
Akting Aqua menangis menjadi scene terakhir untuk film yang disutradarai Gotanda. Pecah tangis Aqua ketika memerankan pemeran utama bernama Alan yang mengetahui partnernya tewas demi menyelamatkan dirinya. Aqua tidak berhenti menangis bahkan setelah sutradara Gotanda berteriak "CUT" dengan sangat keras.
Dua bulan sudah syuting film dengan genre action itu dilakukan. Scene terakhir tadi sebagai penutup juga. Film akan tayang di waktu libur musim panas.
Gotanda menepuk punggung Aqua yang masih terisak. Ia sampai sulit berhenti untuk menangis. Air matanya tadi membayangkan kematian Kana yang jika memang Kana mati tanpa hidup lagi. Dan ia masih berharap Kana mau menghubunginya karena Aqua sudah tidak pernah menghubungi Kana lagi selama dua bulan ini.
Aqua masuk ke kamar mandi mencuci mukanya dengan air. Wajahnya sudah merah dengan mata sedikit bengkak, bahkan suaranya sudah serak karena berteriak dan menangis.
Setelah hari pertanyaan Miyako itu, Aqua sadar bahwa dia harus terus mengubur perasaannya pada Kana. Ia sadar bahwa Kana juga melakukan hal yang sama, menjauhi Aqua adalah cara Kana untuk tidak menyukai Aqua lagi. Ditambah Kana sudah memutus benang merahnya dengan Aqua.
Sakit hati. Aqua tidak ingin menerima ini begitu saja tanpa kejelasan. Aqua hanya ingin dia tetap menjadi teman untuk Kana begitu sebaliknya. Tapi, kenapa Kana justru menjauhinya? Kenapa dia tidak pernah menghubunginya? Tidak bertanya kabarnya. Padahal hubungan Karma dan Aqua baik-baik saja. Mereka masih pergi bersama ke gym, Aqua berusaha untuk mencari jawaban dari Karma. Tapi, Karma sepertinya memang tidak tahu lebih banyak tentang Kana karena dia tidak tinggal bersama.
"Kita akan melakukan trip ke Kyoto!" seru Gotanda penuh semangat. "Tripnya selama lima hari. Jadi bersiap ya, untuk merayakan selesainya film kita!"
...****************...
"Kana!" panggil Karma ketika melihat Kana yang hanya diam saja sejak kepulangan Karma dua hari lalu.
Tidak seperti biasanya Kana hanya diam dengan radio di atas meja, memutar radio dan terkadang mengetuk pelan radio karena bosan. Buku catatan yang terbuka tidak ada goresan tinta di sana. Sudah hampir seharian Kana hanya duduk termenung, tidak ingin menyiapkan makanan atau membersihkan rumah.
"Kenapa sih?" tanya Karma dan langsung mengambil posisi di hadapan Kana. Mematikan radio yang mengganggu pendengarannya sejak pagi. "Apa yang ingin kau dengar? Berita tentang apa?"
"Tidak ada," jawab Kana, menutup buku catatannya.
"Kau belum menghubungi Aqua?" tanya Karma lagi.
Bukan menjawab, Kana bangkit berdiri. Ia menghindari pertanyaan tentang Aqua yang ditujukan kepadanya. Bahkan ketika Karma pulang dari Tokyo, kalimat pertanyaan itu terus ditanyakan Karma.
"Mendiamkan teman sendiri apa rasanya enak untukmu? Si Aqua setiap hari bertanya kabarmu padaku, kenapa tidak menghubunginya saja sih?" tanya Karma gemas, ia menahan lengan Kana untuk duduk di sampingnya.
"Bukan urusanmu..." Kana mencoba melepas tangan Karma di lengannya.
"Ya, tapi itu menggangguku. Apa kau tidak merasa kasihan pada temanmu itu? Katanya kalian teman, kan..." Karma menarik paksa Kana, sedetik kemudian gadis itu duduk di sebelahnya. "Berbaikan saja..."
"Kami tidak bertengkar," jawab Kana datar.
"Terus apa? Tidak mengangkat telepon dari Aqua berhari-hari, itu menyakitinya." Karma memberikan komentarnya.
"Kalau semakin akrab akan semakin menyakitinya," jawab Kana, ia menundukkan kepalanya.
Tangan Karma mengelus lembut puncak kepala Kana. "Kau menyukainya ya?" bisik Karma di telinga Kana.
