahu, dia seperti tidak ingin orang lain tahu marganya."
"Begitu ya… Aneh sekali..."
...*****...
Meja makan rumah Kana sekarang penuh dengan makanan. Empat kursi terisi oleh Ichigo, Miyako, Kana dan Akino. Setelah mengganti baju dan mandi, Akino membantu Kana menyajikan makan malam mereka yaitu ayam dan kari dari kedai di dekat rumah sakit.
"Apa banyak yang harus dirahasiakan?" tanya Ichigo setelah makan malam hampir habis.
Akino melirik Kana dan tersenyum pada Ichigo. "Ini tentang mental saja."
"Tapi, aku memang ingin kalian untuk tidak memberitahu tentangku pada siapa pun." Kana tersenyum tipis.
"Baiklah kalau itu maumu. Aku akan tutup mulut seperti Aqua." Miyako meraih tangan Kana, mengelusnya lembut.
"Kematian Kana adalah permintaan Kana. Pengumuman itu untuk mencegah terjadinya perebutan asuransi. Kana berhasil mengambil alih asuransinya karena mendapat stempel atas namanya." Akino menjelaskan. "Semua yang ditemukan polisi itu hanya potongan tangan yang aku bawa dari tempatku bekerja. Dan membuat TKP palsu di dekat gedung."
__ADS_1
"Jadi, itu sudah direncanakan sejak awal?" tanya Ichigo tidak percaya.
"Ya, aku sudah cukup muak dengan apa yang terjadi pada Kana. Karena rasa bersalahku juga meninggalkannya jadi aku merawat dan membantunya sebisaku sekarang." Akino menatap Kana dengan lembut.
"Lalu kau tidak ingin mengatakan pada dunia bahwa kau masih hidup?" tanya Ichigo lagi.
Kana menggelengkan kepalanya pelan. "Aku lebih suka menjadi seperti ini. Aku memang menyukai dunia hiburan, semua hal kucoba, tapi dengan akhir seperti beberapa tahun lalu cukup membuatku terluka. Jadi, aku tidak akan menginjak ranjau yang sama lagi."
Kalimat Kana terasa menyayat hati. Miyako menatap Kana dengan tatapan sedih, dia tahu cerita lama Kana yang berjuang sejak kecil hingga ia dewasa. Dihujat dengan banyak cibiran, besar dan kuat dengan cara yang menyakitkan sendirian. Dan ia hampir mati dengan cara yang sama menyakitkannya.
"Kau berhak bahagia, Kana. Apapun keputusanmu, ini adalah hidupmu." Miyako tersenyum menatap Kana.
"Aku membawa minuman, beberapa pekan lalu aku juga minum dengan Gotanda dan Kaburagi. Harusnya aku mengajak kalian juga. Sangat menyenangkan menghabiskan malam dengan minum!" Akino mengeluarkan sebotol wine mahal.
"Wah… Ini enak!" seru Ichigo semangat.
"Aku akan merapikan makan malamnya dan bersiap tidur." Kana berdiri seraya menumpuk piring kotor. "Ayah! Kau besok belum libur, jadi jangan banyak minum!"
"Tenanglah, Kana… Ayahmu ini sangat kuat minum!"
Miyako membantu Kana membawa piring kotor ke dapur. Kana mulai mencuci dan tidak banyak bicara, jika diperhatikan Kana lebih banyak diam dan tidak membuka percakapan.
"Apa Aqua tinggal di sini?" tanya Miyako penasaran.
"Kana… Apa kau berpacaran dengan Aqua?" tanya Miyako di samping Kana, menggoda gadis itu.
Kana menatap balik Miyako, menggeleng seraya tersenyum. "Tidak, kami tidak punya hubungan seperti itu. Kami hanya teman seperti dulu saja." Kana meletakkan piring bersih di tempatnya.
Miyako menatap Kana yang bisa sangat yakin dengan jawabannya. "Apa kau menyukai Aqua?"
Kana menggelengkan kepalanya lagi. "Jika pun ada, aku akan membuangnya sejauh mungkin. Kalau bisa, aku tidak ingin menemuinya lagi."
Miyako tidak percaya akan jawaban Kana. Dulu, dia akan berteriak dan berlari menghindari pertanyaan itu dengan wajah memerah. Tapi sekarang, jawabannya terdengar seperti ada luka di sana.
"Itu alasanmu tidak ingin mengangkat telepon Aqua?" tanya Miyako yang semakin penasaran.
"Anggap saja begitu. Karena aku tahu dulu aku begitu bodoh mengharapkan cinta darinya. Berharap dan berpikir dia menyukaiku juga. Padahal dia berpacaran dengan Akane dan dekat bahkan menempel dengan Ruby. Bukankah aku tidak masuk ke dalam orang yang ia sukai?" Kana tertawa getir. "Kadang mengingat waktu itu benar-benar menggelikan, aku marah, ngambek dan cemburu tidak jelas padahal aku bukan siapa-siapa."
