Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Teman


__ADS_3

"Maaf ya, Arima…." Aqua menghentikan langkahnya. "Karena aku kau semakin menderita…."


Kana ikut menghentikan langkahnya, melirik Aqua yang sudah menundukkan kepalanya. Kana memukul kepala Aqua keras.


"Bukan salahmu, bodoh!" maki Kana sambil tertawa pelan. "Nasibku saja jelek!" Kana kembali melangkah.


Bukan salah Aqua bagi Kana tentang kasus pembunuhan oleh Kamiki Hikaru itu. Bukan sama sekali. Bagi Kana itu semacam teguran untuknya.


Tatapan Aqua sedih, ia menahan lengan Kana. "Untuk kali ini, aku benar-benar minta maaf. Kau boleh marah denganku, membenciku atau bahkan menjauhiku. Aku hanya ingin kau mengatakan bahwa kau memaafkanku, Arima."


Tidak mengerti maksud Aqua, tapi ini mengganggu bagi Kana. Aqua yang terbiasa dingin dan memberikan ekspresi seperti ini membuat Kana lemah. Ia berusaha untuk terlihat santai seraya membenarkan posisi kacamatanya, menatap kepala Aqua yang masih menunduk itu. Kana kembali memukul kepala Aqua kesal.


"Udahlah lupakan saja, aku juga tidak merasa kau salah kok. Semuanya murni nasib sialku saja. Sungguh!" seru Kana.


Semua memang nasib sial bagi Kana. Sejak dia kecil saja, dia sudah ditinggal orang tuanya, saat remaja bekerja sendirian, saat mulai lulus SMA malah jadi terseret korban pembunuhan. Jika bukan karena sial, lalu karena apa?


Aqua mengangkat wajahnya, menatap Kana dengan wajah memerah. Kana berusaha mengalihkan wajahnya. "Aku serius merasa bersalah. Kau hampir mati karenaku, kau trauma berat karenaku. Kenapa… Kenapa…."


"Hey... Aku juga pasti menyakitimu ya. Kau kaget karena aku masih hidup, berdiri di hadapanmu seolah aku baik-baik saja. Kau sudah hebat, A-kun. Jangan terus merasa bersalah. Oke!" Kana memukul punggung Aqua keras. "Jadi, aku sudah lapar. Bicaranya nanti lagi!"


"Kenapa kau berbohong, Arima?" tanya Aqua dengan suara rendah. "Kenapa kau berpura-pura kuat berdiri di hadapanku? Kenapa kau berpura-pura baik-baik saja, padahal kau sedari tadi takut melihatku, kan?" Aqua menatap punggung Kana sedih.


"Apa maksudmu, A-kun?" suara Kana terdengar bergetar.


"Aku tahu kau tidak pandai berbohong, Arima. Sejak tadi aku terus menatap matamu, tapi kau selalu menghindari tatapanku. Setiap berbicara denganku, kau hanya akan mengalihkan pandanganmu atau kau hanya menatap topiku saja. Ini membuatku semakin sedih."


Kana mengeraskan rahangnya. Ia membalikkan tubuhnya. "Lalu aku harus apa?" Kana setengah berteriak. "Aku harus apa? Kau temanku! Tapi wajahmu benar-benar mirip! Aku harus apa!"


Tubuh Kana sudah bergetar, tangannya meremas overallnya sekuat tenaga. Kana menahan teriakannya, wajahnya sudah memerah. Ia ingin sekali melupakan kejadian malam itu, tapi terlalu sulit ketika dihadapkan dengan Aqua.


Aqua mendekati Kana, sejak awal Kana tak menatap langsung mata Aqua. Kana akan mencoba menatap baju atau topi yang Aqua kenakan, ia menghindar menatap wajah pemuda itu sebisa mungkin. Mengganti dengan terus tersenyum dan tetap berusaha akrab, meski rasanya tidak nyaman.

__ADS_1


"Jika datangnya aku ke sini membuatmu semakin terluka, aku akan pulang besok." Aqua berdiri di belakang Kana. Ingin rasanya ia membalikkan tubuh Kana agar menatapnya, namun dia tahu bahwa trauma tidak hilang dengan cepat.


PTSD pernah Aqua alami, dan itu masih sulit untuknya, bayang-bayang kematian Ai terus menghantuinya. Dan, ia tahu bahwa Kana mengalami hal yang sama sepertinya, meski tidak jelas trauma apa yang ia miliki.


Pelupuk mata Kana sudah penuh dengan air mata, dalam sekali kedipan tumpah semua ke pipi. Ia merasa sangat bersalah pada Aqua.


"Aku sudah sangat senang kau masih hidup dengan baik di sini. Kau tidak menyerah begitu saja." Aqua mencoba untuk tidak gemetar saat mengucapkan kalimat tersebut. "Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Jika memang aku sangat membuatmu ketakutan, aku akan pulang walaupun itu menyakitkan untukku.


