Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Trauma


__ADS_3

"Itadakimasu!" seru Kana seraya memakan sandwich buatannya dengan lahap. "Kau kenapa memakan masakanku seolah itu makanan kesukaanmu?"


"Aku juga tidak bisa memasak, jadi aku menghargai orang yang memberikanku makan." Aqua memakan sandwichnya. "Aku tidak percaya kau akan belajar memasak bahkan menulis resepnya. Dulu, kau akan membeli makanan di luar melalui pesan antar."


"Ya itu kan dulu... Di sini juga tidak ada jasa antar makanan. Aku hidup dengan Karma yang setiap hari memaki diriku yang tidak bisa memasak!" balas Kana dengan suara keras.


"Dasar tidak mau kalah!" seru Aqua dengan senyum. "Kau sudah membaik?" tanya Aqua seraya menatap Kana di hadapannya.


"Sudah! Tenang saja, aku tidak akan mati begitu saja tahu! Itu hanya karena gelap." Kana memberikan senyum lebar dengan deretan giginya yang rapih.


"Syukurlah kalau begitu." Aqua meraih gelas susunya. "Kapan ayahmu pulang?"


"Pekan depan."


"Aku akan menginap selama ayahmu pergi, apa kau keberatan?" tanya Aqua setelah meneguk susu dari gelasnya.


Dengan wajah ceria, Kana menatap Aqua tidak percaya. "Benarkah?" Aqua menganggukkan kepalanya. "Oke, silahkan saja! Aku senang ada yang menemaniku." Kana memasukkan sandwich terakhirnya ke dalam mulut.


"Selain gelap, apa ada lagi yang membuatmu pingsan seperti semalam?" tanya Aqua.


"Banyak…." Kana meraih gelas susunya, menatap susu di dalam gelas. Ia membuang napas pelan.


Trauma dan ketakutan yang ia rasakan, terkadang kembali datang menghantuinya. Tapi, Kana sudah hampir bisa untuk mengontrol dirinya sendiri. Ia juga belajar bagaimana ia bisa merileksasikan semua ketakutannya.


"Kau bisa beritahu aku agar aku bisa menjagamu dengan baik."


"Untuk apa? Menjagaku dengan baik!" Kana membenarkan posisi kacamatanya. "Kau memang playboy ya!" 


"Semalam aku panik dan aku khawatir kau akan seperti itu lagi."


Kana menatap piring kosong miliknya. "Apa aku terlihat menyedihkan?"


Suaranya kembali terdengar bergetar. Ia tidak tahu haruskah menjelaskan apa saja yang ia takutkan pada Aqua. Atau dia hanya harus menyimpannya sendiri dan pria bermata biru ini tidak perlu tahu.


"Apa aku terlihat menyedihkan?" tanya Kana lagi. "Aku memang sangat menyedihkan ternyata." Kana meraih piring di atas meja. "Kau bertanya kan apa yang membuatku bisa sangat ketakutan atau bahkan pingsan?" tanya Kana dengan mata yang sudah basah menatap Aqua.


"Aku tidak melihat kau menyedihkan." Aqua akhirnya menjawab dengan datar. Semalam dia bahkan sangat panik dan khawatir melihat Kana yang ketakutan.


Aqua ikut berdiri mendekati Kana, meraih piring dan gelas di tangan Kana. Aqua khawatir Kana melempar piring dan gelas ke lantai dan menyebabkan banyak pecahan di sana. Sementara Aqua ke dapur Kana kembali duduk di kursinya, menundukkan kepalanya. 


"Padahal kau boleh jujur kalau aku memang menyedihkan!" seru Kana dari tempatnya.


Tidak ingin menjawab pertanyaan dari Kana. Aqua menyalakan kran air dan mencuci piring. Sesekali ia menatap ke arah Kana, memastikan Kana tidak melakukan hal-hal menakutkan.


"Kenapa kau harus berbohong!" seru Kana menatap Aqua dari tempatnya duduk. "Matamu itu mengatakan aku memang menyedihkan!"

__ADS_1


Pertanyaan Aqua ternyata sangat sensitif untuk Kana. Bahkan sampai membuat Kana merasa dirinya orang paling menyedihkan. Aqua meletakkan piring dan gelas bersih di tempatnya, melangkah mendekati Kana, duduk di depan gadis yang terlihat sangat emosi.


"Kau itu selalu berbohong! Aku tahu kau pasti berpikir aku menyedihkan kan? Kau pasti berpikir begitu kan? Makanya kau bertanya apa saja yang membuatku takut kan!" Kana mencoba untuk bernapas di tengah emosinya pada Aqua.


"Kau tidak menyedihkan, Arima…." Aqua membalas dengan tenang. "Setiap aku melihatmu yang sekarang, aku selalu berpikir bahwa yang menyedihkan justru diriku."


