Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Akhir Musim Dingin (3)


__ADS_3

Setelah perjalanan panjang, mengitari departemen store. Akhirnya Karma dan Aqua bertemu lagi dengan empat gadis itu di sebuah restoran a la barat.


Mereka memesan private room karena berisi banyak aktor, aktris dan idol juga. Karma yang terlihat santai saja memesan beberapa makanan untuk dirinya. Akane tidak berhenti memanggang daging dibantu Ruby.


"Kau belanja banyak sekali ya? Apa itu untuk kakakmu semua?" tanya Mem, ia ingin memancing Karma agar bercerita tentang kakaknya. Karena Mem sangat penasaran siapa kakak Karma.


"Ada untukku, untuk kakakku dan anak-anak desa kami juga. Aqua sih yang belikan untuk hadiah katanya." Karma melirik Aqua yang memakan daging bakar dengan santai.


"Anak-anak desa?" tanya Mem lagi yang duduk berhadapan dengan Karma.


"Iya, desaku penduduknya sedikit, tapi karena sedikit jadi kami sudah seperti keluarga." Karma menjawab. "Kemarin Aqua banyak dibantu mereka, jadi ini hadiah untuk mereka katanya."


Mem melirik Aqua yang tidak berniat untuk ikut menjawab pertanyaan dari Mem pada Karma.


"Lalu, sisanya punya kakakmu?" 


"Satu tas belanja penuh ini untuknya, tas lain untukku dan ayah. Dan satu lagi untuk kuda kesayangan Aqua." Karma menjawab sambil meraih gelas minumnya.


"Kuda?" tanya Frill. "Oh, jadi kau latihan berkuda juga di sana?"


"Iya, aku dilatih berkuda di sana." Aqua menjawab dan kembali memakan dagingnya. "Namanya Black, warnanya hitam legam dan sangat gagah."


Akane tidak berhenti memasak daging dan memberikannya pada Aqua di hadapannya. Itu karena Akane senang Aqua makan daging dengan cepat.


"Tapi, Aqua-kun… Actingmu sangat bagus di drama kemarin dengan Frill. Aku sampai tidak percaya. Dan aku mengikuti setiap episodenya tanpa ketinggalan satu pun." Akane tersenyum menatap Aqua.


"Ya, syukurlah…" Aqua merespon singkat.


"Siapa yang melatihmu di sana?" tanya Mem penuh selidik.


Aqua melirik Karma di sampingnya. "Ada seseorang yang melatihku di sana."


"Oiya? Pasti dia sangat ahli ya. Kemampuanmu meningkat banyak." Akane berkomentar.


"Ya, dia mengajariku banyak." Aqua memakan dagingnya, berdiri meraih pencapit daging dan gunting. "Kau bisa makan sekarang, aku yang akan memanggangnya."


Akane duduk di kursinya, menatap Aqua dan tersenyum. Ia meraih gelas dan meminumnya. Akane memesan salad dan ice americano. Ia tidak memakan daging seperti yang lain, karena dia seorang vegetarian.


"Kau tidak mau daging, Karma?" tanya Aqua.


"Aku sudah membeli ayam, jadi dagingnya untuk yang lain saja." Karma menjawab seraya merapihkan sisa makannya. Ia berdiri di samping Aqua. "Ayo kalian semua habiskan!" 


Masih ada satu piring berisi daging yang dibakar oleh Karma dan Aqua. Karma sangat cekatan dalam memasak daging, membaliknya dan mengguntingnya. Aqua hanya membantu Karma yang terlihat lebih ahli. Bahkan bumbu yang diracik Karma terasa lebih enak dibanding bumbu dari restoran.

__ADS_1


"Ternyata memang kau pandai memasak ya…" puji Aqua setelah mencicipi satu daging panggang hasil dari Karma.


"Saat kecil aku membantu ibuku di dapur, membuat makanan untuk katering." Karma menjawab seraya mengingat masa kecilnya. "Setiap hari setelah pulang sekolah aku akan menemaninya di dapur sampai sore. Membagikan makanan untuk para pekerja di ladang dan peternakan sebagai makan malam."


"Apa kau koki?" tanya Minami pada Karma.


"Tidak, aku mahasiswa." Karma kembali memanggang daging. "Aku tidak sepandai itu untuk menjadi koki. Jadi, aku mengambil jalan lain."


"Tapi, kakakmu tidak bisa memasak." Aqua mengingat Kana yang selalu adu mulut dengan Karma hanya karena makanan.


