Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Naskah Film (4)


__ADS_3

Aqua dan Ruby masuk ke ruangan casting. Di sana sudah ada Akane Kurokawa, Himekawa Taiki, Frill Shiranui dan beberapa aktor dan aktris lain yang terkenal juga. Casting ini dibuat untuk menentukan pemeran utama pria dan wanita, sementara untuk pemeran lainnya sudah dibagi ke masing-masing aktor.


Sutradara Gotanda dibantu Kaburagi yang akan memilih langsung pemeran utama pria dan wanita. Dan casting pun dimulai.


Himekawa Taiki yang sudah terkenal berkecimpung di dunia teater, mulai berani untuk tampil dalam layar lebar setelah film 15 tahun kebohongan sukses besar. Taiki biasa mengambil film tanpa mengambil drama atau reality show, karena dia masih sangat mencintai dunia teater.


"Ya, sudah ditentukan siapa pemeran utama prianya. Terima kasih untuk waktunya." Kaburagi melangkah masuk ke dalam ruangannya diikuti Gotanda.


Taiki menghampiri Aqua, duduk di sebelahnya. "Ini pertama kalinya aku melihatmu ingin bermain di genre action."


"Ya, aku ingin bisa mencoba semua genre." Aqua menjawab dengan datar.


"Beberapa tahun lalu, setelah film 15 tahun kebohongan selesai, aku dan Arima mendapat film di genre ini. Kami berlatih bersama bela diri selama sepekan. Tapi, belum sempat syuting, Arima sudah dinyatakan menghilang dan menjadi korban pembunuhan. Sejak hari itu, aku hanya akan mengambil genre action untuk menghormati Arima." Taiki menyandarkan punggungnya.


"Aku baru tahu jika dia dapat tawaran film bersamamu." Aqua mengalihkan pandangannya pada Taiki.


"Dia mengatakan padaku kalau mendapat beberapa tawaran film. Kemampuan aktingnya sebagai antagonis sangat luar biasa. Dia mendapat tawaran film bersamaku, dan tak lama mendapat tawaran film dari sutradara Shima."


"Kau ternyata cukup dekat dengannya ya." Aqua merespon tanpa ingin melihatkan ekspresinya.


"Dia partner yang hebat untuk membuat seseorang bersinar. Jika dia masih hidup dan berada di dunia hiburan kurasa dia lebih bersinar dibanding kita." Wajah Taiki berubah sedih. "Tapi, jika dia tidak bersinar seperti kita, aku akan mengatakan padanya untuk menjadi produser saja. Dia tidak akan bersinar sendirian bukan!"


Aqua mengingat kejadiannya kemarin. Ia merasa semua ucapan Taiki adalah benar. Kana tidak akan bersinar sendiri, dia akan menerangi yang lain, membuka jalan bersama siapa pun ia melangkah, termasuk bersama dirinya. Membantu sepenuh hati, menawarkan semua kemampuan yang dia miliki. Dan dengan bodohnya, Aqua menyakiti hati Kana.


...*****...


"Aqua yang akan memerankan pemeran utama kali ini." Kaburagi menatap Aqua di hadapannya. "Kami mohon kerjasamannya."


Taiki menepuk punggung Aqua dengan senyum lebar. "Kau akan sukses juga di film ini!"


"Akane Kurokawa yang akan menjadi pemeran utama wanita di film ini." Kaburagi melanjutkan.


Aqua bertepuk tangan pelan. Ia tidak percaya, lagi-lagi dengan Akane, apa tidak ada yang lain? Tapi, jika itu yang terbaik apa boleh buat


...*****...


"Hisashiburi…" Akino berdiri di hadapan Aqua yang baru saja selesai dari casting. "Aqua!"


Semua pemain yang ada di luar gedung, termasuk Gotanda dan Kaburagi terdiam melihat lelaki bertubuh tinggi, berambut merah gelap bercampur putih di hadapan mereka. Lelaki itu tersenyum, melebarkan tangannya.


"Kau tidak ingin memelukku kah?" Akino bertanya dengan nada kecewa. Wajahnya seperti menunggu pelukan dari anaknya yang telah lama pergi.


"Sensei!" Aqua memeluk Akino dengan erat. Ia tidak percaya akan melihat penampakan Akino dan senyum lebar Akino di Tokyo, terlebih hati Aqua sedang tidak baik-baik saja.


