Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Pertemuan Kembali


__ADS_3

"Kau bisa menjelaskan nanti, Nak. Sekarang lebih baik kau beristirahat." Seorang pria dengan seragam polisi tersenyum ke arah Kana.


Jarum infus sudah menancap di lengannya. Kepalanya sudah diperban dengan rapih. Di beberapa luka lebam pipinya kini terasa lengket. Nyeri masih terasa di punggungnya, berkali-kali Kana meringis.


Ia meraih ponselnya. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Selama berapa jam ia pingsan dan sudah dipindahkan ke klinik dekat kantor polisi? Lalu bagaimana dengan para penguntit itu?


Pandangan Kana kini beralih ke pakaiannya, meraba setiap inci tubuhnya sendiri. Pakaian masih lengkap, hanya robek di beberapa tempat, apalagi celana.


"Aku selamat?"


Pesan masuk dan telepon dari Karma sebanyak sepuluh kali, ditambah nomor-nomor yang tidak ia kenal juga menghubunginya. Bahkan Mem juga menghubunginya. Dengan cepat Kana segera membuka pesan dari Karma.


Pulanglah, ada acara di rumah.


Kana, ayo pulang. Kau dimana?


Kana, kau di mana sekarang? Jawab telepon dariku!


Kana! Tolong jangan buat orang khawatir! Katakan kau di mana?


Kana! Aku minta maaf, hari ini ada acara pemakaman ayah...


Tetesan air mata yang seketika jatuh dari mata Kana kini mengaburkan pandangannya. Ponsel yang ia pegang juga ikut terjatuh. Seperti mendengar kabar mustahil, semua berjalan dengan sangat cepat. Kana sampai tidak tahu harus melakukan apa sekarang selain menangis.


Hari ini sangat mengejutkan. Musim panas yang tidak kalah mengejutkannya dengan empat tahun lalu. Kana mengecek kembali ponselnya, pesan dari Ishigami yang memintanya untuk pulang ke rumah. Pesan dari Mem yang menulis bahwa dia sudah ada di rumah Kana. Dan panggilan tidak terjawab dari nomor yang tidak dikenal berkali-kali, entah nomor siapa tapi nomor itu membuat panggilan melebihi Karma.


"Ayah..." bisik Kana.


...****************...


"Kau bisa beristirahat setelah ini. Kami menyediakan kamar inap untukmu. Berhubung sudah malam juga." Seorang polisi menjelaskan pada Kana setelah gadis itu dimintai keterangan tentang para penguntit tadi.


"Aku harus pulang, bisa kalian mengantarku? Aku khawatir pada adikku," jawab Kana.


"Tapi, apa kau yakin? Tubuhmu pasti sangat sakit untuk berjalan." Seorang perawat wanita menanggapi.


"Tidak apa," balas Kana.


Seperti yang dikatakan perawat tadi, tubuh Kana menggigil sejak masuk mobil. Ditambah suhu tubuhnya yang rendah, dengan keringat yang terus keluar. Sesekali ia menyeka keningnya yang basah dan menghela napas. Tubuhnya semakin terasa nyeri, ia merasakan punggungnya seperti tertimpa bangunan. Ditambah ia tidak bisa berpikir harus seperti apa ketika sampai nanti.


Setibanya di dalam rumah, Kana hanya diam seribu bahasa. Memandangi figura wajah Akino di sana. Kepalanya terus berdenyut, dengan punggung yang terasa menyakitkan. Kakinya terus bergetar dengan wajah yang sudah memucat.


Sakit... batin Kana.

__ADS_1


Suara tangisan Karma, tidak lagi terdengar. Kana merasakan dirinya seperti ditembak ratusan anak panah. Sakit itu menjalar dan bertahan di tubuhnya. Setiap ia bergerak dan melangkah, rasa nyeri itu semakin kuat. Dengan sekuat tenaga, Kana melakukan salam terakhirnya pada Akino.


