
"Apa kita akan sarapan di sini?" tanya Frill pada Miyako setelah menghias wajahnya dengan make up tipis.
"Kita akan sarapan di rumah Kana." Miyako menjawab seraya meraih ponsel di atas nakas. "Ishigami-san yang meminta kita untuk sarapan di sana dengan membawa sarapan dari sini."
"Alasannya?" tanya Frill.
"Untuk menemani Karma dan memberikan sarapan untuk mereka." Miyako melangkah mendekati pintu. "Jadi, ayo bersiap!"
...****************...
Bermalam di kamar Kana, Aqua tidak bisa tidur. Semalaman Kana merintih, mengerang dan terus berkeringat. Suhu tubuhnya tinggi, berkali-kali Aqua mengompres Kana dengan handuk basah. Gadis itu tidak terbangun, masih tetap tidur dengan semua sakit yang dirasa.
Ia sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi dia tidak percaya bahwa Kana akan merintih hingga pagi. Aqua baru tertidur ketika jam menunjukkan pukul 3 dini hari. Malam yang melelahkan untuk Aqua, tapi dia tidak bisa meninggalkan Kana sendirian.
"Onii-chan!" panggil Ruby seraya membuka kamar Kana.
Ditemani Mem, Ruby masuk ke dalam kamar Kana karena tidak ada jawaban dari dalam.
Keduanya masih tertidur, Aqua sudah tidak memakai selimutnya lagi, karena melapisi Kana dengan selimut double. Dengan tubuh telungkup, tangan kiri Aqua memeluk perut Kana. Sementara Kana tertidur dengan posisi yang tidak berubah. Infus di tangannya, handuk di atas keningnya. Wajahnya masih pucat dengan lebam di pipinya.
"Onii-chan..." bisik Ruby dan segera mendekati Aqua. Menarik paksa tangan Aqua di perut Kana. "Sudah pagi! Ayo bangun!" seru Ruby dengan suara keras.
Aqua merubah posisinya, mengintip dengan malas. Ia merubah posisinya, tidur menghadap Kana. Ruby menarik kaki Aqua agar segera bangun, tapi Aqua menahan tubuhnya.
"Aku masih mengantuk Ruby, kalau kau berisik, Kana akan bangun," tukas Aqua dan kembali memejamkan matanya. "Nanti aku akan turun, jadi kalian duluan saja."
"Bangun! Bangun! Bangun!" seru Ruby setengah berteriak.
Sayangnya Aqua tidak peduli dan kembali melanjutkan tidurnya. Ia bahkan menarik selimut yang ia pakaikan pada Kana untuk dirinya. Memejamkan matanya, tangannya kembali meraih tangan Kana dengan lembut.
"Onii-chan!" seru Ruby lagi, rasanya ia ingin tidur diantara kedua manusia itu.
"Ayo keluar, sepertinya memang dia sangat mengantuk." Mem mendekati Kana di ranjangnya, meraih handuk basah dan menyingkirkannya. "Semalaman Aqua-tan bekerja keras."
Ada rasa senang dan haru melihat kedua temannya itu berbaikan. Meskipun tidak terlalu mengerti dengan situasi perang dingin Kana dan Aqua, tapi Mem senang melihat keduanya membaik. Aqua menjaga Kana dan mengurusnya semalaman dan tanpa ragu menautkan tangan Kana.
Ruby mendengus kesal, ia segera keluar dari kamar Kana. Sementara Mem, mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar. Kamar dengan nuansa sepia, tidak ada banyak furnitur hanya ada kasur dan ranjang, lemari, meja dan kursi belajar. Bahkan tidak ada figura terpajang di sana.
"Cepat sembuh, Kana-chan..." Mem mengelus kepala Kana lembut.
...****************...
"Dimana Aqua?" tanya Gotanda seraya duduk dengan piring berisi makanan di atas meja. "Kita sudah mulai sarapan."
"Tidur lagi!" jawab Ruby dengan nada kesal.
"Di kamar Arima?" Ichigo ikut bertanya dengan wajah kaget.
"Iya, Aqua-tan mengurus Kana-chan semalam." Mem menjawab dan segera duduk di samping Akane. "Sepertinya semalam demam tinggi, karena ada handuk basah dan ember berisi air. Penghangat ruangannya juga menyala sampai pagi."
__ADS_1
"Mengurus istri ternyata..." ledek Gotanda dengan suara pelan. "Lalu di mana anak Akino yang laki-laki kemarin?"
"Itu dia masih membuat bubur untuk Kana." Miyako menjawab seraya menunjuk dapur tempat Karma dan Frill berdiri. "Masakannya enak sekali, aku sampai minta dibuatkan bubur juga."
