Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Makan Malam


__ADS_3

Ditemani Aqua di dapur, Kana mulai meracik bumbu untuk kari. Sementara Aqua membersihkan sayuran yang Kana beli. Dengan sepenuh hati Kana menakar bumbu yang akan ia masukkan ke dalam kari buatannya. Aqua yang memerhatikan hanya menatap heran Kana.


"Yakin saja, kalau keasinan tinggal tambahkan air dan bumbu lainnya." Aqua mengingatkan. "Diukur pakai timbangan juga, kalau yang buat tidak percaya diri ya rasanya tetap tidak enak!"


Kana mengalihkan pandangannya ke arah Aqua dan kembali fokus di belakang kompor dengan panci berisi kari. Kana meraih mangkuk kecil, menuangkan sedikit kari ke dalamnya, mengecek rasa kari. Apakah sudah pas atau belum. Takut rasanya aneh, Kana menyodorkan mangkuk itu pada Aqua.


"Cicip…" bisik Kana seraya menatap Aqua dengan tatapan ragu. 


Aqua meletakkan bibirnya di ujung mangkuk, menyeruputnya pelan. Berpikir dan siap menanggapi. Kana menatap Aqua penuh harap, bibirnya mengatup rapat. Aqua mengangkat ibu jarinya sambil tersenyum. Wajah Kana sukses membuat Aqua merasa tidak enak mengatakan dengan jujur. 


"Sudah enak, tapi jadi kurang garam." Aqua terkekeh pelan, tangannya meraih garam di sudut meja. Memasukkan garam sebanyak dua sendok teh. Ia menatap Kana yang terlihat sedih. "Ayo dicicip lagi…"


Kana melirik Aqua dengan tatapan kesal. "Bisa-bisanya kurang garam! Padahal biasanya juga keasinan!" pekik Kana seraya mengaduk kari di dalam panci. Ia mencicipi kembali karinya.


Kana mengerucutkan mulutnya, rasanya memang lebih baik dari yang sebelumnya. Tapi, rasanya dia kesal sekali karena tidak bisa membuat makanan enak tanpa bantuan orang lain. Kana meletakkan sendok sayur di sebelah kompor dengan malas. Ia mematikan kompor dan melepas apronnya.


"Kau letakkan saja sayuran yang sudah di cuci di piring." Kana keluar dari dapur tidak semangat.


Aqua menatap kepergian Kana, merasa bersalah karena tadi menuangkan garam tanpa meminta izin pada pemilik makanan. Setelah merapihkan dan membersihkan peralatan masak, Aqua melepas apron yang ia pakai. Keluar dari dapur, mencari Kana. 


"Kana!" panggil Aqua ketika menemukan Kana di teras rumah lantai dua. Aqua berdiri di samping Kana.


Langit mulai gelap. Angin musim dingin mulai terasa. Rambut panjang Kana bergerak mengikuti angin. Aqua memandangi Kana dengan tatapan lembut. Ini mungkin malam terakhir dia menatap Kana dan berdiri berdua dengannya. 


"Aku minta maaf tadi mengacaukan masakanmu." Aqua membuka percakapan.


"Menyebalkan sekali…" balasnya. "Aku tidak bisa memasak juga, padahal aku berlatih dan ke dapur setiap hari." Kana menatap kedua tangannya yang penuh plester. "Apa aku tidak berbakat ya?"


"Apa itu karena kau belajar memasak?" tanya Aqua seraya mengalihkan pandangannya ke langit.

__ADS_1


"Iya," jawab Kana pelan.


"Tapi, aku selalu memakan masakanmu kok. Kau tidak perlu merasa berkecil hati." 


Kana melirik Aqua kesal. "Ya, karena kau kasihan padaku. Makanya kau makan!"


"Masakan yang kau buat tidak terlalu buruk untuk dimakan. Aku tidak sampai buang-buang air juga. Jadi, kau tidak perlu merasa sedih."


Kana mendengus kesal. "Ya, ya, terserah kau saja. Aku tahu kau hanya menghiburku…" Kana membenarkan posisi kacamatanya.


"Kana, terima kasih untuk 10 harinya, aku sangat terbantu olehmu." Aqua menatap langit yang sudah gelap sempurna. Ada rasa sedih di kalimatnya untuk Kana malam ini.


"Ya, tentu saja! Selama kau perlu bantuan! Aku akan membantumu!" Kana menjawab penuh semangat.


"Besok aku harus kembali ke Tokyo. Dan…" Aqua menarik napas. "Aku pasti akan merindukan suasana desa ini. Kandang sapi, anak-anak yang selalu ramai setiap sore, Black yang gagah, Ishigami-san yang sabar mengajariku dan orang-orang di sini." 


