
Kana menginap di penginapan Aqua malam ini. Makan malam dan membahas banyak hal tentang naskah milik Aqua. Kana banyak memberikan saran dan kritik pedas untuk akting Aqua. Bahkan Kana membuat catatan kecil di setiap scene yang akan dimainkan oleh Aqua. Mengingatkan Aqua untuk selalu berlatih meskipun sendirian.
"Berapa rating yang kau berikan untuk naskah ini?" tanya Aqua setelah ia membaca naskah terakhir di depan Kana.
"8,5 dari 10." Kana menjelaskannya dengan jarinya. "Aku suka cerita yang ringan, tapi kalau drama yang kau mainkan ini bisa mendapat rating tinggi, maka naskahnya akan jadi 10/10."
"Apa genre yang kau suka?" tanya Aqua seraya duduk di samping Kana.
"Aku selalu bermain di drama atau film dengan genre romance. Jadi, aku ingin bermain di film action atau film berlatar tahun 80. Retro." Kana menjawab dengan penuh semangat.
"Aku menghindari genre romance, karena tawaran itu sangat banyak. Dalam satu tahun aku bisa dapat 5 drama dengan genre yang sama." Aqua mengingat tahun ini dia menerima banyak drama dan film.
Kana tertawa meledek Aqua. "Bukankah menyenangkan? Kau bisa mencium banyak aktris muda yang cantik-cantik juga!" Kana menatap Aqua.
"Itu hanya pekerjaan, tidak ada yang seperti itu." Aqua mengelak ledekan Kana padanya.
"Pekerjaan eh jadian beneran!" Kana meledek Aqua lagi. "Dicium berkali-kali masa tidak ada rasa sih!" Kana menggoda Aqua lagi.
"Aku bukan tipe orang yang menyatukan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi." Aqua membela diri.
"Alasan yang bagus ya!" Kana tertawa pelan. "Tapi, ya tidak masalah sih. Toh kau juga terlihat menikmatinya!"
"Kau selalu meledekku dengan hal seperti itu, apa kau cemburu?" tanya Aqua menatap Kana di sampingnya.
Kana menatap balik Aqua. "Itu dulu, rasanya juga udah jadi ampas sekarang. Sekarang sudah tidak ada rasa untukmu tahu!" Kana berdiri dari duduknya. "Jadi, kalau kau kencan beneran dengan siapa pun, menikah dengan siapa pun juga. Aku sudah tidak peduli…"
Aqua terdiam. Sekarang justru berbalik. Rasa untuk Kana terlalu besar. Sudah lama, tapi dia terlalu penakut untuk mengkonfirmasinya. Lalu, apakah ini sudah terlambat untuknya?
Kana kembali dengan minuman dingin dari dapur. "Kenapa berpikir sampai seperti itu?" Kana menempelkan minuman dingin di pipi Aqua. "Jangan menyukaiku, oke! Karena seperti yang kubilang waktu itu." Kana memberikan jari kelingking kirinya. "Aku sudah memutuskan benang merahku dengan cinta sejatiku."
Aqua mengalihkan pandangannya. "Lalu apa kau tahu perasaan cinta sejatimu?" tanya Aqua merasa sedih dengan kisah cinta Kana.
"Tahu! Dia tidak mungkin menyukaiku. Aku sudah mengkonfirmasinya." Kana duduk di sebelah Aqua lagi. "Lagipula aku memilih untuk hidup di sini selama sisa hidupku. Jadi, aku tidak akan membawa dia untuk tinggal di desa seperti ini."
"Kau tidak ingin memiliki keluarga?" tanya Aqua melirik Kana.
Kana tersenyum lebar. Menampakkan deretan giginya yang rapih. "Kau tahu tidak, banyak anak-anak di sini adalah yatim piatu. Dan aku akan mengurus mereka seperti anak-anakku sendiri!"
Aqua kembali berpikir. Mungkin memang soulmate Kana bukan dirinya. Awalnya, Aqua memiliki keyakinan bahwa soulmate Kana adalah dirinya hampir 90%. Tapi, setelah mendengar penuturannya malam ini, ia jadi ragu untuk mengungkap perasaannya pada Kana. Ia jadi berpikir untuk mengubur kembali perasaannya pada Kana dan kembali menjadikannya teman.
*****
Hampir satu pekan Aqua berada di desa bersama Kana. Aqua mulai terbiasa dengan pekerjaan Kana di kandang sapi. Beberapa hari lalu bahkan Kana mengajaknya ke kandang ayam untuk melihat bagaimana telur ayam menetas. Cara memberi makan ayam dan cara membersihkan kandang ayam.
