
Tempat kejadian sudah di pasang garis polisi. Terutama di bagian halaman belakang. Di antara semak-semak. Terlihat dengan jelas darah di atas rerumputan. Aqua menyalakan flashlight miliknya dan mengikuti arah darah itu. Samar, namun sepertinya Kana berusaha untuk terus melangkah meskipun darah terus keluar.
Seperti yang dikatakan salah satu petugas di kantor polisi tadi. Darah itu berhenti di gang sempit dekat dengan pembuangan sampah.
Menurunkan rasa takut, rasa bersalah Aqua justru semakin besar. Senter yang ia bawa terus ia nyalakan, memandunya mencari jasad Kana. Meskipun Aqua berharap Kana masih hidup.
"Arima!" panggil Aqua setengah berteriak. Matanya mengedar ke tempat pembuangan sampah, barang-barang tidak terpakai. Mencari dengan penuh harap. "Arima Kana!" Aqua kembali berteriak sekuat tenaga, berharap Kana menjawab panggilannya.
Tiga puluh menit, mencari di tempat terakhir darah itu berhenti. Aqua akhirnya menyerah. Ia tidak mampu melakukannya lagi. Kana benar-benar hilang. Akan lebih baik untuk menemukan jasadnya, dibanding harus hilang seperti dirinya dulu saat menjadi dokter.
Aqua menyandarkan tubuhnya. Tangannya mengusap wajahnya frustasi. Perasaan bersalah kini menghinggapi dirinya. Kana berkali-kali mengingatkan untuk tidak melakukan balas dendam dan menyuruhnya untuk mati. Tapi lihat sekarang? Siapa yang mati? Orang yang terus menasehatinya dan mengingatkannya yang mati. Di tangan orang yang selama ini Aqua simpan untuk balas dendam.
Miyako dan Ruby terus menghubungi Aqua. Ia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana perasaannya. Untuk pertama kalinya, ia menangis atas kehilangan seseorang setelah Ai.
"Gomenne… Arima."
Langkah Aqua gontai, masih berharap ada keajaiban untuk Kana hidup lagi. Atau setidaknya ia berharap menemukan jasad Kana. Karena menurutnya, jika memang Kana mati, setidaknya ia harus melihat jasadnya.
...****************...
Hari ketiga setelah Kana menghilang. Semua kembali ke jadwal masing-masing. Aqua juga sudah bersiap di lokasi syuting untuk memerankan drama tv mingguan. Seperti ada yang hilang, namun Aqua mencoba untuk tetap profesional.
Ruby dan Mem bersiap membuat video untuk Youtube mereka membahas tentang kabar Arima Kana. Meskipun sudah tidak ada kabar, tetap saja komentar jahat tentang Kana tidak ada habisnya.
Untunglah mantan artis cilik itu sudah mati, aku sudah tidak kuat melihat gayanya yang sok imut itu!
Mati saja kau Arima Kana!
Kuharap dia beneran hilang di telan bumi dan mati…
Mem mematikan ponselnya, ia memblokir akun-akun yang menulis sumpah serapah untuk Kana. Mem bahkan sudah menangis seraya memblokir beberapa akun menyebalkan.
"Aku kangen Kana-chan!" Mem berseru dengan wajah memerah. "Kenapa belum ada kabar tentangnya sih! Apa polisi tidur saja?"
Ruby duduk di sebelah Mem. "Pasti akan ada kemajuan. Aku berharap yang terbaik untuk, senpai…."
"Aku juga berharap hal yang sama. Tapi, kalau memang sudah meninggal, harusnya tubuhnya sudah ditemukan." Mem mengoceh sambil terisak.
Ruby teringat jasad milik Gorou-sensei yang ditemukan sudah menjadi tulang belulang di dalam sebuah goa. Apakah itu akan menjadi hal yang sama seperti Kana?
Ruby berdiri mencari Aqua yang sedang tertidur. Ia melangkah mendekati Aqua di sofa. Wajahnya pucat dan berkeringat. Bahkan tubuhnya bergetar. Ada air mata yang keluar dari matanya yang sedang terpejam itu.
"Arima…. Gomen…." lirih Aqua. "Arima!" Aqua berseru dan tersadar.
Napasnya tersengal, peluh sudah membasahi keningnya. Sesak sudah dadanya, mendapat mimpi buruk pertama tentang Kana.
"Onii-chan…." panggil Ruby menatap khawatir Aqua. "Daijobu desuka?"