"Tidak!" jawab Kana cepat dengan suara melengking. "Tidak sama sekali!"
__ADS_1
"Bohong tuh!" ledek Karma, menyadari kedatangan Akino di ruang tamu, Karma segera berdiri. "Ayah, sepertinya Kana mendiamkan Aqua sudah sangat lama. Bukankah Kana kekanakan?"
"Kau tidak mengerti!" Kana ikut berdiri menunjuk Karma dengan wajah merah, menahan emosi. "Tidak ada yang mengerti tentangku!"
Ruang tamu lengang, hanya terdengar suara jarum jam yang berdetak. Suara napas Kana yang memburu, dan akhirnya menangis.
"Apa yang membuatmu sampai seperti ini Kana?" tanya Akino seraya memeluk Kana, mencoba menenangkan gadis kecilnya yang sudah menjadi wanita dewasa. "Aqua tidak bersalah, dia menerima dan mengikuti semua permintaanmu. Dia teman yang baik untukmu, lalu kenapa kau tidak kunjung menghubunginya?"
Suara isakan Kana semakin keras. Kana tidak pernah mau mengutarakan seluruh keluh kesahnya pada Akino, ia hanya menyampaikan beberapa hal penting saja tanpa ingin mengatakan perasaan sebenarnya. Tentang benang merah yang pernah ia katakan, Akino tidak mendapatkan alasan dari Kana kenapa memutusnya dan segala sesuatu yang Kana minta tanpa memberikan alasan yang jelas.
"Meminta maaf bukan masalah besar. Dekat kembali dengan temanmu juga bukan masalah besar. Menghindarinya hanya akan membuat luka, dia temanmu satu-satunya kan?" Akino mengecup puncak kepala Kana lembut.
"Jadi, ayo minta maaf dan hubungi Aqua, agar kau bisa terus memiliki teman sebaik dirinya."
...****************...
Persiapan liburan ke Kyoto membuat Aqua harus menemani Ruby membeli baju, tas dan koper baru lagi. Aqua sampai tidak paham dengan saudara kembarnya yang gemar sekali membeli sesuatu yang masih bisa dipakai.
"Aku akan membeli semua yang warna merah muda!" seru Ruby penuh semangat. "Kau juga harus beli baju baru!" seru Ruby.
Aqua tidak berniat belanja, ia hanya menunggu di luar toko dengan tangan penuh belanjaan Ruby. Aqua kembali meraih ponselnya. Karma mengatakan bahwa dia pulang ke rumah, sementara Aqua mengatakan sedang berbelanja baju menemani Ruby.
Enggan sudah Aqua menanyai kabar Kana dari Karma. Rasanya dia lelah berjuang. Kana memang tidak ingin diperjuangkan juga. Jadi, sia-sia. Aqua merasa Kana harus segera ia lupakan, entah bagaimana caranya. Apa dengan cara memiliki kekasih? Atau dengan cara menjauhinya seperti ini. Aqua hanya ingin Kana tetap menjadi temannya, bagaimana akhirnya mereka tidak akan bersama untuk sepasang kekasih Aqua tidak peduli. Tapi, dia hanya ingin Kana menjadi temannya.
Karma tiba-tiba menghubungi Aqua, tanpa berlama-lama Aqua segera mengangkatnya. Aqua mengucapkan salam pada Karma, tapi dari ujung telepon tidak ada balasan.
Kaki Aqua melemas, ia duduk bersandar di dinding mall. Rasanya ia ingin menangis, betapa sudah terasa sangat lama untuknya tidak mendengar suara Kana.
"Kenapa kau baru menghubungiku? Kau tahu berapa lama aku khawatir!" seru Aqua setengah berteriak.
Orang-orang yang lewat, menatap Aqua heran. Ruby sampai berdiri mendekati Aqua karena takut dia mengamuk pada orang lain, tapi ternyata dia sedang menelpon.
"Kenapa seperti ini padaku?" tanya Aqua dengan nada sedih, ia berjongkok menutupi wajahnya yang sudah memerah. "Katanya kau temanku, katanya kau temanku…"
Ruby berdiri di belakang Aqua, ingin memeluknya, seperti kakaknya yang memeluk Ruby setiap dia menangis. Namun, dia urung.
"Kenapa tidak jawab?" tanya Aqua dengan suara pelan dan terdengar penuh luka.
