Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Akhir Musim Dingin (2)


__ADS_3

Aqua dan Karma masuk ke tempat baju anak. Memilih baju untuk anak-anak desa. Aqua ingin memberikan hadiah untuk anak-anak di sana melalui Karma. Selain itu, Karma juga ada keperluan membeli pesanan Kana yang memesan beberapa baju baru.


"Apa mereka butuh kemeja?" tanya Aqua seraya mengambil kemeja untuk anak usia 10 tahun.


"Tidak perlu sepertinya, mereka lebih suka main dengan kaos dan celana saja." Karma menjawab seraya mengambil satu buah kaos berwarna hitam. "Untuk anak-anak laki, kaos warna gelap saja. Untuk anak-anak perempuan berikan pakaian dress musim semi."


"Kenapa begitu?" tanya Aqua bingung. "Kenapa tidak belikan kemeja dan dress saja?"


"Ya, terserah padamu sih. Karena ini uangmu, jadi aku memberikan saran saja." Karma meraih dress berwarna biru gelap.


"Ya, kemeja saja dan dress." Aqua mendekati Karma dengan beberapa kemeja di tangannya. "Warnanya yang bagus apa ya? Beda-beda atau disamakan saja?"


"Beda-beda." Karma meraih beberapa kemeja pilihan Aqua. Hitam, abu-abu dan coklat muda. "Mereka bukan anak panti, jadi setiap anak warnanya berbeda."


"Oke…" Aqua mengembalikan kemeja yang tidak dipilih Karma.


"Ini untuk anak perempuan bagaimana?" tanya Karma sambil menunjuk dress selutut dengan lengan panjang berwarna merah gelap.


"Iya bagus, pilih saja warnanya." Aqua mendekati Karma.


Karma mengambil 3 dress dengan desain sama namun beda warna. Peach, merah gelap dan biru langit. Tidak perlu waktu lama, mereka segera pergi ke kasir untuk membayar pesanan mereka.


Belanja baju bukanlah hal yang disukai Karma dan Aqua. Tapi, karena Aqua sedang senggang dan ingin membeli hadiah untuk anak-anak di desa, jadi ia terpaksa mengelilingi departemen store. Karma mendapat banyak titipan pesanan dari Kana, jadi mau tidak mau Karma ikut bersama Aqua.


Setelah itu, mereka masuk ke toko khusus baju perempuan untuk membeli pesanan Kana. Aqua menemani Karma seraya melihat-lihat baju di sana. Karma bahkan terlihat kesal melihat list yang diberikan Kana padanya.


List di ponsel Karma tidak banyak, namun tidak jelas juga penjelasan yang diberikan. Hanya berupa dress musim semi tanpa keterangan warna, size dan lain sebagainya. Mengingat Kana yang super berisik jika ada kesalahan membuat Karma malas harus mencari sesuai pesanan.


"Apa aku harus membeli daleman perempuan juga? Sialan memang si Kana!" pekik Karma melihat list milik Kana di ponselnya. 


"Apa tidak ada yang jual seperti itu di desa?" tanya Aqua mengintip ponsel Karma dari tempatnya berdiri.


"Harus ke kota baru ada. Kalau di desa ya hanya bahan makanan saja yang paling banyak dijual." Karma mengacak rambutnya kesal.


Mereka kembali bertemu dengan Ruby dan yang lain. Aqua mendekati Karma membisikkan bahwa mereka semua teman Kana, jadi harus diganti nama Kana dengan sebutan onee-chan. Awalnya wajah Karma berubah kesal, namun tatapan serius Aqua membuat Karma akhirnya menurut.


"Kalian membeli baju perempuan?" tanya Frill pada Aqua dan Karma ketika para gadis mendekati dua pemuda di dalam toko khusus wanita.


"Pesanan kakaknya Karma." Aqua menjawab seraya melirik Karma.


"Ah… Maaf, kalian bisa tolong belikan daleman berwarna merah muda dengan renda bunga tidak?" tanya Karma pada Mem.


"Hah?" tanya mereka berbarengan.