"Wah… Wah… Apa aku mengganggu waktumu?" tanya Akino sambil melepas pelukan Aqua yang sudah tersenyum cerah juga. Akino mengelus kepala Aqua lembut, tatapan mata Akino tidak pernah berubah, dan itu membuat Aqua selalu nyaman bersama Akino.


"Tidak, aku baru saja selesai. Kau datang sendiri?" tanya Aqua seraya melihat dibalik tubuh Akino.


Akino tertawa pelan. "Aku sendiri. Ada pelatihan untuk murid-muridku di Tokyo." 

__ADS_1


"Kupikir kau datang bersama anakmu," balas Aqua pelan.


Akino menatap Aqua dan tersenyum lebar, tangannya merangkul bahu Aqua. "Kalau pun ikut, pasti dia tidak akan mau ikut ke sini." 


Itu sesuatu yang pasti. Aqua harusnya sadar, bahwa Kana tidak mau menginjakkan kakinya di Tokyo lagi. Tapi, rasa penuh harap Aqua mengatakan sebaliknya.


"Mereka Sutradara dan Produser untuk film baruku nanti." Aqua memperkenalkan Sutradara Gotanda dan Kaburagi.


"Jadi, apa Aqua mendapat peran utama?" tanya Akino pada Gotanda.


"Ya, tentu saja. Aku tidak pernah melihat Aqua akan ikut casting dengan serius seperti tadi." Gotanda menjawab dengan santai. "Biasanya dia tidak berminat untuk bersusah payah dengan genre film yang tidak ia sukai."


"Keterlaluan kalau sampai dia tidak serius." Tangan Akino mengelus kepala Aqua gemas.


"Ah, kalau boleh tahu apa hubunganmu dengan Aqua?" tanya Gotanda penasaran.


Reaksi Aqua saat melihat Akino, membuat Gotanda bertanya-tanya siapakah pria ini. Ditambah Aqua menebar senyum dengan mudah bahkan berlari memeluk pria berambut merah itu.


"Ah… Aku ayah mertuanya." Akino tertawa pelan.


"Apa?" Aqua diikuti Gotanda dan yang lain ikut membuka mulut mereka tidak percaya.


Jawaban Akino sangat di luar dugaan, terlebih orang-orang yang ada di sini mengenal Aqua tidak memiliki kekasih ataupun gadis yang ia kencani.


Akino tertawa keras dan mencoba untuk menutup mulutnya. "Aku bercanda! Hanya bercanda!" Akino mencoba untuk berhenti tertawa. "Dia pernah datang ke desaku untuk drama sebelumnya. Dan sekarang aku datang ke sini untuk mampir karena ada urusan di Tokyo."


"Oh begitu… Kau mau minum dulu bersama kami?" tanya Kaburagi.


"Kaburagi." Kaburagi menjulurkan tangannya pada Akino.


"Akino." Akino membalas tanpa ingin memberikan nama marganya. "Kapan-kapan kita akan minum bersama." Akino menjulurkan tangannya pada Gotanda.


"Gotanda." 


Akino mengikuti Aqua dan Ruby masuk ke mobil untuk pergi ke perusahaan Aqua karena harus mengantar Ruby pulang. Akino hanya menatap Ruby tidak percaya bahwa dia akan melihat saudara kembar Aqua.


"Kau saudara kembarnya ya?" tanya Akino pada Ruby yang duduk di kursi belakang.


"Iya, Ruby Hoshino." Ruby memperkenalkan diri seraya tersenyum.


"Pasti rumah kalian sangat ramai ya? Ada anak perempuan dan laki-laki." Akino mengingat Kana dan Karma yang selalu berisik setiap harinya.


"Kami tidak berisik seperti anak-anakmu, sensei." Aqua menjawab dengan santai. "Kami juga sibuk jadi jarang bertemu satu sama lain."


"Kau terlalu kaku pada adikmu. Bercandalah sekali-kali dengannya. Ya walaupun di rumahku bercandanya sampai buat emosi sih…"


...****************...


Mereka akhirnya sampai di gedung agensi Strawberry Production. Ruby mendahului Akino dan Aqua masuk. Aqua menjelaskan dulu Kana bekerja di sini bersama adiknya juga. 

