Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Kencan Kedua


__ADS_3

Angin hangat masih menerpa teras rumah keluarga Arima. Dua orang yang saling menautkan jemari mereka sibuk menatap langit malam. Gelap, namun bulan purnama dan ratusan bintang menghias dengan indahnya di sana. Dua gelas kopi hampir habis mulai dingin di atas meja. Sepiring kue rasa coklat juga tinggal separuh.


Malam kencan mereka kali ini berbeda. Kana yang tidak memakai make up, tidak berdandan cantik bahkan bajunya saja hanya ganti dengan gaun tidur. Rambutnya dibiarkan terurai, bergoyang pelan.


Kepala Kana bersandar manja di bahu lebar Aqua, sementara Aqua tidak berhenti memainkan rambut merah milik Kana. Pembahasan ringan dimulai dari buku kesukaan yang akhir-akhir ini mereka baca sampai film-film yang sudah lama mereka tonton. Tawa ringan menghangatkan suasana malam itu, senyum terus mengembang di wajah dingin Aqua.


Tatapan Aqua tidak berhenti menatap Kana dengan takjub, sesekali ia mengelus lembut puncak kepala Kana. Respon Kana pun beragam, terkadang berteriak, merona atau berubah jadi salah tingkah.


"Sepertinya kopinya sudah habis." Aqua meraih cangkir kopi miliknya. "Sudah semakin malam juga, ayo masuk ke kamar."


Tangan Aqua menjulur ke hadapan Kana, membantu gadis itu melangkah ke kamarnya yang tidak jauh dari teras. Suhu tubuh Kana masih hangat, namun wajahnya tidak lagi pucat.


"Aku akan merapikan sisa makanan tadi. Kau bisa berbaring untuk istirahat," ucap Aqua lagi.


Seolah ada sesuatu yang meledak di hati Kana, meletup-letup tidak karuan. Kencan dengan Aqua sangat di luar dugaannya. Ia pikir akan menyedihkan berada di rumah saja. Tapi, Aqua memperlakukannya seperti seorang putri. Ia bahkan rela bulak balik naik ke lantai dua untuk mengambil makanan.


Aqua kembali masuk ke kamar Kana, membawa laptop di tangannya. Ia membawa botol berisi air mineral di tangan satunya. Senyum tidak berhenti mengembang di wajahnya. Duduk di atas kasur Kana setelah menutup rapat pintu kamar.


"Seperti yang aku katakan, kita akan menonton satu film sebelum tidur." Aqua membuka laptopnya, mencari film yang akan ia tonton. "Jadi, film apa yang ingin kau tonton?"


"Apa saja," jawab Kana merubah posisi, bersandar pada sandaran kasur. "Atau film yang kau mainkan saja."


"Serius?" Aqua balik bertanya, ia tidak mau melihatkan aktingnya pada Kana, rasanya ia akan mendapat banyak kritik. "Drama yang kemarin saja bagaimana?"


"Boleh!" balas Kana penuh semangat. Pandangannya kini tertuju pada laptop Aqua.


Drama yang diperankan Aqua ketika ia bertemu Kana untuk pertama kalinya setelah kabar kematiannya. Dan karena perginya dia ke sini, perasaannya semakin yakin bahwa gadis yang duduk di sebelahnya adalah gadis yang ia cintai.


"Kau pandai sekali..." puji Kana tanpa ingin menatap Aqua. "Ketika bertemu denganmu dan mengajarimu di kandang, kau sangat cerdas. Aku tidak kesulitan sama sekali." Kana mengenang saat ia pergi ke peternakan.


"Kau masih bekerja di sana?" tanya Aqua.


"Kurasa aku akan berhenti setelah ini," jawab Kana tanpa ingin menatap Aqua di sampingnya. "Kurasa akan ada banyak yang berubah untukku setelah kematian ayah."


"Aku yakin itu tetap yang terbaik." Aqua mencoba menguatkan.


Kana tersenyum, menganggukkan kepalanya pelan. "Aku yakin juga begitu..."


...****************...


Drama selesai ditonton satu episode itu akhirnya selesai. Kana yang sudah mengantuk akhirnya merebahkan tubuhnya. Menarik selimut dan bersiap tidur. Sementara Aqua masih berada di hadapan laptopnya, membuka e-mail yang masuk.


"Kau tidak perlu tidur di sini lagi, A-kun. Aku sudah membaik kok, tidak akan mengigau lagi," ucap Kana pada Aqua di sampingnya.


"Apa kau terganggu?" tanya Aqua.


"Ya, sudah jelas!" seru Kana. "Aku sudah membaik, jadi tidak masalah untuk tidur sendiri."

__ADS_1


"Aku tidak akan melakukan hal-hal aneh, Kana." Aqua tersenyum meyakinkan. "Aku tidur di sini juga karena aku ingin memastikan saja bahwa kau baik-baik saja."