"Sudah… Sudah… Ayo kita masuk!" Kana memotong ucapan Aqua. 


Aqua menghela napas keras, ia menatap Kana yang masuk ke dalam rumah. Menatap dengan tatapan sedih. Akhirnya, ia akan kembali memendam rasa ini dan tidak akan mengungkapkannya. Ia tidak mengerti, Kana seolah mencegah Aqua mengatakan hal yang ingin Aqua ungkapkan.


*****


Akino dan Karma sudah duduk di kursi ruang makan. Di atas meja terhidang banyak makanan. Kari buatan Kana, buah-buahan dan sayuran segar. Akino membawakan makanan dari Tokyo seperti ayam, kentang goreng dan beberapa botol alkohol. Mereka menikmati malam itu di meja makan.


"Kau yang masak kari ini?" tanya Karma ketika menghabiskan nasi kari di piringnya.


"Iya, dibantu A-kun." Kana menjawab tanpa ingin menatap Karma yang pasti sudah menatapnya dengan tatapan siap menghinanya.


"Pantas rasanya normal! Biasanya keasinanlah, hambarlah, atau ada saja sayur yang belum matang…" komentar Karma.

__ADS_1


Kalimat Karma untuk Kana, terdengar menyakitkan. Gadis berambut merah itu meraih sendok dan memukul kepala Karma sekuat tenaga. "Berisik! Tinggal makan juga!" 


Rasa sakit terasa di kepala Karma seolah berdenyut. Ia mengelus kepalanya. "Sakit tahu, aku kan hanya mengomentari supaya kau masak lebih baik lagi besok!" sahut Karma.


"Mengomentari? Kau itu menghina tahu!" balas Kana kesal. "Besok kau dilarang makan masakanku!"


"Aku akan masak sendiri!" balas Karma. "Masakanmu kuberi nilai 5 dari 10!"


"Hah? 5? Tapi makananmu habis tuh! Jujur saja deh… Kalau enak ya bilang enak!" Kana menunjuk piring Karma dengan nada meledek. 


"Ini dibantu Aqua kan? Apanya yang masakanmu?" tanya Karma seraya menunjuk kari di atas meja.


Aqua yang memandangi kedua bersaudara ini tidak habis pikir akan seramai ini. Suasana rumah menjadi riuh hanya dengan kehadiran Karma. Berbeda dengan Aqua yang selalu perhatian, diam dan terkadang mengintimidasi namun tetap menyayangi Ruby. Sementara Karma mirip sekali dengan Kana. Cara menyayangi Karma itu persis seperti Kana, bermulut pedas dan selalu beradu argumen tidak ada habisnya.


Berbeda dengan ayah mereka yang tampak tenang, bahkan ia seolah sudah paham akan akhir dari adu mulut dua anaknya itu. Aqua mencoba melerai yang mulai berdiri, Kana membawa sendok sayur sementara Karma membawa tempat tisu.


"Hoshino-san, sebaiknya kau duduk saja dan jangan mencampuri mereka." Akino tersenyum tipis, tangannya meraih sendok dan memukul meja makan dengan suara keras.


Kana dan Karma yang sudah berhadapan di sisi meja makan segera mengalihkan pandangan mereka pada suara yang dibuat oleh Akino. Tatapan Akino kini mengintimidasi. Senyum miring ditampakkan dari wajahnya yang sudah menua itu.


Akino menarik napas. "Sudah selesai?" tanya Akino dengan nada dingin. Suasana berubah menegangkan.


Akino biasanya ramah dan selalu tersenyum, dan ketika ia marah ternyata menyeramkan. Ada kerutan di antara alisnya. Kana dan Karma segera mendekati meja makan dan segera membungkuk pada Akino.


"Mau sampai ada yang mati kah kalian berkelahi seperti itu?" tanya Akino dingin. Kana dan Karma menggeleng seraya menundukkan kepalanya dalam. "Kalau begitu lanjutkan makan kalian. Jika aku menemukan pertengkaran kecil ini lagi, aku akan membuat kalian tidur di kamar mandi."


"Gomennasai!" Kana dan Karma kembali mengangguk pada Akino.


"Padahal kalian sedang ada tamu, benar-benar persaudaraan yang erat." Akino berdiri dari duduknya. "Bersihkan meja makan dan bersiaplah tidur." Tatapan Akino kini mengarah pada Aqua. "Bisa ikut aku sebentar Hoshino-san?" tatapan Akino melembut pada Aqua.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Aqua berdiri, mengikuti Akino. Ia menatap Kana dan Karma yang kembali bertengkar dengan saling sikut menyikut tanpa suara. Aqua tersenyum melihat tingkah kedua saudara itu. Menyenangkan melihat pertengkaran itu.



__ADS_2