Ia tahu ayahnya sudah meninggal, ia sadar. Tapi, semua sakit di tubuhnya tidak bisa ia tutupi. Hanya kalimat pendek yang Kana ucapkan dan kembali melangkah ke kamarnya di lantai dua.


Tubuhnya terhuyung di depan pintu kamarnya yang sudah terbuka. Tidak sanggup Kana melangkah lebih jauh dari itu. Pandangannya sepenuhnya kabur, berharap malam ini dia bisa beristirahat dan besok sudah menjadi lebih baik.


...****************...


Malam semakin larut, suara hewan malam terdengar lebih jelas dari sebelumnya. Karma sudah masuk ke kamarnya untuk istirahat, sementara tamunya dari Tokyo membereskan rumahnya.


Gotanda dan Ichigo merapihkan beberapa meja dan barang-barang berat ke tempatnya. Sementara Akane, Mem dan Ruby membersihkan ruang tamu yang berantakan. Frill dan Miyako pergi ke dapur untuk mencuci bekas jamuan tadi. Aqua membantu Gotanda dan Ichigo.


"Tadi itu Kana-chan ya?" tanya Akane seraya melirik tangga ke lantai dua. Mem hanya berdehem tanda mengiyakan. "Aku merasa kasihan padanya, tapi jika aku yang mengatakan hal seperti itu padanya, pasti dia akan memelototiku dan menghinaku."


"Dia sudah tidak seperti itu, sesekali saja. Tapi dia sudah sangat dewasa sekarang." Mem menyahut dengan senyum tipis. "Tatapan matanya tadi membuatku ingin berlari memeluknya."


"Aqua-kun!" panggil Akane pada Aqua yang tengah berdiri di depan lemari. "Kau tidak melihat keadaan Kana-chan?"


"Setelah ini." Aqua kembali mengambil beberapa barang dari dalam lemari.


"Apa yang kau cari, onii-chan?" tanya Ruby seraya mendekati Aqua.


"Obat-obatan. Akino-sensei menyimpan beberapa obat di dalam sini. Tapi, aku tidak menemukan selotip di sini." Aqua segera beranjak ke lemari lain.


"Aku menginap di sini tahun lalu. Dan semua perlengkapan obat milik sensei tertata dengan rapih dan teratur, jadi aku mudah mencarinya." Aqua menjawab dan berhasil menemukan selotip untuk menempelkan jarum infus.


"Kurasa Kana-chan sudah tidur," ucap Mem.


"Ya, tidak masalah. Aku hanya ingin melihat kondisinya saja. Akino-sensei mengatakan kalau Kana punya darah rendah dan sering kekurangan cairan, jadi aku akan memberikan infus untuknya." Aqua menjelaskan dengan kotak merah di tangannya. "Kalian bisa menginap di penginapan Ishigami-san."


"Ya, kau tenanglah. Sekarang cek bagaimana kabar Kana-chan. Kami sudah selesai membersihkan rumah." Miyako mendekati Aqua. "Masih ada sisa lauk di dapur, kalau Kana-chan lapar bawakan makan padanya."


Dengan langkah cepat, Aqua naik ke lantai atas menuju kamar Kana. Pemandangan yang memilukan, Kana sudah tidak sadarkan diri di lantai. Aqua berlari, meletakkan kotak yang ia bawa dan mengangkat tubuh Kana dengan kedua tangannya.


"Kana!" panggil Aqua ketika ia selesai merebahkan tubuh Kana di atas kasur. "Kenapa bisa seperti ini..." Aqua mengamati wajah Kana dari dekat, ia tidak percaya setelah tiga bulan tidak bertegur sapa, kini ia menemukan Kana dengan keadaan memilukan.


Kotak yang ia bawa kembali diambil. Memberikan suntikan infus pada Kana. Tubuh gadis itu mulai demam, keringat membasahi kening dan lehernya. Tubuhnya menggigil dengan wajah pucat.