"Membuat bubur kan mudah!" seru Ichigo.
"Mudah? Kalau mudah, kenapa tidak pernah membuatkanku bubur!" balas Miyako. "Onigiri ini juga buatan Karma. Rasanya persis di kedai makanan. Aku jadi ragu apa dia benar adik Kana atau bukan."
Frill datang dengan mangkuk berisi bubur pesanan Miyako dan untuk dirinya sendiri. Ia duduk bersama yang lain. Sementara Karma membawa teko berisi teh hijau untuk teman sarapan.
"Wajahmu masih bengkak." Mem menunjuk wajah Karma yang sembab dan merah. "Tapi, kalau aku jadi kau pasti juga akan sama sih..."
Karma mengusap wajahnya dan mencoba tersenyum. "Aku memang sangat cengeng. Dan pagi ini belum menemui Kana. Dia pasti demam."
"Tidak apa, seperti kemarin itu juga sudah kuat. Kau melakukannya sendirian." Gotanda menepuk punggung Karma pelan. "Setelah banyak air mata pasti akan datang kebahagiaan."
"Apa mereka belum bangun?" tanya Karma seraya menuangkan teh ke dalam cangkir miliknya.
"Belum, Aqua-tan juga tidur lagi." Mem menjawab dengan mulut penuh roti.
"Aku jadi tidak enak pada Aqua." Karma menatap tangga lantai dua. "Semalam aku langsung tidur, karena terlalu lelah aku tidak tahu apa yang terjadi pada Kana. Pasti merepotkan mengurus orang sakit."
"Kau sarapan dulu, lalu antar sarapan pada Kana dan Aqua." Miyako menanggapi. "Tidak perlu khawatir, Aqua pasti tidak merasa keberatan."
...****************...
Kana membuka matanya perlahan, sinar mentari masuk ke dalam kamarnya. Lampu masih menyala dengan jendela yang masih tertutup.
Tangan Kana menyingkirkan anak rambut Aqua yang menghalangi matanya. Pemuda itu terlelap tidur di samping Kana. Tenang dan damai.
"Arigatou..." Kana berbisik di dekat wajah Aqua, tangannya mengelus rambut Aqua dengan lembut. "Ohayou!" seru Kana setengah berteriak, tangannya jahil menarik cuping Aqua.
"Kau!" Aqua segera tersadar dan duduk mengelus telinganya yang memerah. "Semalaman kau merintih! Sekarang bisa-bisanya menarik telingaku!" balas Aqua gemas.
Kana hanya tersenyum lebar. Ia merasa akan segera hilang rasa sakitnya dengan banyak tersenyum dan mendengar ocehan Aqua. Ia tidak mau merasa membebani Aqua, walaupun dia tahu, sifatnya ini kurang ajar.
"Sekarang sudah pagi, mau berapa lama lagi tidurnya?" tanya Kana dengan suara riang. "Aku hanya membangunkanmu karena sudah hampir siang!"
Dengan wajah setengah mengantuk, Aqua berdiri turun dari kasur Kana. Ia menghampiri Kana, memeriksa infus yang hampir habis. Tangannya menelusup di antara poni, memastikan bahwa demam sudah turun.
"Sepertinya kau sudah membaik. Nanti akan kuminta Mem dan yang lain mengompres punggungmu." Aqua tersenyum menatap Kana. Tangannya dengan cepat menarik telinga Kana gemas. "Satu, satu!"
"Sakit!" pekik Kana seraya mengelus telinganya. Sementara Aqua melangkah keluar kamar Kana dengan senyum menghias wajahnya.
Di lantai satu sudah banyak orang. Mereka sepertinya lebih memilih berbincang dan menghabiskan waktu di rumah Arima. Anehnya, Miyako berada di dapur bersama Karma, Akane dan Frill dengan apron menghias tubuh mereka.
"Onii-chan!" Ruby berseru dengan penuh semangat mendekati Aqua. "Kau akhirnya bangun! Sarapannya sudah dingin!"
Aqua mengelus kepala Ruby lembut dan melangkah ke dapur. Menyapa Karma dan yang lain di sana. Mereka sibuk membuat makan siang bersama Karma. Bubur untuk sarapan Kana dan Aqua kembali dihangatkan.
__ADS_1
"Pergilah ke atas, Kana sudah bangun." Aqua duduk di salah satu kursi dekat dapur. Menuang air ke dalam gelas kemudian meminumnya dengan cepat.