Pesanan daleman perempuan dititipkan pada adik laki-laki terdengar aneh bagi mereka. Ditambah Karma tidak berniat masuk ke bagian khusus daleman wanita di sudut toko. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian diantara para perempuan yang tengah berkunjung di toko.


"Iya, ini kakak emang sialan. Masa adiknya disuruh belanja dalemannya sih!" pekik Karma kesal. "Sampai rumah aku lempar nanti itu daleman ke muka dia!"


Selama Aqua menjadi saudara kembar Ruby, ia tidak pernah membelikan daleman Ruby. Mengetahui size atau kesukaan dalemannya saja tidak. Jadi, menurutnya ini sangat lucu. Aqua membalikkan tubuhnya, menahan tawanya yang hampir meledak.


"Ketawa saja, jangan ditahan! Sialan memang kau juga!" Karma menendang pantat Aqua dengan gemas. Ia sadar Aqua tertawa, karena cuping telinganya memerah.


"Boleh, ukuran apa?" tanya Minami pada Karma.


Tidak bisa dipercaya, ternyata ada juga gadis baik diantara mereka berempat. Selain itu, dia menawarkan diri dengan senyuman tanpa memberikan tatapan aneh atau intimidasi pada Karma.


Karma berbisik di samping Minami, ia tidak ingin ada yang mendengar ukuran pakaian dalam milik Kana. Sebenarnya, Karma malu karena dia laki-laki juga. Tapi, ia tahu Kana tidak pernah punya pakaian dalam baru selama dua tahun di desa, jadi ia membantu Kana walaupun terpaksa.


"Mau yang seperti apa? Satu set atau branya saja?" tanya Minami pada Karma.


"Satu set. Satu lagi yang warna hitam tapi yang bikini." Karma memelankan suaranya.


"Bikini kok hitam?" tanya Minami. "Mau aku yang pilihkan?"

__ADS_1


Karma memijat tengkuknya pelan. "Tidak usah, belikan saja yang seperti pesanannya. Karena dia sangat merepotkan."


"Aku ambilkan dulu ya…" Minami tersenyum dan melangkah menjauhi Karma bersama Ruby.


"Apa kakakmu dekat dengan Aqua juga di sana?" tanya Mem penasaran pada Karma ketika Aqua sudah tidak terlihat di sekitar Karma.


"Justru lebih akrab dengannya dibanding denganku. Aku dipaksa saja beli kebutuhannya ditemani Aqua." Karma menjawab sambil melihat deretan dress di dekatnya.


"Jadi itu alasan Aqua bisa tersenyum lebar seperti sekarang karena kakak perempuanmu?" tanya Mem penuh selidik. 


Karma melirik Mem dan kembali melihat dress di dekatnya. "Aqua memang selalu tersenyum kok. Dia juga sering tertawa, apalagi menertawakan kami. Sejak Aqua datang, kakakku jadi lebih sering berbicara dan banyak tersenyum. Mungkin aneh, tapi dulu kakakku sampai hilang ekspresi dan tak mau bicara sama sekali."


"Apa Aqua dan kakakmu punya hubungan khusus?" tanya Mem lagi.


Karma menatap Aqua yang cukup jauh darinya. "Kalau kalian tahu, Kakakku bahkan berteriak saat bertemu Aqua pertama kali. Jadi, kurasa hubungan khusus tidak ada."


"Kakakmu?" tanya Akane penasaran. "Siapa namanya?" Akane mulai merasa ada yang terhubung antara Aqua dengan kakak perempuan Karma.


"Apa itu penting? Aku sangat merahasiakan siapa kakakku." 


"Kenapa begitu?" tanya Akane.


Karma terdiam, menundukkan wajahnya. Ia mengingat bagaimana Kana berjuang untuk hidupnya beberapa tahun terakhir ini. "Karena aku tidak ingin orang lain tahu." Karma tersenyum tipis pada Akane.


"Ini bagaimana?" tanya Minami dengan dua set pakaian dalam wanita. Berwarna merah muda dan hitam.


Karma memotret keduanya dan mengirimkannya pada Kana. "Masukkan dulu saja ke sini. Aku akan bertanya sebelum membayarnya."


