Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Berita Kematian


__ADS_3

Ruby melingkarkan tangannya di lengan Aqua, mereka pergi ke pusat swalayan untuk berbelanja. Mereka mengitari beberapa toko pakaian. Sampai akhirnya di toko khusus topi. Aqua dan Ruby masuk ke dalamnya. Mereka memilih beberapa topi yang terlihat cocok. Aqua mengambil topi berwarna biru langit. Memakainya sambil bercermin di kaca.


Seorang gadis berdiri jauh di belakang Aqua terlihat di pantulan cermin yang tengah Aqua pakai. Gadis itu membeli satu topi baret berwarna putih. Dan segera keluar dari toko topi setelah membayarnya.


Aqua terdiam, memutar tubuhnya. Menatap gadis dengan topi baret yang menjauhi toko. Aqua sudah berjanji untuk bahagia, melindungi Ruby dan menjadi kakak terbaik untuk adik kembarnya.


Ruby mengikuti arah pandang Aqua yang sudah memegang topi baret di tangannya. Terdiam dan kembali meletakkan topi tersebut pada tempatnya.


"Kita beli couple yuk!" ajak Ruby seraya menunjukkan dua buah topi dengan warna biru dan pink.


"Boleh…." Aqua tersenyum seraya meraih topi di tangan Ruby.


Mereka memilih pakaian yang sama dan setelah lelah makan siang di kafe. Memesan makanan dan minuman pesanan mereka. Selama perjalanan menuju kafe, ada banyak orang yang meminta tanda tangan Aqua dan Ruby, mereka melayaninya dengan senang hati.


"Ruby, apa menurutmu aku bisa menjadi dokter lagi?" tanya Aqua seraya mengaduk kopi miliknya.


"Bisa! Tapi, apa itu yang onii-chan inginkan?" Ruby balik bertanya dengan senyum yang terus mengembang.


"Aku bukan lagi Gorou Amemiya. Cara berpikir dan segalanya sudah berbeda. Ada tembok besar yang menghalangiku dengan diri Hoshino Aqua sekarang. Kau pasti menyadarinya juga bukan?" Aqua menatap Ruby. "Bakat yang dibawa dari diri Aqua ini menjadi sesuatu yang membuatku hebat. Jadi, aku ragu untuk bisa kembali menjadi dokter karena diriku bukan diriku yang dulu."


Ruby menatap Aqua yang sudah membuang pandangannya keluar kafe. Terkadang perasaan Ruby kepada Aqua memang tidak bisa diartikan. Ia ingin Aqua tetap menjadi Gorou, tapi seperti kata Aqua. Ada pembatas antara dirinya sebagai Sarina dan sebagai Ruby.


"Pilih yang kau mau. Kau pasti bisa memilih yang terbaik." Ruby tersenyum menatap Aqua. "Semua pilihan pasti ada kekurangan dan kelebihannya."


Aqua mengelus kepala Ruby lembut. "Terima kasih sudah menemani hari-hariku."


Wajah Ruby merona. Tatapan tulus Aqua pada Ruby membuat Ruby merasa itu adalah tatapan Gorou untuknya.


...****************...


Aqua lebih sering pergi bersama Ruby mengunjungi banyak tempat berdua. Perlahan tapi pasti, Aqua akhirnya melupakan rasa bersalahnya pada Kana. Ia menjadi lebih sering tersenyum. Tawaran iklan dan film membanjiri kedua kakak beradik itu. Sebagai individu maupun partner. Nama mereka semakin melejit.


Satu tahun berlalu dengan ketenaran kedua saudara kembar itu. Begitu juga dengan Akane yang sudah menjadi aktris terkenal. Mem yang akhirnya melakukan graduation dari B-Komachi untuk fokus menjadi Youtuber dan Tiktoker. Ruby menjadi penyanyi solo sekaligus aktris. Mereka dalam masa kejayaan mereka.


Semua kembali normal, meskipun hilangnya Arima Kana masih belum jelas di mana. Tidak ada kabar tentang Kana selama satu tahun. Dan semua orang telah melupakan itu.


"Kau agensi Arima Kana bukan?" tanya seorang wanita kepada Miyako di ruangannya.


"Ya, tapi kami sudah lama tidak mendengar kabar tentang Arima Kana."


Aqua yang sedang membaca jadwal di ruangan Miyako menatap wanita berambut merah gelap itu. Wajahnya hampir mirip Kana.

__ADS_1


"Katakan pada media dia sudah mati, aku perlu mengambil asuransi kematiannya."


