
...Terima Kasih sudah mampir ^^...
...****************...
Ruang tamu lengang, hanya terdengar bunyi jarum jam. Aqua hanya diam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Kana yang tepat sasaran. Kana membuang napas.
"Bisa tatap balik mataku? Kau tahu betapa takutnya aku menatapmu sekarang?" tanya Kana mencoba tetap tenang, meskipun tangannya gemetar.
Setelah mendengar kalimat Kana, akhirnya Aqua menatap balik Kana yang sangat berusaha menatap dirinya. Wajah Kana bahkan sudah pucat, tapi dia masih menatap Aqua di sampingnya. Kana juga merubah posisi duduknya menghadap Aqua.
"Kau tidak perlu memaksakan dirimu--"
"Tidak perlu memaksakan diri bagaimana maksudnya? Aku sengaja membantumu agar aku tidak takut denganmu lagi!" potong Kana seraya mengambil napas yang hampir sesak. "Sama sepertimu…. Ayo kita keluar dari zona yang bernama trauma." Kana menjulurkan tangannya pada Aqua.
"Aku tidak memiliki–"
"Apanya yang tidak punya!" Potong Kana lagi, kali ini suaranya terdengar lebih keras. "Kau merasa bersalah padaku kan? Kau mencoba untuk menyalahkan dirimu karena melihatku yang menjadi korban pembunuhan ayahmu, kan? Dan kau tahu aku mati dan faktanya aku masih hidup dengan trauma berat." Kana menatap Aqua dengan wajah memerah, matanya sudah basah. Ia mendekati Aqua, memperpendek jarak di antara mereka.
"Ah-kun, aku sudah bahagia sekarang. Meskipun aku berada di sini, meskipun aku tidak bisa berdiri di depan kamera, meskipun impianku harus terkubur. Aku sudah bahagia."
Kana meraih tangan Aqua, menangkupnya. "Jadi, ayo lupakan rasa bersalahmu itu padaku. Kau juga berhak bahagia. Balas dendammu sudah berakhir, dan sekarang kau harus hidup dengan baik. Buatlah kenangan indah dan ekspresikan apa pun yang kau rasakan dari hatimu. Kau boleh tertawa, memaki orang lain dan melakukan semua yang kau inginkan."
Aqua menatap Kana yang sudah menangis, tangan Kana gemetar hebat, ia sangat berusaha membuat Aqua untuk menghilangkan rasa bersalahnya, berhenti menyalahkan dirinya sendiri dan kembali ke dirinya yang dulu.
"Goro Amemiya atau pun Aqua Hoshino berhak untuk bahagia." Kana tersenyum dengan wajah merah dan basah.
Sudah sangat lama Aqua tidak mendengar seseorang menyebut namanya sebelum dia reinkarnasi. Tanpa aba-aba Aqua menarik Kana ke pelukannya, ia hanya merasa Kana sangat berjuang membantunya, padahal wajahnya pucat dengan tangan gemetar, bahkan tubuhnya masih gemetar dalam dekapan Aqua.
"Aku minta maaf, Arima. Aku selalu membuatmu sedih. Aku bukan teman yang baik untukmu, kau selalu membantuku padahal aku selalu memanfaatkanmu. Sekarang kau berjuang menatapku, kau memang tidak pandai berbohong, Arima." Aqua menahan isakannya, wajahnya sudah merah dan basah oleh air mata.
__ADS_1
Suara Aqua terdengar pelan dan bergetar. Kana ikut menangis dalam dekapan Aqua, ia mencoba menahan isakannya. Ini pertama kali pria bermata biru itu memeluknya. Seperti ada sesuatu yang bergejolak di hati Kana. Dada bidang Aqua membuatnya nyaman. Tangannya mencoba memeluk punggung Aqua.
"Terima kasih karena tidak menghindariku…" Aqua mengeratkan pelukannya pada Kana, ia tidak tahu apakah perlakuannya pada Kana ini pantas, tapi dia hanya ingin melakukan ini pada gadis yang sudah lama ia harapkan kehadirannya, meminta maaf dengan tulus.
"Lupakan semuanya, ayo kita mulai dari awal. Kau tidak perlu membawa rasa bersalahmu padaku." Kana membalas ucapan Aqua.
