Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Memori Kana (2)


__ADS_3

Aqua dan gadis gagak sampai di rumah sakit tempat Kana dirawat. Teriakan terdengar memekakkan telinga. Wajah Kana sudah memucat, bahkan rambutnya sudah berantakan. Berkali-kali Kana berteriak, menendang ke sembarang tempat, rambutnya ditarik berkali-kali oleh dirinya sendiri.


Akino mendekati Kana, memeluk Kana sekuat tenaga. Kana berusaha memberontak dan masih terus berteriak. Sementara Karma di pintu ruang inap menatap Kana dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Kana…" Akino melembutkan suaranya. "Kau aman sayang. Di sini sudah aman. Ayah akan melindungimu." Akino memeluk Kana yang masih terus berteriak, mengelus punggung Kana. "Di sini sudah aman."


Akino berusaha mengatasi Kana yang dalam sehari bisa berteriak sebanyak 5 kali dengan durasi 30 menit. Akino memanggil psikiater untuk membantunya, menangani kasus Kana. 


"Bagaimana mereka bertemu?" tanya Aqua pada gadis gagak di sebelahnya.


"Saat di gedung agensi Kana dinyatakan meninggal dunia, ia bertemu Akino dan membawanya ke sini," jawab gadis gagak.


"Itu tidak mungkin suatu kebetulan bukan?" Aqua kembali bertanya, kali ini ia berdiri mendekati Kana yang sudah terbaring di atas kasur tidak sadarkan diri.


"Anggap saja, aku mengaturnya." Gadis gagak tersenyum tipis.


...****************...


Kejadian setelah tiga bulan Kana di rumah sakit akhirnya dia pulang dan hanya melamun seharian tanpa ada teriakan lagi. Topi rajut kini menutupi kepala Kana yang sudah botak. 


Malam di musim gugur, Kana duduk memeluk kakinya di teras lantai dua rumahnya bersama gadis gagak yang duduk di hadapan Kana.


"Kau membaik…" komentar gadis gagak pada Kana. Kana hanya diam tidak menjawab, gadis gagak kembali menatap Kana. "Aku sudah membunuh Kamiki Hikaru."


Kana mengalihkan pandangannya pada gadis gagak. Seolah ingin mengucapkan sesuatu, tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya.


"Kita masih akan sering berinteraksi. Ternyata dirimu punya darah keturunan seorang cenayang, dan itu membuatmu mendapat mata yang bagus." Gadis gagak menarik tangan kiri Kana. "Kau lihat benang merah di kelingking milikmu? Ini terhubung dengan seseorang yang sudah menjadi takdirmu. Dan kau bisa melihat benang merah orang lain juga."


Aqua juga bisa melihat benang merah milik Kana yang ternyata masih terhubung dengan miliknya. Warnanya merah gelap dan sangat jelas.


"Kau berjanji untuk hidup bahagia kan? Maka hiduplah bahagia, jangan menginjak ranjau yang sama." Gadis gagak tiba-tiba menghilang.


Kana masih menatap jari kelingkingnya. Ia tidak mengerti kenapa ia bisa melihat benang merah di sana dengan sangat jelas. Mata Kana kini melirik Aqua yang berdiri tak jauh darinya. Pandangan mereka kembali bertemu, Aqua segera mengalihkan pandangannya.


"Apa Kana bisa melihatku?" tanya Aqua pada gadis gagak.


"Dia hanya bisa merasakan ada seseorang yang mengawasi dia saja. Dia tidak bisa melihatmu," jawab gadis gagak. "Aku akan meninggalkanmu di sini. Memori Kana akan berputar sesuai pemiliknya ingin memberitahumu apa saja. Jadi, kau akan berpindah dengan sendirinya." Gadis gagak itu pun menghilang.

__ADS_1


Dengan langkah pelan Aqua mendekati Kana, duduk di hadapan Kana yang masih pucat. Malam ini, dia tidak mengenakan jaket atau kardigan. Ia hanya menggunakan baju tidur tanpa lengan. Tatapan matanya masih kosong, seolah tak ada keinginan untuk kembali hidup. Wajahnya pun masih tetap pucat.