Minami meletakkan dua pasang daleman pada tas belanja milik Karma. "Katakan saja jika ingin ganti ya." Minami tersenyum menatap Karma.


"Arigatou…" Karma menatap Minami seraya membungkuk. Akhirnya dia selesai pada pencarian pakaian dalam yang membuatnya malu.


Mata Karma mengedar ke seluruh toko, mencari dress pesanan Kana untuk musim semi. Karma buta fashion, jadi dia tidak mengerti sama sekali kecuali kaos dan celana saja. Selebihnya terutama pakaian wanita yang banyak dan beraneka macam itu sangat tidak ingin ia mengerti.


"Mau aku bantu?" tanya Minami. "Aku cukup paham dengan fashion." 


"Apa ini buruk?" tanyanya pada Minami sambil menunjuk manekin di sebelahnya.


"Kau bisa membeli yang keluaran terbaru," komentar Minami. "Ini bagus, tapi apa kau tidak ingin mencari warna lain?"


"Sejujurnya aku tidak tahu apa seleranya, aku hanya tahu dia suka memakai kaos oversize dangan celana panjang cargo atau overall dengan bahan denim. Itu saja, untuk gaun seperti ini aku tidak tahu." Karma tersenyum kecut.


"Kenapa warna hitam?" tanya Minami. "Kulit kakakmu putih atau kuning?"


"Putih susu," jawab Karma.


Aqua yang tiba-tiba datang, ikut berdiri di samping Karma, melihat Minami yang memilih dress. "Warna lain bagaimana?"


"Putih saja kalau begitu." Karma memeriksa ponselnya. "Dia bilang warna putih atau hitam lengan panjang, kerah bulat atau ruffle."


"Lengan panjang ya? Bagaimana dengan dress tanpa lengan?" tanya Minami memberi usul.


"Dia punya luka di punggungnya, jadi dia selalu memakai lengan panjang atau lengan pendek. Dia tidak pernah memakai baju tanpa lengan kecuali tidur." Karma mengingat.


"Luka?" tanya Aqua. "Aku tidak pernah lihat."


Karma mendelik, ia menatap Aqua serius. "Heh? Apa maksudmu?"


"Aku hanya bertanya saja. Pantas saja selalu pakai celana panjang dan kaos lengan ukuran oversize pula." Aqua mengingat Kana yang merubah outfitnya.


"Ya, lukanya besar di punggung dan kepalanya. Itu alasan dia memanjangkan rambutnya juga. Supaya tidak terlihat dan menjadi perhatian orang." Karma meraih dress berwarna putih di dekatnya. "Apa ini bagus?" tanya Karma pada Aqua.


Dress dengan lengan pendek balon berwarna putih motif bunga edelweiss. "Dia tidak suka motif bukan?" Aqua balik bertanya.

__ADS_1


Karma menaruh kembali dressnya. "Padahal aku suka…" 


Ruby menatap Aqua penuh selidik. Kakak perempuan Karma berarti dekat sekali dengan Aqua. Ruby tidak percaya bahwa Aqua sampai tahu baju kesukaan kakak perempuan Karma. Malah Karma yang tidak terlalu paham selera kakaknya. Merasa ada yang aneh dengan kakaknya Ruby membuntut Aqua dan Karma yang sibuk memilih dress bersama Minami.


"Ini saja." Aqua menyodorkan baju berwarna putih selutut, dengan lengan pendek balon, resleting depan.


Minami mendekati Aqua. "Ini bagus, keluaran terbaru juga." 


Karma menyodorkan tas belanjanya. "Masukkan saja, dia dilarang mengomel karena nitip." 


Aqua memasukkan satu overcoat berwarna putih bersih dengan bulu di kerah dan lengannya ke dalam tas belanja Karma.


"Apa ini?" tanya Karma pada Aqua.


"Dariku untuknya, aku tidak melihat dia mengenakan jaket dengan baik. Tubuhnya sudah kecil, tapi selalu memakai kaos dan overall saja." Aqua melangkah menjauhi Karma dan yang lain.


"Kenapa putih bukannya cepat kotor." Karma mendekati Aqua diikuti Ruby dan Minami.