__ADS_1


Akino duduk di ruang tunggu gedung, menunggu Aqua yang akan ganti baju. Loby gedung agensi yang tidak terlalu besar. Karena Strawbery Production bukanlah agensi terkenal, hanya karena Ruby dan Aqua saja agensi menjadi semakin ramai tawaran. Poster-poster terpajang di sana. Ai, Kana, Ruby, Aqua dan B-Komachi.


Akino berdiri di depan poster besar Kana. Rambut pendek sebahu dengan topi baret menghias kepalanya. Pose mata kedip satu dengan tangan menunjuk ke arah kamera. Seulas senyum getir menghias wajah Akino, ia meraih ponselnya dan memotret poster tersebut.


"Kau menunggu seseorang?" tanya Miyako saat melihat Akino di ruang tunggu.


"Ah ya, aku menunggu Aqua." Akino menjawab dan membungkuk sopan pada Miyako. "Apa ada foto lain seperti ini?" tanya Akino sambil menunjuk poster milik Kana.


"Arima Kana maksudnya?" tanya Miyako.


"Ya, tentu saja."


"Hm… Bagaimana ya, kami menaruh poster di sini untuk mengenang center grup kami yang sudah meninggal dunia." Miyako mencoba menjelaskan. "Untuk poster kami tidak punya, kami hanya menyimpan beberapa photocard Arima Kana saja."


Akino menatap kembali poster Kana. "Tidak apa, aku akan bayar berapa pun itu. Aku suka melihat senyumnya."


"Kau bisa ikut denganku dan memilih photocard yang kau suka." Miyako mengantar Akino ke ruangannya. "Kau penggemar Arima Kana ya?"


"Kalau saja aku tahu dia menjadi idol mungkin aku akan menyemangatinya dengan suara paling keras."


Miyako terdiam mencerna kalimat Akino. "Kau tidak tahu Kana idol?"


"Aku hanya tahu dia aktris cilik saja. Aku hidup tanpa penasaran dengan dunia hiburan, jadi aku tidak tahu apa pun selain dia artis cilik saja."


Miyako membuka lacinya, memberikan photo card yang tersisa dari Kana. Miyako menyimpan untuk dirinya sendiri dan berusaha untuk tidak menghilangkannya. Karena kadang Miyako rindu dengan senyum Kana.


Akino menatap satu persatu wajah Kana dalam photo card. Ia ikut tersenyum. "Apa dia bisa senyum selebar ini?" tanya Akino dengar nada sedih. "Aku ambil yang ini. Berapa harganya?"


"Tidak perlu, karena kau juga salah satu penggemarnya jadi kau boleh mengambilnya." 


"Apa Kana selalu tersenyum seperti ini?" tanya Akino mengingat hampir tiga tahun lalu Kana tersiksa dengan traumanya.


"Ya, dia sangat pandai bernyanyi juga. Dia juga pandai berakting." Miyako menjelaskan seraya menatap Akino yang memandangi foto Kana.


"Apa yang membuatnya bisa tersenyum seperti ini?" tanya Akino sedih.


"Entahlah, Kana selalu tersenyum dengan lebar dan menikmati semua kegiatannya." Miyako menjawab dengan ragu. "Kalau boleh tahu siapa namamu?"


Akino menatap Miyako dengan mata berkaca-kaca. "Akino Arima." 


"Kau di sini, sensei!" suara Aqua sukses membuat Akino menoleh dan mendekati Aqua.


Miyako mengamati Akino dengan mata membulat lebar. Arima Akino? Pikirannya melayang, membayangkan dan menduga bahwa lelaki itu adalah ayah dari Arima Kana. Warna rambut dan mata yang sama membuat kemungkinan itu terlihat semakin jelas.


Setelah Akino meletakkan kardus yang ia bawa di ruangan Miyako. Akino dan Aqua berpamitan dengan Miyako, mereka akhirnya keluar dari ruangan. Karena rasa penasarannya, Miyako mengikuti Aqua dan Akino sampai keluar gedung.


Tidak seperti biasanya, Aqua terlihat banyak tersenyum dan banyak bicara, sementara Akino berkali-kali merangkul Aqua dan mengelus kepala Aqua lembut. Tatapan mata Akino pada Aqua terlihat seperti seorang ayah pada anaknya.


"Apa yang terjadi sebenarnya di sini?" Miyako bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2