
Perjalanan ke Kyoto akhirnya sampai di hotel. Aqua satu kamar dengan Taiki. Miyako dan Mem ikut untuk liburan sebentar. Dan akhirnya mereka memesan kamar untuk Ruby, Mem dan Miyako saja.
Acara mereka hanya untuk liburan selama lima hari, jadi tidak ada agenda khusus kecuali makan malam bersama di beberapa restoran terkenal saja. Selebihnya mereka menyiapkan agenda trip mereka sendiri sebelum keberangkatan. Akane, Frill dan Ruby sebagai penanggung jawab memilih banyak tempat wisata dan restoran terkenal di Kyoto.
Malam ini sebagai pembukaan mereka makan malam di cafetaria hotel. Namun, mereka tidak menyangka kafetaria banyak orang.
"Apa ada acara ya di sini?" tanya Ruby menatap sekumpulan orang yang tengah makan malam di sana dari depan pintu masuk kafetaria yang luas.
Mata mereka tertuju pada gadis yang mengguyur seember air kotor ke kepala seorang lelaki. Menaruh ember dan meninggalkannya di sana. Sambil mengoceh yang tidak terdengar suaranya itu dari tempat mereka berdiri.
Gadis itu berdiri diikuti lelaki lain dari sisi meja, melangkah keluar dari kafetaria dengan wajah dingin. Ruby tak berhenti menatap mata gadis dengan rambut merah gelap dengan kacamata kotak itu.
"Arima!" panggil seorang laki-laki dari ujung ruangan. Sepasang laki-laki dan perempuan itu berhenti, menatap balik orang yang memanggil mereka. "Kau mau berpacaran denganku?" teriaknya dengan nada meledek.
Akane menatap kembali gadis berambut merah yang dengan santainya dia tertawa meledek. "Kami suka perempuan!" balasnya dengan suara keras.
Mem menarik tangan Ruby, menggenggamnya dengan kuat. Sementara Ruby masih mencerna gadis yang berdiri di depannya dengan jarak 2 meter itu. Wajah familiar dengan suara yang sama sekali tidak berubah.
"Baakaa!" pekik lelaki tadi diikuti suara tawa yang lain
Gadis berambut merah itu ditarik lelaki dengan tudung itu untuk keluar dari kafetaria. Tangan gadis itu mengangkat jari tengahnya seraya melangkah keluar dari kafetaria. Wajahnya dingin, ada tatapan membunuh di sana.
...****************...
"Bermodal nama ayah, apa hebatnya!" seorang lelaki berseru dari tengah ruang makan hotel. "Apa benar dia sehebat ayahnya! Mustahil!"
Tawa meledek terdengar setelah lelaki itu selesai mencaci maki Karma. Di tengah ruang makan hotel itu, Kana dan Karma tengah menikmati makan malam mereka.
Ikut bersama Akino ke Kyoto untuk urusan pelatihan dan merawat Miwa yang harus mendapat perawatan intensif. Kedua anak dari keluarga Arima itu hanya diam mendengar cemoohan yang tidak berguna dari senior atau teman seangkatan Karma.
"Hey! Kalian dengar kan? Apa anak Arima-sensei sangat hebat?" Lelaki berambut hitam legam dengan mata yang sama dengan warna rambutnya itu memukul keras meja makan Kana dan Karma.
"Kami ini seniormu! Tunjukkan rasa hormatmu dong!" lanjut yang lain seraya mengetuk kepala Karma dengan telunjuknya.
Tidak ingin memperpanjang masalah, Kana dan Karma hanya diam dan tetap makan, meski rasanya sudah tidak berselera. Merasa tidak diperhatikan, lelaki berambut hitam itu menuangkan kecap ke dalam piring Karma.
__ADS_1
"Bau..." Kana memicingkan matanya, menatap ke arah laki-laki yang ada di depannya. "Bau sampah..." lanjutnya, merapihkan alat makannya. "Ayo pergi, Karma..."
"Kau kakaknya ya? Siapa namamu? Boleh juga..." salah satu dari senior Karma menyeringai pada Kana.
"Sampah..." tukas Kana.
"Sombong sekali ternyata anak Arima-sensei! Kau merasa cantik ya? Apa mulutmu ini sama seperti ayahmu? Kalian suka sekali merendahkan orang lain dengan mudah!" Meja kembali di pukul salah satu dari lima orang senior Karma.
Kana menatap wajah lelaki di hadapannya dengan tatapan merendahkan, senyum miring ia berikan. Tangannya terlipat di dada.
"Aku khawatir kalian masuk melalui jalur orang dalam, karena kurasa tidak ada dokter dengan mulut busuk seperti kalian." Kana tersenyum.
"Justru adikmu ini jelas sekali masuk melalui nama ayahnya!" balas salah satu dari mereka. Segelas jus jeruk yang masih penuh dilempar ke wajah Kana tiba-tiba.
Basah wajah dan baju Kana, dengan senyum Kana membalas mereka. Langkahnya pun menjauhi meja tempatnya makan. Karma mulai berdiri, merasa harus berbuat sesuatu, karena baginya apa yang dilakukan seniornya pada Kana sudah melewati batas.
Byur!!!
Suara air tumpah dari ember ke tubuh lelaki yang menyiram Kana dengan jus. Wajah Kana berubah puas, ada senyum kebanggaan di sana. Ia tidak bisa diam saja saat direndahkan, jadi tidak perlu waktu lama Kana membalas mereka.