Karma tertawa pelan. "Kalau semua hal dia bisa, bukankah itu curang?" tanya Karma pada Aqua. "Dia bisa melakukan semua yang ia bisa karena dia tekun dan pekerja keras. Tapi, memasak sepertinya memang bukan keahliannya."


"Dia berlatih setiap hari, sampai tangannya penuh plester, apa kau tahu?" tanya Aqua pada Karma.


Karma mengangguk pelan. "Aku tahu, dia hanya kurang percaya diri saja. Kau kan juga paham dia terlalu pesimis dengan apa yang dia pegang. Padahal sekali dia yakin, ia bisa dengan sangat baik. Suatu saat juga dia bisa memasak makanan enak kok, aku yakin."


"Apa pekerjaan kakakmu, Karma-kun?" tanya Mem menyela kedua pria itu.


"Dia hanya bekerja di peternakan saja setiap hari," jawab Karma dengan senyum tipisnya. "Dia yang membantu Aqua selama di desa. Belajar kegiatan di desa, masuk ke kandang hewan itu dilakukan bersama kakakku."


Mem menganggukkan kepalanya pelan. Ruby melirik Aqua yang membantu Karma, wajah Aqua memang tampan. Tapi, ternyata Karma tidak kalah tampan. Kacamata yang menghiasi wajahnya melihatkan sisi culun namun tetap terlihat keren.


"Kalian aktris semua ya? Apa tidak akan ada gosip tentang kalian yang pergi bersama pria?" tanya Karma.


"Sama saja bukan? Menjadi orang terkenal seperti menyiksa. Selalu ada saja komentar negatif dan hinaan hingga ingin mati." Karma menatap balik Akane dengan serius. 


"Iya memang, itu salah satu konsekuensi untuk seorang yang terkenal. Jadi, siap atau tidak siap mereka harus menerimanya."


Karma mengalihkan pandangannya ke panggangan lagi. "Seperti mati juga ya? Apa kalian bisa menjamin kalian aman karena terkenal?"


"Itulah gunanya seorang bodyguard. Dan jangan terlalu mudah percaya orang lain. Sekalipun kita kenal, pergi sendirian tanpa manager atau bodyguard akan sangat berbahaya. Karena kita tidak tahu ada bahaya apa yang mengintai." Akane mengingat sifat Kana yang sangat mudah dipengaruhi orang lain itu, bahkan dia pergi sendiri menemui Sutradara Shima yang ternyata justru Hikaru Kamiki.


Karma mendelik, menatap wajah Akane yang dengan santai mengatakan kalimat tersebut. Suara tawa pelan Karma terdengar. Ada rasa kesal mendengar kalimat dari Akane, Karma merasa ia menyinggung Kana yang memang selalu mudah dipengaruhi dan percaya orang lain. Meski tidak yakin itu memang untuk kakaknya.


Sama seperti Karma, Aqua tidak nyaman dengan kalimat Akane barusan. Meskipun Kana bermulut kasar, tapi memang dia mudah menaruh simpati kepada orang lain. Dan dengan mudah memercayai orang lain. Melihat reaksi Karma, Aqua segera berdiri di samping Karma, ia khawatir pria berkacamata itu melempar sesuatu di dekatnya ke arah Akane karena emosi.


"Ya, jangan mudah percaya orang lain memang sangat betul. Mengingat kalian semua adalah pemain peran yang sama busuknya ya?" Karma menatap Akane dingin sambil menyeringai. "Aku sangat menyukai kalimatmu, semoga kau berumur panjang."


Akane menatap takut ke arah Karma. Ternyata pria yang mudah tersenyum itu bisa memberikan ekspresi mengerikan seperti ini. Padahal Akane menjawab dengan benar, tapi reaksi Karma cukup berlebihan untuknya.


"Ya, sedikit lagi dagingnya habis. Jadi, kita bisa pulang!" Frill berseru untuk mencairkan suasana yang mendadak mencekam.


Karma menyisihkan sisa daging di panggangan ke piring. Merapihkan belanjaan yang ia beli. Aqua mencoba untuk tidak menegur Karma yang sudah terlihat dari wajahnya bahwa dia sangat kesal.

__ADS_1


Semua melanjutkan makan mereka, sementara Karma sudah berdiri untuk pamit undur diri. Anggap saja Karma terlalu sensitif dan berlebihan. Dia juga beralasan bahwa nanti malam masih ada banyak yang harus disiapkan untuk besok pulang.