"Kana…" panggil Akino seraya duduk di samping Kana. "Ayo lepas perbanmu." Akino tersenyum, tangannya membantu Kana berdiri. 


Aqua mengikuti langkah Kana dan Akino ke kamar Kana di lantai dua. Dengan sangat lembut, Akino menarik topi kupluk berwarna merah dari kepala Kana. Gadis itu tidak lagi memiliki rambut. Bagian belakang kepalanya dibalut perban tempel. 


"Tahan ya. Ini akan sedikit sakit. Kau boleh berteriak atau menangis jika memang sangat sakit." Akino menarik plester perban dengan cepat, membuat suara menyayat terdengar.


Akino memberikan selimut dan meminta Kana memasangnya untuk menutupi bagian depan tubuhnya. Ia menarik baju tidur Kana dengan lembut. Kana melirik ke arah Aqua dengan wajah merona seraya menunduk.


Plester perban yang lebih panjang dari bagian kepala terlihat. Aqua melangkah dan berdiri di samping Akino. Ia tidak percaya bahwa Kana memiliki bekas luka sepanjang itu di punggungnya. Akino melepas plester perban dengan cepat. Jika terlalu lama, khawatir akan terasa lebih sakit dan perih.


Akino kembali memakaikan kembali baju Kana dan topi rajutnya. Ia membantu Kana untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur. Memasang selimut, mengelus kepala pelan dan mengecup keningnya Kana.


"Oyasumi…" Akino keluar dari kamar Kana tanpa mematikan lampu. 


Sudah hampir tiga bulan, Kana tidak pernah tidur dengan lampu mati. Karena ia masih sangat takut dengan keadaan gelap. Bahkan jika lampu yang berada di ruangan tidak terang, ia akan berlari dan duduk di samping Akino.


Aqua duduk di kasur Kana, menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Semua yang dilalui Kana saat ini adalah salahnya, harusnya sejak awal dia tidak membawa Kana. Daya tarik Kana terlalu luar biasa. Aqua kembali merasa bersalah kali ini.


"A-kun…" panggil Kana dengan gagap, matanya menatap Aqua di depannya. "A-pa a-ku ber-mim-pi?" 


Kana mencoba meraih pipi Aqua, namun tidak bisa. Tangannya menembus tubuh Aqua. Berkali-kali Kana mencoba dan hasilnya sama. Tidak ada yang bisa diraih dengan tangannya. Aqua hanyalah roh yang sedang berkelana.


"Mim-pi la-gi…" Kana terlihat kecewa, ia mengubah posisinya.


...****************...


Sedetik kemudian Aqua berpindah tempat ke lapangan di musim dingin. Kana bersama Karma tengah melakukan lari pagi. Ditemani Karma, Kana melakukan olahraga ringan. Wajahnya yang sebelumnya pucat sekarang merona dengan napas tersengal. Karma berkali-kali tersenyum menggoda Kana.


"Apa kau pernah menunggang kuda?" tanya Karma ketika mereka sampai di kedai kopi.


"Belum, bukankah menakutkan?" tanya Kana dengan suara datar.


"Kau harus coba. Kita punya kuda putih seperti salju yang gagah dan tampan!" Karma menjawab dengan penuh semangat dengan senyum yang terus mengembang.


"Oh ya?" tanya Kana lagi.

__ADS_1


"Iya, namanya Yunyun!" seru Karma.


"Nama macam apa itu?" tanya Kana.


"Aku yang beri nama loh! Kau harus coba membawa Yunyun! Karena kau akan terlihat keren!" seru Karma.


Aqua duduk di samping Karma, mengamati pemuda itu. Wajahnya masih muda, ada kemungkinan dia masih baru masuk SMA. Tapi, saat ini Karma berusaha sekali terus tersenyum, tertawa, mengajak banyak bicara Kana. Dia berusaha sangat keras untuk membuat Kana tersenyum dan berbicara dengannya.


