Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Naskah Film (2)


__ADS_3

Ruby dan Mem duduk di ruangan Miyako, mereka sudah mengatur jadwal grup baru agensi mereka. Sementara Ruby sedang mengecek naskah miliknya. Miyako sibuk dengan jadwal yang lagi-lagi harus dia atur untuk Aqua dan Ruby.


"Apa kita punya mesin fax?" tanya Aqua pada Miyako ketika sampai di ruangan


"Fax? Zaman sekarang? Orang biasa pakai e-mail." Miyako mengerutkan alisnya bingung. 


"Begitu ya, jadi kita tidak punya?" Aqua kembali memastikan.


Miyako mengangguk pelan. "Ya, apa yang ingin kau kirim?"


Aqua membalikkan tubuhnya, meraih ponselnya. "Tidak ada fax di sini. Via e-mail saja." Aqua kembali melihat naskahnya di depan pintu. "Kau juga tidak punya e-mail? Pinjam saja, pinjam!"


Miyako menatap Aqua bingung, ditambah Mem dan Ruby yang sama herannya. Ternyata Aqua sedang menelpon seseorang.


"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Aqua, ia kembali menatap Miyako. "Apa ada fax dekat sini?" 


"Kurasa sulit. Apa yang ingin kau kirim? Mau kubantu?" tanya Miyako menawarkan bantuan.


"Pinjam e-mail ayahmu saja. Atau aku foto kan saja, bagaimana? Di sini sudah tidak ada fax. Kau pikir kita hidup di tahun berapa?" tanya Aqua seraya menaruh ponsel di telinganya. "Ya, kirim e-mail ayahmu. Aku akan coba mengirimnya hari ini."


"Mau aku bantu Aqua? Apa itu dari rumah produksi?" tanya Miyako pada Aqua yang terlihat sedikit emosi.


"Bukan, ini dari temanku," jawab Aqua, tak lama ia menutup teleponnya.


Segera Aqua duduk di samping Ruby, memeriksa ponselnya lagi. Matanya fokus menatap layar ponsel, dengan alis mengerut, bibirnya terkatup rapat.


"Dasar!" pekik Aqua kesal. Membuat semua dalam ruangan kini, menatap ke arahnya bingung.


"Kau baik-baik saja onii-chan?" tanya Ruby heran. "Kau perlu sekali mesin fax?" 


Aqua menggeleng. Ia segera menghubungi kembali nomor rumah Arima. Sedari tadi yang diajak telepon adalah Kana. Karena tidak punya ponsel jadi Aqua juga tidak bisa mengirim naskah padanya. Ditambah sedari tadi Kana hanya tertawa, seperti tidak mendengar penjelasan Aqua.


"Mana e-mailnya?" tanya Aqua setelah terhubung. 


"Aqua, kau bisa menghubungi ponselku saja untuk itu. Kana sedang di kamar, dia sudah meminta e-mail padaku." Akino menjawab telepon rumahnya.


"Ah… Gomen sensei. Kupikir tadi bukan kau yang akan menerima panggilan." Wajah Aqua berubah cepat, ia membungkuk pelan seraya mengusap wajahnya frustasi. Kenapa bisa yang angkat justru Akino.


Ruby dan Mem hampir tertawa melihat ekspresi Aqua yang berubah dengan cepat. Ditambah dia dengan cepat merubah cara bicaranya, menjadi formal.


"Aku minta e-mailmu, sensei. Nanti akan aku kirim. Karena di sini tidak ada mesin fax."

__ADS_1


"Tidak apa, Aqua. Mesin fax memang sudah sangat jarang. Di sini masih ada karena khawatir sinyal jelek."


"Ah iya… Maaf mengganggu waktumu." Aqua membungkukkan badannya. 


"Kau ini seperti dengan orang lain saja. Santai saja, aku kan juga tidak sesibuk dirimu." Akino tertawa pelan. "Selamat untuk drama barumu kemarin ya. Kami di sini menontonnya, episode satu sih!" tawa Akino terdengar lebih keras.


"Kalian menonton aktingku?" tanya Aqua kaget, antara senang dan malu. Apalagi ditonton oleh Akino yang sudah dianggap orang penting bagi Aqua.


"Iya, Karma yang mengusulkan. Oiya, Aqua... Aku tidak masalah jika kau ingin memanggilku dengan sapaan ayah loh..." Suara tawa khas Akino terdengar di ujung telepon.


Ayah? Aqua mengingat kembali kebaikan Akino padanya selama di desa. Dan perasaan hangat juga Aqua dapatkan saat bersama Akino. Selain Kana, Aqua sering meminta pendapat pada Akino tentang banyak hal. Sesekali Akino akan mengirimkan video tentang kehidupan, perjuangan hidup dan artikel berbobot pada Aqua dan mereka membahasnya bersama.


"Ah... Iya..." jawab Aqua pelan.


"Kalau begitu, sampai jumpa..." Akino memutus teleponnya.


Miyako mendekati Aqua. "Jadi, apa kau perlu bantuan?" tanya Miyako.


Aqua menggeleng. "Tidak perlu, aku sudah dapat e-mailnya." Aqua pun berdiri. "Aku perlu memberikan naskahku pada sensei agar dia membantuku berakting lagi."


"Jadi, tadi yang kau telepon adalah pelatihmu?" tanya Miyako.


Aqua mengangguk, mengingat ia memang menghubungi Kana. Tapi, tidak masalah jika mereka menganggap Akino adalah pelatih Aqua. 


Aqua mengangguk seraya tersenyum, ponselnya kembali bergetar karena pesan masuk. Aqua yakin itu pesan dari Kana yang tadi tidak bisa mengangkat. Aqua segera melangkah keluar dari ruangan Miyako dengan senyum tipis di wajahnya.


