
"Aqu-tan, kau mau ikut kita?" tanya Mem yang sudah duduk di ruangan Miyako bersama Ruby.
"Kemana?" tanya Aqua lagi.
"Ke Disneyland!" Mem menjawab penuh semangat.
"Pass!" balas Aqua sambil mengangkat tangannya.
"Kenapa? Kau kan hari ini libur. Kau juga tidak pernah pergi ke sana. Ayolah!" seru Ruby sambil memasang wajah sedih.
"Tidak perlu, aku akan jalan-jalan pekan depan. Jadi, aku perlu mengisi energiku." Aqua menjawab sambil meraih naskah di meja Miyako.
"Padahal kan cuman sebentar. Ayolah onii-chan!" Ruby mengalungkan tangannya di lengan Aqua.
"Pergilah bermain. Kau juga butuh jalan-jalan!" Miyako menyahut dari depan pintu. "Aku menemukan gadis imut di jalan. Akan kuperkenalkan pada kalian. Dia akan menjadi calon pertama idol dari Strawberry Production."
"Hah?" tanya Ruby kaget begitu juga Mem.
"Siapa… Siapa…." Mem berseru mencoba mengintip ke luar ruangan.
Seorang gadis dengan tinggi 155 cm berdiri di ambang pintu. Tersenyum dengan kikuk. Membungkuk sopan. Semua terdiam, menatap gadis dengan rambut ungu sebahu dan warna mata yang senada dengannya.
"Nana Watanabe-desu…"
Ruby melirik Aqua yang tidak tertarik dengan trainee baru. Bahkan Aqua sudah duduk di sofa membaca naskahnya.
"Dia Nana. Aku akan mencari empat orang lainnya untuk membuat grup idol baru. Nana pandai bernyanyi dan menari, jadi akan sangat mudah melatihnya." Miyako mengajak Nana masuk. "Kau pasti sudah mengenal mereka bukan?"
Nana mengangguk. "Aku penggemarmu, senpai!" Nana berseru dengan semangat menatap Aqua.
Aqua berdiri, menatap Nana. "Ya, semangatlah…. Kau bisa belajar dari Ruby untuk menari." Aqua melangkah keluar dari ruangan Miyako.
Nana tersenyum lebar. Ia tidak percaya akan diberikan semangat oleh Aqua. Membuatnya deg-degan dengan wajah merona.
Ruby tersenyum kecut, menatap Nana. Merasa ada orang lain yang menyukai kakaknya, ia merasa kesal. Meskipun kemarin dia sudah menyatakan perasaannya dan ditolak, tetap saja perasaannya tidak hilang begitu saja pada Aqua.
"Kau bisa datang untuk berlatih dan menari setiap sore sampai malam ya. Karena aku akan mengenalkan dua temanmu besok." Miyako tersenyum menatap Nana.
...****************...
Miyako memberikan tiket kereta kepada Aqua dua hari sebelum keberangkatannya. Di sana sudah disiapkan penginapan dan seorang yang akan memandu Aqua.
"Akita? Higashinaruse!" seru Aqua. "Ini jauh sekali. 6 jam perjalanan. Apa ini sungguhan?" Aqua memeriksa ponselnya dan mencari tentang desa tersebut.
"Ya, kudengar di sana memang desa terpencil dan sulit sinyal. Tapi, penduduknya ramah. Peternakan di sana juga tidak terlalu besar tapi bersih dan rapih. Aku mencarikan tempat yang tidak banyak penghuni, karena kau sudah terkenal. Khawatir banyak yang mengganggumu di sana."
__ADS_1
Aqua menatap tiket keretanya dengan tatapan datar. "Ya, semoga menyenangkan di sana."
"Aku jamin kau akan suka di sana." Miyako meraih ponsel di atas meja miliknya. "Oh iya, ini nomor orang yang akan memandumu. Namanya Ishigami Yuu. Kau lebih baik menyimpan nomornya sekarang, agar tidak tersesat di sana."
