Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Apartemen Karma


__ADS_3

Satu bulan sudah lewat setelah kejadian Kana datang ke agensi. Mem masih sering menghubungi Kana meminta bantuannya untuk memberikan saran dan masukan seputar kisah cintanya. Sementara karena sibuknya Ruby, jadi tidak sempat menghubungi Kana. Begitu juga Aqua yang tidak pernah menelponnya lagi dan bertanya tentang Kana pada Karma. Meskipun Karma dan Aqua masih terbilang akrab, tapi tidak dengan Kana dan Aqua.


Mengetahui perang dingin kembali terjadi pada Aqua dan Kana, Karma sebagai adik laki-laki Kana hanya bisa melihat kedua orang itu heran.


"Aku kerja part time di kafe ini," ucap Karma sesampainya dia di kafe khusus kopi dan dessert itu.


"Kupikir kau hanya fokus belajar saja seperti mahasiswa kedokteran lainnya." Aqua duduk di kursi pojok ruangan bersama Karma.


"Harusnya sih begitu, tapi aku tidak bisa. Biaya kuliah kedokteran itu mahal, jadi aku harus menabung dari sekarang. Meskipun beasiswa, tapi untuk jaga-jaga tidak ada salahnya kan?" Karma masuk ke dalam ruangan khusus karyawan untuk mengganti pakaian.


Pandangan Aqua kini beralih keluar jendela, musim semi akan segera berakhir, kejadian di dalam agensi bulan lalu membuat Aqua merasa sangat menderita.


Dia yang meminta Kana untuk tidak menghubunginya lagi, tidak menemuinya juga. Dan Kana benar melakukan apa yang ia minta. Menyakitkan, karena Kana dengan mudah mengatakan "iya" pada permintaannya.


"Minumannya..." Karma meletakkan ice americano di atas meja. "Kalian melakukan perang dingin lagi ya?"


"Sebutan apa itu?" Aqua membalas dengan kekehan pelan. Tatapannya hanya fokus pada es di atas meja. "Itu hanya akhir dari cerita kami."


"Akhir?" Karma mengulang kata yang membuatnya cukup kaget. "Apa kau melakukan apa yang kukatakan di rumah sakit waktu itu?"


"Ya, dan dia membawaku melintasi memorinya." Aqua menjawab dengan suara pelan. "Alasan yang mencengangkan, dan sulit untuk bisa diterima olehku."


"Aku tidak akan memaksa kalian, karena Kana itu bodoh sekali. Aku tahu dia menyukaimu, tapi dia selalu mengatakan hal menyakitkan." Karma mencoba tidak membela atau menyalahkan Aqua ataupun Kana, tapi dia gemas dengan dua orang ini.


"Kau tahu alasannya juga?" tanya Aqua. "Hanya karena benang biru, ini membuatku kesal dan sakit."


"Dua benang itu termasuk tidak normal. Apalagi warna benangmu itu bukan merah tapi biru." Karma kini mengalihkan pandangannya pada Aqua. "Berjuang atau berhenti itu pilihanmu. Tapi, jangan tinggalkan Kana sendirian."


...****************...


Malam musim panas, suara hewan malam semakin terdengar riuh. Akino memandangi Kana yang sibuk menulis beberapa resep makanan seraya mendengarkan radio. Setelah menemui teman-temanya,  Kana meminta untuk dibelikan ponsel, tapi kebiasaan dirinya untuk selalu mencatat resep di buku catatan sepertinya tidak bisa ia hilangkan. 


"Ayah, apa masakanku sudah lebih enak dari sebelumnya?" tanya Kana dengan serius. "Jujur saja, kalau berbohong justru aku tidak akan mengalami peningkatan!"


"Sudah lebih banyak peningkatan! Tapi Kana kau harus percaya diri untuk memasukkan bumbu." Akino menjawab dengan yakin. "Kau selalu terlihat ragu-ragu saat memasukkan garam atau bumbu lainnya."

__ADS_1


Kana menulis di dalam buku catatannya. "Baiklah, aku akan mulai percaya diri."


"Kana, akhir-akhir ini latihan bela dirimu mengalami banyak peningkatan kata Taiga-san." Akino menatap Kana, duduk di hadapan anak gadisnya. "Apa ada masalah yang kau sembunyikan?" tanya Akino.


Kana berpikir sejenak. "Satu bulan ini, setiap aku pulang dari peternakan sore menjelang malam selalu ada pria yang mengikutiku. Aku tidak tahu apa motifnya, tapi itu cukup membuatku takut dan selalu mengunci pintu sampai ayah pulang."


"Ada berapa orang?" tanya Akino yang mulai khawatir.


"Setiap hari ada satu bergantian. Kalau diingat-ingat sekitar 7 orang setiap hari berbeda mengikutiku." 


"Apa mereka sampai mengejarmu?" tanya Akino lagi.


"Pernah, tapi aku lari dan berhasil lolos. Setiap hari aku berlatih bela diri agar bisa melawan orang-orang penguntit seperti itu."


"Sepertinya tidak aman di sini, kau bisa tinggal di Tokyo bersama Karma." Akino memberikan saran. "Sudah sebulan bukan? Jika benar tujuh orang bukankah sangat berbahaya kau di sini?" tanya Akino khawatir. "Ayah akan sering pergi ke Tokyo dan dinas ke banyak tempat selama bulan ini, jadi untuk keamanan kau tinggal bersama Karma."