Tangan Aqua membuka jaket yang Kana kenakan perlahan. Meraih selimut dan menutupi tubuh Kana dan kembali membuka celana Kana ditutupi selimut. Aqua mengambil baju ganti untuk Kana, sementara gadis itu terus merintih dan mengigau pelan.


"Sakit..." rintih Kana pelan setelah Aqua memakaikan celananya.


"Di mana? Tunjuk bagian yang sakitnya..." Aqua membalas igauan Kana. Tangannya terus menyeka keringat Kana dengan handuk hangat. "Kana..." Suara Aqua terdengar lebih lembut dari sebelumnya.

__ADS_1


Mata gadis itu terbuka perlahan, ia mengerutkan keningnya, berpikir dan menebak siapa yang ada di hadapannya.


"A-kun?"


"Iya, ini aku." Aqua mengelus kepala Kana lembut, memberikan kecupan hangat di kening Kana. "Katakan padaku bagian mana yang sakit?"


Tangan Kana ikut meraih wajah Aqua, merabanya pelan. Berpikir apakah ia sedang bermimpi atau berhalusinasi. Tapi, itu terasa nyata untuk Kana, bahkan tangannya sudah menangkup tangan Kana di wajah pemuda berambut blonde itu.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Kana lagi, ia masih mencoba berpikir dengan tenang apa yang terjadi.


"Jadi, dimana yang sakit? Apa perlu kuberikan obat pereda?" Aqua balik bertanya, ia tidak ingin menjawab pertanyaan Kana tentang keberadaannya di sini. Karena dia tahu, dia yang meminta Kana untuk menjauhinya tapi dia yang dengan sadar duduk di kamar Kana. Padahal dia bisa saja tidak peduli dan meminta yang lain untuk mengobati Kana.


"Punggungku." Kana menjawab singkat dan mengalah untuk tidak beradu mulut dengan Aqua.


Dengan sangat pelan, Kana mencoba untuk duduk dibantu Aqua. Punggung kecil Kana yang memiliki bekas luka panjang itu kini memar, bengkak dengan warna kebiruan.


"Apa yang terjadi?" tanya Aqua seraya menempelkan ice gel pada punggung Kana.


"Terpukul balok kayu." Kana menjawab dengan wajah meringis. Ia merintih dan bergerak refleks menjauhi Aqua karena ice gel yang menempel.


"Tahan sedikit, ini tidak akan lama." Aqua menahan bahu Kana dan kembali mengompres memar di punggung Kana. "Sepertinya kau perlu mengganti bajumu. Bajumu basah karena keringat," lanjut Aqua.


Ia menyodorkan baju tidur Kana dengan kancing depan agar mudah dipakai.


"Kau bisa gunting kaos yang kupakai ini," ucap Kana.


"Digunting?" tanya Aqua yang sudah duduk dihadapan Kana.


"Iya, buang saja dengan semua kejadian hari ini.Aku tidak mau mengingatnya." Kana menjawab dengan terus menundukkan kepalanya.


Mengikuti permintaan Kana, Aqua menggunting kaos yang Kana pakai dari bagian punggung atas ke bawah. Aqua menelan ludahnya pelan, menatap Kana yang sudah membuka seluruh kaos yang ia pakai. Dan segera memakai baju tidurnya.


"Jangan mengintip, A-kun!" seru Kana mengingatkan tanpa ingin melihat Aqua yang duduk membelakanginya. Aqua hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya pelan. "Sudah selesai, kau bisa kembali untuk istirahat."


"Aku akan di sini, menemanimu."


"Kenapa kau di sini? Bukannya kau tidak ingin menemuiku lagi?" tanya Kana dengan suara pelan, ia mencoba menatap Aqua yang sudah duduk di hadapannya.


Bukan menjawab, Aqua justru memeluk Kana. Mengusap punggung gadis itu lembut. Mencoba meresapi kebodohan yang sudah ia lakukan. Menyalahkan dirinya sendiri tentang banyak hal.


"Sebentar saja," bisik Aqua. "Aku merindukanmu..."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2