Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Arti Sebuah Perasaan


__ADS_3

Penginapan Ishigami kembali ramai. Malam ini para tamu dari Tokyo yaitu Aqua, dkk akan menginap di sana. Mereka memilih kamar sendiri dan segera mandi dan menata barang. Para perempuan tidur di satu kamar besar. Sementara Gotanda dan Ichigo tidur di kamar yang sama.


"Apa onii-chan akan tidur di sana?" tanya Ruby pada Miyako yang sibuk memakai skincare malamnya.


"Mungkin," jawab Miyako singkat.


"Kenapa harus tidur di sana? Tadi juga, kenapa tidak meminta Mem atau Miyako-san saja yang mengobati senpai?" Ruby kembali bertanya seraya mengubah posisinya menatap langit-langit kamar.


"Karena kudengar, saat Kana-chan sakit dulu Aqua yang merawatnya," jawab Miyako.


"Aku jadi iri, apa kalau aku sakit, onii-chan akan begitu juga padaku?" tanya Ruby pada dirinya sendiri.


"Kau tidak boleh seperti itu, Ruby..." Miyako duduk disamping Ruby seraya mengelus kepalanya lembut.


Akane hanya memerhatikan wajah Ruby dari kejauhan. Balasan Ruby terhadap jawaban Miyako membuat gadis bersurai biru gelap itu keheranan. Ada rasa yang janggal diantara kalimat Ruby bagi Akane.


...****************...


Kana menceritakan kejadian yang ia alami sejak pagi pada Aqua. Meski tubuhnya sakit, Kana tetap menceritakan semuanya dengan ekspresi dan penghayatan yang luar biasa. Tangannya tidak berhenti bergerak, cerita yang Kana sampaikan terdengar menyenangkan, mengharukan sekaligus menyedihkan. Seolah lupa bahwa orang yang diajaknya bicara adalah orang yang selama tiga bulan melarangnya bertemu.


"Tapi, Ayah sudah tidak ada... Saat aku memejamkan mata, hanya ayah yang aku harap bisa menolongku." suara Kana mulai pelan, kepalanya menunduk. Bahunya bergerak pelan naik turun. Gadis itu akhirnya menangis, setelah ia berusaha tersenyum bercerita pada Aqua.


Hanya pelukan yang kembali Aqua berikan. Ia tahu sejak tadi Kana mencoba untuk kuat, padahal dia pasti ketakutan dan ingin menangis. Tapi, jika dia berhenti, kejadian yang sama akan terulang. Dan itu membuatnya harus bertahan dan bertahan mencoba untuk kuat.


"Ayahmu pasti bangga punya anak kuat sepertimu..." Aqua mengeratkan pelukannya.


Suara tangis Kana kini terdengar mengisi kesunyian kediaman keluarga Arima. Pelukan Aqua sukses membuat Kana menangis sejadi-jadinya. Rasa sedih, kecewa, takut dan semua rasa lelah bercampur menjadi tangis yang menyayat pendengaran Aqua. Harusnya Aqua menguatkan, tapi dia ikut menangis.


"Aku benar-benar merasa kehilangan ayah." Kana merengek dalam pelukan Aqua. "Tidak ada lagi tempat untukku menceritakan hariku, tidak ada lagi yang akan aku sambut sebelum malam. Tidak ada lagi yang akan memakan masakanku dan mengomentarinya. Tidak ada lagi yang akan memelukku ketika aku merasa ingin menangis. Bukankah ayah pergi terlalu cepat!"


Aqua mengeratkan pelukannya pada Kana. Sama seperti Kana, kehilangan Akino membuat Aqua seperti kehilangan sosok ayah untuknya. Akino yang hangat dan selalu tersenyum itu membuat Aqua seolah memiliki ayah. Tapi, kehilangan Akino jauh membuat Kana lebih terpukul daripada dirinya. 


"Aku yang akan mendengar kisahmu setiap hari, aku juga akan memakan masakanmu. Aku yang akan memelukmu, kau boleh menangis saat bersamaku." Aqua mengelus punggung Kana.

__ADS_1


Suara isakan Kana semakin keras. "Kenapa kau selalu membuatku salah paham!" Kana memukul pelan dada bidang Aqua. "Jangan mengatakan hal semacam itu padaku!" Kana melepas pelukannya, menatap mata biru Aqua.


"Berapa kali aku harus mengatakan ini, Kana. Kau tidak salah paham, tidak sama sekali!" Aqua menatap mata Kana serius. "Aku mencintaimu, menyukaimu, menyayangimu, aku ingin hidup bersamamu, menemani hari-harimu, Kana. Apa kau tidak juga mengerti? Apa masih ada salah paham di sini?"


Kana terdiam, terpaku dengan pandangan yang belum beralih dari Aqua. Meraih kedua tangan Aqua, melihat benang merah yang terputus dan satunya lagi berwarna biru muda.


"Kau hanya akan menjadi temanku saja, A-kun..." Kana akhirnya membuka suara. "Aku--"


Aqua membungkam mulut Kana dengan bibirnya lembut. Sejak tadi, Aqua terus memandangi bibir merah Kana. Ada rasa darah di sana. Ujung bibir gadis itu lecet akibat membela diri dari para penguntit. Tapi, itu tidak mengurangi keinginan Aqua untuk mencium gadis yang ia rindukan.


