Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Balas Dendam


__ADS_3

Kana berhenti di depan apartemennya. Menaiki tangga ke lantai 3. Tepat di depan pintu, Aqua sudah berdiri di sana. Kana yang sudah lelah terasa semakin lelah, harus melanjutkan perdebatan dan bertemu Aqua malam ini.


"Ruby pasti mencarimu, pulang sana! Aku sedang tidak ingin bicara denganmu!" ujar Kana seraya membuka pintu apartemennya.


Aqua berdiri di samping Kana yang bersiap masuk rumah, menahan Kana untuk masuk. "Katakan saja apa yang ingin kau katakan."


"Mati saja sana! Rencanamu sudah sangat bagus kok…." Kana mengeluarkan kalimat yang selalu ia ucapkan untuk mengumpat Aqua.


"Ada lagi?" tanya Aqua mencoba tetap terlihat biasa saja.


"Kau mau apa lagi? Kau memang lebih suka melakukan semuanya sendiri kan? Kau bahkan membohongi dirimu sendiri. Aku tidak paham tentangmu!" Kana menarik knop pintu apartemennya.


Aqua menatap Kana, seolah mencari kalimat yang bisa membuatnya tenang. Tapi, raut wajah Kana terlihat terlalu kecewa. Bukan marah ataupun kesal. Seperti ada sesuatu yang ingin meledak di hati Aqua, namun dia tidak mengerti itu apa.


Kana masuk ke dalam apartemen, Aqua ikut masuk ke apartemen Kana. Sontak Kana berteriak kaget, mencoba mendorong Aqua keluar. Bukan malah keluar, dia malah menutup pintu apartemen Kana.


"Aku lelah… Kau ada perlu apa sebenarnya?" tanya Kana yang sudah lelah dengan tingkah Aqua malam ini.


Kana menyalakan lampu ruang tengah yang menyatu dengan dapur. Apartemen Kana minimalis dengan penataan yang rapih. Ditambah ornamen-ornamen klasik yang menambah keindahan di dalamnya.


Aqua duduk di sofa ruang tengah Kana. Menatap Kana yang sudah berdiri di pantry untuk membuat minuman dan menyediakan makanan ringan dari dalam kulkasnya. Kana bahkan belum mengganti bajunya, hanya meletakkan tas miliknya ke sembarang tempat.


"Arima…." Aqua mencoba memanggil Kana yang sibuk di dapur. Kana hanya menyahut pelan tanpa merespon dengan kalimat lain. "Arima…."


"Apa!" sahut Kana lagi. Ia sibuk mencari makanan ringan di dalam lemari.


"Arima…."


"Apa!" sahut Kana lagi.


"Arima…."


Kana melangkah keluar dapur dengan nampan berisi minuman dan beberapa makanan ringan. Wajahnya terlihat kesal karena terus dipanggil tanpa kejelasan.


"Apa! Apa! Apa!" tanya Kana kesal seraya meletakkan nampan di atas meja. "Apa!" serunya kesal.


Aqua mengalihkan pandangannya, ia tersenyum tipis melihat ekspresi kesal Kana.


"Jadi?" tanya Kana setelah ia duduk di sofa berhadapan dengan Aqua. "Ini sudah malam, kau bisa memperjelas maksud kedatanganmu ke sini."


Aqua merubah posisi duduknya menjadi lebih santai. Melihat ekspresi kesal Kana tadi, membuatnya sedikit lebih nyaman dibanding saat pertama kali ia masuk ke apartemen Kana.


"Soal balas dendam itu…." Aqua mencoba membuka percakapan namun tidak ingin menatap balik Kana di hadapannya. "Apa komentarmu?"

__ADS_1


Kana menyilangkan kakinya, menopang dagunya menatap Aqua. "Lakukan saja semaumu. Mati pun juga tidak masalah."


Aqua bergeming. Ia hanya terus mengalihkan pandangannya dan berusaha untuk tidak menatap balik tatapan Kana padanya.


"Ah-kun…" Kana memanggil Aqua dengan sapaan khasnya. Aqua akhirnya menatap balik Kana. "Aku tidak mengenalmu dengan baik. Tapi aku yakin sekali, kau bukan orang yang melakukan hal-hal gila. Seperti yang aku katakan padamu, balas dendam hanya akan membuatmu terluka. Kau sudah membuat Kamiki Hikaru menderita, tapi tak perlu harus melakukan hal yang sama seperti kejahatannya."


Kana tersenyum menatap Aqua yang hanya berwajah datar tanpa membalas kalimat Kana.


"Apa kau kecewa?" tanya Aqua.


"Jelaslah! Aku kecewa karena ternyata kau tidak menganggapku teman!" seru Kana seraya menyandarkan punggungnya ke sofa. "Padahal aku menganggapmu teman terbaikku, tapi masalahmu saja aku tidak tahu! Teman macam apa aku ini!"


Aqua menatap Kana yang sudah uring-uringan dengan mulut yang terus mengoceh.


"Kau harusnya bercerita padaku! Maksud dari film itu! Balas dendammu juga!" Kana menunjuk wajah Aqua kesal.


"Tidak ada yang tahu rencana balas dendamku kecuali sutradara Gotanda dan Akane."


"Kurokawa Akane?" tanya Kana kaget, Aqua mengangguk. Kana menepuk jidatnya. "Ternyata aku memang tidak berguna ya untukmu. Dasar playboy!"


"Tapi, kau sangat membantuku." Aqua memberikan tanggapan.


"Membantu apa? Kau saja kemarin seperti hampir mencekikku dengan tatapanmu karena aku tahu rencana balas dendammu." Kana menatap Aqua kesal. "Ya, lagi juga hanya aku yang menganggapmu temanku. Jadi, ya terserah dirimu saja." Kana berdiri menjauhi sofa.