"Kau ini, keras kepala sekali sih!" sungut Kana, mengubah posisinya memunggungi Aqua. "Awas kau berani menyentuhku!"


Was-was rasanya, Kana merasa sangat tidak nyaman dengan adanya Aqua di sampingnya. Masalahnya dia malam ini dalam keadaan sadar ditambah jantungnya tidak berhenti berdegup dengan kencang. Perlakuan Aqua hari ini benar-benar membuatnya tidak bisa berpikir dengan baik. Ia tahu perasaan yang harusnya hilang itu kini jadi semakin besar.


Benang merah di kelingking Kana memanjang. Hanya helaan napas yang Kana lakukan.


"Oyasumi..." ucap Kana.


"Oyasumi..." balas Aqua dengan tangan mengelus kepala Kana.


...****************...


Karma tidak pulang semalam, ia menginap di tempat Ishigami. Karena Aqua ada di rumahnya, jadi ia merasa sedikit tenang. Lagipula jika ada dia di rumah, ia hanya akan menjadi "nyamuk" saja diantara dua orang yang tengah kasmaran.


Sementara itu pagi sekali, Aqua sudah membeli beberapa bahan makanan dan memasaknya. Bermodal video masak dan nekat saja. Ia membuat beef burger untuk sarapan, itu karena Kana sudah sangat lama tidak memakan burger.


"Ohayou!" sapa Aqua ketika Kana turun dari lantai dua.


Wajahnya jauh lebih baik dibanding kemarin. Ia tersenyum dan segera masuk ke dapur. Bau bawang yang digoreng, tercium sangat harum. Kana sampai terbangun dan segera memakai apron berdiri di samping Aqua.


"Kau belanja?" tanya Kana tidak percaya. "Burger?" Kana setengah berteriak tidak percaya.


Matanya membulat sempurna dengan tangan mengepal penuh semangat. Hatinya berubah gembira, ia tidak percaya Aqua akan langsung membeli daging giling dan membuat beef dengan tangannya sendiri.


"Semalam kau tidur jam berapa?" tanya Kana seraya memotong tomat.


"Hebatnya!" balas Kana. "Aku yakin rasanya pasti sangat enak!" Kana menunjuk beef di atas teflon.


"Aku tidak yakin, karena sepertinya kemampuan memasakku sama sepertimu."


"Ya, tapi tidak masalah sih... Kalau kau sudah memasak, enak tidak enak tetap akan aku makan kok!" seru Kana penuh semangat.


"Yah, tapi tidak perlu berbohong jika tidak enak." Aqua meniriskan beef yang ia goreng ke piring. "Itu tidak membuat kemajuan untuk orang lain."


"Ah... Tapi itu membuat hati orang lain menjadi lebih senang. Karena masakan yang tidak enak itu sudah terasa digigitan pertama. Meski harus jujur, membesarkan hati orang yang sudah memasaknya juga tidak apa, bukan?"


Aqua menata roti, acar, selada, beef dengan tambahan saos dengan senyum. Mendengar kalimat Kana barusan, membuat Aqua sadar bahwa Kana belum berubah. Ia masih seperti Kana yang dulu. Kana yang senang membuat orang lain bahagia, meski dia tidak menyukainya.


"Aku rasa tidak masalah jika sekali dua kali, tapi jika terus menerus berbohong hanya untuk menyenangkan hati orang lain, kurasa itu sangat tidak baik." Aqua membalas ungkapan Kana.


"Ya, kau benar sekali!" balas Kana dengan tangan menepuk punggung Aqua. "Sekarang kau terlihat seperti bapak rumah tangga. Apron yang kau ambil juga kenapa berwarna merah muda?"


"Bapak rumah tangga?" Aqua mengulang kalimat itu, menahan tawanya. "Selama kau yang jadi ibu rumah tangga keluarga Hoshino, aku akan membuat lebih banyak makanan!"


Tangan Kana segera memukul punggung Aqua, wajahnya dengan cepat memerah. Rasanya gombalan Aqua sangat-sangat berlebihan. Dan terasa semakin banyak setiap harinya.

__ADS_1


...****************...


Makan bersama, nonton film bersama, tidur bersama dan yang paling penting, mereka menghabiskan waktu bersama. Sejak kemarin sore hingga pagi menjelang siang.


Keduanya sudah bersih dan wangi. Setelah sarapan habis, Aqua mengajak Kana untuk keluar rumah. Tidak akan jauh, dia hanya ingin mengajak Kana menghirup udara segar di desa. Dengan sepeda mengelilingi desa.


Sepeda dengan keranjang di depan dan satu boncengan di belakang mulai mereka naiki. Aqua menatap Kana yang untuk pertama kalinya keluar dengan baju lengan pendek ditambah kardigan berwarna pink dan rok selutut berwarna putih. Ditambah floppy hats, topi yang biasa dipakai untuk musim panas.