"Sialan!" Sebelum senior Karma itu mengomel, Kana meninggalkan ember yang sudah kosong itu di kepala senior berisik itu.
Masih dengan mata terbelalak dan mulut menganga, Karma mengikuti langkah Kana. Sungguh di luar dugaan, sangat di luar prediksi Karma. Gadis berambut merah dengan tubuh kecil ini bisa melawan banyak lelaki dengan caranya sendiri. Bahkan dia sampai harus naik ke kursi agar sukses.
"Sangat mengejutkan," bisik Karma saat mereka melangkah keluar kafetaria hotel.
...****************...
Setelah kepergian gadis berambut merah itu, Akane memesan restoran dengan private room. Mereka ingin makan tanpa gangguan. Dan dapat di dekat hotel. Mem berdiri di sebelah Ruby, ada banyak pertanyaan di kepala mereka yang ingin ia lontarkan, namun mereka sama-sama masih mencerna wajah gadis berambut merah tadi.
Di dalam private room ternyata ada meja yang sudah diduduki orang lain. Aqua duduk di sebelah Ruby, sementara Akane menempel duduk dekat Aqua. Gotanda dan Kaburagi datang terlambat karena ada pembahasan sebentar. Miyako dan Mem duduk di hadapan Aqua, Ruby dan Akane.
"Kana!" seru seorang pria bertudung dari pintu masuk.
Semua kini menatap meja di ujung ruangan tengah duduk gadis berambut merah yang mereka lihat di kafetaria hotel tadi.
__ADS_1
"Ayo! Miwa-chan masuk rumah sakit!" serunya setengah berteriak pada gadis berambut merah.
Gadis berambut merah segera berdiri. "Kenapa bisa? Kan tadi dia baik-baik saja. Kau bercanda ya?"
"Cepat sudah, mau aku tinggal ya!" Lelaki itu masuk dan menarik gadis di depannya. "Besok tuh jangan bawa banyak barang, aku itu kerepotan bawa barang-barang milikmu. Padahal kan kau tahu tas yang diizinkan ayah bawa hanya tasku saja. Kenapa bisa juga keluar begini masih bawa banyak barang sih!"
"Berisik!" serunya kesal. "Jangan memarahiku! Aku yang akan bawa juga, kan!"
"Ini karena banyak bawa barang seperti ini, kita jadi susah lari dan terlambat ke rumah sakit!" Lelaki itu ikut membantu menaruh beberapa buku di atas meja.
"Berisik! Berisik! Berisik!" seru gadis itu setengah berteriak, menarik ransel dan menaruhnya ke bahunya.
"Aku saja yang bawa, kau lari ke rumah sakit, ibunya bilang Miwa sudah di rumah sakit. Kau juga harus menemaninya karena dia mau kau di dalam kamar tindakan." Lelaki itu menarik tas di bahu gadis berambut merah.
"Oke!" balasnya melangkah mendahului lelaki bertudung.
Mem menatap kedua orang itu heran. Berkali-kali dia mendengar nama Kana, tapi dia tidak ingin percaya bahwa itu Kana yang ia kenal. Jadi, dia hanya mengamati kedua orang itu, begitu juga yang lain.
"Kana!" panggil lelaki yang akhirnya membuka jaketnya, menyodorkan jaketnya pada Kana. "Jangan gemetaran ya, kalau kau tidak kuat kau boleh keluar dari ruang tindakan. Aku akan meminta pada ibu Miwa kalau aku saja yang menemani Miwa."
Ruby membulatkan matanya, seraya berdiri tidak percaya. Ia melihat Karma dan gadis berambut merah panjang yang disebut Kana di hadapannya. Ruby berdiri dengan wajah kaget, Aqua menarik Ruby untuk duduk.
"Karma-kun..." bisik Akane yang tidak kalah kagetnya.
Kana meraih jaket Karma, memakainya dengan benar. Ia tersenyum. "Aku sudah sembuh tahu, kau tidak percaya? Bukannya kau yang merawatku dengan baik? Percayalah Karma-sensei!" Kana meninju dada Karma pelan.
Mendengar sebutan sensei untuk dirinya, Karma memukul kepala Kana pelan. "Kau boleh jujur. Aku akan menjagamu!"
"Siap, sensei!" Kana melangkah mendahului Karma, menatap Kana di belakangnya. "Ayo berlari sampai rumah sakit, yang kalah harus belikan semua oleh-oleh dari Kyoto!"
"Hah? Bisa-bisanya dibuat taruhan!" balas Karma dengan senyum kecut. Tawa Kana terdengar di ruangan, sementara kakinya berlari keluar restoran.
Ruby menatap Aqua, seolah mencari penjelasan. Begitu juga Mem dan Akane. Sementara Miyako dan Taiki menulis pesanan makanan mereka. Sesekali Miyako melirik Aqua yang dipelototi gadis-gadis di sekitarnya. Sudah jelas sekali, wajah dan suara itu milik Arima Kana, tapi Miyako berpura-pura tidak kenal. Ia juga tidak menunjukkan wajah kagetnya, karena menurutnya suatu saat pasti mereka akan bertemu dengan Kana.
"Aqua-tan! Kurasa kau tahu sesuatu!" seru Mem.
__ADS_1
Gotanda dan Kaburagi datang membawa dua buah botol wine. Semua teralihkan sebentar, meski sebenarnya Mem sudah ingin menginterogasi Aqua. Di mana semua mengenal Karma memiliki kakak perempuan. Apa hubungannya juga Karma dengan gadis yang disapa Kana.
...****************...