Kana kembali menatap Aqua dan segera mengalihkan pandangannya dengan menyeruput coklat hangat miliknya. Aqua berhenti mengikuti Kana, kali ini dia memilih mengikuti Karma yang duduk di teras bersama Akino. Wajah Karma sudah memerah, sepertinya dia menangis.


"Apa Kana sangat terluka? Aku belum bisa membuatnya tersenyum, ayah!" seru Karma dengan kepala yang menunduk dalam.


Akino mengelus kepala Karma, mencoba menenangkan anak laki-lakinya. "Kau sudah berusaha. Kita juga sudah berusaha. Ayah yakin Kana juga yang paling berusaha dengan keras untuk kembali normal. Jangan terlalu cepat menyerah…"


Aqua menatap Kana di balik pintu dan masuk ke dalam kamarnya, ia mengikuti langkah Kana ke lantai dua. Ia menutup pintu kamarnya, meraih cermin di atas meja. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, seraya membuka topi rajutnya.


Rambutnya sudah mulai panjang, namun baru sampai telinganya saja. Proses tumbuh rambut kepala ternyata tidak begitu lama.


Dengan terus menatap dirinya di cermin, Kana menyentuh pipinya, mencubit dan memutarnya dengan cepat. Ia merasa otot di wajahnya sangatlah kaku. Terutama untuk tersenyum. Ia selalu berlatih di kamar untuk bisa tersenyum seperti dirinya yang dulu, namun semuanya sangat sulit ia kendalikan setelah ia diizinkan untuk hidup lagi.


Sejak ia mulai kembali normal, ia sulit untuk berbicara. Tatapan matanya juga selalu kosong, padahal Kana selalu berusaha dan berteriak dalam hati untuk bisa berbicara, bergerak dengan normal tanpa rasa kaku. Namun, tubuhnya seolah bergerak tidak sesuai pikiran Kana.


Setiap gelap, pikiran Kana akan dengan cepat mengatakan bahwa itu hanyalah gelap, dan dia harus berani. Namun, tubuhnya merespon kebalikannya. Tubuhnya akan dengan cepat berteriak dan sesak napas. Tubuh dan pikiran Kana seolah tidak sejalan.


Masih terus menarik kedua pipinya dengan tangan. Aqua tersenyum melihat wajah Kana. Wajah gadis berambut merah itu tidak pernah berubah sejak kecil, ditambah tubuhnya yang tidak tinggi itu, selalu membuat Aqua gemas. Ingin sekali ia yang menarik pipi Kana pelan, dan membuatnya tersenyum. Tapi, dia sadar itu tidak akan bisa terjadi.


Kana memukul kedua pipinya pelan. Menarik bibirnya ke dua sudutnya. Membuat lengkungan di wajahnya. Senyum terpaksa yang terlihat membuat Aqua terkekeh. Kana membasahi bibirnya, kembali mencoba untuk tersenyum meski terasa kaku.


"Berapa kali kau harus berlatih agar bisa tersenyum?" tanya Kana pada dirinya sendiri. "Meski sulit, jika kita terus bekerja keras itu akan berhasil, Kana!"


Kana meletakkan kembali cerminnya, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tatapan Kana kini beralih pada Aqua yang duduk di ujung kasurnya.


"Sekarang mataku selalu melihat hal-hal aneh…" ucap Kana seraya menutup matanya dengan tangannya. Kana mengangkat tangannya. "Benang merah ini menyatu dengan siapa?" tanya Kana pada dirinya sendiri. "Aku lihat ayah tidak punya, sementara Karma masih berwarna merah muda dan nyaris tidak terlihat."


Kana merubah posisinya, membalikkan tubuhnya dengan sanggahan bantal. Ia masih menatap tangannya. Tangan kanan Kana mencoba menyentuh benang merah yang melingkar di jari kirinya.


"Tersentuh?" tanya Kana tak percaya. "Siapapun dirimu kelak semoga kita bisa bahagia selamanya hingga aku mati lagi. Dan kau menerimaku apa adanya. Aku yang penuh kekurangan ini." Kana memejamkan matanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2