Tanpa melepas apronnya, Karma berlari ke luar dapur menuju lantai dua dengan semangkuk bubur dan segelas air. Ia perlu berbicara dengan Kana, meminta maaf dan menguatkan kakak perempuannya itu.
"Apa yang terjadi pada Kana-chan?" tanya Akane penasaran.
Aqua menyuap bubur ke mulutnya, sebelum menjawab pertanyaan Akane yang didengar oleh banyak telinga. "Semalam buruk sekali, tapi pagi ini sudah lebih baik."
"Apa yang terjadi memangnya?" Akane kini duduk di hadapan Aqua.
"Punggungnya bengkak, keningnya berdarah. Kemarin dia dipukul dengan balok kayu." Aqua menghentikan makannya, ia mendengar semua cerita Kana, tapi rasanya sakit sekali menceritakan kembali karena melihat punggung kecil gadis itu. "Nanti tolong kompres punggungnya dengan air dingin."
"Coba ceritakan dengan jelas." Frill ikut menimpali, ia sama penasarannya dengan Akane.
"Aku tidak sanggup," ucap Aqua.
Semalam menyimak, bukan berarti Aqua tidak ingin menangis. Dia menahan, karena Kana bercerita dengan terus berpura-pura tertawa dan tegar. Padahal kalau lihat tubuhnya yang babak belur itu, pasti akan menangis.
"Padahal aku juga penasaran!" seru Ruby. "Tapi, semalam onii-chan tidak melakukan hal-hal aneh pada senpai, kan?"
"Aku masih waras," tukas Aqua. "Semalam demamnya sangat tinggi, aku tidak tidur sampai jam 3 pagi." Ia kembali menyuap bubur ke mulutnya.
"Sekarang aku mau melihat Kana-chan..." Akane bangkit dari duduknya, melepas apron dan meletakkannya dengan rapih pada tempat sebelumnya.
Diikuti dengan Frill dan Mem. Namun, tak lama Karma turun dari lantai dua dengan langkah lebar dan cepat. Ia meraih jaket baseball miliknya dan topi yang tergantung di dinding.
"Karma!" panggil Kana setengah berteriak ketika adik laki-lakinya itu berdiri di belakang pintu.
Sedetik kemudian ia berhenti, menatap Kana dengan tatapan serius. Ia sudah mengenakan sepatunya dan bersiap keluar dari rumah.
"Kau mau apa?" tanya Kana, tepat di hadapan Karma. "Apa kau pikir aku bercerita semua ini agar kau membunuh mereka?"
"Tidak, hanya saja masih ada dua lagi, kan? Setidaknya mereka cacat saja sudah cukup!" balas Karma dengan suara parau. Ia mencoba menekan rasa kesal di hatinya.
"Lalu, apa kau akan senang jika mereka cacat?" tanya Kana pelan, tatapannya sayu, ia mencoba untuk kuat berdiri demi menghentikan kegilaan adiknya.
"Sangat!" balas Karma, ia mendekati Kana. "Lihat apa yang mereka lakukan padamu! Mereka berlima dan kau sendirian! Mereka laki-laki dan kau perempuan! Punggungmu..." Karma menghentikan kalimatnya, seolah tercekat.
"Aku baik-baik saja. Jangan lakukan hal bodoh hanya karena kau emosi." Kana menjulurkan tangannya. "Berikan padaku semua barang yang kau sembunyikan di jaketmu."
"Tidak mau!" Karma kembali melangkah mendekati pintu. Rasanya dia sudah sangat emosi. "Jangan berbohong tentang baik-baik saja, Kana!" lanjut Karma dengan nada yang lebih tinggi. "Apa ada orang yang percaya kau sedang baik-baik saja sekarang hah!"
Kana menatap serius ke arah Karma. "Jika mereka melukaiku, maka hanya dengan tanganku saja mereka terluka apalagi terbunuh." Kana mengangkat kedua tangannya, menyeringai. "Lakukan sesuka hatimu, Karma. Karena aku tidak akan menolongmu meski nanti kau masuk penjara."
Tangan Kana menyelinap masuk ke jaket Karma, meraih pisau lipat di sana. Sama seperti Kana yang membawa benda itu ke mana pun dia pergi.
"Jika kau berani keluar dari rumah, maka aku tidak ingin mengenalmu lagi sebagai adikku." Kana berbisik pada Karma. Tatapannya berubah menyeramkan, lebih tajam dari sebelumnya.
Karma diam mematung menatap Kana di sampingnya. Gadis bertubuh kecil itu audah memasukkan pisau lipat ke dalam saku bajunya.
__ADS_1
"Jangan kotori tanganmu hanya untuk masuk ke dalam jurang balas dendam." Kana memperingatkan.
...***************...