Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Pergi Ke Pasar


__ADS_3

Pagi pertama musim panas setelah semalam pulang dari Tokyo. Kana yang sudah melakukan aktifitas paginya yaitu bersih-bersih rumah dan tubuh pun masuk ke kamar Karma. Pemuda itu masih terlelap tidur bahkan sampai tidak sempat membuka kaos kaki.


Bahan makanan sudah habis, Kana mengambil tas belanja di dapur dan segera pergi keluar dari rumahnya menuju toko yang menjual bahan makanan. Sambil berlari kecil hingga toko, Kana bersenandung dengan senangnya. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain kembali ke desa. Sebelum sampai ke toko, Kana menulis bahan apa saja yang akan ia beli.


Toko tempat biasa Kana belanja bahan makanan tutup, begitu juga toko-toko yang lain. Dengan langkah ragu, Kana akhirnya keluar desa dan pergi ke pasar. Perjalanan menuju pasar sangatlah sepi, hanya beberapa orang saja yang lewat.


"Hai..." sapa seorang pria pada Kana tiba-tiba. "Sendirian nih? Mau ditemani?" tanya pria itu lagi.


Mencoba untuk tidak peduli, Kana melebarkan langkahnya. Ia tidak ingin menjawab, menduga ataupun menatap langsung ke arah pria yang sedang menggodanya itu.


"Desa ini sangat sepi loh. Kenapa pagi-pagi sudah ada di sini?" Suara pria yang berbeda kini terdengar di telinga Kana. Sementara terdengar tawa dari beberapa pria lain yang berjalan di belakang Kana.


"Akhirnya kau pulang ya..." Pria pertama kembali membuka suara.


Tangan Kana semakin erat menggenggam tas belanja yang ia bawa di bahu kanannya. Kana tidak ingin mengambil kesimpulan tentang pria-pria yang datang mendekatinya ini. Tapi, semua itu sia-sia, karena ia tahu mereka adalah penguntit yang mengikuti Kana selama sebulan.


"Sudah seminggu ya kau tidak ada kabar, kami menunggumu loh!" sahut pria lain.


Wajah Kana memucat seketika, tebakannya akurat. Ia merogoh saku celana panjangnya. Mengeluarkan ponsel, sambil terus melangkah menjauhi para pria hidung belang itu.


"Ya, aku akan segera ke sana. Bisa tolong ke sini? Di arah jalan menuju pasar dari Desa Higashinaruse." Kana mulai mempercepat langkahnya setengah berlari.


"Apa yang kau lakukan?" tanya pria besar yang sudah berada di hadapannya. Ia menyeringai dengan lebar. "Ikut kami!"


"Kalian siapa? Aku tidak mengenal kalian!" seru Kana membela diri.


Kedua tangan Kana sudah diapit dua pria lain menuju gang sempit di sekitar jalan. Ponsel milik Kana terjatuh beserta tas belanjanya. Sekuat tenaga Kana meronta, menggunakan kedua kakinya untuk menendang ke sana ke mari. Tidak lupa ia berteriak meminta tolong.


"Tidak akan ada yang lewat di sini..." Seringai menggelikan sekaligus menakutkan terlihat dari salah satu pria yang mengapit Kana.


Suara benturan antara tanah dan tubuh Kana terdengar keras. Lima orang yang sudah berdiri mengitari Kana yang ketakutan. Pikiran Kana menerawang ketika empat tahun lalu di ruangan dengan lampu remang-remang. Perasaan dan kekhawatiran yang sama ketika itu kini memenuhi dirinya.


Lima lelaki itu menyeringai menatap Kana. Gang sempit, cahaya matahari pagi tertutup oleh tubuh mereka. Kana mencoba mengatur napasnya yang mendadak sesak. Tubuhnya bahkan sudah gemetar.

__ADS_1


"Sialan! Siapa kalian! Aku tidak ada keperluan dengan kalian!" gertak Kana dengan suara meninggi.


"Kami akan segera berkenalan denganmu, Nona..." Salah satu dari mereka menarik lengan Kana dan mendudukkan Kana di sebuah kursi usang.


"Haruskah kita mulai pagi ini?" tanya yang lain pada kawannya. "Ini sudah terang," lanjutnya.


"Dia yang datang sendiri ke sini, jadi mulai saja sekarang..." balas yang lain seraya mendekati Kana dengan sebuah tali di tangannya.


Tubuh Kana terus gemetar, kekhawatiran tentang kejadian empat tahun lalu terus menyelimuti perasaanya. Ketakutan akan kejadian bersama pria berambut blonde itu terus berputar. Perut dan tenggorokan Kana terasa mual. Ditambah bau pesing di gang tercium menusuk hidungnya.


Asap rokok dan bau alkohol mulai tercium dari para lelaki hidung belang itu. Mereka tertawa dengan keras, menyentuh ujung rambut Kana dengan terus menggoda.


Lawan mereka, Kana! Suara hati Kana terus berteriak, namun tubuh Kana merespon hal lain.


Salah satu dari mereka mendekati Kana, menarik paksa dagu mungil gadis ketakutan itu.


"Ueeek!"


Kana memuntahkan semua isi perutnya tepat di depan wajah lelaki yang mencoba melecehkannya. Suara teriakan dan kalimat caci maki terdengar sahut menyahut dari kawanan lelaki hidung belang.


