Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Menagih Janji (Lagi)


__ADS_3

Kepergian Aqua diantar Karma ke stasiun. Pamit dengan senyum di wajahnya. Ada rasa sedih di hati Kana setelah kepergian Aqua. Pertanyaan terakhir di pinggir sungai menjadi akhir perbincangan mereka. Kana hanya ingin mereka tetap menjadi teman meski kelak tidak bisa bersama sebagai pasangan.


Jawaban tentang pernyataan Aqua pada Kana sudah ia putuskan. Tapi, sebelum memberikan jawaban melalui chat, Kana harus memastikan beberapa hal. Terutama tentang Ruby.


Alasan paling kuat, Kana menolak perasaan dan ajakan menjadi kekasih Aqua karena Hoshino Ruby, lebih tepatnya Sarina.


Tatapan Ruby selama melihat Kana sulit untuk dijelaskan. Benang merah di jari kelingkingnya pun masih berwarna merah muda. Tidak menjadi merah gelap meski ia bersisian dengan Aqua.


Sifat Ruby jika diperhatikan pun semakin manja. Untuk usia gadis dua puluh tahun, rasanya terlihat seperti bocah yang sedang melindungi barang kesayangannya. Terkadang tatapan tidak suka ia tunjukkan pada Akane, dan itu cukup membuat Kana tidak percaya.


Jika reinkarnasi keduanya benar adalah pemindahan jiwa, maka Sarina benar-benar terjebak di usia 12 tahun dan tidak berkembang layaknya usia Ruby yang asli. Ada banyak hal yang masih diselidiki Kana, dan ia harus bertanya pada ahlinya.


...****************...


"Tadaima!" Aqua masuk ke dalam rumahnya.


Televisi masih menyala di ruang tengah, Miyako tengah memasak makan malam di dapur. Langkah Aqua berhenti di kamarnya, menatap Ruby yang sudah berbaring di atas kasurnya dengan celana pendek dan tanktop berwarna merah muda.


"Okaeri, onii-chan!" sambut Ruby dengan senyum mengembang, ia duduk di ujung ranjang kamar Aqua. Membuka lebar tangannya seolah meminta pelukan.


"Kembalilah, Ruby..." tukas Aqua seraya meletakkan tas besarnya di atas meja belajarnya. Membongkar tas yang penuh dengan baju kotor. "Aku ingin istirahat."


"Aku akan tidur bersamamu," ucap Ruby seraya menarik selimut Aqua.


"Sekarang waktunya makan malam. Jadi, keluarlah..." Aqua mendekati pintu kamarnya, berdiri di sana seraya membuka pintunya lebar. "Kuharap kau tahu batasan tentang laki-laki dan perempuan, Ruby."


"Kau bahkan tidak mengerti batasan itu, onii-chan..." Ruby tersenyum mendekati Aqua. "Kau tidur bersama senpai selama dua malam. Kau bahkan memeluknya saat tidur. Jadi, untuk apa kau bicara tentang batasan itu sendiri?"


Aqua terdiam, mengamati wajah Ruby. Selama ini dirinya diam karena menganggap Ruby adalah Sarina. Tapi, semakin dia diam, Ruby selalu menagih tentang janji mereka dulu. Bahkan terkadang ia tidak segan memeluk Aqua dengan pakaian minimnya. Sudah pernah Aqua menolaknya, tapi entah kenapa gadis ini tidak juga paham.


"Soal itu, aku berencana untuk menikah dengan Kana." Aqua menjawab dengan seringai tipis.


Mata Ruby membesar seketika, tangannya segera memukul dada bidang Aqua sekuat tenaga. Mulutnya ikut bersuara, ia berteriak dengan rasa kesal yang memenuhi hatinya.


"Menikah? Kau harus menepati janjimu!" teriak Ruby seraya menunjuk wajah Aqua dengan wajah merah padam.


"Keluarlah, kita bicarakan lain kali." Aqua menahan tangan Ruby yang memukuli tubuhnya. Ia menarik Ruby keluar dari kamarnya. "Kita bicarakan besok," lanjut Aqua.


Ruby masih berteriak dan memukuli pintu kamar Aqua sekuat tenaga. Sementara Aqua tidak peduli dengan rengekan Ruby. Hari ini dia sudah lelah, perjalanan empat jam dari tempat Kana ke rumahnya.