Aqua menatap ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku setelah melakukan perintah dari Miyako.
"Apa ada yang harus kubawa?" tanya Aqua pada Miyako. "Aku akan membelinya jika memang butuh."
Miyako terdiam, berpikir sebentar. "Kurasa tidak perlu, temanku akan memandu dan membantumu menyiapkan banyak hal di sana."
Aqua berdiri dan melangkah keluar ruangan. "Ya, aku akan beristirahat besok jadi aku tidak akan ke sini lagi. Dan langsung berangkat ke stasiun. Kalau ada yang ingin kau sampaikan, langsung hubungi aku saja."
Miyako tersenyum. "Kau pasti akan menyukai liburan dan belajarmu ke sana Aqua. Jadi bersemangatlah…."
"Haaaa-iiii…." balas Aqua malas dan segera keluar dari ruangan Miyako.
...****************...
Sore itu Aqua tiba di desa Higashinaruse. Desa terpencil di daerah Akita. Perjalanan lebih dari enam jam dari Tokyo. Musim gugur hari itu terasa lebih dingin di banding saat dirinya di Tokyo.
Desa kecil itu hanya berisi beberapa penduduk. Rumah-rumah di sana pun tidak rapat, masih banyak lahan kosong. Dengan beberapa pohon yang sudah meranggas daunnya. Rerumputan masih hijau namun beberapa sudah menguning.
Suasana sore itu terasa hangat. Lapangan lebar di sana dipenuhi anak-anak yang tengah bermain bola. Suara tawa dan teriakan sore itu tak pernah Aqua rasakan. Ini pertama kalinya ia melihat hal seperti ini.
"Onii-chan!" seorang anak perempuan mendekati Aqua dengan wajah merah. Matanya sudah basah.
"Tolong angkat onee-chan pingsan. Kami tidak ada yang kuat." Anak perempuan itu menunjuk seorang gadis di pinggir lapangan yang tergeletak tidak sadarkan diri.
"Tapi, aku harus meletakkan barang-barang milikku ke penginapan." Aqua menatap barang miliknya, koper dan ransel di punggungnya.
"Kami akan bawa barang-barangnya, tapi tolong bawa onee-chan ke rumah sakit." Seorang anak laki-laki menyahut.
"Kami semua tidak ada yang kuat membawa onee-chan ke klinik." Anak perempuan di hadapan Aqua kembali bersuara.
"Di mana rumahmu, onii-chan?" Seorang anak laki-laki dengan topi mendekati Aqua.
"Penginapan Ishigami." Aqua menjawab seraya mengingat nama penginapan tersebut.
"Ah, itu rumahku jadi aku akan membawa barang-barang milik onii-chan bersama dengan Haru. Tapi, aku minta tolong untuk membawa onee-chan ke klinik." Anak laki-laki bertopi itu menjawab.
Aqua akhirnya mendekati gadis yang tak sadarkan diri di atas rerumputan itu. Tubuhnya kecil, dengan baju overall berwarna jeans dengan kaos coklat lengan panjang sebagai dalaman.
"Kita akan dimarahi sensei," bisik anak perempuan lain dengan nada takut.
"Ya, itu kan salah kita. Jadi, harus tanggung jawab!" seru anak laki-laki bertopi tadi.
__ADS_1
Aqua duduk di samping gadis yang tidak sadarkan diri itu, mencoba melihat wajahnya. Aqua mencoba untuk berpikir dengan jernih. Matanya membulat sempurna. Pelupuk matanya sudah basah, ada air yang ingin keluar dari sana. Ia menarik kacamata yang bertengger di wajah gadis pingsan itu. Mengamati dalam diam. Gadis dengan rambut merah panjang, wajah kecil dengan kulit seputih susu.