Perasaan dendam dan keinginan untuk membuat Kamiki menderita atau masuk penjara lebih ia inginkan. Namun, dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Karena sebelum Kamiki mati, perasaan benci ini masih akan terus tersimpan dan membuatnya tersiksa.


Kana keluar dari kamarnya, dengan baju tidur tanpa lengan sepaha berwarna peach. Aqua yang sadar kedatangan Kana, segera mengalihkan pandangannya.


"Pulang sana!" usir Kana sambil berdiri di hadapan Aqua. "Kau mau melakukan pembalasan dendam itu kan? Lebih baik di rumah saja, jangan di tempatku. Mengotori kesucian tempatku tahu!"


Aqua meraih minuman kaleng di atas meja. "Kau mau bantu aku?"


"Gila kali…. Aku tidak mau melakukan hal gila seperti itu. Jadi jangan ajak aku!" Kana kembali duduk di hadapan Aqua, melihat ponselnya.


"Katanya kau merasa tidak membantuku sama sekali. Katanya kau temanku…" Aqua menatap Kana dengan nada meledek.


Kana melempar bantal sofa di sampingnya, tepat mengenai wajah Aqua. "Menyadarkanmu juga membantu namanya. Bodoh sekali!"


Aqua kembali terdiam. Pandangannya kini fokus menatap Kana yang sedang memainkan ponselnya. Bahkan tidak merasa terganggu dengan kehadiran Aqua.


"Kalau aku ingin membuatnya mati, apa kau bisa menyadarkanku?" tanya Aqua lagi.


Kana berhenti memainkan ponselnya, menatap Aqua serius. "Yasudah, mati saja berdua. Saling bunuh, jadi selesai, kan?"

__ADS_1


"Kalimatmu kenapa menyakitkan seperti itu sih…." Aqua kembali meraih minuman kaleng miliknya.


Kana tertawa dengan nada meledek. Ingin rasanya ia meninju Aqua. "Kau jelas sekali tidak mau melakukan pembunuhan. Tapi, kau memaksa agar Kamiki Hikaru ikut mati juga. Padahal aku yakin, dia tidak menyesal melakukan pembunuhan kepada Ai ataupun artis lain."


Aqua menatap Kana, terdiam dengan kalimat terakhir Kana. Menyesal? Ya, apa Hikaru Kamiki menyesal telah membunuh Ai? Atau justru merasa sangat senang dan akan tertawa saja. Sementara Aqua, di masa sebelum reinkarnasi adalah seorang dokter yang mana selalu siap menyelamatkan nyawa banyak orang.


"Jadi…" Aqua mengeluarkan kata yang semakin membuat Kana bingung. Datang ke rumah wanita tengah malam, hanya untuk bertanya hal tidak jelas seperti ini.


"Jadi, kau pulang saja. Mandi dan rendam kepalamu di air es. Karena aku sudah mengantuk." Kana menatap Aqua kesal. "Kau sudah tahu jawabannya, tapi tidak mau mengakuinya. Sungguh merepotkan."


Aqua masih menatap Kana yang kembali sibuk dengan ponselnya. "Aku tidur di sini."


"Hah?" Kana setengah berteriak. "Eh, kau tahu ini rumah perempuan! Seorang gadis! Kau gila, hah?"


"Apa bedanya jika aku pulang malam ini, bisa saja ada skandal seperti skandalmu yang dulu dengan sutradara itu." Aqua menjawab seraya melepas jaketnya.


Kana melongo tidak percaya. "Bukan begitu bodoh! Tapi tetap saja kau itu laki-laki dan aku perempuan!"


"Aku tidak akan melakukan hal menjijikan seperti itu." Aqua berdiri meletakkan jaketnya. "Aku perlu ke kamar mandi. Seperti katamu aku harus berendam air dingin."


Kana berdiri di hadapan Aqua. "Pulang saja sana! Aku tidak pernah punya tamu yang menginap!"


Aqua menundukkan wajahnya, Kana dengan pakaian tidurnya terlihat lebih seksi. Ditambah bagian dadanya lebih rendah, menampakkan belahan dadanya, tidak biasanya dia memakai baju seperti ini.


"Aku akan tidur di luar, kau bisa tidur di kamarmu. Jadi cepat tidur, kau besok harus melakukan latihan lagi, kan!" Aqua mengalihkan pandangannya setelah sadar tatapannya sudah terlalu salah arah. "Bajumu ganti saja, jangan pakai yang seperti itu."


Kana menginjak kaki Aqua sekuat tenaga seraya menyilangkan lengan di dadanya. "Hentai!"


Kana sudah tidur di kamarnya. Ia meninggalkan selimut dan bantal di sofa ruang tamu untuk Aqua tidur. Aqua akhirnya keluar dari kamar mandi, menatap pintu kamar Kana yang sudah tertutup rapat. Setelah mandi di bawah siraman air dingin, Aqua merasa lebih baik, meskipun ia masih bimbang. Dan, malam ini ia belum bisa mengambil keputusan.


...****************...


Seseorang menindih tubuh Aqua dengan pisau di tangan kanannya. Aqua mencoba untuk melepas tindihan dari orang tersebut. Tidak jelas wajahnya, ia hanya bisa merasakan sesak yang tidak berujung. Hingga sesuatu yang hangat menyentuh tangannya. Membuat Aqua mulai bernapas dengan normal.


...****************...


.......


.


.


Terima Kasih sudah mampir untuk membaca, jangan lupa untuk tekan like, subscribe dan tinggalkan komentar ya ^^

__ADS_1


__ADS_2