Kana menatap Aqua kesal. "Kau memang orang paling sok tahu! Kau bahkan tidak mengenalku dengan baik, kau mengatakan seolah kau kenal baik diriku selama dua tahun ini." Kana berdiri dari duduknya. "Lebih baik katakan saja kalau aku menyedihkan, jangan menghiburku. Kau selalu seperti itu, hingga membuatku selalu salah paham. Padahal aslinya kau hanya memanfaatkanku."


Aqua ikut berdiri, membalas tatapan Kana padanya. "Aku tidak menghiburmu, tapi aku mengatakan ini dengan serius. Kau sangat hebat, kuat dan pekerja keras. Aku tidak pernah melihat dirimu menyedihkan."


"Ya, terima kasih atas hiburanmu, teman."


"Apa salah jika khawatir? Aku tidak pernah melihatmu seperti gadis yang menyedihkan. Bahkan sejak kecil aku selalu melihatmu sebagai orang yang hebat." Aqua mendekati Kana. "Aku selalu suka Arima Kana yang pekerja keras dan tidak pernah menyerah."


Kana menghentikan langkahnya, menatap Aqua. "Lalu kenapa kau bertanya apa saja yang bisa membuatku pingsan?"


"Aku khawatir," jawab Aqua menatap dalam mata Kana dengan tatapan sedih. "Aku tidak ingin melihatmu terluka lagi…."


"Lupakan saja, aku bisa salah paham jika kau terus bersikap baik dengan kalimat manis padaku." Kana masuk ke kamarnya.


...*****...


Setelah sarapan Kana tidak menyapa Aqua. Dia hanya menunggu Aqua selesai dan keluar rumah bersama setelah mengunci pintu. Kana melangkah mendahului Aqua ke Peternakan Ishigami, percakapan tadi pagi merusak mood gadis berambut merah itu.


"Aku dengar sapi milik Ishigami-san ada yang akan melahirkan ya?" tanya Aqua membuka percakapan.


Langkah kaki Aqua semakin lebar, ia mencoba mengejar Kana yang jalan mendahuluinya. Menangani Kana yang ngambek itu susah bagi Aqua. Ia pernah tidak diajak bicara berhari-hari, dan harus menyamar dengan topeng agar Kana mau berbicara dengannya lagi. Sekarang Kana ngambek lagi.


"Aku akan bantu Ishigami-san." Aqua menatap Kana di sampingnya.


"Bantulah, kau kan dokter kandungan!" ketus Kana memperlebar langkahnya menuju kandang sapi.


Ada rasa sedih dan kecewa bersamaan dalam hati Aqua, ia tidak menyangka pertanyaan saat sarapan sangat menyinggung Kana, padahal maksud pertanyaan itu agar Aqua bisa menjaga Kana dengan baik.


Sesampainya di peternakan sapi, Kana segera mengambil kereta dorong dan mengisinya dengan makanan. Aqua ikut mengambil kereta dorong, melakukan hal yang Kana ajarkan padanya kemarin. Ia masuk ke kandang dan memberikan makan pada para sapi. Di tempat lain, Ishigami dibantu beberapa pekerja lain tengah membantu persalinan sapi.


Ishigami mengelus perut sapi, sementara Aqua mendekati Ishigami karena penasaran dengan persalinan anak sapi. Sambil menunggu, Ishigami memeriksa terus perkembangan sapi. Dan tak lama terlihatlah hidung sapi dan kepala anak sapi (fetus) bersama dengan bahunya akhirnya keluar. Induk sapi sudah mengendus fetus, si anak sapi.


Darah keluar begitu banyak, kandang sapi yang dipakai untuk persalinan sapi tidak jauh dari kandang yang Kana tangani. Karena ramai orang, Kana yang penasaran ikut melihat dari kejauhan. Menyesal sudah ia mengikuti rasa penasarannya, segera ia membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar tempat persalinan sapi.


Bau darah menusuk penciumannya, ada rasa mual dari perut Kana. Kepalanya tiba-tiba pusing, napasnya pun sesak, seolah seseorang sedang membekap hidungnya.


"Ooweeek!" teriakan Kana sukses membuat satu kandang mengalihkan pandangannya ke arah Kana.


Wajah Kana memucat, semua makanan yang dia makan tadi pagi keluar semua. Kepalanya terasa semakin berat, pandangannya pun kabur. Kana mencoba untuk melangkah keluar kandang. Darah yang banyak dengan bau anyir itu terus mengganggu pikirannya. 

__ADS_1


Sekelabat wajah Hikaru Kamiki menghampirinya. Wajah dengan penuh darah di matanya, seringai mengerikan, dan suara beratnya mengisi pikiran Kana. 