"Kau yakin kau bukan gadis di dekatnya yang punya hubungan khusus?" tanya Miyako memastikan, ia tahu Kana menyukai Aqua sejak dulu, tapi melihatnya terluka seperti ini membuatnya harus menghibur dan menguatkan.
"Aqua dan aku hanya teman saja. Dan akan seperti itu untuk selamanya. Aku tidak berharap apapun untuk lebih dari itu. Ya, meski beberapa pekan lalu aku sedikit memaksanya untuk serius menjadi pemeran utama." Kana menjelaskan seraya pindah ke kamarnya bersama Miyako yang meminta untuk tidur bersama Kana malam ini.
"Aku tidak berpikir begitu…" Miyako menatap mata Kana serius.
__ADS_1
Kana tersenyum. "Berpikirlah begitu, anggap saja aku sudah tahu akhir cerita cintaku."
Miyako terdiam, memeluk Kana. "Kisah cinta selalu menyakitkan, Kana. Tidak semua orang sukses dengan cintanya. Mencintai juga bukan tentang memiliki."
Kana mengangguk pelan. Itu kalimat yang Kana gunakan selama ini, mencintai tidak harus memiliki. Jadi, tidak masalah untuk memendam dan menguburnya dalam.
...*****...
Setelah tiga hari melakukan syuting film dan akan dilanjut lusa, Aqua dan Ruby pulang ke rumah. Mereka duduk di ruangan Miyako bersama Mem. Miyako dan Mem membahas tentang grup idol yang akan merilis single baru.
"Kau jadi ambil libur tanggal 10 - 15, Aqua?" tanya Miyako menatap Aqua yang sejak tadi memandangi wajahnya dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Bisa kan?" tanya Aqua berdiri mendekati meja Miyako.
"Kau minta untuk libur, kan? Tapi, hanya boleh tiga hari saja. Kau mau?" tanya Miyako lagi.
Aqua berdiri mendekati Miyako. "Apa serius boleh? Aku mau pergi–"
"Boleh, kau mau menemui Kana, kan?" bisik Miyako dengan tatapan meledek. "Dia benar-benar cantik ya sekarang. Pantas saja kau ingin sekali liburan meski tiga hari."
Aqua mengatupkan mulutnya, menatap Miyako kesal. "Aku tidak ke sana!" seru Aqua. "Kenapa meledekku terus sih?"
Miyako menahan tawanya yang hampir meledak, mengingat ungkapan panjang dengan nada menggemaskan Aqua di telepon waktu itu. Miyako memukul kepala Aqua gemas.
"Kau ini selalu seperti ini, pantas saja Kana melepasmu." Miyako tersenyum. "Kenapa kau malu jika memang nyaman dengannya? Atau kau benar-benar hanya menganggap Kana teman ya…"
"Sudahlah, aku tidak jadi pergi!" Aqua membalikkan tubuhnya.
Mem dan Ruby menatap Aqua dan Miyako yang sedang bersiteru tanpa mereka ketahui masalahnya. Aqua melangkah keluar ruangan, setelah meraih naskah dan jaketnya.
"Aqua!" panggil Miyako dari mejanya dan itu sukses membuat Aqua berhenti di depan pintu ruangan. "Tidak maukah kau berjuang?" tanya Miyako.
Aqua terdiam dengan tangan memegang knop pintu. Ruangan terasa dingin dan hening seketika. Sekelabat wajah Kana berputar di pikiran Aqua. Kalimat Akino di pertemuan terakhir mereka juga memenuhi kepala Aqua, Kana benar memutus benang merahnya dengan benang merah Aqua. Padahal Aqua ingin berjuang, tapi melihat Kana yang tidak ingin didekati, ia merasa harus berhenti juga.
"Tidak, aku sudah tahu akhir ceritanya." Aqua menatap Miyako dengan wajah merah, matanya sudah basah. "Jadi, untuk apa aku berjuang sendirian?" Aqua tersenyum, nada bicaranya berubah sedih.
Ia segera menarik knop pintu ruangan Miyako dan keluar dari sana. Miyako memandangi Aqua dengan sedih, wajahnya mengatakan sebaliknya. Kenapa dengan mereka berdua, kalimat mereka sangat membuat Miyako terganggu.
Ruby ikut keluar dari ruangan, membuntuti Aqua yang sudah duduk di balik dinding. Terdengar suara isakan Aqua dari sana, Ruby mencoba mendekat, duduk di balik dinding tempat Aqua duduk.
"Bodohnya aku tidak sadar bahwa dia memang menjauhiku," ucap Aqua tersendat. "Apa aku menyakitinya selama ini?" tanya Aqua pada dirinya sendiri.
Ruby menarik kakinya, memeluknya. Ia mendengar Aqua yang menangis seperti ini entah apa masalahnya. Ingin sekali ia bertanya, namun dia tahu ujungnya tidak akan ada cerita apa pun yang ia dapatkan.
__ADS_1
...****************...