Tangannya menahan tengkuk Kana, suhu panas tubuh Kana kini menjalar ke tubuhnya. Ada gemuruh dan gejolak saat menyatukan dua bagian itu. Basah, lembab dan manis. Aqua terlalu menyukai rasa bibir Kana.


Mata Kana membulat tak percaya, Aqua terus mengintimidasi dirinya. Lidahnya seolah meminta Kana untuk membuka mulutnya. Tapi, Kana segera mendorong tubuh Aqua.


"Kenapa kau selalu melakukan ini?" tanya Kana dengan wajah merona.


"Apa kau tidak menyukaiku, Kana? Apa perasaanmu padaku hanya sebatas teman saja?" Aqua balik bertanya, ia sudah tidak tahan untuk menahan semua isi hati dan pikirannya. "Jawablah dengan jelas, Kana..."


"Ayo tinggal di Tokyo." Aqua menjawab dengan wajah penuh keyakinan. "Di sini atau di Tokyo, aku akan tetap bersamamu."


"A-kun..." panggil Kana pelan, ia menyentuh pipi Aqua yang basah. "Kau tahu, Ruby sangat mencintaimu, anggap saja sama sepertimu yang mencintaiku. Jadi, kau pikirkan baik-baik. Hidupmu mulai sekarang dan masa depan."


Tangan Aqua menangkup pipi Kana, menatap mata gadis berambut merah itu. Mencoba untuk mencari arti dirinya dalam mata gadis bersurai merah itu. Berkali-kali ia melakukan itu, tidak ingin mengambil kesimpulan bahwa masih ada rasa untuk dirinya. Tapi, tatapan Kana yang hangat dan penuh ketenangan membuatnya selalu nyaman.


"Aku akan tetap pada pendirianku!" Aqua menegaskan. "Tolak berapa kali pun, aku akan tetap menyukaimu. Jadi, ikutlah ke Tokyo. Apa bedanya di sini dan di Tokyo. Kau di sini juga diikuti para penguntit, kan!"


"Aku lelah, tidak bisa beradu mulut lagi. Kau juga harus istirahat, kan?" Kana mengalihkan topik pembicaraan mereka, tidak ingin menjawab ajakan Aqua.


"Aku tidur di sini..." Aqua segera berdiri, menutup pintu kamar Kana dan kembali ke kasur.


"Heeeh?" Kana mengalihkan pandangannya pada Aqua yang sudah membuka jaketnya dan duduk di sampingnya. "Kenapa di sini! Aku berani tidur sendiri!"


Bukan menjawab, Aqua justru merebahkan tubuh di kasur Kana. Meraih selimut yang dipakai Kana untuk menutupi tubuhnya juga. Menutup matanya, mencoba untuk tenang. Detak jantungnya terasa lebih kencang dari biasanya, ia tahu ini merupakan sesuatu yang sangat berani. Tidur bersama seorang perempuan dalam satu selimut.

__ADS_1


Sebelumnya memang pernah terjadi, tapi waktu itu posisi Aqua duduk sementara Kana tidur. Dan sekarang mereka berada di bawah selimut yang sama.


"Aqua!" panggil Kana setengah berteriak menarik selimut yang menutupi wajah Aqua dengan gemas. "Pindah!"


"Tidurlah, Kana... Aku tidak akan melakukan hal aneh denganmu. Lagipula kau bilang sudah lelah, kan? Jadi, sekarang ayo tidur." Aqua tersenyum menjawab seruan Kana padanya.


"Kalau mau tidur di sini, tidak usah memakai selimutku juga! Aku punya banyak selimut. Aku akan ambil dulu..." Kana mencoba berdiri, namun tangan Aqua lebih dulu menahannya.


"Tidak masalah, aku suka mencium wangimu." Aqua kembali tersenyum, menggoda Kana. Wajah Kana merona seketika, mendengar gombalan pria berambut blonde itu.


"Cih! Apanya yang wangi? Aku bahkan belum mandi dan sudah berkeringat! Kau pasti sedang meledekku, kan!"


Kana terpaksa mengikuti keinginan Aqua. Ia merebahkan tubuhnya pelan. Pemuda di sebelahnya masih terus memberikan senyumnya pada Kana. Ia merubah posisinya menghadap Kana.


Aqua kembali meletakkan punggung tangannya ke kening Kana. "Sekarang ayo tidur. Tubuhmu semakin panas. Apa sudah minum obat?"


"Sudah!" balas Kana. "Kau tidak boleh melakukan hal seperti tadi lagi!"


Aqua merubah posisinya, tersenyum tipis ke arah Kana. "Seperti apa? Kau mau yang seperti apa?"


"Hiiih!" dengus Kana kesal, menarik selimut menutupi wajahnya.


"Biasanya kalau demam suka mengigau, jadi kalau nanti malam kau tiba-tiba mengigau aku tidak akan kaget. Kalau mimpi buruk, bangun saja. Aku akan ambilkan air minum." Aqua menarik selimut yang menutupi wajah Kana paksa. Tersenyum tipis untuk kesekian kalinya.


"Ya," jawab Kana. "Ayo tidur."


"Oyasumi..." Aqua berbisik di telinga Kana.


Tidak berniat melepas tangan Kana, Aqua mengeratkan tautannya. Memejamkan matanya, menikmati aroma tubuh Kana. Suara debaran jantungnya yang semakin cepat berusaha ia tutupi. Rasanya tenang dan damai. Senyum tipis menghias wajah Aqua.


"Oyasumi, A-kun," balas Kana akhirnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2