Setelah kandang ayam, mereka ke kandang kambing. Anak-anak kambing di sana sangat banyak dan berisik, mereka menyahut setiap ada pekerja yang datang. Memberi makan ternak sudah menjadi keahlian Aqua kurang dari sepekan. Kana dan Ishigami sangat membantu Aqua di sini.
__ADS_1
Hari ke sepuluh di desa. Kana, Aqua dan anak-anak kecil masuk ke sungai di desa sebelah. Aqua mengikuti langkah anak-anak dengan semangat. Mereka bahkan membawa baju ganti karena mereka berniat untuk berenang. Sementara Aqua dan Kana tidak membawa baju ganti, karena niat mereka hanya ingin bermain di pinggir sungai.
Angin musim gugur semakin dingin, Aqua menyentuh air sungai dengan tangannya. Dingin dan akan membeku jika kau tidak kuat dengan dinginnya suhu air. Tapi, tidak dengan bocah-bocah itu. Mereka langsung berlari menuju batu yang paling tinggi dan melompat dari atas.
Percikan air mengenai mereka yang duduk di pinggir sungai. Kana berteriak karena air mengenai tubuhnya. Kacamatanya basah terkena cipratan air.
Kana berdiri dari tempatnya di pinggir sungai. "Kalian ini! Pelan-pelang dong!" serunya kesal seraya membalikkan tubuhnya membersihkan kacamatanya yang basah.
Sementara para bocah di sana hanya tertawa meledek Kana. Aqua yang memerhatikan hanya tersenyum. Satu persatu para anak itu melompat dari atas batu. Dan setiap para anak laki yang melompat Kana akan mengomel dengan nada kesal.
Aqua terkekeh pelan seraya mendekati Kana. "Kau seperti nenek-nenek ketika mengomel seperti itu, Kana."
Kana mendelik, memukul kepala Aqua kesal. "Kau tahu tidak?! Aku sudah pindah berkali-kali agar tidak terkena cipratan air dari mereka. Tapi, mereka dengan sengaja menjahiliku!"
Aqua tersenyum menatap Kana yang sudah membalikkan tubuhnya, menatap anak-anak itu dengan wajah kesal dan siap mengomel.
Miwa berdiri mendekati Kana. "Ini tidak dingin tahu, onee-chan!" Miwa menatap serius pada Kana dan segera memeluk Kana dengan tubuhnya yang basah karena berenang di sungai.
Kana berteriak dengan sangat nyaring, Miwa melepas pelukannya seraya menutup telinganya. Aqua sudah tertawa melihat ekspresi Miwa dan Kana. Tangannya menutup mulutnya agar tidak terdengar suara tawanya oleh Kana.
"Basah!" Kana merengek seperti bocah. Ia menghentakkan kedua kakinya kesal. "Ah! Kalian ini menyebalkan sekali!"
Aqua menahan tawanya, menyadari bahwa Miwa juga memberikan tanah basah di punggung Kana dan mengenai rambut merah panjang milik Kana.
Miwa sudah kembali masuk ke sungai. Melihat tingkah Aqua yang menahan tawa, Kana segera menendang Aqua kesal.
Wajah Aqua memerah menahan tawa. Tangannya masih mencoba menutupi wajahnya.
"Kana… Apa kau tahu, Miwa menempelkan tanah di rambutmu?" tanya Aqua dengan wajah merah menatap Kana.
Tangan Kana memeriksa rambut bagian belakangnya dan ia menemukan tanah di sana. Kana kembali berteriak kesal. Kali ini, ia menarik paksa Aqua untuk masuk ke sungai. Aqua mencoba menahan dirinya dari tarikan Kana, tapi karena Aqua sedang menahan tawa ia menjadi sedikit lebih lemah dan akhirnya jatuh ke sungai. Tangannya sukses menarik tangan Kana untuk ikut bersamanya masuk ke sungai.
Tawa pecah di antara suara air yang deras. Anak-anak menertawakan Aqua dan Kana yang jatuh dari pinggir sungai karena berkelahi ringan. Sementara Aqua tidak berhenti tertawa dengan keras melihat daun mapple berukuran besar menempel di kepala Kana.
"Ah… Ini lucu sekali…" ucap Aqua seraya mendekati Kana di tengah sungai.
Kana menatap Aqua tidak percaya, wajah dingin Aqua akhirnya tertawa dengan keras. Bahkan matanya sampai tidak terlihat. Ia tidak menutupi wajahnya dengan tangan lagi. Senyum lebar yang bersuara itu terlihat sangat indah di wajah tampan Aqua.