__ADS_1


"Sensei!" teriak Ruby seraya memukul pintu lebih keras. "Kau tidak boleh berpacaran! Menikah juga tidak boleh!"


Aqua merebahkan tubuhnya di atas kasur. Mendengar Miyako yang sibuk mengomeli Ruby di balik pintu. Suara tangis terdengar dengan derap kaki menjauh dari kamarnya.


...****************...


Semalaman Ruby hanya menangisi dirinya yang ditolak oleh Aqua. Semakin sedih dirinya karena harus mendengar kabar bahwa Aqua akan menikahi Kana. Hatinya yang sudah remuk seakan hancur, berharap hanya omong kosong saja yang dikatakan kakaknya.


Pagi yang datang dengan cepat pun membawa langkah Ruby kembali ke kamar Aqua. Pukul 7 biasanya Aqua sudah bangun untuk mandi, sarapan dan olah-raga.


"Di mana onii-chan?" tanya Ruby ketika melihat kamar Aqua sudah kosong pada Miyako di ruang makan.


"Dia sedang olahraga di luar, mungkin akan kembali sebentar lagi." Miyako menjawab seraya meletakkan sarapan untuk kedua anak angkatnya itu. "Ruby..." panggil Miyako.


Kantung mata di wajah Ruby terlihat menggelap dengan mata sedikit bengkak. Miyako tahu Ruby sedang tidak baik-baik saja, mendengar kedua anak angkatnya itu bertengkar. Tidak biasanya Aqua akan membuat adiknya menangis.


"Ada apa? Kau bisa bercerita padaku," ucap Miyako.


"Aku tidak mau onii-chan menikah!" sahut Ruby dengan tangan mengepal.


"Menikah?"


"Iya, dia mengatakannya semalam. Dan akan menikah dengan senpai!" balas Ruby setengah berteriak. "Aku tidak mau! Kalau onii-chan menikah, aku akan hidup dengan siapa? Dan onii-chan hanya milikku!" Ruby memukul meja makan.


"Aku hanya mau onii-chan bersamaku! Sampai kita menua!" balas Ruby dengan mata berair. "Selain onii-chan aku tidak punya siapa-siapa lagi!"


"Ruby..." Miyako mencoba menenangkan Ruby dengan memeluknya dari belakang. Mengelus kepalanya lembut. "Dengar baik-baik. Aqua memang kakakmu bahkan saudara kembarmu, tapi dia juga akan memiliki keluarga bersama orang yang ia cintai. Dan kau juga akan begitu, memiliki keluarga sendiri dan bahagia."


"Tapi onii-chan sudah berjanji padaku untuk menikah denganku!" Ruby melepas pelukan Miyako dan segera naik ke lantai dua.


"Apa?" Miyako mematung sesaat, mencoba mencerna kalimat Ruby dengan baik. Ia tidak tahu ada apa dengan sifat Ruby.


Keduanya memang dekat bahkan sangat dekat, hingga mendapat julukan brother complex dan sister complex, tapi jika sampai sejauh ini, berarti ada yang tidak beres.


...****************...


Selesai melakukan jogging, Aqua kembali ke rumah. Ia masih memikirkan Ruby sejak semalam. Kalimat yang keluar untuk menikah dengan Kana adalah harapannya, karena hanya dengan kata itu Ruby bisa berhenti.


Tapi, ternyata salah. Ruby sudah berdiri di kamarnya dengan wajah merah. Ia memaksa masuk ketika Aqua membuka pintunya. Tidak bisa melawan keinginan Ruby, Aqua mengizinkan Ruby masuk sementara pintu ia biarkan terbuka.

__ADS_1


"Aku menagih janjimu! Sensei!" seru Ruby, dadanya naik turun, matanya sudah memerah dengan tangan mengepal. "Kau sudah berjanji!"


"Ruby, eh Sarina-chan..." Aqua mendekati Ruby. "Kita tidak bisa melakukan janji itu, kita saudara kembar. Dan aku sangat menyayangimu sebagai adik perempuanku. Aku akan tetap menjagamu, melindungimu, dan mendukungmu."