"Cantik..." Aqua bergumam dengan matanya yang tertuju pada Kana di belakangnya. "Pegang saja pinggangku," lanjut Aqua seraya menarik lengan Kana melingkar di pinggangnya.


"Apa sih! Aku bisa pegang jok sepeda!" Kana mencoba menarik tangannya tapi Aqua menahannya.


"Ayo berangkat!" balas Aqua.


Kakinya mengayuh pedal sepeda ke arah hutan desa. Diterpa angin musim panas yang mulai mendingin, rambut mereka bergoyang mengikuti angin. Suara sepeda terdengar mengisi keheningan diantara keduanya. Sapaan dan tawa anak-anak yang tengah bermain terdengar samar.


Memasuki hutan, Aqua menghentikan sepedanya di pinggir sungai. Tempat di mana Kana mengajaknya dulu bersama anak-anak. Tapi, untuk hari ini hanya ada dirinya dan Kana saja.


"Aku tidak bawa baju ganti." Kana mengingatkan seraya melepas cardigan dan sepatunya. Meletakkan di atas sepeda dan melangkah ke batu besar di pinggir sungai.


"Tempat ini selalu terasa spesial bagiku." Aqua duduk di dekat Kana. Memasukkan kakinya ke air. "Di sini ada pohon maple besar dan cantik."


Pohon maple yang tumbuh di dekat sungai menjatuhkan kembali beberapa daunnya. Daun yang jatuh ke sungai bergerak mengikuti aliran air dengan tenang. Seperti halnya Aqua yang merasa tenang saat duduk bersama Kana.


Sejak semalam, Kana menempel bagai perangko pada Aqua. Menautkan jemari mereka, berbagi cerita, berbagi selimut bahkan Aqua memeluk Kana saat tidur. Selama ini, memang Aqua tidak mengerti apa arti dari cinta itu sendiri. Dan ketika ia menemukan Kana, dia sadar bahwa hatinya akan segera berlabuh.


"Aku akan menunggu jawabanmu sepekan lagi." Aqua tersenyum menatap wajah Kana. "Aku akan menerima apapun keputusanmu. Jika memang kau tetap menolak perasaanku setelah ini tidak masalah untukku. Tapi, jujurlah pada dirimu sendiri tentang perasaanmu."


"Terima kasih atas kencannya. Aku sangat menikmatinya, meskipun tidak seperti kencan orang-orang di luar sana. Tapi, kau sangat hebat mengatur ini semua." Kana tersenyum. "Ini sangat menyenangkan."


"Terima kasih juga karena kau mau menerima ajakan konyolku." Aqua menahan tawanya.


Tangannya meraih daun maple yang jatuh di dekat mereka. Ia memberikannya pada Kana.


"Sebagai hadiah bahwa kita pernah berkencan dadakan di sini," ucap Aqua menahan tawanya. "Karena biasanya kalau setelah kencan ada hadiah untuk kekasihnya. Tapi, karena ini serba dadakan jadi--"


"Arigatou!" Kana meraih daun maple dari tangan Aqua. "Aku akan menyimpannya, bahkan jika sampai mengering pun, akan kusimpan. Sebagai hadiah darimu, sama seperti koper putih di kencan pertama kita."


Wajah Aqua bersemu merah, mendengar kencan pertama mereka bertahun-tahun lalu. Menemani Kana membeli koper baru. Di hari itu ia dengan sepenuh hati menyiapkan semuanya, seperti restoran yang ia reservasi hanya untuk makan berdua dengan Kana. Tapi, tak disangka ia terhasut untuk tidak dekat lagi dengan Kana karena ia seorang idol. Dan justru mengencani Akane.


"Waktu itu, aku masih remaja labil," sanggah Aqua seraya mengalihkan pandangannya.


Suara tawa Kana kini terdengar bersamaan dengan gemericik air. Ia menepuk punggung Aqua dengan pelan. Tahun di mana Kana dan Aqua menjadi orang asing untuk pertama kalinya. Tahun di mana Kana merasakan kehancuran karena dijauhi Aqua tanpa alasan yang jelas.


"Tidak apa, aku sudah melupakannya. Ya, walaupun sakitnya masih terasa. Sama seperti bulan-bulan kemarin juga seperti itu." Kana tersenyum meyakinkan dirinya sendiri. "Tapi, A-kun... Jika nanti aku menolakmu, bisakah kita tetap berteman baik?"


Wajah Aqua menegang, mendengar pertanyaan itu dari Kana. Ia tidak mau dirinya ditolak kesekian kalinya oleh Kana, karena dia tahu perasaan Kana padanya. Apa mereka akan berakhir menjadi teman saja sampai menua nanti?

__ADS_1


"Aku harus bersiap pulang!" balas Aqua dan segera berdiri turun dari atas batu. Melangkah mendekati sepedanya. "Ayo Kana!" seru Aqua tanpa ingin menatap mata gadis berambut merah itu.


...****************...


__ADS_2