"Ini…" Aqua meraih daun di atas kepala Kana. "Warnanya cocok dengan rambutmu." Aqua menunjukkan daun mapple yang sudah basah di hadapan Kana.
"Sialan!" pekik Kana kesal seraya memukul kepala Aqua sekuat tenaga.
Aqua masih tertawa, sementara Kana hanya takjub mengamati wajah Aqua. Sebelum ia sadar bahwa dia akan pulang dengan baju basah dan kedinginan.
*****
__ADS_1
Kana mengganti bajunya, mandi dan bersih-bersih. Hari ini ayahnya dan Karma pulang. Ia merasa sangat senang, ditambah ia melihat wajah Aqua yang tertawa. Bagi Kana, melihat tawa Aqua merupakan sesuatu yang luar biasa. Mungkin jika dia punya ponsel, dia akan mengambil foto Aqua yang tertawa dengan lebar.
"Jangan lengah Kana! Dia memang terlahir tampan! Tapi, dia bukan milikmu!" seru Kana pada dirinya sendiri.
Tidak lupa Kana membuat makan malam untuk menyambut kedatangan Karma dan ayahnya dari Tokyo. Mereka sudah dalam perjalanan, dan kemungkinan akan sampai pukul 7 malam.
Tapi, sebelum itu. Kana harus membeli beberapa bahan yang habis di dapurnya. Saat melangkah menuju pasar kecil desa. Ia bertemu Aqua di jalan. Aqua sedang dalam wajah ceria tadi siang, kini berubah dingin lagi.
"Moodnya jelek sekali, seperti perempuan!" pekik Kana sambil terus melangkah, menghiraukan Aqua.
Kana membeli beberapa telur dan susu segar. Serta beberapa bumbu dapur dan sayuran untuk membuat nasi kari malam ini. Kari buatan Kana memang tidak senikmat kari di restoran, tapi Kana belajar sangat giat untuk bisa memasak. Karena, Karma selalu mengejek Kana yang tidak pandai memasak.
"Hari ini ayahmu pulang ya?" tanya Aqua tiba-tiba.
Kana menatap Aqua yang sudah berdiri di sampingnya dengan senyum yang mengembang. Kana kembali takjub dan tersadar segera setelah beberapa detik memandangi wajah tampan Aqua.
"Ya," jawab Kana singkat.
"Berarti aku sudah tidak perlu menemanimu di rumahmu kan?" tanya Aqua lagi, nadanya terdengar sedih.
Kana menganggukkan kepalanya. Setelah memastikan semua bahan lengkap, ia melangkah keluar dari toko. Aqua mengikuti Kana, berjalan bersisian dengan Kana.
"Aku akan pulang besok," ucap Aqua dengan nada sedih.
"Besok? Apa sudah 14 hari?" tanya Kana seraya menghitung dengan jari-jarinya. "Baru 10 hari bukan?"
"Ya, ternyata ada syuting iklan dan pemotretan di sebuah majalah dengan Ruby yang sangat tiba-tiba."
"Orang sibuk…" ejek Kana pelan. "Kalau begitu! Ayo makan malam di rumahku hari ini!" ajak Kana sambil melangkah di depan Aqua. "Ayo! Anggap saja perpisahan dengan keluargaku!" Kana tersenyum lebar.
Aqua merubah ekspresinya menjadi semakin sedih. "Perpisahan ya?"
Kana mengangguk semangat. Ia berhenti dan menatap Aqua dengan penuh semangat, bahkan dua tangannya sudah mengepal di dadanya dengan kantung kresek yang ia bawa.
"Iya! Kita belum tentu bertemu lagi, kan! Jadi, ayo kita rayakan!" seru Kana penuh semangat. "Eh, tapi masakanku belum tentu enak…" Kana membuka kresek di tangannya, melihat sayuran yang ia beli. "Harusnya, kalau perayaan makanannya harus enak, bukan?"
Aqua mengelus kepala Kana lembut. "Masakanmu enak kok…" puji Aqua sambil tersenyum menatap Kana. "Tapi, kadang keasinan!" lanjutnya terkekeh meledek Kana.
"Teme!" maki Kana seraya menjitak kepala Aqua kesal, sementara sang empu hanya tertawa dengan keras. "Memang sih keasinan! Tapi kan masih bisa di makan! Hargai dong!" Kana terus mengomel, membuat Aqua semakin tertawa.
"Ha--ii… Ha--ii…." Aqua tertawa.
*****
NB :
__ADS_1
Maaf kalau banyak typo dan tulisan atau kalimat belum tertata rapih ya.
Terima kasih sudah mampir, tekan like dan berikan kritik dan sarannya juga ya ^^