"Aku akan tetap menjadi temanmu kok, kemarin aku sedang galau saja."
Aqua menatap ponselnya, "Kenapa kau sampai segitunya menjauhiku." Aqua kembali menaruh ponsel di telinganya. "Kau tidak menjawab telepon dariku dan baru sekarang meneleponku! Kau tahu itu menyakitkan untukku!"
Kana tertawa pelan. "Ayah dan Karma memaksaku untuk meminta maaf padamu. Kekanakan ya? Oke, aku minta maaf."
__ADS_1
"Sangat seperti bocah!" seru Aqua kesal.
Kawa tertawa lagi. "Iya, aku memang seperti bocah. Maaf ya… Pokoknya aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Aku akan telepon lagi nanti malam, kau harus angkat!" paksa Aqua.
"Akan kuusahakan." Kana tertawa pelan. "Aku sedang bersiap untuk jalan-jalan bersama Karma dan ayah. Jadi, aku takut sibuk dan tidak bisa mengangkat telepon darimu."
"Kemana?" wajah Aqua berubah seketika.
"Ke suatu tempat! Pokoknya keluar dari desa. Jadi, aku perlu menyiapkan mentalku sekuat baja dan mulut setajam ujung anak panah."
Aqua menutup mulutnya, tertawa pelan. "Jelek sekali perumpamaannya."
"Berisik!" pekik Kana. "Kalau begitu sampai jumpa lagi!"
"Ya, sampai jumpa lagi…"
Aqua berdiri, meraih semua tas belanja Ruby. Betapa kagetnya dia menemukan Ruby di belakangnya. Beruntung Aqua segera memakai masker dan kacamata hitamnya jadi wajah merah dan mata merahnya tidak terlihat Ruby.
Tapi, Ruby sudah berdiri dan mendengar percakapan Aqua sejak tadi. Meski tidak tahu siapa yang diajak bicara Aqua, tapi Ruby melihat ponsel Aqua yang menghubungi Karma.
Ruby tersenyum, meraih lengan Aqua dengan tas belanja di tangan satunya. Tangannya melingkar dengan erat. Seolah tidak ingin melepas Aqua.
"Kau mau beli sesuatu?" tanya Ruby pada Aqua.
Aqua masuk ke dalam toko baju perempuan tadi, Ruby mengikuti langkah Aqua. Mereka berhenti di depan jaket olahraga berwarna putih dan segera meraihnya, membawa ke kasir dan membayarnya.
"Untuk siapa?" tanya Ruby.
"Untuk temanku yang pernah aku ceritakan itu. Dia tidak menghubungiku selama 2 bulan dan tadi baru saja dia meneleponku lagi, jadi aku akan kirimkan ini untuk permintaan maafku." Aqua menjawab tanpa ingin menatap Ruby. Ada senyum tipis di wajah Aqua, sebuah kebahagiaan untuknya karena telah berdamai dengan Kana.
"Kau tidak mau memilih yang lain? Kau langsung mengambil tanpa melihat barang lain." Ruby bertanya lagi.
"Tidak perlu, aku yakin dia akan menerima tanpa mengomel."
"Kenapa begitu?" tanya Ruby bingung.
"Karena biasanya aku yang akan mengomel untuk tidak boleh protes." Aqua tersenyum mengatakan kalimat itu. "Mungkin kau bertanya kenapa aku seperti ini. Dia teman terbaikku, jadi aku merasa sakit hati saat dia menjauhiku. Aku hanya punya dia sebagai temanku, yang menerimaku bahkan sampai ke semua kebohonganku."
Ruby menatap Aqua, melingkarkan tangannya di lengan Aqua. "Ya, kau hanya punya sedikit teman. Dia pasti sangat berharga untukmu, onii-chan."
Aqua mengelus kepala Ruby lembut. "Sangat!" balas Aqua.
__ADS_1
Ada rasa sakit di hati Ruby ketika melihat Aqua tersenyum dengan sangat tulus seperti itu. Entah siapa temannya itu, tapi Ruby merasa perasaan Aqua bukan sekedar teman saja. Dan semoga Ruby bisa memendam rasa cintanya pada Gorou lagi, karena selama ini Ruby berusaha dengan sangat keras untuk melupakan Gorou yang sudah bersemayam di tubuh Aqua.
...****************...