Miyako menatap kesal wanita di depannya. "Maaf, tapi siapa kau? Apa hubungannya dengan Kana-chan?"


"Aku ibunya. Aku butuh uang asuransi kematian Kana!"


"Maaf, tapi Kana-chan masih dinyatakan menghilang." Miyako mencoba untuk tidak emosi menjawab kelancangan ibu dari Arima Kana.


Tatapan membunuh kini Aqua berikan pada ibu Kana. Ia tidak habis pikir, Kana memiliki ibu yang begitu jahat padanya. Meninggalkannya selama ini, lalu meminta surat kematian Kana untuk mengambil uang asuransinya. Padahal Kana belum jelas tentang jasadnya.


"Apa ada orang hilang sampai satu tahun? Ditambah dia hampir dibunuh!" ujar Ibu Kana. "Aku hanya akan mengabari ini pada kalian. Karena aku akan menggelar pemakaman Kana pekan depan."


Aqua berdiri mendekati Miyako dan ibu dari Kana. "Apa kau tidak sedih atau khawatir dengan hilangnya anakmu?"


"Sekalipun khawatir, dia sudah hilang. Dan aku butuh uang cepat. Jadi, ini jalan satu-satunya." Ibu dari Kana yaitu Arima Yura itu melangkah keluar. "Akan ada wartawan, jadi kuharap kalian tidak banyak mengatakan hal yang tidak perlu."


Di luar akal sehat. Ternyata banyak manusia berkelakuan iblis di dunia ini. Kana yang selalu tersenyum dan berpura-pura baik-baik saja. Tulus memberikan semua yang dia punya untuk orang-orang terdekatnya, tidak punya siapapun di sisinya.


"Apa kau akan menghadirinya?" tanya Aqua pada Miyako.


"Aku tidak ingin datang. Kalau kau mau datang, silahkan saja. Tapi, aku tidak mau. Hidup seperti apa yang diterima Kana hingga saat ini." Miyako berdiri, memijat kepalanya.


Kaki Aqua melangkah keluar dari ruangan Miyako. Ia sudah ingin melupakan Kana dan berpikir bahwa semua bukan salahnya. Namun, hidup Kana terlalu mengenaskan. Sangat mengenaskan, dia tidak tahu hidup seperti apa yang Kana lalui sendirian sejak kecil.


...****************...


...Arima Kana dinyatakan meninggal dunia, setelah satu tahun menghilang. Kini keluarga tengah berduka. Pemakaman dilakukan secara tertutup....


"Apa ini benar?" tanya Ruby pada Aqua setelah mendengar berita Kana pagi itu.


"Itu hanya bohongan saja, ibunya memalsukan kematian Arima untuk mengambil asuransi kematiannya." Aqua menjawab. "Sudah jangan ditonton lagi…."


"Onii-chan…. Bagaimana jika senpai benar sudah meninggal?" tanya Ruby, matanya menatap Aqua yang siap mematikan televisi.


Aqua mengalihkan pandangannya, menundukkan kepalanya. "Aku akan terima kenyataan itu jika jasadnya sudah ada di depan mataku."


"Kana-chan dipastikan sudah meninggal." Miyako tiba-tiba datang dengan wajah sedih. "Kepolisian mengabari jasad Kana-chan ditemukan di dalam ruang kosong sudah tidak berbentuk." Miyako hampir muntah mengingat gambar dan bukti yang diberikan padanya.


"Maksudnya?" tanya Ruby panik.


"Jam tangan dan tangan kiri Kana-chan ditemukan. Aku tidak sanggup melanjutkan ini…." Miyako segera berlari ke kamar mandi.

__ADS_1


Aqua membulatkan matanya. Hanya ditemukan tangan kirinya saja? Lalu dimana anggota tubuhnya yang lain? Apa Kana dimutilasi dan jasadnya di sebar ke tempat lain? Tapi, bagaimana bisa? Siapa yang tega melakukan itu padanya, apa suruhan Hikaru Kamiki?


Sama syoknya dengan Miyako, Aqua ikut keluar dari ruangan, berlari menuju kantor polisi. Meminta kejelasan tentang jasad Kana yang masih samar. 


Sementara Ruby menghubungi Mem untuk bertanya apakah akan menghadiri pemakaman Kana besok. Dan mereka memutuskan untuk pergi ke pemakaman Kana besok bersama yang lain, seperti Akane Kurokawa, Himekawa Taiki, Melt, Sutradara Gotanda dan Produser Kaburagi.