"Daijobu…." jawab Aqua seraya berdiri meninggalkan Ruby di dalam ruangan.
"Onii-chan! Apa senpai masih hidup?" tanya Ruby sambil terus menatap Aqua yang berjalan menuju pintu keluar ruangan.
"Aku tidak tahu…." jawab Aqua sambil terus memunggungi Ruby.
__ADS_1
"Bagaimana menurutmu, apa senpai masih hidup?" tanya Ruby lagi.
"Aku tidak tahu," jawab Aqua pelan.
"Lalu apa harapanmu? Apa kau berharap senpai masih hidup?" Ruby mendekati Aqua.
"Aku tidak tahu…." Aqua melangkah meninggalkan Ruby di dalam ruangan.
"Onii-chan. Kau selalu berbohong." Ruby menatap sedih kepergian Aqua.
...****************...
Miyako belum mendapat kejelasan tentang jasad Arima Kana, meskipun sudah satu pekan. Aqua yang masih terus memikirkan Kana akhirnya pergi mengunjungi penjara tempat Kamiki Hikaru ditahan.
Wajah Hikaru penuh perban, mata kirinya di perban. Wajahnya terlihat hancur. Tidak lagi terlihat ketampanan dari aktor itu. Aqua duduk di hadapan Hikaru dengan penghalang kaca dua arah. Keduanya saling tatap, Hikaru terpukau dengan wajah Aqua yang terlihat sangat mirip dengan dirinya.
"Aqua…." Panggil Hikaru seraya tersenyum. "Aku menduga kau datang hari ini."
"Aku hanya ingin bertanya padamu, apa yang kau lakukan pada Arima Kana?" tanya Aqua dingin.
Hikaru merubah posisinya, menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, menatap Aqua dan tersenyum sinis.
"Ternyata aku mengambil umpan terbaik ya. Gadis itu memang luar biasa. Untuk pertama kalinya, aku melakukan pembunuhan dengan tanganku sendiri, dan apa yang terjadi? Dia berhasil lolos. Sungguh sangat gila…"
Aqua meremas celananya, menahan diri untuk tidak mengamuk di depan lelaki setan itu.
"Bukankah dia terlalu polos? Dia pergi sendirian menemui sutradara Shima tanpa ada perasaan buruk sedikit pun. Aku mengincar Arima Kana sejak lama, setelah dia menjadi idol B-Komachi. Aku terkejut dia begitu cantik dan imut dalam satu waktu. Mengingatkanku pada Ai. Dan saat dia berakting…." Hikaru tertawa. "Dia luar biasa! Jika aku menemukan dia duluan, aku pasti akan menjadikannya anak kesayanganku. Dengan membuatnya seperti Ai."
Aqua mengeraskan rahangnya. Hikaru menyebut dua nama orang yang telah dia bunuh. Ini sangat gila. Aqua merasa sangat marah sekarang. Dan lelaki itu hanya tersenyum saja.
"Kau membunuhnya!" seru Aqua dengan suara lantang.
Hikaru tersenyum menatap Aqua. "Membunuh? Arima Kana itu melompat dari lantai dua untuk menyelamatkan diri. Dia begitu hebat mengambil resiko, padahal dia tidak tahu keadaan di bawah seperti apa…"
"Jadi, maksudmu Arima masih hidup?" tanya Aqua kesal.
"Kita musuh bukan? Apa aku harus memberitahumu semuanya? Kalaupun dia hidup, tidak akan lama." Hikaru tersenyum miring. "Aku mencekik lehernya, membanting tubuhnya ke meja kaca, hingga kacanya pecah. Lalu dia melompat dari lantai dua ke semak-semak. Apa kau yakin dia masih hidup? Darah yang keluar hampir sama banyaknya denganku. Dan bedanya dia perempuan."
Aqua mengeraskan rahangnya kesal. "Kau memang bukan manusia!"
Hikaru hanya tertawa. "Sebagai ayahmu, aku akan mengatakan ini. Kalimat terakhir Arima padaku waktu itu adalah Aku tidak akan kalah dari pembunuh sepertimu! Aku belum bahagia sialan! Kau saja yang mati!"
Aqua ingin sekali meninju wajah Hikaru jika tidak ada penghalang kaca ini.
"Dia mengumpatku dan mendoakan aku agar mati. Sungguh kalimat itu membuatku senang sekali…." Hikaru tertawa semakin lebar.
Aqua berdiri dari tempatnya duduk. Menatap Hikaru dengan tatapan penuh kebencian.
