
Makan malam selesai, Karma dan Kana mendapat tugas membersihkan meja makan dan piring. Sementara Aqua dan Akino duduk di teras rumah menikmati malam musim gugur dengan santai.
Suara hewan malam selalu terdengar khas di desa ini. Aqua mulai terbiasa dengan suara tersebut. Walaupun awalnya sangat mengganggu. Dan ketika kembali ke Tokyo, dia tidak akan lagi mendengar suara-suara hewan tersebut.
"Pukul berapa keretamu besok?" tanya Akino santai. Tangannya meraih buku di ata meja, membukanya.
"Pukul 7 pagi, sensei." Aqua duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Akino.
"Terima kasih sudah menjaga Kana selama aku pergi." Akino tersenyum menatap Aqua. "Kana jadi lebih ceria dari sebelumnya. Kudengar kau merawat Kana yang pingsan juga. Aku sangat berterima kasih atas kebaikanmu."
"Sebenarnya Kana yang lebih banyak membantuku di sini. Rasanya juga sangat menyenangkan di sini, kupikir awalnya akan buruk beternak tapi ternyata menyenangkan." Aqua membalas tersenyum.
Akino tertawa kecil khas bapak-bapak. "Semua akan merasa senang ketika beristirahat dari sibuknya rutinitas. Kami akan dengan senang hati membuka pintu jika kau main lagi ke sini."
Awalnya Aqua mengira Arima Akino adalah seseorang yang dingin dan tidak suka tersenyum, tapi ia mulai mengerti bahwa keluarga Arima memiliki satu yang tidak dimiliki keluarga Hoshino, kejujuran. Mata Kana diwariskan dari ayahnya. Di bawah sinar lampu teras malam ini saja, mata merah gelap milik Akino bersinar dengan terang, ada tatapan teduh dan senyum menghangatkan. Aqua memang tidak tahu bagaimana kisah cinta Arima Akino ketika bersama ibu Kana, tapi yang pasti cinta Akino pada Kana sangatlah besar untuk putrinya itu.
"Kau sudah bisa mengganti warna rambutmu, maaf ya banyak menuntutmu ini dan itu." Akino menunjuk rambut Aqua.
Aqua baru sadar bahwa selama ini rambutnya dicat hitam. Awalnya memang untuk membuat Kana tidak takut padanya, dan itu sukses, membuat Aqua merasa sangat senang, hingga dia lupa bahwa rambut aslinya bukanlah hitam.
"Kurasa aku akan tetap dengan warna ini. Wajahku tidak terlalu mirip dengan ayahku kalau warna rambutku hitam."
Akino mengelus kepala Aqua seraya tertawa kecil. "Kau ini…"
Ada rasa hangat dari tangan Akino yang mengelus lembut kapala Aqua. Selama ini, Gotanda, Miyako dan Ichigo yang mengelus kepalanya saat dirinya kecil, tapi setelah dirinya besar, Aqua merasa hal tersebut memalukan. Tapi, Akino tidak membedakan usia, baginya Aqua tetaplah seorang anak yang butuh kehangatan.
"Kau adalah kau, ayahmu adalah ayahmu. Jangan pernah berpikir kalian sama." Akino kembali ke posisinya menatap Aqua lembut. "Karma selalu kuberitahu bahwa dia adalah dia meskipun akan hidup dengan darahku, tapi dia tetaplah dirinya sendiri yang berdiri dengan kedua kakinya sendiri menuju impiannya." Akino mengalihkan pandangannya. "Dengar nak, Aqua…"
Aqua menatap Akino serius.
"Semua yang terjadi di dunia ini sudah ada garisnya, kau tidak bisa melawannya. Kau hanya akan diberi pilihan dan setiap pilihan memiliki resiko. Dan jangan menyesali pilihanmu." Akino kembali tersenyum dengan lebarnya. Aqua melihat wajah Karma dan Kana pada senyum Akino. Dokter laki-laki itu berdiri. "Sudah sangat malam kau bisa pulang untuk persiapan besok kembali ke Tokyo. Setelah itu kau harus tidur dengan nyenyak."
__ADS_1
Aqua ikut berdiri. Ia mendekati Akino. "Boleh aku meminta nomor ponselmu, sensei?"
Akino meraih ponselnya di atas meja, memberikan nomornya pada Aqua. Dengan cepat Aqua menyimpan nomor milik Akino. Selain Gotanda, Akino terasa seperti ayah untuknya.
Selama Aqua berada di sini, Akino tahu bagaimana karakter dari Aqua, meskipun Aqua menutupinya. Awal pertemuan mereka di klinik, Akino menyimpulkan bahwa Aqua adalah anak laki-laki yang rapuh. Ia seperti membuat dirinya masuk ke jurang sendirian dan membiarkan dirinya mati sendirian di dalam sana, tanpa ingin meminta bantuan pada siapapun. Aqua terlihat seperti seseorang yang tidak peduli, tapi sebenarnya dia berhati lembut.
Perasaan Akino pada Aqua yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri membuat Akino merasa harus membuat nyaman Aqua. Ia memeluk Aqua, menepuk punggungnya pelan, memberikan suntikan kekuatan untuk pemuda bermata biru di hadapannya. Menceramahi dengan nasihat itu bagus, tapi menurut Akino memberikan pelukan dan kepercayaan kepada anak juga dapat membuatnya menjadi lebih baik.
Rasa hangat dan tenang kembali mengalir. Tembok yang ia buat untuk terus kuat itu akhirnya hancur. Aqua merasa matanya mulai panas, hingga ia tak sadar bahwa air mata sudah jatuh ke pipinya setelah kedipan pertama. Ia tidak tahu bagaimana dia bisa menangis di hadapan lelaki tua ini.