"Karma-kun..." Akane memanggil Karma yang sudah melangkah menjauhi meja mereka bersama Aqua. Langkah Karma terhenti, ia menatap Akane dingin. "Aku tidak tahu apa kau tidak nyaman dengan kalimatku tadi. Tapi, aku minta maaf. Dan kurasa kau harus tahu, bahwa dunia hiburan memang sejahat itu."


"Aku tahu, jadi kau tidak perlu menjelaskan itu padaku. Aku sudah melihat korbannya di depan mataku sendiri. Dia yang mati karena mudah dimanipulasi dalam dunia hiburan." Wajah Karma mulai memerah, ia menahan air matanya.


Bayangannya melayang jauh saat Kana pertama kali ditemukan berdarah dan tidak sadarkan diri dan menggila berbulan-bulan. Tidak berbicara lama dan baru tersenyum setelah setahun lamanya.


"Semoga kau panjang umur." Karma membalikkan tubuhnya, air matanya sudah menetes. Ia tahu dirinya cengeng, jadi ia melangkah keluar dari restoran untuk menghindari tatapan gadis gadis itu.


"Apa aku salah bicara?" tanya Akane dengan wajah khawatir menatap Aqua.


"Dia memang sensitif, jadi kau tidak perlu khawatir." Aqua menenangkan dan melangkah keluar restoran mengejar Karma.


Pria itu sudah berjongkok di samping restoran. Menundukkan wajahnya, mengusap pipinya yang basah. Pemuda dengan rambut merah dan wajah sedikit sangar itu memang pemuda yang mudah menangis, seperti kata Kana. Tapi, Aqua tidak paham bagaimana dia bisa sampai menangis, hanya karena mengingat Kana.


Sebagai saudara kembar Ruby, terkadang Aqua hanya emosi saja tapi tidak sampai menangis jika ada yang melukai dan menghina Ruby. Sementara Karma yang bukan adik satu ibu dengan Kana bisa sampai menangis saat Kana dihina meskipun tidak langsung seperti tadi.


"Kau memang cengeng ya?" Aqua berdiri di samping Karma.


"Ya, kau tidak akan tahu Kana menderita seperti apa dua tahun lalu. Jadi, kau tidak akan mengerti perasaanku." Karma membalas seraya bangkit berdiri, membawa tas belanjanya. "Setelah bertemu denganmu, aku benar-benar melihatnya hidup lagi. Sebelum bertemu denganmu, dia jarang bicara, dan hanya bekerja seperti tidak ada jiwa di sana."


"Kupikir dia selalu seperti itu sejak dulu." Aqua mengikuti langkah Karma.


"Aku senang kau datang ke tempatku, karena aku bisa melihat dia bahagia."


Ada debaran dan perasaan aneh yang Aqua rasakan setelah mendengar ungkapan Karma. Entah apa maksud kalimat Karma, tapi Aqua merasakan bahwa dirinya masih ada kesempatan untuk mendekati Kana. Ya, meskipun Kana berkali-kali mengatakan bahwa mereka hanyalah teman.


"Berikan pada Kana." Aqua mengeluarkan kotak ponsel keluaran terbaru pada Karma.


"Dia pasti menolaknya." Karma membalas seraya melirik Aqua. "Dia tidak mau menerima benda ini. Aku jamin. Ayah berulang kali menawarkannya tapi dia selalu menolak."


"Ini hadiah karena drama yang kumainkan sukses atas bantuan darinya." Aqua menarik tas belanja Karma, namun Karma menahan tangan Aqua dan menggelengkan kepalanya pelan. "Ayolah, dia sangat sangat membantuku."


"Sudahlah, aku tahu dia membantumu. Tapi dia pasti menolaknya, aku yakin. Ayahku juga pasti akan mengembalikan ini padamu." Karma berhenti di depan pintu stasiun. "Kana membantumu karena memang ingin membantu, bukan untuk menerima imbalan."


Wajah Aqua terlihat kecewa, ia ingin Kana memiliki ponsel sendiri agar dia bisa mengirim pesan setiap saat pada Kana. Atau melakukan video call, bukan hanya sekedar hadiah sebagai tanda terima kasih. Semua niatnya itu tidak ingin ia sebutkan secara jelas pada Karma.


"Yosh... Jaanee!" Karma masuk ke dalam stasiun seraya melambaikan tangannya.


Aqua hanya membalas dengan senyum tipis.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2