
Waktu mulai siang, Kana yang masih berdiri di samping Karma kini memberikan salam pada tamunya yang juga merupakan kenalannya.
Wajahnya masih pucat tapi dia berusaha tersenyum, duduk di sofa ruang keluarga. Ichigo dan Gotanda bertanya kabar Kana dan ikut berduka atas meninggalnya Arima Akino. Dengan beberapa pertanyaan lainnya, Kana akhirnya pamit untuk kembali istirahat.
"Ayo bersiap, nanti malam kita akan pulang ke Tokyo." Ichigo memberikan informasi. "Karena kalian orang sibuk, jadi sebaiknya bersiap dari sekarang."
"Apa aku ada jadwal besok?" tanya Aqua pada Miyako yang duduk tidak jauh darinya.
"Besok lusa ada acara wawancara dengan radio. Dan setelah film action beberapa waktu lalu rilis kau akan semakin sibuk." Miyako menjawab dengan nada mengingatkan.
"Aku naik sebentar." Aqua bangkit dari kursinya ke lantai atas.
Tiba-tiba teringat pertanyaan Kana padanya semalam, "Apa jika aku menyukaimu kita bisa bersama? Apa kau mau hidup bersama denganku di sini dan meninggalkan Ruby di Tokyo?"
Pertanyaan itu mengganggunya. Ia tidak bisa membawa Kana ke Tokyo karena sekarang dia masih sakit. Jika boleh memilih, Aqua ingin tetap di sini merawat Kana hingga sembuh dan memintanya untuk ikut ke Tokyo bersamanya. Tapi, urusannya padat. Banyak jadwal acara dari pemotretan, wawancara, syuting iklan dan lain sebagainya yang harus ia lakukan.
"Kenapa kau terus menyembunyikan semuanya dariku!" seru Kana setengah berteriak.
Aqua yang sadar, bersembunyi di dekat pintu kamar Kana yang terbuka sedikit. Ia mencuri dengar pembicaraan kakak beradik itu. Setelah melihat Kana dan Karma di depan pintu, Aqua tersadar bahwa Karma sangat menyayangi Kana meski mereka berbeda ibu.
"Ayah yang memintanya padaku." Karma menjawab dengan nada sedih. "Aku hanya ingin menyampaikan ini saja, Kana... Ketika ayah meninggal, kau harus ikut denganku sampai kau menikah."
"Hah?" respon Kana cepat. "Tapi, aku sudah mengatakannya padamu kalau aku akan tetap di sini!"
Karma mendekati Kana yang tengah duduk di kasurnya dengan wajah memerah.
"Tidak, jika tidak bersamaku." Karma menatap mata Kana serius. "Aku bisa saja membunuh orang yang melukaimu dengan kemampuanku. Tapi, karena kau mengancamku tadi. Jadi, aku menurut. Sekarang kau yang harus menurutiku."
"Aku bisa hidup sendiri! Sejak remaja aku hidup sendiri di Tokyo! Aku bisa melakukan itu!" sanggah Kana dengan nada lebih tinggi. "Aku mau di sini!"
"Ya untuk sekarang tidak masalah, sampai kau sembuh. Kemudian kita pindah ke Tokyo..." Karma melangkah ke arah pintu kamar. "Kita di Tokyo hanya sampai kau menikah. Wasiat ayah selesai sampai situ."
"Kalau aku tidak menikah, bagaimana?" tanya Kana.
__ADS_1
"Kalau kau tidak menikah, ya aku juga tidak perlu menikah." Karma menjawab dengan tangan meraih knop pintu.
Ia menyadari adanya Aqua di depan kamar, tersenyum tanpa bermaksud keluar dari kamar Kana.
"Kau harus menikah! Aku tidak masalah jika kau menikah! Jangan menungguku!" seru Kana.
"Kau menyukai Aqua, begitu juga sebaliknya. Aku juga tahu kalian sudah berciuman. Kau pasti sudah mengajaknya melihat memorimu kan? Kau sudah melakukan sampai sejauh itu, tapi kau tahu Aqua masih terus bertanya kabarmu padaku. Seberapa keras dia mencoba melupakanmu itu akan tetap sulit untuknya. Apa kau harus terus memotong benang yang akan menyatu lagi?" tanya Karma seraya melirik Aqua di dekatnya.
"Aku hanya tidak ingin ada hati yang tersakiti." Kana menundukkan kepalanya, kali ini lagi-lagi hanya alasan yang tidak berdasar.
"Justru jika seperti ini, lebih banyak hati yang tersakiti!" seru Karma dengan suara lebih keras dari sebelumnya. "Aku tidak pandai soal percintaan, tapi aku tidak mengerti bagaimana cara berpikirmu itu. Padahal sudah jelas kau mencintainya."
Karma melangkah keluar kamar Kana, ia mengangkat alisnya menatap Aqua. Berdiri di dekatnya.
"Kau sudah dengar bukan? Kalau kau berhenti dan tidak berharap padanya lagi, aku tidak masalah," ucap Karma. "Aku hanya ikut merasakan semua perjuanganmu yang rasanya sia-sia."