*****


Dalam sehari Kana sudah membaca seluruh naskah dari Aqua untuknya, ia menulis beberapa catatan kecil di sana untuk memberitahukannya langsung pada Aqua. Ia mengerjakannya dengan teliti. Kertas yang baru saja dicetak itu sudah penuh dengan coretan.


"Kau menelpon sepagi ini." Aqua duduk di meja makan meraih gelas dan mengisinya dengan air. "Aku baru bangun, harus menyiapkan beberapa sarapan juga."


"Aku belum tidur semalaman, jadi aku menghubungimu sepagi ini karena aku mau tidur setelah ini," balas Kana dengan malas. "Tapi, kalau kau sibuk aku tidur dulu sekarang…"


"Kau tidak tidur untuk membacanya? Kan bisa dilanjut pagi saja. Kalau ketahuan ayahmu pasti dia khawatir!" seru Aqua setengah panik. 


Ruby masuk ke dapur, menatap Aqua yang sudah di meja makan dengan ponselnya. Masih sepagi ini, pemuda itu sudah menelpon, betapa sibuknya...


"Jadi bagaimana? Kau mau sarapan dulu nih? Aku tidur dulu deh kalau begitu!" seru Kana yang setengah mengantuk.


"Yasudah sekarang saja." Aqua akhirnya menjawab seraya meraih buku dan pulpen di dekatnya. "Katakan saja apa yang harus kulakukan." Aqua melirik Ruby yang tengah memasak sarapan.

__ADS_1


"Naskahnya bagus, ceritanya menarik, setiap tokoh memiliki karakter yang kuat. Kurasa kau akan cocok mengambil pemeran utama yang plin plan dan bergerak menjadi villain dalam film ini."


"Ini seperti film lima belas tahun kebohongan maksudmu?" tanya Aqua seraya menyimak dengan seksama kalimat Kana.


Ruby melirik Aqua bingung, ia membicarakan film lama mereka yang sangat terkenal dengan pelatihnya. Apa pelatihnya juga tahu film itu. Ditambah cara bicara Aqua dengan pelatihnya yang sekarang, berbeda dengan cara bicaranya dengan pelatih yang kemarin.


"Berbeda, di film ini kau harus punya dasar ilmu bela diri juga. Walaupun pasti akan ada pemeran pengganti, tapi akan lebih baik jika kau juga pandai bela diri."


"Itu aku juga tahu…" Aqua menatap piring berisi roti dengan telur di atas meja, Ruby sudah duduk di hadapannya untuk sarapan seraya terseyum. "Aku tidak berminat mengambil pemeran utama…"


"Hah? Apa? Tidak minat?" tanya Kana tidak percaya.


"Iya aku tidak minat. Lagipula sudah jelas kan ada Himekawa Taiki yang terkenal sebagai aktor di genre action?" Aqua memakan rotinya.


"Terus kau mau menyerah?" tanya Kana kesal.


"Ya, pokoknya, pemeran utama atau bukan aku tidak peduli sih..." Aqua melirik Ruby dan kembali makan rotinya.


"Cih... Benar-benar kau ya!" Kana mendengus kesal. "Yasudah aku tidur saja! Aku begadang supaya kau mendapat pemeran utama! Aku juga menandai, membuat catatan untuk peran utamanya! Aku sampai kehabisan kata-kata!" seru Kana dengan nada kesal. 


"Saranmu apa?" tanya Aqua, suaranya melembut, mengingat Kana yang pasti sekarang sudah kesal dengan wajah cemberut dan merah.


Ruby menatap Aqua semakin heran. Ia ingin sekali menguping suara dibalik telepon pagi-pagi ini, tapi dia sadar percuma. Aqua mengecilkan suara dari ponselnya.


"Mati saja sana!" maki Kana kesal.


Kalimat kramat Kana. Aqua membulatkan matanya, rasanya ada sesak dan sakit di dadanya. Ini pertama kalinya ia mendengar Kana mengatakan kalimat itu setelah ia menghilang hampir tiga tahun lamanya. 


"Aku tidak ingin membantumu lagi! Aku ini membantumu supaya kau dapat peran utama! Tapi, kau malah bilang tidak ingin! Jadi, untuk apa aku membantumu! Padahal kau berbakat, kau punya segalanya, tapi kau tidak mau berjuang!" Kana berseru, suaranya terdengar gemetar. "Aku tutup teleponnya! Jangan menghubungiku lagi! Berjuang saja sendiri seperti biasanya!"


Kana menutup teleponnya kesal. Sementara Aqua hanya terdiam mencerna kalimat Kana untuknya. Rasanya ia tertampar kenyataan lagi dan lagi. Kana membantunya karena permintaanya. Dulu, gadis itu membantu dengan tubuh gemetar demi Aqua. Sekarang Kana juga membantu Aqua sampai tidak tidur. Hanya karena Aqua adalah temannya, dia berusaha semaksimal mungkin.


Aqua mengacak rambutnya frustasi. Ia memandangi ponselnya, membuang napas keras. Berdiri dari kursi makannya dengan wajah sedih. Ruby mengamati Aqua yang seolah dicampakkan itu dengan serius. Sekarang Ruby sudah dengan mudah membaca setiap ekspresi Aqua. Semula ia menatap dengan tatapan senang, dan berubah menjadi sedih.


"Onii-chan… Kau tidak sarapan?" tanya Ruby.


Aqua meraih piringnya. "Aku makan di kamar ya, tidak apa kan?"


"Apa ada masalah?" tanya Ruby khawatir.


Aqua mengalihkan pandangannya, membalikkan tubuhnya. "Ya, aku mangacaukannya." Aqua melangkah keluar dapur.

__ADS_1


*****


__ADS_2