"Seperti katanya, aku pun akan mati. Tapi aku tidak menyesal sama sekali…." Hikaru ikut berdiri. Menatap Aqua dan tersenyum. "Kau kehilangan lagi perempuan berharga di hidupmu, ya. Gomen…." Kalimat Hikaru dengan nada penuh hinaan itu semakin membuat Aqua kesal.
...****************...
Aqua kembali ke rumah. Ruby yang sudah di rumah karena hari ini libur, hanya bisa menatap wajah Aqua yang begitu terpukul. Aqua segera masuk kamar tanpa mengucapkan apa pun pada Ruby yang sudah berdiri di depannya. Aqua bahkan tidak makan malam, tidak keluar dari kamarnya. Pintu kamarnya sudah tertutup rapat.
__ADS_1
Ruby mencari Miyako dan Mem di ruangan Strawberry Production. Duduk di hadapan kedua perempuan itu.
"Onii-chan… Kembali seperti dulu lagi saat kematian Mama." Ruby menundukkan kepalanya sedih.
"Bukannya hanya kau yang bisa menghiburnya?" tanya Mem. "Kau selalu tersenyum dan menempel pada Aqu-tan."
Ruby menundukkan kepalanya. "Tapi, onii-chan selalu memanggil senpai dalam tidurnya."
"Siapa pun akan bermimpi buruk, karena sampai sekarang belum ada kabar tentang Kana-chan." Miyako menanggapi. "Aku juga sulit tidur. Pesan terakhir Kana-chan membuatku sangat stress. Dia seperti mengatakan selamat tinggal, tapi seperti meminta bantuan juga."
Mem menatap Miyako yang sudah menenggak segelas alkohol. "Tidak hanya dirimu, aku sampai tidak mood melakukan segala hal karena rasanya aku harus menemukan Kana-chan."
"Aku hanya takut dia benar sudah meninggal dan jasadnya tidak ditemukan di mana pun." Miyako meraih remote tv dan menyalakannya.
...Headline News :...
...Hikaru Kamiki melakukan bunuh diri di dalam sel tahanannya....
"Apa-apaan ini!" seru Miyako. "Kita bahkan belum menemukan jasad Kana-chan, kenapa pelakunya sudah mati!"
Mem dan Ruby hanya membulatkan matanya. Mereka tidak percaya pelaku pembunuhan Kana dan Ai sudah mati dengan cara bunuh diri.
...Dikabarkan sudah kritis setelah melakukan percobaan pembunuhan pada Arima Kana, Hikaru Kamiki akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri di dalam sel tahanan. Sementara jasad Arima Kana masih belum ditemukan sampai saat ini....
..."Hikaru Kamiki tidak merasa bersalah, dia predator psikopat. Saar wawancara, dia hanya terus tertawa dan menebar senyum menyeramkan." ...
"Onii-chan!" seru Ruby ketika sadar Aqua sudah mematikan televisi.
"Aqua! Kami sedang menontonnya!" Miyako berseru menatap Aqua yang terlihat seperti zombie.
"Jangan ditonton lagi. Aku sudah ingin muntah melihat pria itu. Dia bahkan tidak menyesali perbuatannya dan hanya tertawa. Sekarang dia mati pun, tidak perlu kita tonton." Aqua menatap Miyako serius. "Arima masih hidup."
Mem hampir berteriak, Ruby hanya menutup mulutnya mendengar kalimat dari saudara kembarnya.
"Kau pasti bercanda! Di mana sekarang dia? Apa kau tahu!" tanya Miyako yang sama frustrasinya.
"Aku tidak tahu dia di mana. Tapi Hikaru Kamiki mengatakan padaku, bahwa Arima tidak akan mati dengan mudah begitu saja." Aqua menjawab kemudian melangkah keluar dari ruangan.
"Kau mau mencarinya?" tanya Mem yang langsung membuat Aqua berhenti melangkah. "Apa kau tahu Kana-chan di mana?"
"Aku tidak tahu." Aqua kembali melangkah.
"Aqua terlihat lebih terpuruk daripada biasanya." Miyako menatap televisi yang sudah mati. "Tolong hibur kakakmu, Ruby. Aku tidak bisa menebak pikirannya, karena aku sama stressnya."
...****************...
.
.
.
Terima kasih sudah membaca cerita ini.
__ADS_1
Jangan lupa untuk bantu share, like, subscribe dan komen ^^