"Seseorang mengirimkan jam tangan ini kepada kami dan langsung kami eksekusi tempat tersebut." Seorang detektif duduk di hadapan Aqua. "Di ruang bawah tanah yang tidak pernah tersentuh siapapun. Kami menemukan bercak darah yang sudah mengering. Di sana kami hanya menemukan tangan dengan jam tangan ini saja."


"Apa tidak ada yang lain selain tangan?" tanya Aqua dengan wajah pucat.


"Sampai saat ini, hanya itu saja yang kami temukan. Keluarga Arima Kana juga sudah mengkonfirmasi bahwa itu adalah jam tangan Kana yang selalu dipakai sejak dia SMP. Jadi, kami akan menutup kasus ini, karena keluarga yang meminta."


Aqua keluar dari kantor polisi dengan tatapan kosong. Ada sesuatu yang janggal di jasad Kana. Setelah pekan kemarin Arima Yura datang ke agensi meminta surat kematian Kana dan pekan ini mayatnya ditemukan hanya tangannya saja. Aqua masih tidak ingin percaya. Sangat tidak ingin percaya bahwa Kana sudah meninggal.


...****************...


Acara pemakaman Kana dihadiri banyak wartawan dan orang-orang yang berkontribusi di dunia hiburan. Semua bersedih dan berkabung atas meninggalnya Arima Kana setelah ia menghilang selama satu tahun. 


Ruby dan Mem tidak berhenti menangis selama upacara terakhir. Aqua hanya diam mengamati Arima Yura yang tidak menangis sama sekali. Di sebelahnya duduk pria tua, kakek dari Kana. Ayah Kana tidak hadir di pemakaman putrinya. Hanya ada ibu dan kakek serta bibinya yang tidak menangis atau bersedih sama sekali.


Acara pemakaman selesai. Aqua bersama yang lain keluar dari ruang pemakaman. Akane tak berhenti menatap wajah Aqua yang terlihat kesal bukannya sedih. Gotanda mengelus kepala Aqua seraya berlalu, tanda ia menguatkan remaja yang sudah ia anggap putranya itu.


"Bahkan ayahnya tidak datang ke pemakamannya. Senpai…." Ruby memeluk Mem, merasa sedih dengan kehidupan Kana. Meski tidak mengetahui masa lalu Kana. Tapi Ruby merasa Kana merupakan gadis cantik dan pekerja keras.


Acara pemakaman ini membuat Aqua muak, ia memilih ke kamar mandi sebelum pulang ke rumah. Perasaannya kesal bercampur sedih. Ia tidak mengerti kenapa Kana hidup dengan orang tua seperti itu. Dia juga tidak mengerti kenapa hidup Kana terlalu menderita seperti ini. Kematiannya yang sangat tragis, apa tidak ada kebahagiaan untuknya.


Fokus dengan pikirannya, Aqua menabrak seseorang dengan setelan hoodie hitam dan jaket hitam. Aqua menyadari bahwa sesuatu milik orang tersebut jatuh. Bermaksud menghentikannya, tapi justru seseorang dengan setelan hitam itu segera menarik stempel berbentuk lipstick dari tangan Aqua.


"Cih…. Mati sana…." bisiknya seraya pergi meninggalkan Aqua dengan sangat cepat.


Umpatan yang selalu Aqua dengar, ia mencerna kalimat tadi. Menatap kepergian seseorang yang baru saja ia tabrak. Tubuhnya kecil, tangannya juga seperti tangan perempuan. Suaranya….


"Arima!" Aqua berlari keluar pemakaman yang dipenuhi wartawan. Menerobos banyak wartawan di sana. Aqua mencoba mengedarkan pandangannya ke area parkiran pemakaman. Tidak lagi ia temukan perempuan dengan hoodie seperti tadi.


Seseorang yang menabrak Aqua tadi, membuatnya berpikir bahwa itu adalah Kana. Karena kalimat dan nada yang sama seperti umpatan yang biasa dikatakan Kana. Jika benar itu Kana, maka Aqua akan semakin yakin Kana masih hidup. Tapi, jika itu ternyata bukan Kana, maja dia harus merelakan bahwa Kana benar sudah meninggal.


Ruby menarik Aqua untuk segera masuk ke dalam mobil. Sementara Aqua hanya bisa pasrah, dia pasti hanya berhalusinasi bahwa itu adalah Kana. Padahal sudah jelas Kana sudah meninggal dunia dan tidak akan kembali lagi.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Miyako dari kursi kemudi.


"Tidak ada." Aqua menjawab sambil terus menatap keluar jendela berharap masih bisa menemukan perempuan berhoodie tadi untuk memastikan wajah di balik masker dan hoodienya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2