Aqua hanya tersenyum, ia mendengar semua percakapan mereka dengan jelas. Sakit, tapi entah kenapa justru Aqua merasa senang. Karena Kana akan tinggal di Tokyo dan itu bisa membuatnya tetap bertemu Kana setiap hari. Lalu, kini Aqua yakin bahwa Kana menyukainya.
"Ya, tidak masalah. Kau tidak perlu khawatir tentangnya. Ada banyak hal juga yang harus kuselesaikan di sini." Karma melangkah mendahului Aqua.
Bukan masuk ke kamar Kana, Aqua justru kembali ke ruang tamu menemui yang lain bersama Karma. Ia mendekati Mem untuk membantu Kana mengompres memar di punggung gadis itu. Mem dan para wanita yang lain ikut ke kamar Kana di lantai dua.
...****************...
"Kana-chan!" sapa Mem dengan wajah ceria. "Ayo bersih-bersih!"
"Kalian..." Kana membalas dengan senyum tipis. "Aku belum mandi dari kemarin. Jadi, aku akan mandi sendiri saja."
"Kami akan pulang nanti malam." Miyako menanggapi seraya membuka jendela kamar Kana. "Kami akan membantumu membersihkan tubuhmu. Tidak perlu sungkan." Miyako melanjutkan seraya tersenyum.
Ruby dan Akane mendekati Kana dengan handuk basah, ice gel dan baju ganti. Kana menolak, tapi dengan cepat Akane menunjukkan wajah tidak bersahabat pada Kana.
"Senpai..." panggil Ruby ketika ia melihat punggung Kana yang memar. "Ini..." Seolah tercekat, Ruby tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Tangannya dengan lembut menempelkan ice gel ke punggung Kana.
__ADS_1
"Hehe..." Kana terkekeh pelan. "Jelek sekali ya?" Kana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Jahitannya panjang sekali, terus bekasnya juga tidak hilang. Kejadian empat tahun lalu bekasnya tidak mau pergi dari tubuhku."
Akane segera memeluk Kana dari belakang. Ia tidak percaya kejadian empat tahun lalu memiliki bekas sepanjang itu di punggung salah satu idolanya. Dan sekarang punggungnya memar dan membengkak, terlihat semakin memilukan.
"Kana-chan tetap yang tercantik!" seru Akane mencoba menahan tangisannya. "Kau terlalu kuat, aku tidak akan bisa seperti dirimu..."
Menyadari kekuatan mental Kana yang bagai batu karang itu, Akane terus mengidolakan Kana meskipun sering adu mulut. Sejak kecil Kana sudah ditimpa banyak kejadian luar biasa yang membuatnya dewasa sebelum waktunya. Ditambah dia menjadi korban pembunuhan dan kemarin korban pelecehan. Jika itu dirinya, mungkin dia akan mencoba untuk bunuh diri kedua kalinya.
"Ayo kita basuh dengan handuk basah bagian lain!" seru Frill yang menyadari Akane menangis.
Setelah membersihkan tubuh Kana dan membantu mengganti bajunya. Mereka keluar satu persatu dari kamar Kana. Mem menjadi orang terakhir yang keluar dari kamar Kana. Ia terus memandangi Kana yang lebih banyak diam dengan sorot mata seolah jauh di sana.
"Kana-chan..." Mem memanggil Kana setelah semua orang pergi. Ia duduk di kasur Kana.
"Kau tidak bersiap pulang?" tanya Kana dengan senyum tipis.
"Kau kuat, Kana-chan..." Mem mencoba menguatkan Kana, meski dia tahu itu tidak terlalu berarti. "Ini memang menyakitkan, tapi ini akan berlalu."
Mem merasakan tatapan putus asa tanpa harapan dari sorot mata Kana. Menyakitkan untuk dilihat.
Senyum tipis kembali Kana berikan, tangannya meraih jemari Mem. "Aku hanya merindukan ayahku saja, Mem. Aku merasa ada yang hilang sejak semalam. Sejak tadi, aku seperti melihat dirinya, tapi aku tidak bisa memanggilnya."
"Kana-chan..." Mem semakin khawatir. Tangan hangat Kana dan senyum tipis Kana, membuat Mem ingin menangis. "Kau tidak perlu tersenyum untuk menutupi sedihmu."
Kana tertawa pelan. "Hanya dengan senyum, aku bisa menjadi lebih kuat meski hanya sedikit. Jadi, kau juga harus tersenyum untuk menguatkanku."
Kini Mem memeluk Kana, tubuh Kana yang kecil rasanya sangat rapuh. Ditambah suhu tubuhnya yang tinggi. Mem tidak tahu jika Kana yang sering berkata kasar dan pesimis ini begitu kuat dan hebat.
"Terima kasih, Mem..." bisik Kana.
"Sehat selalu... Aku pamit pulang..." Mem tersenyum menguatkan Kana.
...*************...
__ADS_1