Rasa bersalah. Atau rasa yang tidak bisa Aqua sampaikan pada Kana. Rasa yang mengganggunya selama Kana menghilang dan dikabarkan meninggal. Sutradara Gotanda, Mem, Miyako sudah mengatakannya berkali-kali, tapi dia mencoba melupakan perasaan itu, bahkan menghilangkannya. Tapi, lagi-lagi Kana berhasil membuat rasa yang harusnya hilang dan lenyap dari hati Aqua kembali bertahan. Meski, Aqua tidak tahu kapan dia akan berani mengungkapkannya.
Aqua melepas pelukannya, menatap Kana yang segera mengubah posisinya. Menghapus air matanya.
"Aku akan mencobanya." Aqua tersenyum menatap Kana yang ikut tersenyum membalas tatapan Aqua padanya.
Akino melangkah ke ruangannya, duduk di kursinya, tersenyum menatap foto Kana saat berusia 3 tahun itu.
"Benang merahmu akan terhubung dengannya," ucap Akino.
...****************...
"Kudengar dari Karma kau mengajarinya tadi ya? Apa kau pernah belajar ilmu kedokteran?" tanya Akino di depan gerbang rumahnya.
"Iya," jawab Aqua bingung. Sudah sangat lama, mungkin jika dia masih hidup pun usianya sudah setua Arima Akino.
"Hebat ya ternyata aktor itu. Kau pasti banyak mendapat ilmu baru." Akino menepuk bahu Aqua. "Hoshino-san boleh aku meminta tolong padamu?"
"Ya?"
"Besok aku akan mengantar Karma ke Tokyo untuk mencari apartemen. Tapi, Kana tidak ikut. Apa kau mau menemaninya di sini? Menginap dan tidur di kamar Karma tidak masalah. Aku hanya takut rumah mati lampu dan Kana akan berteriak tidak karuan." Akino memerhatikan ekspresi Aqua yang kaget bercampur bingung. "Tapi, jika kau keberatan tidak masalah untuk menolak."
"Akan kutemani." Aqua dengan mantap menjawabnya. Akino menepuk punggung Aqua seraya tersenyum lebar.
__ADS_1
"Arigatou… Aku akan mengatakannya pada Kana besok. Sekarang kau bisa pulang dan istirahat." Akino tersenyum, ia menyodorkan coklat pada Aqua. "Makanlah, kau akan merasa lebih tenang."
Aqua membungkuk sopan dan pergi keluar gerbang keluarga Arima, pulang ke rumahnya. Aqua tidak menyangka Kana memiliki ayah yang begitu perhatian padanya, saat dia kecil mungkin tidak dekat dengan ayahnya karena sibuk melakukan banyak kegiatan bersama ibunya. Tapi, Akino, Kana dan Karma memiliki satu kesamaan, mereka tidak pandai berbohong.
...****************...
Hari kedua di peternakan Ishigami. Kana sudah dengan semangat memberikan makan pada sapi dibantu Aqua. Memandikan dan memerah susu sapi. Hari ini selesai lebih cepat dari kemarin. Kana terlihat sangat menikmati harinya di peternakan.
"Ayahmu sudah berangkat?" tanya Aqua ketika mereka keluar dari kandang sapi.
"Sudah, berangkat pagi-pagi sekali."
"Apa ayahmu mengatakan sesuatu padamu?" tanya Aqua memastikan apakah Kana tahu bahwa Aqua akan menemaninya malam ini.
"Kau akan tinggal di rumahku, kan?"
"Tidak masalah untukmu, kan?" tanya Aqua memastikan.
"Tidak masalah sama sekali, aku justru senang karena ada yang menemani."
"Kau biasanya akan berteriak atau merespon berlebihan karena kita wanita dan pria." Aqua mengingat kejadian di apartemen Kana beberapa tahun lalu.
Langkah Kana terhenti, menatap Aqua dan terkekeh pelan. "Kita ini hanya teman, lagipula aku tidak akan mengambil pria yang sudah mau menikah…." Kana mengalihkan pandangannya, "walaupun dengan adiknya sih."
Gadis dengan rambut merah itu kembali melangkah. Aqua hanya menatap punggung Kana yang sudah menjauhinya. Semalam memang obrolan yang cukup intim. Membuka trauma dan menghapusnya bersama, tanpa Aqua sadari wajahnya lebih bersinar dari sebelumnya. Sementara Kana terlihat lebih percaya diri menatap wajah dan mata Aqua.
Kalimat Kana barusan mengganggu Aqua, dia tidak pernah berpikir akan menikahi adiknya sendiri, tidak pernah sama sekali. Ya, Aqua sadar dirinya terikat janji menikahi Ruby sebelum dia bereinkarnasi dulu.
...****************...
__ADS_1