Kana tidak pernah berpikir akan bertemu dengan Aqua di sini. Ia merasa dirinya sudah cukup jauh dari Tokyo, tapi kenapa bisa ia bertemu Aqua di sini? Dan itu bukan sebuah kebetulan, Aqua juga tidak tahu jika ada Kana di desa ini.


Kana menghapus air mata di pipinya. Mencoba membalikkan tubuhnya, mendongakkan kepalanya menatap Aqua yang sudah sama sedihnya seperti Kana.


"Kita teman, kan? Pokoknya jangan pergi dari sini! Aku hanya belum terbiasa saja tahu!" seru Kana dengan suara gemetar. "Apa ada teman yang meninggalkan temannya yang ketakutan!"


Aqua menundukkan wajahnya, menatap kembali Kana yang masih tidak bisa fokus menatap ke wajahnya. Tubuh Kana masih bergetar, ia mencoba menatap Aqua namun justru dia memandang langit, menguatkan diri untuk melirik wajah Aqua namun tetap ia tidak mampu.


Sekelebat memori wajah Hikaru menghampirinya, seolah mendengar tawa dan ajakan menjijikan dari Hikaru. Kana mencoba melupakan rasa takut itu, tapi Hikaru mendominasi pikirannya dibanding kenangannya bersama Aqua.


Ini pasti menyakitkan untuk A-kun. Pikir Kana.


Senyum tipis menghias wajah Aqua yang terlihat sedih. Ia mendekati Kana, berdiri di samping Kana. Rasanya pasti menyakitkan, namun perasaan Aqua juga sama menyakitkannya. Ia seperti membunuh Kana perlahan. Tapi, Kana mengatakan untuk membiarkan Aqua berada di dekatnya dan tidak mengusirnya.


"Tidak apa, aku akan menemanimu yang ketakutan. Pelan-pelan saja." Aqua meraih jemari Kana, wajah gadis berambut merah itu sudah memucat dengan keringat yang membasahi keningnya.


Tangan Kana yang semula masih gemetar, akhirnya perlahan berhenti. Aqua tersenyum ketika menyadari bahwa Kana sudah membaik dari sebelumya.


"Ayo kita makan. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kau memintaku untuk tetap di sini menemanimu yang ketakutan." Aqua mengelus kepala Kana lembut, menyentuh rambut halus merah Kana.


"Gomen ne…." bisik Kana.


Aqua melangkah diikuti Kana di sebelahnya.

__ADS_1


...****************...


Aqua duduk di samping Kana yang tengah menyisihkan paprika dan sawi dari piringnya. Sementara Aqua sudah hampir menghabiskan setengah makan siangnya. Di peternakan Ishigami semua mendapat jatah makan siang, dan siang ini adalah nasi kari dengan ayam goreng katsu. 


Aqua dan Kana duduk di meja pojok dekat jendela. Sementara meja lain sudah penuh karena semakin siang. Suara ramai para pekerja di peternakan dan pertanian mulai terdengar. Beberapa bahkan tertawa dan berdiskusi tentang banyak hal. Termasuk Ishigami Yuu yang sudah menghambur bersama pekerja lain.


"Kau mau menemaniku berkeliling desa?" tanya Aqua pada Kana yang sibuk mengunyah nasi.


Kana menganggukkan kepalanya. "Nanti sore saja."


"Sore?"


"Aku harus tidur siang. Jadi baru bisa keluar sore hari." Kana menjawab dengan terus mengunyah makanannya. "Tapi, kalau mau setelah ini akan kuusahakan."


"Tidak perlu, kau perlu istirahat. Nanti aku akan menjemputmu di rumahmu." Aqua memotong penjelasan Kana. Mata Aqua tidak berhenti menatap Kana di sampingnya. "Apa kau tidak ingin memberitahu Ruby, Mem dan Direktur bahwa kau masih hidup?"


"Untuk apa? Aku lebih senang, semua orang tahu aku sudah mati." Kana menjawab sambil terus mengunyah makanannya. "Kau pun sama bukan? Kau jiwa yang hidup lagi."


Aqua terdiam, ia menatap Kana tidak percaya. Seolah tertembak dengan senapan. Pertanyaan kini memenuhi pikiran Aqua. Bagaimana bisa Kana mengetahui bahwa dirinya adalah reinkarnator (seseorang yang hidup kembali). Siapa yang memberitahu Kana tentang ini?


"Apa maksudnya?" tanya Aqua seraya menyendok nasinya.


"Bagaimana ya aku menjelaskannya. Sebenarnya aku juga tidak percaya saat mendengar percakapan antara kau dan Ruby sebelum konser musim panas. Tapi semua jelas ketika aku bertemu seseorang."


"Seseorang? Siapa?"


Penasaran, itu sudah pasti. Aqua tidak pernah memberitahu siapa pun bahwa dia reinkarnator. Atau dia juga tidak pernah bertemu dengan orang-orang yang ia kenal semasa Gorou Amemiya dulu.


"Gadis gagak." Kana meletakkan sendoknya. Ia menopang dagunya. "Dia juga yang membunuh Hikaru Kamiki."


"Apa?"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2