"Aku yang mencintaimu lebih dulu!" seru Ruby setengah berteriak, frustasi. Ruby berharap Aqua membalas cintanya, tapi jawabannya semua karena mereka adik kakak. "Tapi, aku yang mencintaimu lebih dulu, sensei!" lanjut Ruby.


Aqua tidak ingin membuat Ruby terus menangis, karena bagaimanapun Ruby adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang. Jadi, ia tidak mungkin untuk memarahi Ruby dan membentaknya.


"Aku yang menyukaimu lebih dulu, sensei! Aku yang hidup lebih dulu dibanding senpai! Kenapa harus aku yang kalah? Kau berjanji menikahiku! Kau berjanji!" seru Ruby lagi. "Aku ingin kau menepati janji kita!"


Dengan wajah tenang, Aqua menatap balik Ruby. Ia mencoba memahami kondisinya sekarang. Berapa kali Aqua mengatakan alasannya pada Ruby, tapi gadis itu tetap pada pendiriannya.


"Anggap saja, aku mengingkari janji itu. Aku mengatakannya padamu agar kau bisa terus semangat menjalani hidupmu." Aqua menundukkan kepalanya, mencoba mengatakan sesuatu dengan jujur. "Jadi, bisakah kau melupakan janji itu?"


"Tidak!" teriak Ruby dengan tangan yang memukul dada Aqua kesal. "Tidak! Tidak! Tidak! Janji tetaplah janji!"


"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Aqua pasrah, suaranya melembut.


"Berhenti menyukai senpai! Dan menikah denganku!" jawab Ruby dengan mata yang terus mengeluarkan air mata.


"Pukuli saja aku, benci saja aku. Permintaanmu tidak masuk akal." Aqua menundukkan kepalanya. "Itu konyol, Ruby..."


Dengan wajah sedih Ruby berhenti memukuli Aqua. Jawaban Aqua sungguh membuatnya semakin merasa tersakiti. Walaupun sudah mengungkapkan segalanya, Ruby pikir ia akan merasa sedikit lega tapi ternyata tidak. Ia hanya melihat kesungguhan di mata kakaknya.


"Kau sangat mencintai senpai?" tanya Ruby, nadanya terdengar lebih sedih dari sebelumnya.


"Sama sepertimu yang menyukaiku, anggap saja perasaan sebesar itu kuberikan untuk Kana." Aqua menjawab dengan nada serius. "Aku berjuang mendapatkannya dan penolakan yang sangat  banyak darinya. Berkali-kali aku mengatakan perasaanku seperti yang kau lakukan dan dia selalu menolakku."


"Itu pasti menyakitkan," ucap Ruby. "Tapi, apa kau tidak berpikir tentang perasaanku juga? Aku juga merasa sakit hati!" 


Aqua bergeming, pikirannya kini terisi tentang hubungan Kana, dirinya dan Ruby. Ini membuat kepalanya mendadak pusing. Ia ingin mengakhiri pembicaraan ini tanpa membuat Ruby terlihat kecewa, sedih dan marah kepadanya lagi.


"Kau tetaplah adikku. Dan aku akan terus menyayangimu sebagai adikku. Apa itu kurang untukmu?" tanya Aqua dengan nada lembut tanpa ingin menatap Ruby.


"Kurang," bisik Ruby sangat pelan.


"Aku mencintai Kana, dan itu membuatku bisa merasa hidupku lebih baik. Aku bisa mengungkapkan semua yang kurasakan dengan mudah." Aqua tersenyum, tangannya mengelus kepala Ruby. "Dan ketika hidup bersamamu sejak kecil, aku sadar aku bukan kakak yang baik untukmu. Kau banyak membuat kebahagiaan dan kehangatan tersendiri untukku. Aku akan selalu melindungimu. Suatu saat, kau juga akan menemukan seseorang yang menjadi cinta sejatimu."


"Kenapa!" seru Ruby menatap Aqua yang tidak mampu melihat matanya. "Aku belum menemukan cinta sejatiku dan aku yakin itu adalah dirimu, sensei!" Ruby melangkah keluar kamar Aqua dengan wajah merah dan isakan yang keras.

__ADS_1


Ruby terus menangis, kalimat Aqua membuatnya tidak bisa membencinya. Ia tahu bagaimana Aqua selama ini selalu melindunginya, bahkan membuat semua impian Ruby tercapai dengan caranya sendiri.


...****************...


__ADS_2