"Kau boleh bercerita kepadaku apapun, Nak. Sering-seringlah menghubungiku…." Akino melepas pelukannya, menatap Aqua sambil memegang kedua pundak Aqua penuh keyakinan.
"Arigatou gozaimasu…" suara Aqua tertahan, ia mencoba untuk menyelesaikan tangisnya.
Akino kembali mengelus kepala Aqua dengan tawa khasnya. "Ayo kau bisa pulang. Apa mau pamit dengan Kana dulu?"
"Sepertinya aku akan titip salam saja padanya."
Awalnya Aqua ingin pamit pada Kana malam ini, karena besok dia pasti tidak akan sempat bertemu dengan Kana. Tapi, melihat ruang makan yang sudah gelap, sepertinya Kana sudah tidur dan ia tidak ingin mengganggunya.
Sampai malam ini saja, Aqua akan kembali besok ke Tokyo, rumahnya. Ia melangkah keluar dari teras rumah keluarga Arima dengan berat hati, perpisahan ternyata memang menyakitkan. Setiap sudut rumah Arima punya cerita tersendiri untuk Aqua terutama saat bersama Kana.
"A-kun!" teriak Kana dari balkon lantai dua rumahnya dengan suara yang menggema di langit.
Aqua mengalihkan pandangannya, menatap Kana yang sudah memakai gaun tidur putihnya. Di bawah sinar rembulan, senyum gadis bersurai merah itu mengembang dengan manisnya.
"Sayonara!" lanjutnya seraya melambaikan tangannya dengan penuh semangat.
Seperti ada seseorang yang menuntunnya untuk ikut tersenyum dan membalas lambaian tangan Kana padanya. Aqua dengan wajah gembira berteriak sayonara! Wajah Aqua terlihat bersinar di bawah sinar lampu jalan. Mata birunya membuatnya semakin terlihat tampan.
Kana tertawa pelan, berdiri di dekat pagar balkon menatap Aqua di bawah. Kana tidak mengerti bagaimana Aqua bisa tersenyum dan berteriak seperti barusan. Itu tidak seperti dirinya yang dulu Kana kenal.
__ADS_1
Dan kini, Aqua akhirnya harus kembali ke rumahnya, Tokyo. Menjalani aktivitas hidupnya seperti biasa. Namun, ia berjanji akan kembali ke desa tempat Kana tinggal ketika memiliki waktu libur.
...****************...
"Tadaima!!!" Aqua membuka pintu rumahnya, tidak menemukan siapapun di sana. Ruby sibuk dengan pemotretan, jadi hari ini ia tidak menemukan siapapun di dalam rumah.
Aqua melangkah menuju dapur yang bersih, ada bayangan Kana yang sibuk mencatat resep penuh semangat dari radio yang selalu menemaninya ketika memasak. Aqua tersenyum tipis setelah sadar bahwa dia mulai berhalusinasi hal bodoh.
Setelah meraih botol minum dingin dan beberapa makanan ringan yang selalu ia dan Ruby simpan. Aqua melangkah ke kamarnya di lantai dua. Langkah Aqua terhenti menatap kompor dapurnya, membayangkan Kana yang sibuk meracik bumbu dan selalu gagal.
"Sepertinya aku bisa gila sendiri kalau begini …"
Aqua masuk ke kamarnya, membuka ponsel miliknya. Banyak pesan masuk yang ia terima di Line miliknya. Ia bahkan mendapat pesan dari Ishigami dan Akino. Tidak ingin bermain ponsel, Aqua justru menyalakan laptop miliknya, memeriksa e-mail yang masuk.
Musim gugur akan berakhir beberapa hari lagi, dan besok pemotretan majalah bersama Ruby. Dua hari lagi ia harus menemui satu rumah produksi yang menawarkannya peran dalam sebuah film.
E-mail milik Aqua penuh dengan tawaran pekerjaan. Miyako sampai kehabisan tenaga dan hampir menyerah karena pekerjaan Ruby dan Aqua yang semakin banyak. Tapi, Aqua sedang tidak menerima film atau drama bergenre romance. Jadi, ia dengan cepat membalas e-mail Miyako dan menolaknya.
"Syuting selama musim dingin, berakhir sebelum musim semi pun tersisa beberapa hari saja. Apa ada waktu untukku libur dan pergi menemui Kana?" Aqua membuka aplikasi kalender di ponselnya. "Padatnya… Padahal aku berharap bisa ke sana lagi."
Aqua kembali fokus membaca naskah yang ditawarkan Miyako padanya melalui e-mail. Dan ia berhenti di dua film bergenre aksi dan fiksi fantasi.
Hanya karena tidak ingin melakukan adegan romance, Aqua banting setir ke genre yang dia sendiri tidak tahu apakah dia bisa atau tidak. Terutama action. Himekawa Taiki adalah aktor terbaik di genre action. Ia pandai berkelahi dan terlihat sangat gagah ketika memerankan perannya di beberapa film yang ia mainkan.
Sementara Aqua terkenal sebagai aktor romance. Walaupun sebenarnya karakter yang dimainkan Aqua itu hampir mirip-mirip.
Miyako meminta Aqua untuk datang ke gedung agensi untuk membahas beberapa drama. Miyako juga mengatakan sudah ada Ruby, Mem dan beberapa teman Aqua yang akan datang malam itu untuk merayakan kedatangan Aqua.
Miyako merasa Aqua perlu mendapatkan sambutan karena telah berjuang dengan baik di desa kecil. Bergelut dengan hewan ternak, kotoran hewan, kandang, makanan ternak dan lain sebagainya. Apalagi, mengingat sebelum pergi ke desa kecil itu Aqua bersikeras untuk menolak pergi, walaupun dengan banyak bujukan akhirnya ia mau menerimanya.
...****************...
__ADS_1