Tangan Kana merogoh saku celananya, ia meraih pisau lipat di sana. Setelah kejadian mengerikan empat tahun lalu, Kana mengambil kesimpulan untuk menyediakan segala macam alat untuk berjaga-jaga. Ia berdiri dari duduknya, menatap balik para pria dengan seringai yang tidak kalah menakutkan.


Aktris terbaik bukanlah sekedar omong kosong, Kana membuat peran dirinya menjadi wanita gila dan psikopat. Berhasil tidaknya, semua harus serba nekat. Lima pria dihadapannya adalah penjahat, jadi ia tidak boleh gentar, panik apalagi terlihat ketakutan.


"Sialan! Maju kalian!" Gertak Kana.


Suara tawa kini terdengar di dalam gang sempit. Wajah Kana berubah menyeramkan, ia mengangkat tinggi pisau kecil di tangan kanannya sambil terus tertawa. Menampakkan sosok yang berbeda dengan gadis yang pertama kali dipaksa masuk ke gang sempit.


"Kalian ini mau bermain denganku, kan?" tanya Kana dengan mata melebar, menatap satu persatu pria di hadapannya.


Usia mereka sekitar lulus SMA. Kemungkinan terbesar mereka menganggur dan beralih menjadi preman pasar. Lucu sekali jika mereka mengira Kana anak SMA atau sebaya mereka. Padahal usia mereka seumuran dengan Karma.


"Berani juga kau ya? Sekarang tangkap saja dia!" pria bertudung itu menarik lengan Kana dengan paksa bersama pria lain.

__ADS_1


Dengan sekali tendangan, Kana menjatuhkan salah satu lawannya. Sementara tangannya yang lain terus mengayunkan pisau dan membuat tinju. Pelajaran beladiri dari Taiga, sekarang berguna, meskipun kekuatan tinju dan tendangan dari Kana tidak terlalu kuat, tapi cukup bisa membuat perih lawan.


Tiga dari lima pria itu tersungkur ke tanah dan segera berdiri. Menarik kembali jaket Kana, menjatuhkannya ke tanah dengan cepat. Tinju pertama mendarat dengan perih ke pipi kanan Kana. Tinju kedua tidak berhasil, Kana menghindar dengan cepat. Kakinya menendang selangkan*an lawannya, membuatnya mengaduh seketika.


Kana berdiri, melayangkan pisau ke arah lengan pria lain yang mencoba mengganggunya. Darah menetes di sana. Kana kembali tertawa, mencoba untuk keluar dari gang sempit, mengambil ponselnya dan berlari ke kantor polisi secepat mungkin.


Namun, sebelum sampai keluar gang. Salah satu dari pria itu menarik rambut Kana sekuat tenaga. Membenturkannya ke dinding. Bukan meringis sakit, Kana justru kembali tertawa. Lidahnya membasahi bibirnya. Bau anyir kini menusuk hidungnya, tetesan darah keluar dari keningnya.


"Kau tidak bisa bermain dengan kami, Nona!" seru pria itu, menjepit tubuh Kana dengan dinding, menekan kepala gadis itu sekuat tenaga.


"Hey bocah!" panggil Kana dengan seringai. "Kau tahu aku siapa?" Kana bertanya dengan nada merendahkan. "Kau tahu aku pernah membunuh seseorang? Apa kau pikir aku gadis polos?"


"Tujuan kami berganti untuk bermain dengan gadis sakit jiwa sepertimu..." Suara berat terdengar mendekati Kana dan pria yang menjepitnya.


Suara tawa Kana kembali terdengar, kali ini lebih keras. Pisau di tangan Kana sebelumnya sudah diambil salah satu dari mereka. Kedua tangannya ditahan oleh pria lain. Kali ini ia terjebak diantara lima pria yang sudah babak belur juga.


"Seret dia!" seru salah satu dari mereka membuat perintah yang langsung diikuti kawannya.


Kana kembali di dudukkan di kursi. Wajahnya sudah berantakan, rambutnya acak-acakkan ditambah keningnya terus meneteskan darah. Tangannya diikat paksa ke belakang kursi.


Kaki yang terbebas, mulai menendang kepala salah satu dari mereka. Berusaha sekuat tenaga melepas tali di tangannya, Kana mengedarkan pandangannya. Hanya ada kursi usang yang ia duduki. Tangannya meraih kursi usang dan membenturkannya ke punggung pria terdekat dengan dirinya.


Berusaha tetap tenang diantara perih dan lelah tubuhnya, Kana kembali melakukan perlawanan. Tidak akan selesai jika hanya tinju dan tendangan.


Batu!


Tangan Kana meraih batu dan menggenggam pasir bercampur tanah kering. Ia berusaha berlari dan menendang para pria yang sudah siap untuk menjepit dirinya lagi. Pasir di tangan kirinya kini ia sebarkan di depan wajah pria yang mencoba memukulnya.


Tinju kembali di terima Kana tepat pada perutnya. Secepat mungkin, Kana memukul kepala pria tadi dengan batu hingga berdarah. Sisa dua pria lagi, Kana berlari keluar dari gang. Meraih pisaunya dan mengambil batu lagi. Sekarang tujuannya hanya satu, keluar dari gang ini untuk mencari bantuan.


Dug!


Pukulan keras menghantam punggung kecil Kana. Sedetik kemudian gadis itu sudah jatuh menatap tanah. Pandangannya kabur, perih sudah punggungnya. Kepalanya yang berdarah kini terasa nyeri.

__ADS_1


"Tolong aku, Ayah..."


...****************...


__ADS_2