Kana mencoba menutup mulutnya yang hampir muntah untuk kedua kalinya. Tangannya yang lain memukul dadanya agar tetap bernapas dengan normal. Keringat dingin sudah tubuhnya, wajah yang semakin pucat, dengan peluh yang membasahi seluruh wajahnya. 


Suara benturan terdengar setelah kepala Kana tepat mengenai besi pintu masuk kandang. Kana tergeletak tak sadarkan diri dengan tubuh yang terus gemetar dan pucat.


Aqua berlari mendekati Kana, mencoba menyadarkan Kana. Kejadian Kana terlalu cepat, hanya karena darah yang banyak, dia langsung pingsan bahkan sampai memuntahkan semua isi perutnya. Tangan Kana mencengkram kuat baju Aqua, matanya setengah terbuka dengan air mata yang menetes. 


"Tolong, jangan bunuh aku…" bisik Kana sebelum matanya terpejam dengan sempurna.


...****************...


Dengan cekatan, Aqua meraih handuk basah dan membersihkan keringat di wajah Kana. Istri Ishigami datang dengan membawa pakaian ganti untuk Kana.


Sejak Kana pingsan di kandang, Aqua membawa Kana ke kamarnya di penginapan Ishigami. Karena jarak terdekat dari kandang hanya penginapan Ishigami saja. Perasaan Aqua campur aduk, apalagi setelah mendengar penuturan Kana untuk tidak membunuhnya, semakin membuat Aqua tidak berdaya.


"Kana-chan hanya perlu istirahat dan obat penenang saja." Ishigami duduk di samping Aqua yang terlihat frustasi. "Arima-sensei mengatakan padaku untuk membantumu merawat Kana-chan."


Aqua hanya terdiam, menyimak kalimat Ishigami. Wajah Kana saat di peternakan tadi masih mengisi pikirannya. Dalam waktu yang berdekatan, Aqua melihat sisi terlemah Kana yang semua terjadi karena kasus pembunuhan dua tahun lalu.


"Kau tidak perlu khawatir berlebihan. Dia akan baik-baik saja." Ishigami berdiri, ketika melihat istrinya keluar dari kamar Aqua.


Sudah terbaring di atas kasur Aqua. Kana juga sudah berganti dress tidur berwarna putih, selimut menutupi tubuhnya. Sementara wajahnya sudah lebih tenang. Istri Ishigami memberikan infus dengan beberapa obat di sisi ranjang Kana.


Aqua duduk di sisi ranjangnya, menatap Kana yang masih terbaring. Rasa bersalah Aqua pada Kana memang sudah tidak sebesar dulu, tapi sekarang dia benar-benar khawatir pada Kana. Perasaannya pada Kana yang ia coba tutupi dan hilangkan, tidak bisa ia lakukan dengan baik. Setiap gadis itu terluka, Aqua merasa ikut terluka. 


"Daijobu…" Kana tersadar ketika air mata Aqua mengenai pipinya. "A-kun, kenapa kau menangis?"


Aqua menundukkan kepalanya,  membuat wajahnya tidak terlihat oleh Kana. Isakannya ia tahan, berharap tangisnya berhenti. Tapi, itu tidak mudah. Tangan Kana mengelus kepala Aqua lembut, terdengar kekehan pelan khas dari Kana. Tangan gadis itu menarik dagu Aqua, menampakkan wajah Aqua yang sudah memerah dan basah dengan air mata.


"Kenapa menangis sih? Harusnya yang menangis itu aku!" seru Kana seraya menatap Aqua dari posisinya. Ia tersenyum. "Kalau kau menangis seperti ini, aku bisa merasa sangat menyedihkan."


Kana mencoba untuk duduk. Aqua mengalihkan pandangannya, tidak peduli bagaimana Kana menatapnya sekarang. Ia hanya ingin menangisi dirinya sendiri.


"Sudah tidak perlu menangis. Aku bisa menangis juga nanti…" wajah Kana sudah memerah. "Apa aku sangat menyedihkan, sampai kau menangisiku seperti ini?"


Aqua duduk di kasur, menarik Kana ke pelukannya. "Aku menangisi diriku sendiri. Kau tidak menyedihkan! Tidak sama sekali, jadi jangan tanamkan hal itu di otakmu!"


Kana membulatkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang dilakukan Aqua padanya saat ini.


"Kana…"


Kana semakin membulatkan matanya, nama depannya akhirnya dipanggil Aqua. Semoga dirinya tidak salah dengar, atau Aqua salah ucap.


"Kau kuat, kau hebat. Percayalah pada dirimu sendiri." Aqua mengeratkan pelukannya pada Kana. Tidak bisa berkata dengan jujur, Aqua ingin mengungkapkan perasaannya, tapi dia urung, dia takut dengan segala kemungkinan. Merasa dirinya tidak pantas untuk Kana. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2