Bukan membawa gadis pingsan itu, justru Aqua menangis sambil memeluk gadis yang tidak sadarkan diri. Pecah sudah tangis Aqua sore itu, ia tidak mengerti apakah ini mimpi atau sungguhan. Atau gadis dipelukannya hanya seseorang yang mirip saja? Tapi, rasa nyaman saat memeluk gadis pingsan ini bukanlah bohongan.
"Onii-chan…." panggil anak perempuan berkuncir dua yang sudah menangis juga. "Kenapa menangis?"
Aqua tersadar, ia segera membawa gadis pingsan itu ke klinik. Berkali-kali Aqua mengamati gadis di gendongannya dengan tatapan tidak percaya.
Wajah yang selalu ia ingin lihat kehadirannya, wajah yang selama ini ia rindukan. Wajah, suara hingga ekspresi menyebalkan bahkan kalimat menyakitkan dari mulutnya sangat Aqua rindukan.
Hatinya seolah berkata bahwa dunia itu sempit. Tapi, dia sudah meninggal, jadi ini pasti orang lain! Jasadnya sudah ditemukan dan dipastikan. Jadi, pasti ini orang lain!
Seorang pria berkacamata dengan jas dokter membuka pintu klinik dan membantu Aqua menidurkan gadis yang dipanggil Kana.
Aqua menghapus air matanya kasar. Ia membuka topinya dan mencoba untuk berhenti menangis, namun rasanya sulit. Ia tidak percaya akan bertemu lagi dengan orang yang selama ini selalu ia rindukan. Meski belum jelas apakah ini nyata atau hanya mirip?
"Apa yang terjadi?" tanya dokter berkacamata yang usianya 40 tahunan itu.
"Aku hanya membawanya ke sini. Anak-anak yang bermain bersamanya." Aqua menjawab mencoba untuk normal.
Anak-anak yang tadi bertemu Aqua di jalan berkumpul di dalam klinik dengan kepala menunduk dan dengan kompak mereka berseru meminta maaf pada Pak Dokter.
"Pasti Onee-chan menyuruh kalian untuk pulang ke rumah kan?" tanya Pak Dokter sambil menusukkan jarum infus ke tangan gadis yang dibawa oleh Aqua.
Anak-anak itu menjawab iya bersamaan.
"Kalian memukulnya dengan bola?" tanya si Dokter.
"Itu tidak sengaja. Onee-chan berdiri di tengah lapangan untuk memberitahu kami, tapi aku tidak sengaja menendang bola ke arah onee-chan." Anak laki-laki bertopi itu menundukkan kepalanya.
"Jun… Kau besok pasti kena marah Kana. Sekarang sudah malam, jadi pulanglah. Mandi dan makan malam, kerjakan tugas kalian kemudian tidur." Pak Dokter memberikan perintah.
Anak-anak pun menurut. Kali ini mereka membungkuk ke arah Aqua dengan kalimat terima kasih. Aqua hanya memberikan ibu jarinya sambil tersenyum. Anak-anak segera keluar dari klinik untuk pulang ke rumah masing-masing, kecuali Jun--anak laki-laki bertopi itu.
"Kau mau pulang onii-chan? Ayahku bertanya apa kau tahu jalan pulang?" tanya Jun.
"Aku tahu tempatnya, kau bisa pulang duluan." Aqua menjawab seraya berdiri di hadapan Jun.
Jun tersenyum. "Oke!" Anak laki-laki itu keluar dari klinik.
"Apa kau aktor?" tanya Pak Dokter dengan senyum tipis. "Wajahmu menjawab bahwa kau seorang aktor. Siapa namamu, Nak?"
"Hoshino Aqua." Aqua membungkuk memperkenalkan diri. "Boleh aku bertanya, sensei?"
Pak Dokter tersenyum dan mengangguk. "Tanyakan saja, aku akan menjawab dengan senang hati."
__ADS_1
"Apa dia Arima Kana?" tanya Aqua dengan serius menatap mata dokter dihadapannya.
...****************...