"Tapi, ayah… Aku bisa tinggal sendiri, aku sudah menguasai beberapa ilmu beladiri. Usiaku juga bukan anak belasan tahun, jadi kurasa aku akan tetap aman," sanggah Kana.


Akino duduk di samping Kana. "Kana, wajah dan tubuhmu itu buat orang salah paham. Mungkin memang yang mengenalmu tahu kau sudah berkepala dua, tapi tidak dengan mereka yang hanya melihatmu sekilas."


Akino mengelus kepala Kana lembut. "Dengarkan kata ayah, ini untuk keselamatanmu juga. Ayah tidak mau kau harus terluka lagi. Di Tokyo ayah akan merasa aman karena ada Karma yang menjagamu." Akino menatap lembut Kana. "Kalau kau memang tidak mau keluar dari apartemen Karma, tidak masalah. Kau hanya perlu mengatakan pada Karma. Ayah akan meminta Bibi Kisaki untuk merawat rumah ini."


Kana menatap mata Akino. Kana takut ia bertemu Aqua yang sudah memintanya pergi, ia benar-benar takut harus melihat Aqua yang sudah seperti mengusirnya itu.


"Baiklah…"


...****************...


"Karma!" panggil Kana seraya menarik knop pintu apartemen milik Karma. "Wah! Bersihnya!" pekik Kana.


Karma menatap Akino dan Kana bergantian. "Hari ini? Bukannya besok?" 


"Besok itu waktunya ayah dinas. Jadi hari ini Kana di sini." Akino menjawab, tangannya sibuk meletakkan beberapa barang milik Kana. "Luas juga ya, untung waktu itu kita mencari apartemen bukan asrama kampusmu."


Karma duduk di kursi meja makan, matanya menatap Kana yang sibuk ke sana ke mari, melihat apartemennya. "Ini tidak besar, kamarnya juga hanya ada satu. Jadi kau tidur di dalam, dan aku tidur di ruang tengah saja."

__ADS_1


Kana berlari mendekati Karma. "Aku membelikan kasur lipat untukmu! Jadi, kau tidurnya tidak di sofa tapi tetap di kasur. Futon yang kau bawa sudah jelek juga. Jadi, aku membelikannya yang baru."


"Ayah membelikan kasur lipat untukku?" tanya Karma, menatap Akino tidak percaya. Akino hanya menganggukkan kepalanya pelan. "Parah sih, aku yang minta tidak dibelikan, giliran Kana langsung deal!" Karma berdecak kesal.


Kana tertawa dengan wajah penuh kemenangan. "Tapi kan kasur lipatnya untukmu. Aku pakai yang di kamarmu! Kecuali kalau kau sakit, aku akan berikan kamarnya untukmu!"


"Berapa lama kau akan di sini?" tanya Karma.


"Tanyakan pada ayah!"


Akino menatap kedua anaknya dan tersenyum. "Selama aku selesai dinas. Karena ada banyak dinas untuk musim panas dan musim gugur. Jadi ada kemungkinan sampai musim dingin."


"Serius?" tanya Kana dan Karma berbarengan. "Lama banget!" lanjut mereka pasrah.


"Iya, dibanding kau di sana diikuti orang tidak jelas terus lebih baik di sini, kalau kau mau pulang harus bersama Karma." Akino menjelaskan.


"Tapi, aku pasti merindukan Yunyun…" Kana duduk di kursi sebelah Karma. 


"Kegiatanmu di sini juga itu bebas kau tentukan. Kalau mau keluar apartemen kirim pesan padaku dan Karma." Akino menatap jam di lengannya. "Sudah sore, aku harus berangkat, karena jadwal penerbangan pesawat nanti malam." Akino mendekati Kana mengecup kening anak gadisnya setelah memeluknya hangat. Ia juga memeluk Karma dan meninju pelan punggung Karma. "Jaga diri kalian ya!"


"Hati-hati ayah! Jangan lupa untuk makan dan istirahat!" seru Kana.


"Tentu saja, kalian makan yang banyak. Jangan terus makan mie instan!" balas Akino dengan senyum lembut. Ia kembali memeluk kedua anaknya, meresapi kehangatan yang baru ia rasakan lagi, setelah melihat anak perempuan kecilnya yang sudah menjadi wanita dewasa. Dan anak laki-laki cengengnya yang sudah lebih tinggi tubuhnya dari ayahnya.


"Ayah, tenang saja. Aku akan makan dengan baik." Kana menatap Akino, merapihkan mantel dan syal di leher Akino. "Jangan lupa mengirim pesan untukku setiap hari ya, Ayah!"


"Tentu saja!" balas Akino, ia melangkah mendekati Karma. "Karma, jaga Kana ya selama Ayah pergi," bisik Akino di samping telinga Karma.


"Hati-hati Ayah..." balas Karma.


Perpisahan singkat itu akhirnya berakhir dengan pintu apartemen Karma yang tertutup menyisakan Kana dan Karma saja di dalamnya.


"Ayo makan..." suara Kana memelan, setelah beberapa menit mereka memandangi pintu dalam diam.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2