"Dia suka warna putih kan? Jadi, itu cocok dengan baju yang ia pesan." Aqua berhenti di bagian topi. Meraih topi baret berwarna putih yang menjadi ciri khasnya. "Ini juga…"


Karma menahan topi yang akan masuk ke tas belanjanya. Kepalanya menggeleng pelan. "Dia takut topi itu. Jadi, belikan topi lain saja."


Aqua mengembalikan topi baret ke tempatnya. "Takut ya? Padahal dia cantik dengan topi ini."


Karma memukul pelan kepala Aqua. "Ayo lanjut!" 


Ruby mengamati Aqua yang melangkah dengan tatapan sedih. Ia bahkan sampai mengatakan kata cantik saat melihat topi itu. Mem yang sama memerhatikan Aqua dan Karma berdiri di samping Ruby.


Sudah hampir setengah jam Karma memutari toko baju, ia berhenti di depan kasir. Membuka ponselnya, menghubungi nomor rumahnya. Ia yakin Kana akan stand by di dekat telepon rumah hari ini.


"Hei! Kau tidak boleh protes ya!" seru Karma ketika tersambung dengan Kana.


"Aku setuju saja, bebas terserah yang kau pilih. Aku malas berdebat, kepalaku sakit sejak pagi." Kana terkekeh pelan, menutupi rasa sakit yang seolah membentur kepalanya.


"Sudah minum obat?" suara Karma melembut seketika. Membuat Mem, Ruby dan Aqua menatap Karma heran. "Ada ayah kan? Kau bisa bilang padanya."


"Iya, aku sudah minum obat. Tapi, kepalaku sakit sekali. Jadi, aku tutup ya." Kana memegangi kepalanya sambil tertawa pelan lagi.


"Kalau sakit itu jangan cengengesan dong! Apa sesak napas? Mimisan?" tanya Karma khawatir. "Ada ayah tidak di rumah?"


Merasa khawatir pada Kana, Aqua mengambil ponsel Karma tanpa izin pemiliknya. "Ada ayahmu tidak? Kau harus minum obat!" 


Bukannya menjawab, Kana kembali tertawa. Suara Aqua terdengar sangat khawatir dan panik, membuat Kana heran dan bingung meresponnya seperti apa.


"Sudah, Ah-kun… Tenanglah, aku tidak akan langsung mati juga. Kututup ya…"


"Iya, istirahat saja." Aqua mematikan ponsel Karma dan mengembalikannya.


Karma memeriksa ponselnya, menghubungi ayahnya. Dan langsung terhubung. Aqua, Ruby dan Mem masih menunggu mereka selesai. Ruby melirik Aqua yang ikut memberikan ekspresi khawatir.


Setelah menghubungi Akito dan sedikit menjauh dari Aqua dan dua temannya itu, Karma mendekati mereka dengan senyum. Mencoba untuk berekspresi baik-baik saja, melihat raut wajah Aqua yang diselimuti kekhawatiran.


"Besok masuk rumah sakit di kota. Kau tidak perlu menunjukkan ekspresi seperti itu." Karma merangkul Aqua, melangkah menuju kasir.


Aqua mengalihkan pandangannya, ia mencoba menyembunyikan kekhawatiran dan paniknya. Karena Ia tahu bagaimana gadis itu tiba-tiba pingsan, muntah, pucat l, tubuh gemetar dan masih mencoba untuk kuat dengan tersenyum atau terkekeh.


"Kakakku itu kuat tahu. Dia pasti bisa melewatinya lagi." Karma mendahului Aqua ke kasir.


"Aku curiga, Aqua-tan suka kakaknya Karma." Mem melangkah bersama Ruby.


Ruby hanya termenung, melihat wajah khawatir Aqua tadi menjelaskan semuanya. Bahkan ia melihat bagaimana Aqua menarik ponsel Karma dari tangan pemiliknya. Mereka sudah pasti dekat, nada bicara Aqua pun sedikit memaksa dipenuhi kekhawatiran. Ada rasa iri di hati Ruby melihat kakaknya yang terlihat mengkhawatirkan gadis lain selain dirinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2